Lompat ke konten
Beranda » Al Quran Juz 30 Full Lengkap: Arab, Latin dan Terjemah

Al Quran Juz 30 Full Lengkap: Arab, Latin dan Terjemah

  • oleh

Juz 30

Surat An-Naba’

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

عَمَّ يَتَسَاۤءَلُوْنَۚ

‘Amma yatasā’alūn(a).

Tentang apakah mereka saling bertanya?

Saat Nabi Muhammad diutus, kaum kafir Mekah bertanya-tanya tentang diri Nabi, dakwah, dan ajarannya, salah satunya adalah perihal hari kebangkitan. Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya di antara mereka?

2

عَنِ النَّبَاِ الْعَظِيْمِۙ

‘Anin naba’il-‘aẓīm(i).

Tentang berita yang besar (hari Kebangkitan)

Mereka bertanya-tanya tentang berita yang besar. Itulah hari dibangkitkannya manusia dari kubur untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di dunia.

3

الَّذِيْ هُمْ فِيْهِ مُخْتَلِفُوْنَۗ

Allażī hum fīhi mukhtalifūn(a).

yang dalam hal itu mereka berselisih.

Itulah berita besar yang dalam hal itu mereka berselisih. Sebagian dari mereka mengingkarinya dan sebagian yang lain menyangsikannya. Mereka tidak percaya jasad manusia yang sudah hancur akan hidup kembali.

4

كَلَّا سَيَعْلَمُوْنَۙ

Kallā saya‘lamūn(a).

Sekali-kali tidak! Kelak mereka akan mengetahui.

Tidak! Persoalan yang sebenarnya tidak seperti apa yang mereka duga. Kelak, pada hari kebangkitan itu benar-benar tiba, mereka akan mengetahui hakikat persoalan yang sebenarnya.

5

ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُوْنَ

Ṡumma kallā saya‘lamūn(a).

Sekali lagi, tidak! Kelak mereka akan mengetahui.

Allah menegaskan sekali lagi. Sekali lagi tidak! Kelak mereka akan mengetahui hakikat persoalan yang sebenarnya ketika hari kebangkitan itu benar-benar tiba.

6

اَلَمْ نَجْعَلِ الْاَرْضَ مِهٰدًاۙ

Alam naj‘alil-arḍa mihādā(n).

Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan

Allah menjawab kesangsian mereka tentang hari kiamat dengan memperlihatkan sembilan tanda kebesaran-Nya. Bukankah Kami telah menjadikan bumi dengan segala isinya sebagai hamparan yang memungkinkan manusia hidup di atasnya dan memanfaatkan fasilitas yang ada?

7

وَّالْجِبَالَ اَوْتَادًاۖ

Wal-jibāla autādā(n).

dan gunung-gunung sebagai pasak?

Dan bukankah Kami telah pancangkan gunung-gunung sebagai pasak supaya bumi tidak bergoncang sehingga manusia dapat hidup tenang di atasnya?

8

وَّخَلَقْنٰكُمْ اَزْوَاجًاۙ

Wa khalaqnākum azwājā(n).

Kami menciptakan kamu berpasang-pasangan.

Dan bukankah Kami telah menciptakan kamu, wahai manusia, berpasang-pasangan; lelaki dan perempuan agar kamu beranak pinak untuk terus mendiami bumi dan memakmurkannya?

9

وَّجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًاۙ

Wa ja‘alnā naumakum subātā(n).

Kami menjadikan tidurmu untuk beristirahat.

Dan bukankah Kami telah pula menjadikan tidurmu untuk istirahat dari kepenatan bekerja di siang hari sehingga kamu bisa kembali bekerja esok hari dengan tenaga baru? Tidur laksana kematian sesaat. Bangun tidur merupakan permisalan kecil hari kebangkitan. Mengapa orang musyrik masih saja mengingkari hari kebangkitan?

10

وَّجَعَلْنَا الَّيْلَ لِبَاسًاۙ

Wa ja‘alnal-laila libāsā(n).

Kami menjadikan malam sebagai pakaian.

Dan bukankah Kami telah menjadikan malam yang gelap gulita menutupi suatu wilayah di bumi sebagai-mana pakaian menutupi jasad manusia?

11

وَّجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًاۚ

Wa ja‘alnan-nahāra ma‘āsyā(n).

Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan.

Dan bukankah Kami juga telah menjadikan siang yang terang benderang sebagai waktu bagi kamu untuk mencari penghidupan? Siang yang terang memudahkan kamu untuk bekerja, baik di daratan maupun di lautan.

12

وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًاۙ

Wa banainā fauqakum sab‘an syidādā(n).

Kami membangun tujuh (langit) yang kukuh di atasmu.

Dan bukankah Kami telah pula membangun di atas kamu tujuh langit yang kukuh, padahal tidak kau jumpai tiang-tiang yang menyangganya? Tidak kamu dapati keretakan di langit itu agar dapat menjadi atap kuat yang menanungi penghuni bumi.

13

وَّجَعَلْنَا سِرَاجًا وَّهَّاجًاۖ

Wa ja‘alnā sirājaw wahhājā(n).

Kami menjadikan pelita yang terang-benderang (matahari).

Dan bukankah Kami juga telah menjadikan matahari dengan sinarnya yang kuat sebagai pelita yang terang-benderang? Cahayanya yang terang, panasnya yang menyebar, dan bergesernya posisi matahari di langit dari musim ke musim membawa maanfaat sangat banyak bagi kehidupan manusia.

14

وَّاَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرٰتِ مَاۤءً ثَجَّاجًاۙ

Wa anzalnā minal-mu‘ṣirāti mā’an ṡajjājā(n).

Kami menurunkan dari awan air hujan yang tercurah dengan deras

Dan bukankah telah pula Kami turunkan dari sela-sela awan yang mengandung uap air yang pekat itu air hujan yang tercurah dengan hebatnya? Air sangat besar artinya bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya, baik flora maupun fauna.

15

لِّنُخْرِجَ بِهٖ حَبًّا وَّنَبَاتًاۙ

Linukhrija bihī ḥabbaw wa nabātā(n).

agar Kami menumbuhkan dengannya biji-bijian, tanam-tanaman,

Kami turunkan hujan untuk Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian, seperti padi dan gandum dan tanam-tanaman lainnya. Biji-bijian yang pada awalnya terlihat mati akan hidup dan tumbuh begitu tersiram air hujan. Begitulah gambaran kebangkitan manusia di hari kiamat.

16

وَّجَنّٰتٍ اَلْفَافًاۗ

Wa jannātin alfāfā(n).

dan kebun-kebun yang rindang.

Dan dengan air hujan itu tumbuh kebun-kebun yang rindang. Kebun-kebun itu kemudian memproduksi oksigen, memberi kerindangan, dan menciptakan pemandangan yang indah.

17

اِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيْقَاتًاۙ

Inna yaumal-faṣli kāna mīqātā(n).

Sesungguhnya hari Keputusan itu adalah waktu yang telah ditetapkan,

Beralih dari penyebutan sembilan tanda kekuasaan-Nya, Allah lalu menyatakan hari kebangkitan sebagai suatu keniscayaan. Sungguh, hari keputusan adalah suatu waktu yang telah ditetapkan. Hanya Allah yang tahu kapan hari kiamat terjadi. Pada hari itu semua persoalan manusia akan diputuskan oleh Allah dengan seadil-adilnya.

18

يَّوْمَ يُنْفَخُ فِى الصُّوْرِ فَتَأْتُوْنَ اَفْوَاجًاۙ

Yauma yunfakhu fiṣ-ṣūri fa ta’tūna afwājā(n).

(yaitu) hari (ketika) sangkakala ditiup, lalu kamu datang berbondong-bondong.

Hari keputusan itu tiba pada hari ketika sangkakala ditiup oleh Israfil, lalu kamu akan bangkit dari kuburmu dan datang berbondong-bondong dan berduyun-duyun menuju tempat berkumpul, yaitu padang mahsyar untuk menanti keputusan Allah.

19

وَّفُتِحَتِ السَّمَاۤءُ فَكَانَتْ اَبْوَابًاۙ

Wa futiḥatis-samā’u fa kānat abwābā(n).

Langit pun dibuka. Maka, terdapatlah beberapa pintu.

Dan pada hari itu langit pun dibukalah, maka terdapatlah beberapa pintu akibat banyaknya rekahan di sana. Dari pintu-pintu itu para malaikat turun untuk melaksanakan tugas masing-masing.

20

وَّسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًاۗ

Wa suyyiratil-jibālu fa kānat sarābā(n).

Gunung-gunung pun dijalankan. Maka, ia menjadi (seperti) fatamorgana.

Dan pada hari itu gunung-gunung pun yang tadinya kukuh dijalankan oleh Allah dengan terlebih dahulu dihancurluluhkan, lalu diempaskan menjadi abu, lalu menjadi seperti kapas yang beterbangan, lalu pada akhirnya terempas sehingga menjadi fatamorgana. Seperti halnya fatamorgana di gurun pasir, asap pekat yang menggumpal tampak seperti gunung padahal tidak ada gunung di sana (Lihat pula: Surah al-Kahf/18: 47, Taha/20: 105-107, an-Naml/27: 88, al-Qari’ah/101: 5).

21

اِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًاۙ

Inna jahannama kānat mirṣādā(n).

Sesungguhnya (neraka) Jahanam itu (merupakan) tempat mengintai (bagi penjaga neraka)

Demikianlah fenomena hari kiamat yang sangat mencekam. Allah lalu beralih menjelaskan nasib orang kafir di akhirat. Sungguh, neraka Jahanam itu Kami jadikan sebagai tempat mengintai bagi para penjaga yang mengawasi neraka. Tidak ada satu orang kafir pun yang bisa lari dari siksa neraka.

22

لِّلطّٰغِيْنَ مَاٰبًاۙ

Liṭ-ṭāgīna ma’ābā(n).

(dan) menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas.

Neraka Jahanam itu menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas dengan menentang aturan agama dan mendustakan para rasul Allah. Kami akan siksa mereka di sana sebagai balasan atas perbuatan mereka, sebagaimana telah Kami peringatkan sebelumnya.

23

لّٰبِثِيْنَ فِيْهَآ اَحْقَابًاۚ

Lābiṡīna fīhā aḥqābā(n).

Mereka tinggal di sana dalam masa yang lama.

Mereka yang melampaui batas itu tinggal di sana yakni neraka Jahanam dalam masa yang lama. Hanya Allah yang mengetahui berapa lama mereka akan tinggal di neraka secara pasti. Bagi orang yang menderita, masa yang sebentar akan terasa sangat lama, apalagi jika masa itu benar-benar lama hingga ribuan tahun atau lebih.

24

لَا يَذُوْقُوْنَ فِيْهَا بَرْدًا وَّلَا شَرَابًاۙ

Lā yażūqūna fīhā bardaw wa lā syarābā(n).

Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman,

Mereka mendiami neraka Jahanam dengan penuh penderitaan. Mereka tidak pernah merasakan kesejukan di dalamnya untuk sekadar menikmati udara segar atau keteduhan, dan tidak pula mendapat minuman untuk melepas dahaga yang sangat berat.

25

اِلَّا حَمِيْمًا وَّغَسَّاقًاۙ

Illā ḥamīmaw wa gassāqā(n).

selain air yang mendidih dan nanah,

Mereka tidak diberi minuman apa pun selain air yang mendidih yang menghancurkan usus mereka dan nanah yang keluar dari kulit-kulit mereka yang berbau busuk dan menjijikkan.

26

جَزَاۤءً وِّفَاقًاۗ

Jazā’aw wifāqā(n).

sebagai pembalasan yang setimpal.

Semua itu Kami sediakan sebagai pembalasan yang setimpal atas perbuatan buruk mereka. Ancaman Allah melalui para rasul-Nya terhadap mereka ketika di dunia benar-benar akan terbukti.

27

اِنَّهُمْ كَانُوْا لَا يَرْجُوْنَ حِسَابًاۙ

Innahum kānū lā yarjūna ḥisābā(n).

Sesungguhnya mereka tidak pernah mengharapkan perhitungan.

Mereka pantas menerima siksa Jahanam karena sesungguhnya dahulu mereka tidak pernah mengharapkan perhitungan amal di akhirat, bahkan mereka mendustakan dan menertawakan hari perhitungan itu. Jika mereka meyakini hari perhitungan, pasti mereka akan berbuat kebajikan.

28

وَّكَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا كِذَّابًاۗ

Wa każżabū bi’āyātinā kiżżābā(n).

Mereka benar-benar mendustakan ayat-ayat Kami.

Dan di samping itu, mereka benar-benar mendustakan ayat-ayat Kami tentang tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan. Mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah cerita usang yang penuh kebohongan.

29

وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ كِتٰبًاۙ

Wa kulla syai’in aḥṣaināhu kitābā(n).

Segala sesuatu telah Kami catat dalam kitab (catatan amal manusia).

Allah tidak pernah salah dalam menentukan siapa yang berhak mendapat siksa karena Dia mempunyai catatan amal setiap orang. Dan segala sesuatu tentang amal perbuatan manusia telah Kami catat dalam suatu Kitab, yaitu buku catatan amal manusia, baik amal kecil maupun besar. Catatan itu akan menjadi saksi atas pelanggaran-pelanggaran mereka.

30

فَذُوْقُوْا فَلَنْ نَّزِيْدَكُمْ اِلَّا عَذَابًا ࣖ

Fa żūqū falan nazīdakum illā ‘ażābā(n)

Oleh karena itu, rasakanlah! Tidak akan Kami tambahkan kepadamu, kecuali azab.

Setelah Allah menjelaskan tentang keburukan perbuatan mereka, Allah mengatakan kepada mereka, “Maka karena semua perbuatan buruk yang kamu kerjakan itu rasakanlah siksa api neraka ini! Maka tidak ada yang akan Kami tambahkan kepadamu selain azab. Mereka ditimpa azab demi azab yang sangat pedih, menyakitkan jiwa dan raga, tidak ada jeda sedikit pun antara satu azab dan azab berikutnya. Mereka merasakannya dalam rentang waktu yang sangat lama. Inilah siksaan bagi mereka yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya.

31

اِنَّ لِلْمُتَّقِيْنَ مَفَازًاۙ

Inna lil-muttaqīna mafāzā(n).

Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (ada) kemenangan (surga),

Usai menjelaskan nasib para pendurhaka, Allah beralih menguraikan nasib orang bertakwa. Sungguh, orang-orang yang bertakwa dan selalu berbuat baik serta menghindari perbuatan buruk akan mendapat kemenangan dan kebahagiaan di akhirat.

32

حَدَاۤىِٕقَ وَاَعْنَابًاۙ

Ḥadā’iqa wa a‘nābā(n).

(yaitu) kebun-kebun, buah anggur,

Kemenangan dan kebahagiaan yang akan mereka dapatkan di antaranya berupa kebun-kebun yang rindang, indah, damai, dan sejuk; dan buah anggur yang kelezatan rasanya sangat berbeda dari anggur dunia meski memiliki sebutan yang sama. Inilah bentuk kenikmatan lingkungan dan makanan di surga.

33

وَّكَوَاعِبَ اَتْرَابًاۙ

Wa kawā‘iba atrābā(n).

gadis-gadis molek yang sebaya,

Dan Allah sediakan pula bagi mereka sebagai kenikmatan seksual dan pemberi ketenteraman hati, bidadari surga yaitu gadis-gadis yang cantik jelita, berpayudara montok, yang umur mereka sebaya.

34

وَّكَأْسًا دِهَاقًاۗ

Wa ka’san dihāqā(n).

dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).

Dan bagi mereka Allah berikan kenikmatan lainnya, yaitu gelas-gelas yang penuh minuman. Minuman itu amat beragam, di antaranya susu, anggur, dan khamar yang tidak memabukkan.

35

لَا يَسْمَعُوْنَ فِيْهَا لَغْوًا وَّلَا كِذّٰبًا

Lā yasma‘ūna fīhā lagwaw wa lā kiżżābā(n).

Di sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia dan tidak pula (perkataan) dusta.

Suasana di surga itu amat damai dan menyenangkan. Di sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia, tidak bermanfaat, maupun perkataan dusta.

36

جَزَاۤءً مِّنْ رَّبِّكَ عَطَاۤءً حِسَابًاۙ

Jazā’am mir rabbika ‘aṭā’an ḥisābā(n).

(Hal itu) sebagai balasan (dan) pemberian yang banyak dari Tuhanmu,

Semua kenikmatan itu disediakan sebagai balasan dan pemberian yang cukup banyak dari Tuhanmu yang telah menuntunmu menuju jalan ketakwaan.

37

رَّبِّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الرَّحْمٰنِ لَا يَمْلِكُوْنَ مِنْهُ خِطَابًاۚ

Rabbis-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumar-raḥmāni lā yamlikūna minhu khiṭābā(n).

(yaitu) Tuhan (pemelihara) langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, Yang Maha Pengasih. Mereka tidak memiliki (hak) berbicara dengan-Nya.

Tuhan yang menganugerahkan semua itu adalah Tuhan Pemelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Dialah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Mahakaya. Dia mempunyai rahmat yang sangat banyak. Mereka tidak mampu berbicara dengan Dia. Semua unduk dan patuh kepada-Nya, tidak ada yang mampu berbicara dengan-Nya kecuali atas seizin-Nya.

38

يَوْمَ يَقُوْمُ الرُّوْحُ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ صَفًّاۙ لَّا يَتَكَلَّمُوْنَ اِلَّا مَنْ اَذِنَ لَهُ الرَّحْمٰنُ وَقَالَ صَوَابًا

Yauma yaqūmur-rūḥu wal-malā’ikatu ṣaffā(n), lā yatakallamūna illā man ażina lahur-raḥmānu wa qāla ṣawābā(n).

Pada hari ketika Rūḥ dan malaikat berdiri bersaf-saf. Mereka tidak berbicara, kecuali yang diizinkan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan dia mengatakan yang benar.

Tidak ada yang mampu berbicara langsung dengan Allah pada hari ketika ruh, yaitu Jibril, dan para malaikat lain yang berdiri bersaf-saf secara teratur dengan penuh tunduk dan khusyuk. Mereka, baik Jibril atau lainnya, tidak berani berkata-kata karena khidmatnya situasi saat itu, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pengasih untuk berkata kepada-Nya, dan dia hanya mengatakan sesuatu yang benar dan diridai Allah.

39

ذٰلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّۚ فَمَنْ شَاۤءَ اتَّخَذَ اِلٰى رَبِّهٖ مَاٰبًا

Żālikal-yaumul-ḥaqq(u), faman syā’attakhaża ilā rabbihī ma’ābā(n).

Itulah hari yang hak (pasti terjadi). Siapa yang menghendaki (keselamatan) niscaya menempuh jalan kembali kepada Tuhannya (dengan beramal saleh).

Itulah hari yang pasti terjadi sesuai janji Allah. Allah pasti menepati janji-Nya. Maka, barang siapa menghendaki agar mendapat keridaan Allah di akhirat nanti, niscaya dia harus senantiasa menempuh jalan kembali kepada Tuhannya dengan selalu berbuat baik.

40

اِنَّآ اَنْذَرْنٰكُمْ عَذَابًا قَرِيْبًا ەۙ يَّوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُوْلُ الْكٰفِرُ يٰلَيْتَنِيْ كُنْتُ تُرٰبًا ࣖ

Innā anżarnākum ‘ażāban qarībā(n), yauma yanẓurul-mar’u mā qaddamat yadāhu wa yaqūlul-kāfiru yā laitanī kuntu turābā(n).

Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kamu akan azab yang dekat pada hari (ketika) manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya dan orang kafir berkata, “Oh, seandainya saja aku menjadi tanah.”

Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu azab di akhirat yang waktunya sungguh sangat dekat dan segera tiba, yaitu pada hari ketika manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, oleh dirinya sendiri, dan orang kafir berkata dengan penuh penyesalan, “Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah, bukan menjadi manusia yang mendapat taklif agama, niscaya aku tidak dihadapkan pada pertanggungjawaban atas perbuatanku sebagaimana yang aku hadapi hari ini.”

Surat An-Nazi’at

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

وَالنّٰزِعٰتِ غَرْقًاۙ

Wan-nāzi‘āti garqā(n).

Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa orang kafir) dengan keras,

Allah memulai surah ini dengan sumpah demi malaikat yang diberiNya tugas berat. Di antara tujuannya adalah agar manusia menghayati peran-peran tersebut dalam kehidupan. Demi malaikat yang mencabut nyawa kaum kafir dengan keras dan kasar sebagai tanda kegeraman para malaikat itu terhadap mereka.

2

وَّالنّٰشِطٰتِ نَشْطًاۙ

Wan-nāsyiṭāti nasyṭā(n).

demi (malaikat) yang mencabut (nyawa orang mukmin) dengan lemah lembut,

Demi malaikat yang mencabut nyawa orang mukmin dengan halus dan lemah lembut sebagai tanda simpati para malaikat itu kepada mereka. Malaikat mencabut nyawa mereka sambil berkata, “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah ke Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.”

3

وَّالسّٰبِحٰتِ سَبْحًاۙ

Was-sābiḥāti sabḥā(n).

demi (malaikat) yang cepat (menunaikan tugasnya) dengan mudah,

Demi malaikat yang turun dari langit dengan cepat untuk melaksanakan tugas dari Allah sembari selalu bertasbih menyucikan Allah dan mengagungkanNya sepanjang waktu,

4

فَالسّٰبِقٰتِ سَبْقًاۙ

Fas-sābiqāti sabqā(n).

(malaikat) yang bergegas (melaksanakan perintah Allah) dengan cepat,

dan demi malaikat yang mendahului yang lain dengan kencang, cepat, dan cekatan untuk melakukan tugas-tugasnya tanpa mengulur waktu,

5

فَالْمُدَبِّرٰتِ اَمْرًاۘ

Fal-mudabbirāti amrā(n).

dan (malaikat) yang mengatur urusan (dunia),

dan demi malaikat yang mengatur urusan dunia, seperti pengisaran angin, turunnya hujan, dan sebagainya sesuai perintah Allah.

6

يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُۙ

Yauma tarjufur-rājifah(tu).

(kamu benar-benar akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama mengguncang (alam semesta).

Sungguh, demi lima macam malaikat itu, kiamat pasti akan terjadi pada hari ketika tiupan pertama mengguncangkan alam, menghancurkan gunung, mengubah lautan menjadi api, dan sebagainya. Setelah tiupan pertama ini semua makhluk hidup akan mati.

7

تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ ۗ

Tatba‘uhar-rādifah(tu).

(Tiupan pertama) itu diiringi oleh tiupan kedua.

Tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua, di mana manusia bangkit dari kubur untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di dunia.

8

قُلُوْبٌ يَّوْمَىِٕذٍ وَّاجِفَةٌۙ

Qulūbuy yauma’iżiw wājifah(tun).

Hati manusia pada hari itu merasa sangat takut;

Suasana pada hari itu sangat mencekam. Hati manusia pada waktu itu merasa sangat takut, jantung mereka berdegup kencang karena mereka akan dihadapkan ke pengadilan Allah untuk menunggu putusan Allah kepada mereka.

9

اَبْصَارُهَا خَاشِعَةٌ ۘ

Abṣāruhā khāsyi‘ah(tun).

pandangannya tertunduk.

Pandangannya tunduk karena merasa hina dina di hadapan Allah.

10

يَقُوْلُوْنَ ءَاِنَّا لَمَرْدُوْدُوْنَ فِى الْحَافِرَةِۗ

Yaqūlūna a’innā lamardūdūna fil-ḥāfirah(ti).

Mereka (di dunia) berkata, “Apakah kita benar-benar akan dikembalikan pada kehidupan yang semula?

Orang-orang kafir yang mengingkari hari kebangkitan berkata dengan penuh pengingkaran, “Setelah kematian, apakah kita benar-benar akan dikembalikan kepada kehidupan yang semula?”

11

ءَاِذَا كُنَّا عِظَامًا نَّخِرَةً ۗ

A’iżā kunnā ‘iẓāman nakhirah(tan).

Apabila kita telah menjadi tulang-belulang yang hancur, apakah kita (akan dibangkitkan juga)?”

“Apakah kita akan dibangkitkan juga apabila kita telah menjadi tulang belulang yang hancur?” Mereka memandang persoalan hari kebangkitan hanya dengan pendekatan logika, padahal persoalan ini harus didekati dengan keimanan. Al-Qur’an banyak menyajikan dalil meyakinkan tentang keniscayaan hari kebangkitan.”

12

قَالُوْا تِلْكَ اِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ ۘ

Qālū tilka iżan karratun khāsirah(tun).

Mereka berkata, “Kalau demikian, itu suatu pengembalian yang merugikan.”

Mereka yang ingkar itu berkata dengan nada mengejek, “Kalau hal yang demikian itu benar-benar terjadi, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan bagi kami. Hal itu tidak akan terjadi kepada kami.

13

فَاِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَّاحِدَةٌۙ

Fa innamā hiya zajratuw wāḥidah(tun).

(Jangan dianggap sulit,) pengembalian itu (dilakukan) hanyalah dengan sekali tiupan.

Pengembalian dan pembangkitan itu bukanlah hal yang sulit bagi Allah. Maka pengembalian itu hanyalah dengan sekali tiupan saja oleh Malaikat Israfil melalui tiupan yang kedua.

14

فَاِذَا هُمْ بِالسَّاهِرَةِۗ

Fa iżā hum bis-sāhirah(ti).

Seketika itu, mereka hidup kembali di bumi (yang baru).

Maka seketika itu mereka hidup kembali di bumi yang baru. Dengan tiupan sangkakala kedua itu saja semua manusia akan bangkit dari kubur dan digiring ke Padang Mahsyar.

15

هَلْ اَتٰىكَ حَدِيْثُ مُوْسٰىۘ

Hal atāka ḥadīṡu mūsā.

Sudah sampaikah kepadamu (Nabi Muhammad) kisah Musa?

Wahai Nabi Muhammad, bersabarlah atas pengingkaran kaummu sebagaimana kesabaran nabi-nabi terdahulu. Sudahkah sampai kepadamu kisah Nabi Musa yang berdakwah kepada Fir’aun yang zalim?

16

اِذْ نَادٰىهُ رَبُّهٗ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًىۚ

Iż nādāhu rabbuhū bil-wādil-muqaddasi ṭuwā(n).

(Ingatlah) ketika Tuhannya menyeru dia (Musa) di lembah suci, yaitu Lembah Tuwa,

Ingatlah kisah ketika Tuhan memanggilnya di lembah suci, yaitu Lembah Tuwa;

17

اِذْهَبْ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۖ

Iżhab ilā fir‘auna innahū ṭagā.

“Pergilah engkau kepada Fir‘aun! Sesungguhnya dia telah melampaui batas.

Di lembah itu Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa dan membekalinya dengan dua mukjizat: tongkat yang berubah menjadi ular dan telapak tangan yang bercahaya. Wahai Nabi Musa, pergilah engkau kepada Fir’aun! Sesungguhnya dia telah melampaui batas, memperbudak bangsa Israel, membunuhi anak lelaki mereka, dan membiarkan hidup anak perempuan mereka.

18

فَقُلْ هَلْ لَّكَ اِلٰٓى اَنْ تَزَكّٰىۙ

Fa qul hal laka ilā an tazakkā.

Lalu, katakanlah (kepada Fir‘aun), ‘Adakah keinginanmu untuk menyucikan diri (dari kesesatan)

Maka nasihati dan katakanlah kepada Firaun dengan sopan dan lemah lembut, “Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri dari kesesatan dan dosa?

19

وَاَهْدِيَكَ اِلٰى رَبِّكَ فَتَخْشٰىۚ

Wa ahdiyaka ilā rabbika fa takhsyā.

dan aku akan menunjukimu ke (jalan) Tuhanmu agar engkau takut (kepada-Nya)?’”

Dan engkau akan kupimpin dan kubimbing ke jalan Tuhanmu yang benar dan lurus agar engkau takut kepada-Nya dengan menyembah-Nya dan berbuat baik?”

20

فَاَرٰىهُ الْاٰيَةَ الْكُبْرٰىۖ

Fa arāhul-āyatal-kubrā.

Lalu, dia (Musa) memperlihatkan mukjizat yang besar kepadanya.

Firaun marah mendengar ajakan Nabi Musa dan memintanya memperlihatkan bukti kerasulannya. Nabi Musa lalu memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar, yaitu tongkat yang berubah menjadi ular dan tangan yang bercahaya.

21

فَكَذَّبَ وَعَصٰىۖ

Fa każżaba wa ‘aṣā.

Akan tetapi, dia (Fir‘aun) mendustakan (kerasulan) dan mendurhakai (Allah).

Firaun semakin marah karena merasa terhina dan harga dirinya terusik oleh kedatangan Nabi Musa. Bukan beriman, tetapi dia justru mendustakan Nabi Musa dan mendurhakai-nya dan menuduh beliau sebagai pesihir ulung.

22

ثُمَّ اَدْبَرَ يَسْعٰىۖ

Ṡumma adbara yas‘ā.

Kemudian, dia berpaling seraya berusaha (menantang Musa).

Kemudian dia berpaling dari kebenaran seraya berusaha menantang Nabi Musa untuk bertanding melawan para pesihir yang didatangkannya dari seluruh pelosok Mesir.

23

فَحَشَرَ فَنَادٰىۖ

Fa ḥasyara fanādā.

Maka, dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya), lalu berseru (memanggil kaumnya).

Kemudian dia mengumpulkan pembesar-pembesarnya yang setia lalu berseru memanggil kaumnya melalui petugas dan bala tentaranya.

24

فَقَالَ اَنَا۠ رَبُّكُمُ الْاَعْلٰىۖ

Fa qāla ana rabbukumul-a‘lā.

Dia berkata, “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.”

Fir’aun berkata dengan sombong dan angkuh, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi. Hanya aku yang berhak kamu taati, bukan Tuhan Nabi Musa. Akulah yang paling berkuasa di negeri Mesir ini.”

25

فَاَخَذَهُ اللّٰهُ نَكَالَ الْاٰخِرَةِ وَالْاُوْلٰىۗ

Fa akhażahullāhu nakālal-ākhirati wal-ūlā.

Maka, Allah menghukumnya dengan azab di akhirat dan (siksaan) di dunia.

Pertandingan melawan para pesihir akhirnya dihelat dan memunculkan Nabi Musa sebagai pemenang. Mereka lantas beriman kepada Nabi Musa. Merasa terancam, Firaun mengejar Nabi Musa dan pengikutnya hingga pinggir Laut Merah. Maka Allah menghukumnya dengan azab di akhirat dengan siksaan yang pedih dan siksaan di dunia dengan menenggelamkannya di Laut Merah bersama para prajuritnya.

26

اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّمَنْ يَّخْشٰى ۗ ࣖ

Inna fī żālika la‘ibratal limay yakhsyā.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Allah).

Demikianlah kisah dakwah dan ketabahan Nabi Musa menghadapi Fir’aun. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang sangat berharga bagi orang yang takut kepada Allah. Kisah itu mengajarkan bahwa kebenaran pasti akan mengalahkan kebatilan dan jabatan yang tinggi seringkali menjerumuskan seseorang untuk melanggar baik terhadap aturan agama maupun etika.

27

ءَاَنْتُمْ اَشَدُّ خَلْقًا اَمِ السَّمَاۤءُ ۚ بَنٰىهَاۗ

A’antum asyaddu khalqan amis-samā’u banāhā.

Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya?

Menjelaskan keperkasaan Allah dan kelemahan manusia, Allah berfrman, “Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya? Secara logika, penciptaan langit yang demikian luas tentu lebih sulit daripada penciptaan manusia.

28

رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوّٰىهَاۙ

Rafa‘a samkahā fa sawwāhā.

Dia telah meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya.

Allah telah menciptakan langit. Dia telah meninggikan bangunannya sedemikian tinggi dan kukuh lalu Dia menyempurnakannya sehingga tidak kamu jumpai di sana keretakan atau bentuk-bentuk cacat lainnya.

29

وَاَغْطَشَ لَيْلَهَا وَاَخْرَجَ ضُحٰىهَاۖ

Wa agṭasya lailahā wa akhraja ḍuḥāhā.

Dia menjadikan malamnya (gelap gulita) dan menjadikan siangnya (terang benderang).

Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dia menyediakan malam sebagai waktu beristirahat dan siang sebagai waktu bekerja. Penciptaan siang dan malam bukan perkara mudah, melainkan melalui mekanisme yang amat rumit dalam pandangan manusia.

30

وَالْاَرْضَ بَعْدَ ذٰلِكَ دَحٰىهَاۗ

Wal-arḍa ba‘da żālika daḥāhā.

Setelah itu, bumi Dia hamparkan (untuk dihuni).

Dan setelah penciptaan langit itu bumi Dia hamparkan sebagai tempat tinggal yang nyaman bagi manusia dan makhluk lainnya.

31

اَخْرَجَ مِنْهَا مَاۤءَهَا وَمَرْعٰىهَاۖ

Akhraja minhā mā’ahā wa mar‘āhā.

Darinya (bumi) Dia mengeluarkan air dan (menyediakan) tempat penggembalaan.

Dia hamparkan bumi dan darinya Dia pancarkan mata air dan Dia tumbuhkan tumbuh-tumbuhannya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi makhluk hidup di sana.

32

وَالْجِبَالَ اَرْسٰىهَاۙ

Wal-jibāla arsāhā.

Gunung-gunung Dia pancangkan dengan kukuh.

Dan di bumi itu gunung-gunung Dia pancangkan dengan teguh agar bumi tidak bergoncang sehingga bisa ditempati dengan nyaman.

33

مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْۗ

Matā‘al lakum wa li’an‘āmikum.

(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan ternakmu.

Allah menciptakan itu semua untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu. Kamu bisa hidup di bumi dengan memanfaatkan apa yang ada, sebagai bukti kasih sayang Allah yang tak terhingga.

34

فَاِذَا جَاۤءَتِ الطَّاۤمَّةُ الْكُبْرٰىۖ

Fa iżā jā’atiṭ-ṭāmmatul-kubrā.

Maka, apabila malapetaka terbesar (hari Kiamat) telah datang,

yaitu pada hari ketika manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, yang selama ini mereka lupakan, baik berupa amal baik maupun buruk.

35

يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ مَا سَعٰىۙ

Yauma yatażakkarul-insānu mā sa‘ā.

pada hari (itu) manusia teringat apa yang telah dikerjakannya

yaitu pada hari ketika manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, yang selama ini mereka lupakan, baik berupa amal baik maupun buruk.

36

وَبُرِّزَتِ الْجَحِيْمُ لِمَنْ يَّرٰى

Wa burrizatil-jaḥīmu limay yarā.

dan (neraka) Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang yang melihat(-nya).

Dan nanti di akhirat, neraka dengan segala siksaan yang sangat mengerikan di dalamnya akan diperlihatkan dengan jelas kepada setiap orang yang melihat.

37

فَاَمَّا مَنْ طَغٰىۖ

Fa ammā man ṭagā.

Adapun orang yang melampaui batas

Di akhirat Allah akan memberi putusan kepada manusia, memisahkan mereka menjadi dua kelompok besar. Maka adapun orang yang melampaui batas dengan berlaku musyrik, kafir, dan maksiat,

38

وَاٰثَرَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۙ

Wa āṡaral-ḥayātad-dun-yā.

dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,

dan lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada akhirat,

39

فَاِنَّ الْجَحِيْمَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ

Fa innal-jaḥīma hiyal-ma’wā.

sesungguhnya (neraka) Jahimlah tempat tinggal(-nya).

maka sungguh, nerakalah tempat tinggalnya untuk waktu yang sangat lama. Inilah bukti keadilan Allah.

40

وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰىۙ

Wa ammā man khāfa maqāma rabbihī wa nahan-nafsa ‘anil-hawā.

Adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya,

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dengan melakukan amal saleh dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya dengan menaati ajaran agama,

41

فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ

Fa innal-jannata hiyal-ma’wā.

sesungguhnya surgalah tempat tinggal(-nya).

maka sungguh, surgalah tempat tinggal-nya untuk selama-lamanya dengan segala kenikmatan di dalamnya. Itulah anugerah agung Tuhan Yang Maha Pemurah.

42

يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَاۗ

Yas’alūnaka ‘anis-sā‘ati ayyāna mursāhā.

Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang hari Kiamat, “Kapankah terjadinya?”

Wahai Nabi Muhammad, orang-orang kafir akan mengingkari hari kiamat. Mereka bertanya kepadamu tentang hari Kiamat dengan penuh keingkaran, “Kapankah terjadinya?”

43

فِيْمَ اَنْتَ مِنْ ذِكْرٰىهَاۗ

Fīma anta min żikrāhā.

Untuk apa engkau perlu menyebutkan (waktu)-nya?

Untuk apa engkau perlu menyebutkan waktu-nya kepada mereka, sedang engkau sendiri tidak mengetahui hal itu?

44

اِلٰى رَبِّكَ مُنْتَهٰىهَاۗ

Ilā rabbika muntahāhā.

Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahan (ketentuan waktu)-nya.

Hanya kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya, yakni ketentuan waktunya.

45

اِنَّمَآ اَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَّخْشٰىهَاۗ

Innamā anta munżiru may yakhsyāhā.

Engkau (Nabi Muhammad) hanyalah pemberi peringatan kepada siapa yang takut padanya (hari Kiamat).

Wahai Nabi, engkau tidak tahu kapan kiamat akan terjadi. Engkau kami utus hanyalah sebagai pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya, lalu beriman dan berbuat baik untuk menghindari azab di akhirat.

46

كَاَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا عَشِيَّةً اَوْ ضُحٰىهَا ࣖ

Ka’annahum yauma yaraunahā lam yalbaṡū illā ‘asyiyyatan au ḍuḥāhā.

Pada hari ketika melihatnya (hari Kiamat itu), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar) tinggal (di dunia) pada waktu petang atau pagi.

Hari kiamat itu penuh dengan huru-hara yang membuat manusia sangat tercengang. Pada hari ketika mereka melihat hari Kiamat itu, mereka merasa seakan-akan hanya sebentar saja tinggal di dunia, hidup di dunia seakan hanya pada waktu sore atau pagi hari.

Surat ‘Abasa

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ

‘Abasa wa tawallā.

Dia (Nabi Muhammad) berwajah masam dan berpaling

Jika bagian akhir Surah an-Nziat menjelaskan tugas Nabi sebagai pemberi peringatan tentang hari kiamat, maka pada permulaan Surah Abasa Allah menyebutkan siapa yang akan mendapatkan manfaat dari peringatan tersebut. Disebutkan bahwa seorang pria buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum, anak paman Khadijah, menghadap Nabi untuk meminta petunjuk. Ketika itu Nabi tengah berdakwah kepada para pemuka Quraisy. Nabi kurang berkenan dengan kedatangannya. Muka Nabi menjadi masam. Atas perilaku tersebut Allah menegurnya dengan halus. Teguran ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukanlah perkataan Nabi melainkan kalamullah. Dengan teguran itu Allah menghendaki agar Nabi Muhammad melakukan hal yang lebih utama, yaitu memperhatikan orang yang sungguh-sungguh mencari kebenaran dan berpegang teguh dengan Islam. Dia, Nabi Muhammad, berwajah masam karena kedatangan Ibnu Ummi Maktum, dan berpaling darinya untuk melanjutkan pembicaraan dengan pemuka Quraisy.

2

اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ

An jā’ahul-a‘mā.

karena seorang tunanetra (Abdullah bin Ummi Maktum) telah datang kepadanya.

Nabi kurang berkenan sehingga bermuka masam karena seorang buta telah datang kepadanya, yaitu Abdullah bin Ummi Maktum. Allah menegur Nabi karena lebih mementingkan bertemu dengan pemuka Quraisy untuk mengajak mereka masuk Islam. Dalam pandangan Allah, semestinya Nabi lebih mementingkan siapa pun yang betul-betul ingin mengamalkan ajaran Islam, tidak peduli ia dari kalangan fakir miskin bahkan cacat. Abdullah terus memanggil-manggil Nabi, sedang dia karena kebutaannya tidak tahu bahwa beliau sedang bersama para pemuka Quraisy (Lihat: Surah al-An’am/6: 52; al-Kahf/18: 28).

3

وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ

Wa mā yudrīka la‘allahū yazzakkā.

Tahukah engkau (Nabi Muhammad) boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa)

Wahai Nabi Muhammad, Kami menegur sikapmu yang demikian karena tahukah engkau barangkali dia datang menghadapmu untuk minta pengajaran darimu sebab dia ingin menyucikan dirinya dari dosa dan kesalahan masa lalunya?

4

اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ

Au yażżakkaru fatanfa‘ahuż-żikrā.

atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran sehingga pengajaran itu bermanfaat baginya?

Atau tahukah engkau bila dia datang karena dia ingin mendapatkan pengajaran Al-Qur’an dan ajaran Islam darimu, yang memberi manfaat kepadanya sehingga dia lebih tekun beribadah, beramal saleh, dan menjadi pengikut setiamu?

5

اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ

Ammā manistagnā.

Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (para pembesar Quraisy),

Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup dengan apa yang dia punya, seperti kedudukan, status sosial, dan kekayaan; sehingga dia enggan beriman kepada Allah dan mengikuti ajaranmu,

6

فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ

Fa anta lahū taṣaddā.

engkau (Nabi Muhammad) memberi perhatian kepadanya.

maka engkau justru memberi perhatian kepadanya secara penuh agar jika dia masuk Islam dan menjadi pelopor bagi pengikutnya. Dalam berdakwah kepada pemuka Quraiys, Nabi sebetulnya mempunyai niat yang mulia, tetapi Allah menegur perlakuan Nabi kepada Abdullh lebih karena Dia menginginkan Nabi melakukan sesuatu yang lebih baik.

7

وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ

Wa mā ‘alaika allā yazzakkā.

Padahal, tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman).

Wahai Nabi, mengapa engkau lebih mengutamakan pelayanan terhadap pemuka Quraisy itu, padahal tidak ada celaan atasmu kalau dia tidak menyucikan diri dengan beriman kepada Allah? Tugasmu hanyalah menyampaikan wahyu, dan setelah itu tidak ada dosa bagimu jika dia tetap berpaling dan enggan mengikuti petunjukmu. Lalu, mengapa engkau menomorduakan permintaan orang buta lagi fakir yang ingin belajar Islam darimu?

8

وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ

Wa ammā man jā’aka yas‘ā.

Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),

Dan adapun orang, yaitu Abdullah bin Ummi Maktum, yang datang kepadamu dengan bersegera dan bersungguh-sungguh untuk mendapatkan pengajaran Islam darimu,

9

وَهُوَ يَخْشٰىۙ

Wa huwa yakhsyā.

sedangkan dia takut (kepada Allah),

sedang dia takut akan siksa Allah jika tidak mematuhi-Nya,

10

فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ

Fa anta ‘anhu talahhā.

malah engkau (Nabi Muhammad) abaikan.

engkau malah mengabaikannya, berpaling darinya, tidak menghiraukannya, dan bermuka masam kepadanya.

11

كَلَّآ اِنَّهَا تَذْكِرَةٌ ۚ

Kallā innahā tażkirah(tun).

Sekali-kali jangan (begitu)! Sesungguhnya (ajaran Allah) itu merupakan peringatan.

Menjelaskan tujuan utama dari teguran-Nya, Allah berfirman, “Sekali-kali jangan berbuat demikian! Sungguh, ajaran-ajaran Allah itu suatu peringatan bagi semua orang agar mereka kembali ke fitrah, yaitu mentauhidkan-Nya dan mengimani-Nya.”

12

فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗ ۘ

Faman syā’a żakarah(ū).

Siapa yang menghendaki tentulah akan memperhatikannya

Perigatan-peringatan Allah sudah sangat jelas, maka barang siapa menghendaki untuk mempelajari dengan sungguh-sungguh, tentulah dia akan memperhatikannya, menghayatinya, lalu mengamalkannya. Tidak ada yang menghalangi seseorang memperoleh peringatan itu selain hati yang penuh kesombongan dan keingkaran.

13

فِيْ صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍۙ

Fī ṣuḥufim mukarrmah(tin).

di dalam suhuf yang dimuliakan (di sisi Allah),

Peringatan-peringatan dalam ayat Al-Qur’an itu terdapat di dalam kitab-kitab yang dimuliakan karena berada di sisi Allah dan memuat kalam serta dan pesan-Nya yang sangat berharga.

14

مَّرْفُوْعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ ۢ ۙ

Marfū‘atim muṭahharah(tin).

yang ditinggikan (kedudukannya) lagi disucikan

Itulah lembaran-lembaran mulia yang ditinggikan derajatnya dan disucikan; tidak ada yang bisa mengotori bahkan menjamahnya. Lembaran-lembaran itu dijauhkan dari segala kekurangan dan tidak ada pertentangan di antara ayat-ayatnya.

15

بِاَيْدِيْ سَفَرَةٍۙ

Bi’aidī safarah(tin).

di tangan para utusan (malaikat)

Lembaran-lembaran itu berada di tangan para utusan, yaitu para malaikat, pesuruh Allah yang bertugas sebagai penyampai pesan-pesan-Nya.

16

كِرَامٍۢ بَرَرَةٍۗ

Kirāmim bararah(tin).

yang mulia lagi berbudi.

Para malaikat penulis itu adalah makhluk Allah yang mulia lagi berbakti. Mereka tidak pernah durhaka kepada-Nya dan tidak pula melanggar titah-Nya.

17

قُتِلَ الْاِنْسَانُ مَآ اَكْفَرَهٗۗ

Qutilal-insānu mā akfarah(ū).

Celakalah manusia! Alangkah kufur dia!

Allah telah menurunkan Al-Qur’an sebagai kitab yang penuh peringatan bagi manusia agar mereka mengikuti jalan Allah, tetapi celakalah manusia, alangkah jauh mereka dari rahmat Allah, alangkah kufurnya dia kepada peringatan Tuhan!

18

مِنْ اَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهٗۗ

Min ayyi syai’in khalaqah(ū).

Dari apakah Dia menciptakannya?

Mengapa mereka ingkar? Tidakkah mereka sadar dari apakah Dia menciptakannya?

19

مِنْ نُّطْفَةٍۗ خَلَقَهٗ فَقَدَّرَهٗۗ

Min nuṭfah(tin), khalaqahū fa qaddarah(ū).

Dia menciptakannya dari setetes mani, lalu menentukan (takdir)-nya.

Manusia hanyalah makhluk yang sangat lemah. Allah menciptakannya dari sesuatu yang hina, yaitu setetes mani. Dia menciptakannya melalui berbagai tahapan, dari tahap alaqah yang menempel di dinding rahim, lalu berubah menjadi mudgah, kemudian tahap pembentukan tulang, kemudian tahap dibungkusnya tulang itu dengan daging, lalu Allah menentukannya dan mewujudkannya dalam bentuk yang sempurna, dilengkapi dengan panca indera, akal, dan sebagainya.

20

ثُمَّ السَّبِيْلَ يَسَّرَهٗۙ

Ṡummas-sabīla yassarah(ū).

Kemudian, jalannya Dia mudahkan.

Setelah mewujudkan manusia dalam bentuk yang sempurna, dengan kasih sayang-Nya kemudian jalannya Dia mudahkan dengan cara mengeluarkannya dari perut ibunya. Dia juga memberinya kemudahan untuk membedakan kebaikan dan keburukan agar dia memilih jalan hidupnya sendiri.

21

ثُمَّ اَمَاتَهٗ فَاَقْبَرَهٗۙ

Ṡumma amātahū fa aqbarah(ū).

Kemudian, Dia mematikannya lalu menguburkannya.

Kemudian setelah manusia menuntaskan hidupnya di dunia, Dia mematikannya dengan mencabut rohnya dan menguburkannya untuk menjalani kehidupan baru di alam barzakh. Manusia tidak bisa menolak kematian; sebagaiamana dia diciptakan dari tanah, dia akan kembali ke tanah.

22

ثُمَّ اِذَا شَاۤءَ اَنْشَرَهٗۗ

Ṡumma iżā syā’a ansyarah(ū).

Kemudian, jika menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.

Setelah manusia berada di alam barzakh sekian lama, kemudian jika Dia menghendaki, Dia akan membangkitkannya kembali di hari kebangkitan untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di dunia.

23

كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ اَمَرَهٗۗ

Kallā lammā yaqḍi mā amarah(ū).

Sekali-kali jangan (begitu)! Dia (manusia) itu belum melaksanakan apa yang Dia (Allah) perintahkan kepadanya.

Allah telah mencurahkan kasih sayang-Nya kepada manusia, namun banyak dari mereka enggan bersyukur, bahkan berbuat maksiat. Sungguh suatu hal yang mengherankan. Sekali-kali jangan berbuat demikian; dia itu belum melaksanakan apa yang Dia perintahkan kepadanya, yaitu beriman, beribadah, dan menaati aturan-Nya.

24

فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖٓ ۙ

Falyanẓuril-insānu ilā ṭa‘āmih(ī).

Maka, hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.

Jika manusia bersikeras dengan keingkarannya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya yang dia makan setiap hari; dari mana makanan itu berasal?

25

اَنَّا صَبَبْنَا الْمَاۤءَ صَبًّاۙ

Annā ṣababnal-mā’a ṣabbā(n).

Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air (dari langit) dengan berlimpah.

Kamilah yang menyediakan makanan itu bagi mereka melalui beberapa tahap. Kamilah yang telah mencurahkan air hujan yang melimpah dari arah langit, yang berasal dari uap air yang membentuk awan yang menggumpal dan saling bertumpuk.

26

ثُمَّ شَقَقْنَا الْاَرْضَ شَقًّاۙ

Ṡumma syaqaqnal-arḍa syaqqā(n).

Kemudian, Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.

Kemudian setelah air hujan itu membasahi bumi, Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya. Kami suburkan kembali bumi yang tadinya tandus. Biji-bijian di dalam tanah mulai hidup dan menyeruak ke atas, membelah permukaan tanah

27

فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا حَبًّاۙ

Fa’ambatnā fīhā ḥabbā(n).

Lalu, Kami tumbuhkan padanya biji-bijian,

Lalu di sana Kami tumbuhkan biji-bijian dengan segala macam dan ragamnya, seperti biji padi dan gandum.

28

وَّعِنَبًا وَّقَضْبًاۙ

Wa ‘inabaw wa qaḍbā(n).

anggur, sayur-sayuran,

Dan Kami tumbuhkan pula di sana anggur dan sayur-sayuran,

29

وَّزَيْتُوْنًا وَّنَخْلًاۙ

Wa zaitūnaw wa nakhlā(n).

zaitun, pohon kurma,

dan demikian pula zaitun dan pohon kurma yang sangat bermanfaat bagi kesehatan.

30

وَّحَدَاۤىِٕقَ غُلْبًا

Wa ḥadā’iqa gulbā(n).

kebun-kebun (yang) rindang,

Dan Kami tumbuhkan juga dengan air hujan itu kebun-kebun yang rindang dan menyejukkan pandangan, menjadi tempat tinggal ber-bagai binatang, dan memproduksi oksigen.

31

وَفَاكِهَةً وَّاَبًّا

Wa fākihataw wa abbā(n).

buah-buahan, dan rerumputan.

Dan dengan air hujan itu pula Kami tumbuhkan pohon penghasil buah-buahan yang beraneka warna serta rerumputan.

32

مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْۗ

Matā‘al lakum wa li’an‘āmikum.

(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan-hewan ternakmu.

Kami tumbuhkan itu semua untuk kesenanganmu agar hidupmu makmur dan sejahtera, dan untuk kesenangan hewan-hewan ternakmu. Dengan itu semua kamu hidup tenang dan tidak bersusah payah. Kamu hanya perlu emanfaatkannya, menjaga kelestariannya, dan mengimani Penciptanya sebagai bentuk rasa syukurmu kepada-Nya.

33

فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُ ۖ

Fa iżā jā’atiṣ-ṣākhkhah(tu).

Maka, apabila datang suara yang memekakkan (dari tiupan sangkakala),

Kenikmatan-kenikmatan itu kelak akan diminta pertanggungjawabannya pada hari kiamat. Maka apabila datang suara tiupan sangkakala kedua yang memekakkan telinga dan menjadi penanda bangkitnya manusia dari kubur,

34

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ

Yauma yafirrul-mar’u min akhīh(i).

pada hari itu manusia lari dari saudaranya,

yaitu pada hari itu manusia lari dari orang yang dicintainya, seperti saudaranya,

35

وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ

Wa ummihī wa abīh(i).

(dari) ibu dan bapaknya,

dan dari ibu dan bapaknya yang melindungi dan mengayominya,

36

وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ

Wa ṣāḥibatihī wa banīh(i).

serta (dari) istri dan anak-anaknya.

dan dari istri dan anak-anaknya yang selalu bersamanya,

37

لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِۗ

Likullimri’im minhum yauma’iżin sya’nuy yugnīh(i).

Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.

maka setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya. Semua ingin menyelamatkan diri sendiri tanpa menghiraukan orang lain. Mereka takut dan cemas atas apa yang terjadi di hadapan mereka dan khawatir akan nasib mereka.

38

وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ مُّسْفِرَةٌۙ

Wujūhuy yauma’iżim musfirah(tun).

Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri,

Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri. Itulah muka orang-orang yang pada saat di dunia beriman dan beramal saleh.

39

ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ ۚ

Ḍāḥikatum mustabsyirah(tun).

tertawa lagi gembira ria.

Mereka tertawa dan bergembira ria bersama kaum mukmin yang lain. Mereka tidak takut dan khawatir akan nasib mereka karena yakin Allah akan memberi balasan dengan sebaik-baiknya.

40

وَوُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌۙ

Wa wujūhuy yauma’iżin ‘alaihā gabarah(tun).

Pada hari itu ada (pula) wajah-wajah yang tertutup debu (suram)

Dan di sisi yang lain pada hari itu ada pula wajah-wajah manusia yang tertutup debu,

41

تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ ۗ

Tarhaquhā qatarah(tun).

dan tertutup oleh kegelapan (ditimpa kehinaan dan kesusahan).

pucat pasi, menghitam, dipenuhi kecemasan serta ketakutan yang sangat, tertutup oleh kegelapan akibat ditimpa kehinaan dan kesusahan.

42

اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ ࣖ

Ulā’ika humul-kafaratul-fajarah(tu).

Mereka itulah orang-orang kafir lagi para pendurhaka.

Mereka itulah orang-orang kafir yang durhaka. Mereka tidak beriman, tidak bersyukur, dan tidak pula beribadah kepada-Nya, bahkan sering berbuat maksiat. Demikianlah kesudahan umat manusia di akhirat nanti.

Surat At-Takwir

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

اِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْۖ

Iżasy-syamsu kuwwirat.

Apabila matahari digulung,

Allah mengawali surah ini dengan menyebutkan dua belas peristiwa besar yang akan terjadi pada hari kiama disebutkan dari ayat 1 s.d. 13. Apabila matahari yang demikian besar digulung dengan mudah seperti halnya serban, hingga cahayanya memudar dan redup.

2

وَاِذَا النُّجُوْمُ انْكَدَرَتْۖ

Wa iżan-nujūmunkadarat.

apabila bintang-bintang berjatuhan,

Dan apabila bintang-bintang yang begitu banyak dan menghiasi cakrawala berjatuhan, tidak berada di garis edarnya lagi akibat hilangnya gaya tarikmenarik antar-benda langit.

3

وَاِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْۖ

Wa iżal-jibālu suyyirat.

apabila gunung-gunung dihancurkan,

Dan apabila gunung-gunung yang demikian tegar dan kukuh dihancurkan hingga luluh lantak menjadi pasir, kemudian diempaskan oleh angin dahsyat dengan mudahnya seperti gumpalan kapas raksasa yang beterbangan.

4

وَاِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْۖ

Wa iżal-‘isyāru ‘uṭṭilat.

apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak terurus),

Dan apabila unta-unta yang bunting dan menjadi harta yang dibanggakan ditinggalkan begitu saja dan tidak lagi dipedulikan dan diurus oleh pemiliknya.

5

وَاِذَا الْوُحُوْشُ حُشِرَتْۖ

Wa iżal-wuḥūsy ḥusyirat.

apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,

Hal ini mengisyaratkan betapa besar kebingungan yang meliputi manusia saat kiamat tiba. Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan untuk diberi balasan bila berbuat aniaya kepada sesamanya. Binatang liar yang saling memusuhi saat itu bisa dikumpulkan menjadi satu dalam suasanya yang sangat menegangkan.

6

وَاِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْۖ

Wa iżal-biḥāru sujjirat.

apabila lautan dipanaskan,

Dan apabila lautan dipanaskan dan dijadikan meluap. Air laut memanas akibat munculnya kobaran api mahadahsyat dari dasarnya.

7

وَاِذَا النُّفُوْسُ زُوِّجَتْۖ

Wa iżan-nufūsu zuwwijat.

apabila roh-roh dipertemukan (dengan tubuh),

Dan apabila roh-roh dipertemukan dengan tubuh sehingga manusia hidup kembali dalam suasana yang sama sekali berbeda dari kehidupan dunia. Manusia saat itu bergabung dengan manusia lain yang senasib; penaat bersama penaat, begitupun sebaliknya.

8

وَاِذَا الْمَوْءٗدَةُ سُىِٕلَتْۖ

Wa iżal-mau’ūdatu su’ilat.

apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya,

Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup tanpa dosa dan kesalahan ditanya,

9

بِاَيِّ ذَنْۢبٍ قُتِلَتْۚ

Bi’ayyi żambin qutilat.

“Karena dosa apa dia dibunuh,”

karena dosa apa dia dibunuh. Masyarakat jahiliah merasa malu bila mempunyai anak perempuan karena wanita dianggap tidak mempunyai peran apa-apa dalam kehidupan. Untuk menutup rasa malu, mereka rela mengubur anak-anak perempuannya hidup-hidup.

10

وَاِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْۖ

Wa iżaṣ-ṣuḥufu nusyirat.

apabila lembaran-lembaran (catatan amal) telah dibuka lebar-lebar,

Dan apabila lembaran-lembaran yang berisi catatan perbuatan manusia, yang besar maupun yang kecil, dibuka lebar-lebar. Pada saat itu manusia tidak bisa mengelak dari apa yang telah dia perbuat di dunia. Dia yang menerima catatan amal dengan tangan kanan akan berbahagia. Sebaliknya, mereka yang menerima dengan tangan kiri akan celaka.

11

وَاِذَا السَّمَاۤءُ كُشِطَتْۖ

Wa iżas-samā’u kusyiṭat.

apabila langit dilenyapkan,

Dan apabila langit dilenyapkan. Langit yang semula menjadi atap bagi penduduk bumi akan dikelupas layaknya kulit binatang dikelupas dari tubuhnya.

12

وَاِذَا الْجَحِيْمُ سُعِّرَتْۖ

Wa iżal-jaḥīmu su‘‘irat.

apabila (neraka) Jahim dinyalakan,

Dan apabila neraka Jahim dinyalakan dengan suhu panas yang tidak terbayangkan. Neraka itu disediakan bagi mereka yang ingkar kepada Allah.

13

وَاِذَا الْجَنَّةُ اُزْلِفَتْۖ

Wa iżal-jannatu uzlifat.

dan apabila surga didekatkan,

Dan apabila surga dengan segala kenikmatannya didekatkan kepada mereka yang beriman dan beramal saleh.

14

عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّآ اَحْضَرَتْۗ

‘Alimat nafsum mā aḥḍarat.

setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.

Pada saat itulah setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya di dunia, apakah perbuatan baik atau buruk.

15

فَلَآ اُقْسِمُ بِالْخُنَّسِۙ

Falā uqsimu bil-khunnas(i).

Aku bersumpah demi bintang-bintang

Usai menjelaskan ihwal hari kiamat dan kesudahan manusia, Allah beralih menjelaskan kedudukan Al-Qur’an sebagai kalamullah yang didustakan oleh kafir Quraisy. Aku bersumpah demi bintang-bintang yang cahayanya redup di siang hari dan terang di malam hari.

16

الْجَوَارِ الْكُنَّسِۙ

Al-jawāril-kunnas(i).

yang beredar lagi terbenam,

yang beredar di garis edarnya dan terbenam,

17

وَالَّيْلِ اِذَا عَسْعَسَۙ

Wal-laili iżā ‘as‘as(a).

demi malam apabila telah larut,

demi malam apabila telah larut dan meninggalkan gelapnya, atau datang dengan kegelapan yang dibawanya,

18

وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَۙ

Waṣ-ṣubḥi iżā tanaffas(a).

demi subuh apabila (fajar) telah menyingsing,

dan demi subuh apabila fajar telah menyingsing, tersibak cahayanya sedikit demi sedikit, layaknya orang bernafas. Ketiga peristiwa tersebut merupakan tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta yang dapat dilihat. Begitupun, Al-Qur’an merupakan tanda kebesaran-Nya yang dapat dibaca.

19

اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ

Innahū laqaulu rasūlin karīm(in).

sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril)

Demi ketiga hal itu, sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman Allah yang dibawa turun oleh utusan yang mulia, yaitu Jibril yang diamanati untuk mengawal wahyu Allah kepada para nabi.

20

ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ

Żī quwwatin ‘inda żil-‘arsyi makīn(in).

yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ʻArasy,

Kami turunkan Al-Qur’an melalui Jibril yang memiliki kekuatan yang tidak tertandingi oleh makhluk lain. Jibril mempunyai 600 sayap. Dengan sayap sebanyak itu Jibril sanggup menembus langit ketujuh dengan kecepatan luar biasa. Itulah Jibril yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah yang memiliki ‘Arsy, singgasana yang agung karena ketaatannya kepada Allah dan tugasnya yang sangat mulia sebagai pembawa wahyu.

21

مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ

Muṭā‘in ṡamma amīn(in).

yang di sana (Jibril) ditaati lagi dipercaya.

Itulah Jibril yang di sana, di alam malaikat, ditaati dan dipercaya atas wahyu yang disampaikannya.

22

وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍۚ

Wa mā ṣāḥibukum bimajnūn(in).

Temanmu (Nabi Muhammad) itu bukanlah orang gila.

Kami turunkan wahyu melalui Jibril kepada Nabi Muhammad, temanmu yang kamu kenal baik sifatnya. Dan temanmu itu bukanlah orang gila seperti tuduhanmu kepadanya. Dia adalah seorang yang santun, tepercaya, dan berakhlak mulia. Perkataan orang gila bersifat racauan, tidak beraturan, dan tidak mempunyai nilai. Berbeda dari AlQuran, kitab yang susunan kalimat maupun kandungannya mempunyai nilai sangat tinggi.

23

وَلَقَدْ رَاٰهُ بِالْاُفُقِ الْمُبِيْنِۚ

Wa laqad ra’āhu bil-ufuqil-mubīn(i).

Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang.

Ayat ini menegaskan pertemuan antara Jibril dalam wujudnya yang asli dengan Nabi Muhammad sesaat setelah Nabi menerima wahyu pertama di Gua Hira. Kaum musyrik mendustakan hal tersebut. Dan sungguh, dia telah melihatnya, yakni melihat Jibril, di ufuk yang terang, sehingga tidak dapat diragukan bahwa sosok yang datang itu adalah Jibril.

24

وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِيْنٍۚ

Wa mā huwa ‘alal-gaibi biḍanīn(in).

Dia (Nabi Muhammad) bukanlah seorang yang kikir (enggan) untuk menerangkan yang gaib.

Dan dia bukanlah orang yang kikir untuk menerangkan ihwal perkara yang gaib, seperti Allah, malaikat, dan hari kiamat. Nabi dengan senang hati memberi penjelasan demi kemaslahatan banyak orang. Hal ini berbeda dari para dukun yang hanya mau membeberkan hal yang rahasia jika diberi imbalan.

25

وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍۚ

Wa mā huwa biqauli syaiṭānir rajīm(in).

(Al-Qur’an) itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk.

Dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk. Ada perbedaan nyata antara Al-Qur’an dan perkataan setan. Al-Qur’an mengajarkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan, sedangkan setan mengajak kepada kebatilan, kemaksiatan, dan kemungkaran.

26

فَاَيْنَ تَذْهَبُوْنَۗ

Fa aina tażhabūn(a).

Maka, ke manakah kamu akan pergi?

Maka, ke manakah kamu akan pergi? Jalan mana yang akan kamu pilih untuk menemukan kebenaran? Tidak ada yang lebih terang daripada jalan yang dijelaskan oleh Al-Qur’an.

27

اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَۙ

In huwa illā żikrul lil-‘ālamīn(a).

(Al-Qur’an) itu tidak lain, kecuali peringatan bagi semesta alam,

Al-Qur’an itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam. Al-Qur’an menjelaskan segala sesuatu untuk kebaikan manusia, baik urusan dunia maupun akhirat; mereka yang berbuat baik akan mendapat pahala dan surga, dan yang berbuat jahat akan mendapat dosa dan neraka.

28

لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَۗ

Liman syā’a minkum ay yastaqīm(a).

(yaitu) bagi siapa di antaramu yang hendak menempuh jalan yang lurus.

Peringatan Al-Qur’an itu ditujukan bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus, yaitu agama Islam, dan beristikamah dalam mengamalkan ajarannya.

29

وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ

Wa mā tasyā’ūna illā ay yasyā’allāhu rabbul-‘ālamīn(a).

Kamu tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.

Hanya saja, keinginan seseorang untuk berbuat sesuatu tidak akan terlaksana kecuali jika Allah menghendaki. Dan kamu tidak dapat menghendaki menempuh jalan itu kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.

Surat Al-Infitar

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

اِذَا السَّمَاۤءُ انْفَطَرَتْۙ

Iżas-samā’unfaṭarat.

Apabila langit terbelah,

Ada empat peristiwa besar pada hari kiamat yang disebutkan di bagian awal surah ini, dari ayat 1 s.d. 4. Dua peristiwa yang pertama terjadi di langit dan sisanya di bumi. Apabila langit yang demikian besar dan kukuh terbelah, retak, kemudian digulung.

2

وَاِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْۙ

Wa iżal-kawākibuntaṡarat.

apabila bintang-bintang jatuh berserakan,

Dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, keluar dari garis edarnya, dan berhamburan secara acak akibat hilangnya gaya tarik-menarik antar-benda angkasa.

3

وَاِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْۙ

Wa iżal-biḥāru fujjirat.

apabila lautan diluapkan,

Dan apabila lautan dijadikan meluap, di mana batas antara satu laut dengan lainnya terbelah dan hancur sehingga air meluap. Air tawar dan asin pun menyatu, berkumpul menjadi lautan raksasa tak bertepi.

4

وَاِذَا الْقُبُوْرُ بُعْثِرَتْۙ

Wa iżal-qubūru bu‘ṡirat.

dan apabila kuburan-kuburan dibongkar,

Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar sehingga mayat-mayat yang ada di dalamnya hidup kembali lalu berhamburan keluar tak tentu arah.

5

عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ وَاَخَّرَتْۗ

‘Alimat nafsum mā qaddamat wa akhkharat.

setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikan(-nya).

Maka pada saat itulah setiap jiwa akan mengetahui secara rinci amal baik atau buruk apa saja yang telah dikerjakan olehnya di dunia dan apa yang dilalaikan-nya. Dia kemudian akan mendapat balasan atas perbuatannya tersebut.

6

يٰٓاَيُّهَا الْاِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيْمِۙ

Yā ayyuhal-insānu mā garraka birabbikal-karīm(i).

Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Mulia,

Malaikat menyeru penuh heran, “Wahai manusia! Apakah yang telah memperdayakan kamu sehingga berbuat durhaka terhadap Tuhanmu Yang Mahamulia, padahal Dialah yang telah menciptakanmu, memeliharamu, mendidikmu, dan menjadikanmu makhluk terbaik?”

7

الَّذِيْ خَلَقَكَ فَسَوّٰىكَ فَعَدَلَكَۙ

Allażī khalaqaka fa sawwāka fa ‘adalak(a).

yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)-mu seimbang?

Mengapa kamu ingkar kepada Tuhan yang telah menciptakanmu dari tiada dalam ukuran yang tepat, lalu Dia menyempurnakan kejadianmu dengan anggota-anggota tubuh, dan Dia menjadikan susunan tubuh-mu seimbang?

8

فِيْٓ اَيِّ صُوْرَةٍ مَّا شَاۤءَ رَكَّبَكَۗ

Fī ayyi ṣūratim mā syā’a rakkabak(a).

Dalam bentuk apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun (tubuh)-mu.

Dalam bentuk apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun tubuhmu dengan sempurna. Tidak ada manusia yang sama persis dengan lainnya. Karena mempunyai bentuk tubuh yang sempurna, semestinya manusia bersyukur kepada Allah dan tidak bermaksiat bahkan menyekutukanNya.

9

كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُوْنَ بِالدِّيْنِۙ

Kallā bal tukażżibūna bid-dīn(i).

Jangan sekali-kali begitu! Bahkan, kamu mendustakan hari Pembalasan.

Sekali-kali jangan begitu; janganlah kamu berbuat durhaka! Bahkan kamu mendustakan hari pembalasan meski bukti-bukti yang menerangkan keniscayaannya telah kamu saksikan dengan nyata.

10

وَاِنَّ عَلَيْكُمْ لَحٰفِظِيْنَۙ

Wa inna ‘alaikum laḥāfiẓīn(a).

Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) pengawas

Dan mengapa kamu mendustakan hari pembalasan, padahal sesungguhnya bagi kamu ada para malaikat yang mengawasi semua perbuatanmu.

11

كِرَامًا كٰتِبِيْنَۙ

Kirāman kātibīn(a).

yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (amal perbuatanmu).

Mereka adalah makhluk yang mulia di sisi Allah karena kepatuhan dan ketaatan mereka, dan yang tidak pernah luput mencatat amal perbuatanmu, dari yang baik hingga yang buruk, dari yang kecil hingga yang besar.

12

يَعْلَمُوْنَ مَا تَفْعَلُوْنَ

Ya‘lamūna mā taf‘alūn(a).

Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Para malaikat itu mencatat perbuatanmu dengan rinci dan mereka mengetahui apa saja yang kamu kerjakan.

13

اِنَّ الْاَبْرَارَ لَفِيْ نَعِيْمٍۙ

Innal-abrāra lafī na‘īm(in).

Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan.

Semua perbuatan manusia tercatat dalam buku catatan amal yang kelak akan diperlihatkan kepada mereka di akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti, beriman, dan beramal saleh, benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan tiada tara, tak terbayangkan, apalagi terbandingkan dengan kenikmatan duniawi.

14

وَّاِنَّ الْفُجَّارَ لَفِيْ جَحِيْمٍ

Wa innal-fujjāra lafī jaḥīm(in).

Sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam (neraka) Jahim.

Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka kepada Allah, enggan menaati-Nya, bahkan mengingkari, mendurhakai, dan menyekutukan-Nya, benar-benar berada dalam neraka yang penuh siksaan yang sangat mengerikan.

15

يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ الدِّيْنِ

Yaṣlaunahā yaumad-dīn(i).

Mereka memasukinya pada hari Pembalasan.

Mereka yang durhaka itu masuk ke dalamnya pada hari pembalasan, di mana semua manusia harus mempertanggungjawabkan tiap detail perbuatannya.

16

وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَاۤىِٕبِيْنَۗ

Wa mā hum ‘anhā bigā’ibīn(a).

Mereka tidak mungkin keluar dari (neraka) itu.

Dan mereka yang ingkar dan durhaka kepada Allah itu tidak mungkin keluar dari neraka itu dan tidak pula mati di dalamnya. Mereka menetap dan hidup di dalamnya selama-lamanya.

17

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا يَوْمُ الدِّيْنِۙ

Wa mā adrāka mā yaumud-dīn(i).

Tahukah engkau apakah hari Pembalasan itu?

Menegaskan ketegangan hari kebangkitan, Allah bertanya, “Dan tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?”

18

ثُمَّ مَآ اَدْرٰىكَ مَا يَوْمُ الدِّيْنِۗ

Ṡumma mā adrāka mā yaumud-dīn(i).

Kemudian, tahukah engkau apakah hari Pembalasan itu?

Allah mengulangi sekali lagi pertanyaan-Nya guna memberi efek yang lebih menggetarkan jiwa, “Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?”

19

يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْـًٔا ۗوَالْاَمْرُ يَوْمَىِٕذٍ لِّلّٰهِ ࣖ

Yauma lā tamliku nafsul linafsin syai’ā(n), wal-amru yauma’iżil lillāh(i).

(Itulah) hari (ketika) seseorang tidak berdaya (menolong) orang lain sedikit pun. Segala urusan pada hari itu adalah milik Allah.

Hari pembalasan itu adalah pada hari ketika seseorang sama sekali tidak berdaya menolong orang lain. Setiap orang harus mempertanggungjawabkan amalnya sendiri. Hanya iman dan amal saleh yang mampu menyelamatkan seseorang dari siksa neraka. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah. Dialah penguasa tunggal; tidak ada penguasa lain selain Dia.

Surat Al-Mutaffifin

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَۙ

Wailul lil-muṭaffifīn(a).

Celakalah orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!

Pada permulaan surah ini Allah memberi peringatan keras kepada mereka yang berbuat curang dalam timbangan dan takaran. Celakalah bagi orang-orang yang berbuat curang dalam menimbang dan menakar sehingga merugikan banyak orang!

2

الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَۖ

Allażīna iżaktālū ‘alan-nāsi yastaufūn(a).

(Mereka adalah) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi.

Mereka yang berbuat curang itu adalah orang-orang yang apabila menerima takaran atau timbangan dari orang lain, mereka minta takaran itu dicukupkan dan dipenuhi sehingga tidak berkurang sedikit pun,

3

وَاِذَا كَالُوْهُمْ اَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَۗ

Wa iżā kālūhum au wazanūhum yukhsirūn(a).

(Sebaliknya,) apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka kurangi.

dan apabila mereka menakar sesuatu dengan alat takar, seperti beras, gandum, atau lainnya, atau menimbang suatu barang seperti emas, perak, atau lainnya untuk orang lain, mereka mengurangi takaran atau timbangannya secara sengaja dengan cara licik agar tidak diketahui oleh pembeli. Hal ini sangat merugikan orang lain, dan harta yang diperoleh dari upaya ini hukumnya haram, tidak berkah, dan mengantar pelakunya ke neraka.

4

اَلَا يَظُنُّ اُولٰۤىِٕكَ اَنَّهُمْ مَّبْعُوْثُوْنَۙ

Alā yaẓunnu ulā’ika annahum mab‘ūṡūn(a).

Tidakkah mereka mengira (bahwa) sesungguhnya mereka akan dibangkitkan

Allah mengecam mereka, “Mengapa mereka berbuat curang? Tidaklah mereka itu mengira bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,

5

لِيَوْمٍ عَظِيْمٍۙ

Liyaumin ‘aẓīm(in).

pada suatu hari yang besar (Kiamat),

pada suatu hari yang besar, yaitu hari kebangkitan yang penuh kejadian mengerikan dan menegangkan?

6

يَّوْمَ يَقُوْمُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَۗ

Yauma yaqūmun-nāsu lirabbil-‘ālamīn(a).

(yaitu) hari (ketika) manusia bangkit menghadap Tuhan seluruh alam?

Yaitu pada hari ketika semua orang bangkit dari kubur mereka untuk menghadap Tuhan seluruh alam. Tuhan akan menghisab perilaku mereka. Pada saat itu tidak ada kekuasaan selain kuasa Allah.

7

كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْفُجَّارِ لَفِيْ سِجِّيْنٍۗ

Kallā inna kitābal-fujjāri lafī sijjīn(in).

Jangan sekali-kali begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar (tersimpan) dalam Sijjīn.

Allah menegur sekali lagi perilaku mereka, “Sekali-kali jangan begitu; jangan berbuat curang! Sesungguhnya catatan perbuatan orang yang durhaka, berbuat jahat, melanggar aturan agama, dan merugikan orang lain dalam bentuk apa pun, benar-benar tersimpan dengan baik dalam sijjin.”

8

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا سِجِّيْنٌۗ

Wa mā adrāka mā sijjīn(un).

Tahukah engkau apakah Sijjīn itu?

Allah mengajukan pertanyaan untuk memberi kesan betapa besar dan serius persoalan ini, “Dan tahukah engkau apakah sijjin itu?”

9

كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ

Kitābum marqūm(un).

(Ia adalah) kitab yang berisi catatan (amal).

Sijjin yaitu kitab yang berisi catatan perilaku orang yang melakukan kejahatan dan akan diperlihatkan kepada mereka pada hari kiamat nanti untuk menjadi bukti kejahatan mereka.

10

وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَۙ

Wailuy yauma’iżil lil-mukażżibīn(a).

Celakalah pada hari itu bagi para pendusta,

Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan hari kebangkitan, sebagaimana mereka yang berbuat curang dalam menimbang dan menakar.

11

الَّذِيْنَ يُكَذِّبُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِۗ

Allażīna yukażżibūna biyaumid-dīn(i).

yaitu orang-orang yang mendustakan hari Pembalasan.

Merekalah orang-orang yang mendustakan hari pembalasan. Keingkaran pada hari kiamat membuat seseorang tega melakukan apa pun karena tidak ada rasa takut pada dirinya terhadap akibat perbuatannya yang merugikan orang lain.

12

وَمَا يُكَذِّبُ بِهٖٓ اِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ

Wa mā yukażżibu bihī illā kullu mu‘tadin aṡīm(in).

Tidak ada yang mendustakannya, kecuali setiap orang yang melampaui batas lagi sangat berdosa.

Dan tidak ada yang mendustakannya, yakni hari pembalasan itu, melainkan setiap orang yang melampaui batas dalam aturan agama dan berdosa akibat melakukan perbuatan mungkar dan maksiat.

13

اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَۗ

Iżā tutlā ‘alaihi āyātunā qāla asāṭīrul-awwalīn(a).

Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, “(Itu adalah) dongeng orang-orang dahulu.”

Itulah orang yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, yaitu Al-Qur’an yang berisi ajaran Islam yang mulia, dia berkata sembari menertawakannya, “Itu adalah dongeng dan bualan orang-orang dahulu.”

14

كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Kallā bal…rāna ‘alā qulūbihim mā kānū yaksibūn(a).

Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.

Sekali-kali tidak demikian! Al-Qur’an adalah kalam dan wahyu Allah kepada Nabi Muhammad. Bahkan apa yang mereka kerjakan itu, yaitu kekufuran dan maksiat, telah menutupi hati mereka sehingga tidak mampu membedakan antara yang hak dan batil.

15

كَلَّآ اِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَىِٕذٍ لَّمَحْجُوْبُوْنَۗ

Kallā innahum ‘ar rabbihim yauma’iżil lamaḥjūbūn(a).

Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (rahmat) Tuhannya.

Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka yang kafir dan berbuat maksiat pada hari pembalasan itu benar-benar terhalang dari rahmat Tuhannya. Mereka tidak mendapatkan rahmat Allah dan tidak pula mampu melihat-Nya di akhirat nanti.

16

ثُمَّ اِنَّهُمْ لَصَالُوا الْجَحِيْمِۗ

Ṡumma innahum laṣālul-jaḥīm(i).

Sesungguhnya mereka kemudian benar-benar masuk (neraka) Jahim.

Setelah terhalang dari rahmat Allah, kemudian sesungguhnya mereka yang ingkar dan berbuat maksiat itu benar-benar masuk neraka yang penuh siksa mengerikan.

17

ثُمَّ يُقَالُ هٰذَا الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَۗ

Ṡumma yuqālu hāżal-lażī kuntum bihī tukażżibūn(a).

Lalu dikatakan (kepada mereka), “Inilah (azab) yang selalu kamu dustakan.”

Kemudian dikatakan kepada mereka dengan nada geram, “Inilah azab yang dahulu kamu dustakan.” Pada saat itulah mereka yang dahulu mendustakan hari akhirat merasakan sakitnya siksa, kerugian, dan penyesalan yang mendalam.

18

كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْاَبْرَارِ لَفِيْ عِلِّيِّيْنَۗ

Kallā inna kitābal-abrāri lafī ‘illiyyīn(a).

Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyīn.

Sekali-kali tidak! Tidaklah sama keadaan orang kafir dan orang mukmin di akhirat nanti. Sesungguhnya catatan perbuatan orang-orang yang berbakti, beriman, dan beramal saleh benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyin.

19

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا عِلِّيُّوْنَۗ

Wa mā adrāka mā ‘illiyyūn(a).

Tahukah engkau apakah ‘Illiyyīn itu?

Untuk menggugah perhatian manusia, Allah bertanya, “Dan tahukah engkau apakah ‘Illiyyin itu?”

20

كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۙ

Kitābum marqūm(un).

(Itulah) kitab yang berisi catatan (amal)

‘Illiyyin adalah kitab yang berisi catatan perbuatan yang tertulis dengan jelas sehingga mudah dibaca oleh mereka yang berhak mendapatkannya.

21

يَّشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُوْنَۗ

Yasyhaduhul-muqarrabūn(a).

yang disaksikan oleh (malaikat-malaikat) yang didekatkan (kepada Allah).

Itulah kitab yang berada di tempat yang luhur, yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan kepada Allah karena kepatuhan mereka. Kesaksian malaikat terhadap catatan amal orang-orag mukmin menunjukkan kebenaran isi kitab itu dan penghormatan kepada penerimanya.

22

اِنَّ الْاَبْرَارَ لَفِيْ نَعِيْمٍۙ

Innal-abrāra lafī na‘īm(in).

Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan.

Demikianlah buku catatan amal orang yang berbakti. Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan. Itulah surga yang penuh kenikmatan yang tidak terbayang sebelumnya dalam benak manusia mana pun. Kenikmatan itu abadi, tidak pernah membosankan apalagi berkurang.

23

عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ يَنْظُرُوْنَۙ

‘Alal-arā’iki yanẓurūn(a).

Mereka (duduk) di atas dipan-dipan (sambil) melepas pandangan.

Mereka yang berbakti itu duduk di atas dipan-dipan melepas pandangan ke arah pemandangan yang indah, menenangkan, dan mendamaikan. Inilah kebahagiaan hakiki, balasan bagi orang yang taat dan patuh kepada Allah.

24

تَعْرِفُ فِيْ وُجُوْهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيْمِۚ

Ta‘rifu fī wujūhihim naḍratan na‘īm(i).

Engkau dapat mengetahui pada wajah mereka gemerlapnya kenikmatan.

Wajah-wajah mereka berseri. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh kenikmatan.

25

يُسْقَوْنَ مِنْ رَّحِيْقٍ مَّخْتُوْمٍۙ

Yusqauna mir raḥīqim makhtūm(in).

Mereka diberi minum dari khamar murni (tidak memabukkan) yang (tempatnya) masih diberi lak (sebagai jaminan keasliannya).

Mereka diberi minum dari khamar murni yang tidak memabukkan, yang tempatnya masih dilak dan disegel sehingga isinya terjaga keaslian serta kesegarannya, dan belum pernah ada yang meminum bahkan menyentuhnya.

26

خِتٰمُهٗ مِسْكٌ ۗوَفِيْ ذٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنٰفِسُوْنَۗ

Khitāmuhū misk(un), wa fī żālika falyatanāfasil-mutanāfisūn(a).

Laknya terbuat dari kasturi. Untuk (mendapatkan) yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.

Khamar itu dilak dengan rapat, di mana laknya berasal dari kasturi yang beraroma harum dan menyegarkan. Bagusnya lak menunjukkan khamr itu sangat baik dan berkualitas. Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba untuk mendapatkan kebahagiaan tersebut, yakni dengan banyak beribadah dan beramal saleh.

27

وَمِزَاجُهٗ مِنْ تَسْنِيْمٍۙ

Wa mizājuhū min tasnīm(in).

Campurannya terbuat dari tasnīm,

Dan tidak hanya dilak dengan kasturi, campurannya dari tasnim.

28

عَيْنًا يَّشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُوْنَۗ

‘Ainay yasyrabu bihal-muqarrabūn(a).

(yaitu) mata air yang diminum oleh mereka yang didekatkan (kepada Allah).

Tasnim adalah mata air surga yang berada di ketinggian dan berkualitas tinggi pula. Itulah mata air yang diminum oleh mereka yang dekat kepada Allah karena sungguh-sungguh beriman dan beramal saleh. Inilah salah satu penghargaan tertinggi yang Allah berikan kepada mereka.

29

اِنَّ الَّذِيْنَ اَجْرَمُوْا كَانُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يَضْحَكُوْنَۖ

Innal-lażīna ajramū kānū minal-lażīna āmanū yaḍḥakūn(a).

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulu selalu mentertawakan orang-orang yang beriman.

Berbeda dari orang-orang berbakti yang selalu beriman dan beramal saleh, sesungguhnya orang-orang yang berdosa dan kafir adalah mereka yang dahulu menertawakan orang-orang yang beriman, terutama yang fakir dan miskin. Mereka beranggapan bahwa agama yang benar adalah yang banyak diikuti oleh kaum bangsawan dan kaya.

30

وَاِذَا مَرُّوْا بِهِمْ يَتَغَامَزُوْنَۖ

Wa iżā marrū bihim yatagāmazūn(a).

Apabila mereka (orang-orang yang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.

Dan apabila mereka, yakni orang-orang yang beriman, melintas di hadapan mereka yang berdosa dan kafir itu, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya sebagai tanda ejekan terhadap mereka.

31

وَاِذَا انْقَلَبُوْٓا اِلٰٓى اَهْلِهِمُ انْقَلَبُوْا فَكِهِيْنَۖ

Wa iżanqalabū ilā ahlihimunqalabū fakihīn(a).

Apabila kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira ria (dan sombong).

Dan tidak hanya mengejek orang beriman di jalan, apabila orang-orang yang berdosa dan kafir kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira ria karena telah menertawakan orang beriman. Mereka dengan riang menceritakan kepada kaumnya hinaan dan ejekan yang telah mereka lakukan kepada kaum mukmin. dan apabila kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira ria.

32

وَاِذَا رَاَوْهُمْ قَالُوْٓا اِنَّ هٰٓؤُلَاۤءِ لَضَاۤلُّوْنَۙ

Wa iżā ra’auhum qālū inna hā’ulā’i laḍāllūn(a).

Apabila melihat (orang-orang mukmin), mereka mengatakan, “Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang sesat,”

Dan apabila mereka yang berdosa dan kafir itu melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan, “Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang sesat karena telah beriman kepada Muhammad dan meninggalkan keyakinan nenek moyang mereka.”

33

وَمَآ اُرْسِلُوْا عَلَيْهِمْ حٰفِظِيْنَۗ

Wa mā ursilū ‘alaihim ḥāfiẓīn(a).

padahal mereka (orang-orang yang berdosa itu) tidak diutus sebagai penjaga (orang-orang mukmin).

Mereka menganggap sesat orang mukmin, padahal mereka yang kafir dan berdosa itu tidak diutus oleh Allah sebagai penjaga orang-orang mukmin. Mereka bukanlah pihak yang berhak menilai dan menentukan sesat-tidaknya satu kaum.

34

فَالْيَوْمَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُوْنَۙ

Fal-yaumal-lażīna āmanū minal kuffāri yaḍḥakūn(a).

Pada hari ini (hari Kiamat), orang-orang yang berimanlah yang mentertawakan orang-orang kafir.

Sebagai balasan atas perilaku mereka yang kafir itu, maka pada hari pembalasan ini, giliran orang-orang yang beriman yang menertawakan orang-orang kafir yang dulu menertawakan mereka.

35

عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ يَنْظُرُوْنَۗ

‘Alal-arā’iki yanẓurūn(a).

Mereka (duduk) di atas dipan-dipan (sambil) melepas pandangan.

Mereka yang beriman itu duduk di atas dipan-dipan sambil melepas pandangan ke arah pemandangan yang indah, bersama orang yang mereka cintai, sembari menikmati makanan dan minuman yang sangat lezat.

36

هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ ࣖ

Hal ṡuwwibal-kuffāru mā kānū yaf‘alūn(a).

Apakah orang-orang kafir itu telah diberi balasan (hukuman) terhadap apa yang selalu mereka perbuat?

Saat orang-orang kafir itu di akhirat nanti mendapat siksa Jahim, tertutup dari rahmat Tuhan, dan mendapat hinaan dari orang mukmin yang dahulu mereka hina, apakah orang-orang kafir itu sudah diberi balasan dan hukuman setimpal terhadap apa yang telah mereka perbuat di dunia dulu, berupa kekafiran dan kemaksiatan? Tentu sudah.

Surat Al-Insyiqaq

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

اِذَا السَّمَاۤءُ انْشَقَّتْۙ

Iżas-samā’unsyaqqat.

Apabila langit terbelah

Apabila langit yang kukuh itu terbelah ketika Allah menghilangkan keseimbangan di antara benda-benda langit. Terjadilah tabrakan antar benda langit. Langit pun terbelah lalu digulung dan akhirnya terempas tidak berbekas.

2

وَاَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْۙ

Wa ażinat lirabbihā wa ḥuqqat.

serta patuh kepada Tuhannya dan sudah semestinya patuh.

Dan langit pada saat itu patuh kepada Tuhan Pencipta dan Pengatur-nya, dan sudah semestinya langit itu patuh, demikian pula alam raya, kepada Tuhan (Lihat: Surah Fussilat/41: 11).

3

وَاِذَا الْاَرْضُ مُدَّتْۙ

Wa iẓal-arḍu muddat.

Apabila bumi diratakan,

Dan apabila bumi diratakan setelah gunung-gunung tersapu dari tempatnya akibat dahsyatnya kekuatan yang menghempaskannya. Gunung yang besar dan kekar berubah menjadi pasir yang kemudian diterbangkan oleh tiupan angin yang dahsyat, menjadi abu yang beterbangan.

4

وَاَلْقَتْ مَا فِيْهَا وَتَخَلَّتْۙ

Wa alqat mā fīhā wa takhallat.

memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong,

Dan apabila bumi memuntahkan apa saja yang ada di dalamnya, seperti manusia yang terkubur, batuan, dan sebagainya, dan karenanya menjadi kosong bagaikan ibu hamil yang telah melahirkan janinnya.

5

وَاَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْۗ

Wa ażinat lirabbihā wa ḥuqqat.

serta patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya patuh.

Dan apabila bumi patuh kepada Tuhan yang telah menciptakan-nya, dan sudah semestinya bumi itu dan alam semesta tunduk patuh dalam kekuasaan dan genggaman-Nya. Ketika kejadian-kejadian luar biasa ini tiba, manusia akan mengetahui balasan atas semua perbuatannya.

6

يٰٓاَيُّهَا الْاِنْسَانُ اِنَّكَ كَادِحٌ اِلٰى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلٰقِيْهِۚ

Yā ayyuhal-insānu innaka kādiḥun ilā rabbika kadḥan fa mulāqīh(i).

Wahai manusia, sesungguhnya engkau telah bekerja keras menuju (pertemuan dengan) Tuhanmu. Maka, engkau pasti menemui-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya kamu ketika di dunia telah bekerja keras siang dan malam untuk terus berbuat baik maupun buruk guna menuju kepada Tuhanmu, maka pada akhirnya pasti kamu akan menemui-Nya. Tiap hari yang seseorang lalui pada hakikatnya adalah langkah menuju kematian, menuju pertemuan dengan Tuhannya, berbekal amal masing-masing, lalu Tuhan akan memberinya balasan yang setimpal.

7

فَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ بِيَمِيْنِهٖۙ

Fa ammā man ūtiya kitābahū biyamīnih(ī).

Adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya,

Di hadapan Allah manusia akan terbagi menjadi dua kelompok: kelompok yang berbahagia dan kelompok yang sengsara. Maka adapun orang yang catatan amal-nya diberikan dari sebelah kanannya mereka adalah orang yang beriman dan berbuat baik,

8

فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَّسِيْرًاۙ

Fa saufa yuḥāsabu ḥisābay yasīrā(n).

dia akan dihisab dengan pemeriksaan yang mudah

maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah. Amal mereka akan ditampilkan secara sekilas, dan kesalahan mereka tertutup oleh kebaikan.

9

وَّيَنْقَلِبُ اِلٰٓى اَهْلِهٖ مَسْرُوْرًاۗ

Wa yanqalibu ilā ahlihī masrūrā(n).

dan dia akan kembali kepada keluarganya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.

Dan dia akan kembali kepada keluarganya yang sama-sama beriman dengan riang gembira. Segala kecemasan yang mereka rasakan sebelum itu akan sirna. Mereka berbahagia bagaikan pahlawan yang memenangkan peperangan (Lihat: Surah al-Haqqah/69: 1920).

10

وَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ وَرَاۤءَ ظَهْرِهٖۙ

Wa ammā man ūtiya kitābahū warā’a ẓahrih(ī).

Adapun orang yang catatannya diberikan dari belakang punggungnya,

Dan adapun orang yang catatan amal-nya diberikan dari sebelah belakang sebagai tanda ketidaksenangan kepada mereka,

11

فَسَوْفَ يَدْعُوْا ثُبُوْرًاۙ

Fa saufa yad‘ū ṡubūrā(n).

dia akan berteriak, “Celakalah aku!”

maka dia akan berteriak, “Celakalah aku!” (Lihat: Surah al-Hqqah/69: 25-29). Dia merasa lebih baik mati daripada harus merasakan menghadapi azab yang akan menimpanya. Itulah balasan bagi mereka yang telah mendustakan rasul, mengingkari Allah, dan berbuat maksiat.

12

وَّيَصْلٰى سَعِيْرًاۗ

Wa yaṣlā sa‘īrā(n).

Dia akan memasuki (neraka) Sa‘ir (yang menyala-nyala).

Dan tidak hanya itu, dia juga akan masuk ke dalam api neraka yang menyala-nyala dan kadar panasnya jauh lebih tinggi daripada api dunia.

13

اِنَّهٗ كَانَ فِيْٓ اَهْلِهٖ مَسْرُوْرًاۗ

Innahū kāna fī ahlihī masrūrā(n).

Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan keluarganya (yang sama-sama kafir).

Sungguh, dia yang menerima catatan amalnya dari arah belakang dahulu di dunia bergembira di kalangan keluarganya yang kafir. Mereka melampiaskan hawa nafsu dengan kufur dan berbuat maksiat, seakan mereka akan hidup selamanya.

14

اِنَّهٗ ظَنَّ اَنْ لَّنْ يَّحُوْرَ ۛ

Innahū ẓanna allay yaḥūr(a).

Sesungguhnya dia mengira bahwa dia tidak akan kembali (kepada Tuhannya).

Sesungguhnya dia menikmati kekafirannya, merasa leluasa berbuat maksiat, dan mengira bahwa dia tidak akan kembali kepada Tuhan untuk dimintai pertanggungjawaban.

15

بَلٰىۛ اِنَّ رَبَّهٗ كَانَ بِهٖ بَصِيْرًاۗ

Balā, inna rabbahū kāna bihī baṣīrā(n).

Tidak demikian. Sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya.

Tidak demikian. Mereka pasti akan kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Sesungguhnya Tuhannya selalu melihat dan mencatat perbuatan-nya, lalu Dia akan membalasnya dengan sangat adil. Perbuatan baik dibalas kebaikan dan perbuatan buruk dibalas dengan siksa.

16

فَلَآ اُقْسِمُ بِالشَّفَقِۙ

Falā uqsimu bisy-syafaq(i).

Aku bersumpah demi cahaya merah pada waktu senja,

Tuhan Mahakuasa di alam semesta. Maka Aku bersumpah demi cahaya merah pada waktu senja, saat matahari akan terbenam dan cahayanya yang tampak kemerahan masih pendar ke sebagian penjuru langit.

17

وَالَّيْلِ وَمَا وَسَقَۙ

Wal-laili wa mā wasaq(a).

demi malam dan apa yang diselubunginya,

Dan Aku pun bersumpah demi malam dan apa yang diselubunginya dengan kegelapan akibat hilangnya cahaya matahari.

18

وَالْقَمَرِ اِذَا اتَّسَقَۙ

Wal-qamari iżattasaq(a).

dan demi bulan apabila jadi purnama,

Dan Aku bersumpah pula demi bulan apabila jadi purnama, ketika bulan bercahaya penuh sehingga suasana malam menjadi menawan. Perubahan suasana alam menunjukkan adanya kekuatan luar biasa yang mampu mengendalikannya. Dialah Allah Yang Mahakuasa.

19

لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَنْ طَبَقٍۗ

Latarkabunna ṭabaqan ‘an ṭabaq(in).

sungguh, kamu benar-benar akan menjalani tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).

Sungguh, akan kamu jalani kehidupanmu tingkat demi tingkat. Kamu semula berupa nutfah, lalu menjadi alaqah, menjadi mudgah, lalu menerima ruh dari Tuhanmu, terlahir ke dunia, tumbuh dari kanak-kanak hingga dewasa dan tua. Akan kamu rasakan dalam hidupmu berbagai keadaan, dari yang mudah hingga yang sulit. Setelah itu kamu mati, dibangkitkan, dan dipisahkan menjadi dua kelompok: penghuni surga dan penghuni neraka.

20

فَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَۙ

Famā lahum lā yu’minūn(a).

Maka, mengapa mereka tidak mau beriman?

Setelah melihat tanda-tanda kekuasaan Allah yang begitu nyata, maka mengapa mereka yang kafir itu bersikeras tidak mau beriman kepada Allah, hari kebangkitan, Nabi Muhammad, dan Al-Qur’an?

21

وَاِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْاٰنُ لَا يَسْجُدُوْنَ ۗ ۩

Wa iżā quri’a ‘alaihimul-qur’ānu lā yasjudūn(a).

Apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak (mau) bersujud,

Dan mengapa pula apabila Al-Qur’an yang penuh nilai kebenaran dan sastra yang tinggi itu dibacakan kepada mereka, mereka tidak mau bersujud kepada Allah dan tunduk pada ajaran Al-Qur’an, padahal kaum kafir itu selalu menyanjung dan mengagumi karya sastra yang bernilai tinggi?

22

بَلِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يُكَذِّبُوْنَۖ

Balil-lażīna kafarū yukażżibūn(a).

bahkan orang-orang yang kufur itu mendustakan(-nya).

Mereka enggan beriman, bahkan orang-orang kafir itu mendustakan Al-Qur’an dan hari kebangkitan dengan berbagai alasan, seperti dengki kepada Nabi Muhammad, khawatir kehilangan status sosial, atau hanya merasa diri mulia.

23

وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا يُوْعُوْنَۖ

Wallāhu a‘lamu bimā yū‘ūn(a).

Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka).

Dan mereka tetap ingkar, padahal Allah lebih mengetahui dengan pasti apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka. Allah akan membuka semua isi hati mereka kelak di hari kiamat.

24

فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ اَلِيْمٍۙ

Fa basysyirhum bi‘ażābin alīm(in).

Maka, berilah mereka kabar ‘gembira’ dengan azab yang pedih,

Atas pengingkaran mereka terhadap kebenaran yang datang dari Allah, maka sampaikanlah kepada mereka ancaman berupa azab yang pedih di akhirat.

25

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍ ࣖ

Illal-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lahum ajrun gairu mamnūn(in).

Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Bagi merekalah pahala yang tidak putus-putus.

Demikianlah, Allah akan mengazab orang-orang yang ingkar. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya sebagai anugerah dari Allah dan penghargaan atas perbuatan baiknya.

Surat Al-Buruj

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

وَالسَّمَاۤءِ ذَاتِ الْبُرُوْجِۙ

Was-samā’i żātil-burūj(i).

Demi langit yang mempunyai gugusan bintang,

Allah bersumpah demi tiga hal yang luar biasa, baik kejadian maupun prosesnya. Demi langit luas yang mempunyai gugusan bintang atau orbit-orbit bintang ketika beredar di angkasa, yang menjadi penanda kekuasaan Allah yang tidak terbatas.

2

وَالْيَوْمِ الْمَوْعُوْدِۙ

Wal-yaumil-mau‘ūd(i).

demi hari yang dijanjikan,

Dan demi hari yang dijanjikan. Itulah hari kiamat, kebangkitan, dan perhitungan yang pasti datang dengan segala kejadian dan kerepotan yang luar biasa di dalamnya.

3

وَشَاهِدٍ وَّمَشْهُوْدٍۗ

Wa syāhidiw wa masyhūd(in).

demi yang menyaksikan dan yang disaksikan,

Demi orang yang menyaksikan hari yang dijanjikan itu dan kejadiankejadian mengerikan dan mencengangkan yang disaksikan oleh mereka pada hari itu.

4

قُتِلَ اَصْحٰبُ الْاُخْدُوْدِۙ

Qutila aṣḥābul-ukhdūd(i).

binasalah orang-orang yang membuat parit (tempat menyiksa orang mukmin)

Allah melaknat penguasa kafir dari Najrn, sebuah wilayah di Yaman saat ini, yang berbuat keji terhadap kaum beriman. Terlaknat dan binasalah orang-orang yang membuat parit untuk dijadikan ladang pembantaian terhadap kaum beriman yang tidak mau murtad. Merekalah para pembesar Najran di Yaman.

5

النَّارِ ذَاتِ الْوَقُوْدِۙ

An-nāri żātil-waqūd(i).

(yang dikobarkan) api penuh kayu bakar.

Mereka membuat parit yang berapi dan dinyalakan dengan kayu bakar hingga membara untuk membakar kaum beriman.

6

اِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُوْدٌۙ

Iż hum ‘alaihā qu‘ūd(un).

Ketika (itu) mereka (hanya) duduk di sekitarnya.

Penguasa kafir itu menyiksa dan membantai kaum beriman di parit berapi tersebut. Peristiwa memilukan itu terjadi ketika mereka duduk di sekitarnya untuk menyaksikan kekejian mereka.

7

وَّهُمْ عَلٰى مَا يَفْعَلُوْنَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ شُهُوْدٌ ۗ

Wa hum ‘alā mā yaf‘alūna bil-mu’minīna syuhūd(un).

Mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang mukmin.

Penguasa kafir dan prajuritnya itu duduk-duduk di sekitar parit, sedang mereka menyaksikan dan menikmati kekejiaan macam apa pun yang mereka perbuat terhadap orang-orang mukmin. Satu per satu orang beriman dipaksa untuk murtad. Bila menolak, mereka akan dilemparkan ke parit berapi tersebut. Inilah salah satu pelanggaran hak asasi manusia terbesar dalam sejarah keagamaan di dunia.

8

وَمَا نَقَمُوْا مِنْهُمْ اِلَّآ اَنْ يُّؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِۙ

Wa mā naqamū minhum illā ay yu’minū billāhil-‘azīzil-ḥamīd(i).

Tidaklah mereka menyiksa (membakar) orang-orang mukmin itu, kecuali karena mereka beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji,

Dan mereka yang kafir dan zalim tersebut menyiksa dan membantai orang-orang mukmin itu hanya karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Mahaperkasa, Maha Terpuji.

9

الَّذِيْ لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗوَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ ۗ

Allażī lahū mulkus-samāwāti wal-arḍ(i), wallāhu ‘alā kulli syai’in syahīd(un).

yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.

Dialah Tuhan yang memiliki kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu yang terjadi di alam semesta karena semua itu masuk dalam wilayah kekuasaan-Nya. Allah menyaksikan perbuatan orang mukmin dan kafir untuk memberi mereka balasan yang sesuai.

10

اِنَّ الَّذِيْنَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوْبُوْا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيْقِۗ

Innal-lażīna fatanul-mu’minīna wal-mu’mināti ṡumma lam yatūbū fa lahum ‘ażābu jahannama wa lahum ‘ażābul-ḥarīq(i).

Sesungguhnya, orang-orang yang menimpakan cobaan (siksa) terhadap mukmin laki-laki dan perempuan, lalu mereka tidak bertobat, mereka akan mendapat azab Jahanam dan mereka akan mendapat azab (neraka) yang membakar.

Sungguh, orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan dengan menghadapkan mereka pada pilihan mempertahankan keimanan atau disiksa dalam api yang membara, lalu mereka tidak bertobat dari kekejian mereka, kemudian melakukan amal saleh sebagai tanda tobat mereka, maka mereka akan mendapat azab Jahanam dan mereka akan mendapat azab neraka yang membakar. Allah menyediakan bagi mereka azab dari jenis yang sama dengan apa yang mereka timpakan kepada kaum beriman, namun kadarnya lebih hebat.

11

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ەۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيْرُۗ

Innal-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti lahum jannātun tajrī min taḥtihal-anhār(u), żālikal-fauzul-kabīr(u).

Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Itulah kemenangan yang besar.

Sungguh, orang-orang yang beriman dengan kukuh dan membawanya hingga mati, dan mengerjakan kebajikan baik secara ritual maupun sosial, mereka akan mendapat taman-taman surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang jernih, indah, dan menyejukkan hati. Itulah kemenangan yang agung; anugerah yang Allah khususkan bagi orang yang taat kepada-Nya.

12

اِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيْدٌ ۗ

Inna baṭsya rabbika lasyadīd(un).

Sesungguhnya azab Tuhanmu sangat keras.

Allah Mahaperkasa dan Mahakuasa. Dia pasti akan merealisasikan janji dan ancamannya. Sungguh, azab Tuhanmu yang diancamkan-Nya kepada para pendurhaka sangat keras dan pedih.

13

اِنَّهٗ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيْدُۚ

Innahū huwa yubdi’u wa yu‘īd(u).

Sesungguhnya Dialah yang memulai (penciptaan makhluk) dan yang mengembalikan (hidup setelah mati).

Sungguh, Dialah yang mampu memulai penciptaan apa pun, kemudian mematikannya dan Dia pula yang menghidupkannya kembali seperti semula dengan sangat mudah.

14

وَهُوَ الْغَفُوْرُ الْوَدُوْدُۙ

Wa huwal-gafūrul-wadūd(u).

Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih,

Azab Allah sangat pedih, tetapi rahmat dan ampunan-Nya juga mahaluas. Dan Dialah Yang Maha Pengampun bagi mereka yang bertobat, Maha Pengasih bagi makhluk-Nya.

15

ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيْدُۙ

Żul-‘arsyil-majīd(i).

Pemilik ʻArasy lagi Maha Mulia,

Dialah yang memiliki Arsy, singgasana yang agung dan kerajaan yang mahabesar, lagi Mahamulia di atas semua makhluk-Nya.

16

فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيْدُۗ

Fa‘‘ālul limā yurīd(u).

Maha Kuasa berbuat apa saja yang Dia kehendaki.

Dia Mahakuasa berbuat apa yang Dia kehendaki. Jika Dia berkehendak mengazab orang kafir atau menganugerahkan nikmat kepada orang beriman, tidak ada yang mampu menahan kehendak-Nya tersebut.

17

هَلْ اَتٰىكَ حَدِيْثُ الْجُنُوْدِۙ

Hal atāka ḥadīṡul-junūd(i).

Sudahkah sampai kepadamu berita tentang bala tentara,

Allah menceritakan kisah Firaun dan kaum am untuk menenteramkan hati Nabi yang mengalami tekanan hebat dari kaum kafir Mekah. Wahai Nabi Muhammad, sudahkah sampai kepadamu berita tentang bala tentara penentang,

18

فِرْعَوْنَ وَثَمُوْدَۗ

Fir‘auna wa ṡamūd(a).

(yaitu bala tentara) Fir‘aun dan Samud?

Yaitu Firaun, penguasa Mesir penindas Bani Israil pada masanya, dan kaum am, para pendurhaka terhadap Nabi Saleh? Firaun dan tentaranya ditenggelamkan di Laut Merah, sedangkan kaum am dihancurkan dengan sambaran petir.

19

بَلِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِيْ تَكْذِيْبٍۙ

Balil-lażīna kafarū fī takżīb(in).

Memang orang-orang kafir (selalu) mendustakan,

Wahai Nabi Muhammad, bersabarlah engkau atas keingkaran kaummu sebagaimana Nabi Musa dan Nabi Saleh. Memang, orang-orang kafir dari kaummu itu keras kepala dan selalu mendustakan kebenaran yang kamu tunjukkan kepada mereka.

20

وَّاللّٰهُ مِنْ وَّرَاۤىِٕهِمْ مُّحِيْطٌۚ

Wallāhu miw warā’ihim muḥīṭ(un).

padahal Allah mengepung dari belakang mereka.

Mereka mendustakanmu seakan mereka tidak takut pada azab dan murka Allah, padahal Allah mengepung dari belakang mereka sehingga mereka tidak akan bisa lolos. Dia mengetahui apa saja yang mereka perbuat. Tidak ada tempat lari bagi mereka dari siksa Allah. Karena itu, janganlah engkau bersedih atas kekafiran mereka.

21

بَلْ هُوَ قُرْاٰنٌ مَّجِيْدٌۙ

Bal huwa qur’ānum majīd(un).

Bahkan, (yang didustakan itu) Al-Qur’an yang mulia

Bahkan yang didustakan oleh kaummu yang kafir itu ialah Al-Qur’an yang mulia, yang tinggi kedudukannya di antara kitab-kitab suci lain, kalam Tuhan Yang Mahaagung. Betapapun didustakan dan dianggap sebagai kumpulan dongeng orang kuno oleh kaummu yang kafir itu, Al-Qur’an tetap tidak ternodai kemuliaannya.

22

فِيْ لَوْحٍ مَّحْفُوْظٍ ࣖ

Fī lauḥim maḥfūẓ(in).

yang (tersimpan) dalam (tempat) yang terjaga (Lauhulmahfuz).

Itulah kitab suci yang tersimpan dalam tempat yang terjaga, Lauh . Itulah tempat paling rahasia yang tidak diketahui hakikatnya oleh manusia. Di dalamnya terdapat detail peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam semesta. Tempat ini terjaga dari setan yang berusaha mengintai dan mencari tahu isinya.

Surat At-Tariq

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

وَالسَّمَاۤءِ وَالطَّارِقِۙ

Was-samā’i waṭ-ṭāriq(i).

Demi langit dan yang datang pada malam hari.

Demi langit yang terbentang dengan kukuh tanpa penopang dan demi apa yang datang pada malam hari dan menghiasi langit.

2

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الطَّارِقُۙ

Wa mā adrāka maṭ-ṭāriq(u).

Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?

Dan wahai Nabi, tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?

3

النَّجْمُ الثَّاقِبُۙ

An-najmuṡ-ṡāqib(u).

(Itulah) bintang yang bersinar tajam.

Itulah bintang yang bersinar tajam dan cahayanya menembus kegelapan malam. Malam bagaikan tirai yang menyelubungi langit. Cahaya bintang menyeruak, menembus tirai itu sehingga tampak gemerlap.

4

اِنْ كُلُّ نَفْسٍ لَّمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌۗ

In kullu nafsil lammā ‘alaihā ḥāfiẓ(un).

Setiap orang pasti ada penjaganya.

Demi itu semua, setiap orang pasti ada malaikat yang ditugasi oleh Allah sebagai penjaganya. Malaikat itu mencatat apa saja yang dilakukan oleh setiap individu, baik itu kebaikan maupun keburukan. Catatan itu akan menjadi bukti pada hari perhitungan kelak.

5

فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ

Falyanẓuril-insānu mimma khuliq(a).

Hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan.

Sungguh, hari kebangkitan itu pasti akan terjadi. Maka, hendaklah manusia memperhatikan asal kejadiannya; dari apa dia diciptakan. Dengan demikian, dia akan mengetahui besarnya kekuasan Allah dan keterbatasan dirinya.

6

خُلِقَ مِنْ مَّاۤءٍ دَافِقٍۙ

Khuliqa mim mā’in dāfiq(in).

Dia diciptakan dari air (mani) yang memancar,

Dia pada mulanya diciptakan dari air mani yang terpancar dari laki-laki dan perempuan.

7

يَّخْرُجُ مِنْۢ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَاۤىِٕبِۗ

Yakhruju mim bainiṣ-ṣulbi wat-tarā’ib(i).

yang keluar dari antara tulang sulbi (punggung) dan tulang dada.

Itulah sperma yang keluar dari antara tulang punggung laki-laki dan ovum yang keluar dari antara tulang dada perempuan. Campuran keduanya kemudian melalui berbagai proses dan tahapan di dalam rahim menjadi janin, cikal bakal manusia.

8

اِنَّهٗ عَلٰى رَجْعِهٖ لَقَادِرٌۗ

Innahū ‘alā raj‘ihī laqādir(un).

Sesungguhnya Dia (Allah) benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup setelah mati)

Allah kuasa menciptakan manusia dari ketiadaan, dari air yang memancar, maka sungguh Allah benar-benar kuasa pula untuk mengembalikannya menjadi hidup kembali sesudah mati. Mengembalikan sesuatu kepada kondisi semula, dalam perspektif manusia, tentu lebih mudah daripada menciptakannya untuk pertama kali. Namun, kedua hal itu sama mudahnya bagi Allah.

9

يَوْمَ تُبْلَى السَّرَاۤىِٕرُۙ

Yauma tublas-sarā’ir(u).

pada hari ditampakkan segala rahasia.

Allah akan membangkitkan manusia dari kubur mereka pada hari ditampakkan segala rahasia, seperti isi hati manusia, meliputi keyakinan, niat dan rahasia lain yang belum terkuak di dunia.

10

فَمَا لَهٗ مِنْ قُوَّةٍ وَّلَا نَاصِرٍۗ

Famā lahū min quwwatiw wa lā nāṣir(in).

Maka, baginya (manusia) tidak ada lagi kekuatan dan tidak (pula) ada penolong.

Ketika semua persoalan terkuak di hadapan Allah maka manusia tidak lagi mempunyai suatu kekuatan dalam dirinya sendiri dan tidak pula ada penolong dari luar dirinya yang mengelakkan nya dari balasan Allah. Allah-lah penguasa tunggal pada hari itu.

11

وَالسَّمَاۤءِ ذَاتِ الرَّجْعِۙ

Was-samā’i żātir-raj‘(i).

Demi langit yang mengandung hujan

Demi langit yang mengandung hujan yang turun kembali ke bumi. Dengan hujan bumi yang tandus menjadi subur. Inilah salah satu bukti kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya.

12

وَالْاَرْضِ ذَاتِ الصَّدْعِۙ

Wal-arḍi żātiṣ-ṣad‘(i).

dan bumi yang memiliki rekahan (tempat tumbuhnya pepohonan),

Dan demi bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan. Benih yang tersiram hujan akan mulai tumbuh dan menembus permukaan tanah untuk berkembang. Banyaknya tumbuhan dan pepohonan mendatangkan manfaat yang besar bagi makhluk hidup lainnya.

13

اِنَّهٗ لَقَوْلٌ فَصْلٌۙ

Innahū laqaulun faṣl(un).

sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman pemisah (antara yang hak dan yang batil)

Sungguh, Al-Quran yang didustakan oleh kaum kafir itu benar-benar firman yang menjadi pemisah antara perkara hak dan batil. Sulit bagi manusia untuk membedakan keduanya tanpa tuntunan Al-Qur’an. Al-Qur’an menjadi salah satu bukti kasih sayang Allah karena menjadi penerang jalan hidup dan pemberi solusi bagi persoalan manusia.

14

وَّمَا هُوَ بِالْهَزْلِۗ

Wa mā huwa bil-hazl(i).

dan ia (Al-Qur’an) sama sekali bukan perkataan senda gurau.

Dan sebagai firman Allah, Al-Qur’an itu bukanlah sendagurauan. AlQuran bukan sesuatu yang tidak bermakna, bukan pula dongeng masa lalu. Al-Qur’an adalah murni rahmat Tuhan yang Maha Pengasih bagi seluruh alam.

15

اِنَّهُمْ يَكِيْدُوْنَ كَيْدًاۙ

Innahum yakīdūna kaidā(n).

Sesungguhnya mereka (orang kafir) melakukan tipu daya.

Wahai Nabi, abaikanlah penentangan kaummu yang kafir dan teruslah menyampaikan risalah Tuhanmu karena Aku akan menjagamu. Sungguh, mereka merencanakan tipu daya yang jahat, baik terhadap dirimu dengan merencanakan pembunuhan atasmu, terhadap Al-Qur’an dengan menganggapnya dongeng masa lalu, rapalan pesihir, dan racauan orang gila; atau terhadap Islam dengan berupaya menghalangi tersebarnya agama ini.

16

وَّاَكِيْدُ كَيْدًاۖ

Wa akīdu kaidā(n).

Aku pun membalasnya dengan tipu daya.

Dan Aku pun membuat rencana yang jitu untuk membalas tipu daya mereka. Akan Aku biarkan mereka bergelimang dosa dan hidup dengan nyaman dan berkecukupan. Di akhirat nanti, Aku akan azab mereka dengan siksa yang pedih.

17

فَمَهِّلِ الْكٰفِرِيْنَ اَمْهِلْهُمْ رُوَيْدًا ࣖ

Fa mahhilil-kāfirīna amhilhum ruwaidā(n).

Maka, tangguhkanlah orang-orang kafir itu. Biarkanlah mereka sejenak (bersenang-senang).

Wahai Nabi, Allah telah berjanji demikian. Karena itu berilah penangguhan kepada orang-orang kafir itu. Berilah mereka itu kesempatan untuk sementara waktu dan jangan engkau terburu-buru meminta Allah membinasakan mereka. Biarkan mereka hidup di dunia ini beberapa tahun lagi bersama keingkaran mereka. Di akhirat nanti mereka akan menghadap Tuhan dalam keadaan hina dan dimurkai.

Surat Al-A’la

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْاَعْلَىۙ

Sabbiḥisma rabbikal-a‘lā.

Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi,

Wahai Nabi, sucikanlah nama Tuhanmu yang Mahatinggi dari hal-hal yang tidak layak bagi kemuliaan-Nya.

2

الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوّٰىۖ

Allażī khalaqa fasawwā.

yang menciptakan, lalu menyempurnakan (ciptaan-Nya),

Dialah Tuhan Yang menciptakan segala sesuatu dari tiada, lalu menyempurnakan penciptaan-Nya. Ciptaannya sepadan, teratur, padu, rapi, dan sempurna dari semua sisi.

3

وَالَّذِيْ قَدَّرَ فَهَدٰىۖ

Wal-lażī qaddara fahadā.

yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,

Dialah pula yang menentukan kadar masing-masing ciptaan-Nya dengan kadar dan ukuran yang sempurna, dan memberi petunjuk kepada makhluk hidup apa yang menjadi kebutuhan dan kemaslahatan hidupnya melalui naluri yang Allah ciptakan pada diri mereka.

4

وَالَّذِيْٓ اَخْرَجَ الْمَرْعٰىۖ

Wal-lażī akhrajal-mar‘ā.

dan yang menumbuhkan (rerumputan) padang gembala,

Dan Dialah pula yang menumbuhkan rerumputan dan tetumbuhan yang bisa dikonsumsi oleh manusia dan hewan melalui proses rumit yang hanya diketahui rinciannya oleh Allah.

5

فَجَعَلَهٗ غُثَاۤءً اَحْوٰىۖ

Fa ja‘alahū guṡā’an aḥwā.

lalu menjadikannya kering kehitam-hitaman.

Rerumputan itu tumbuh, lalu setelah sekian lama dijadikan-Nya rerumputan itu kering dan berubah warna menjadi kehitam-hitaman. Begitulah siklus kehidupan di dunia: lahir, tumbuh, berkembang, matang, kemudian mati. Semua tunduk pada aturan Allah dan tidak ada yang mampu menghindari kehendak-Nya.

6

سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسٰىٓ ۖ

Sanuqri’uka falā tansā.

Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa,

Wahai Nabi, sebagaimana Kami kuasa menciptakan makhluk dan menyempurnakan bentuknya, Kami kuasa pula menjadikan Al-Qur’an melekat di hatimu. Kami akan membacakan Al-Qur’an kepadamu, Aku tancapkan bacaan itu langsung ke relung hatimu, sehingga engkau tidak akan lupa. Inilah salah satu bentuk penjagaan Allah terhadap kemurnian Al-Qur’an saat turun ke bumi.

7

اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۗاِنَّهٗ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفٰىۗ

Illā mā syā’allāh(u), innahū ya‘lamul-jahra wa mā yakhfā.

kecuali jika Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.

Allah akan terus menjaga hafalan Al-Qur’an Nabi, kecuali jika Allah menghendaki untuk menghapus hafalan itu dari hatinya. Hal ini membuktikan Al-Qur’an bukan ucapan Nabi, melainkan kalam Allah. Hal ini juga membuktikan bahwa hafalan Al-Qur’an Nabi merupakan anugerah-Nya semata. Sungguh Dia yang berbuat demikian adalah Tuhan yang mengetahui yang terang dan yang tersembunyi, di antaranya hafalan dalam hati Nabi.

8

وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرٰىۖ

Wa nuyassiruka lil-yusrā.

Kami akan melapangkan bagimu jalan kemudahan (dalam segala urusan).

Dan Kami akan menuntunmu dan memudahkan bagimu ke jalan kemudahan. Kami mudahkan langkahmu menuju kemudahan, seperti menjalankan syariat Islam, mengemban risalah, serta mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

9

فَذَكِّرْ اِنْ نَّفَعَتِ الذِّكْرٰىۗ

Fa żakkir in nafa‘atiż-żikrā.

Maka, sampaikanlah peringatan jika peringatan itu bermanfaat.

Oleh sebab itu, berikanlah kaummu peringatan dengan Al-Qur’an yang kami wahyukan dan mudahkan kepadamu, karena peringatan itu bermanfaat. Tugas Nabi semata memberi peringatan, sedangkan hasilnya tergantung pada kemauan masing-masing individu yang mendengar peringatan itu untuk mengikuti atau menolak.

10

سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَّخْشٰىۙ

Sayażżakkaru may yakhsyā.

Orang yang takut (kepada Allah) akan mengambil pelajaran,

Orang yang takut kepada Allah dan hari akhir akan mendapat pelajaran dari peringatan itu,

11

وَيَتَجَنَّبُهَا الْاَشْقَىۙ

Wa yatajannabuhal-asyqā.

sedangkan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya,

dan orang-orang yang celaka dengan bersikeras memilih jalan kekafiran dan menutup hatinya dari peringatan Nabi akan mencibir, menertawakan, menyepelekan, dan menjauhinya.

12

الَّذِيْ يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرٰىۚ

Allażī yaṣlan-nāral-kubrā.

(yaitu) orang yang akan memasuki api (neraka) yang besar.

Orang yang celaka dan kafir itulah orang yang akan memasuki api yang besar, yakni neraka di akhirat, sebagai balasan atas kesombongan dan penentangannya.

13

ثُمَّ لَا يَمُوْتُ فِيْهَا وَلَا يَحْيٰىۗ

Ṡumma lā yamūtu fīhā wa lā yaḥyā.

Selanjutnya, dia tidak mati dan tidak (pula) hidup di sana.

Selanjutnya, dia yang celaka dan kafir itu di neraka sana tidak akan mati, tidak memperoleh kesempatan sejenak pun untuk lepas dari siksa, dan tidak pula hidup dengan nyaman. Telah menjadi ketentuan Allah bahwa semua penghuni surga dan neraka tidak akan mati selamanya.

14

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكّٰىۙ

Qad aflaḥa man tazakkā.

Sungguh, beruntung orang yang menyucikan diri (dari kekafiran)

Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri dengan beriman kepada Allah secara hakiki, membersihkan diri dari dosa,

15

وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهٖ فَصَلّٰىۗ

Wa żakarasma rabbihī fa ṣallā.

dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat.

dan mengingat nama Tuhannya setiap waktu, baik lapang maupun sempit, lalu dia menunaikan salat dengan khusyuk dan sempurna sebagai tanda penghambaanya kepada Allah.

16

بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۖ

Bal tu’ṡirūnal-ḥayātad-dun-yā.

Adapun kamu (orang-orang kafir) mengutamakan kehidupan dunia,

Sedangkan kamu, wahai kebanyakan manusia, lebih memilih kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat. Kalian melalaikan hal-hal yang menjamin kebahagiaanmu di akhirat dan terlena dengan gemerlap dunia.

17

وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ

Wal-ākhiratu khairuw wa abqā.

padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.

Kamu lalai dari kehidupan akhirat, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Kebahagiaan ukhrawi lebih murni dan tak berbatas, sedangkan kebahagiaan duniawi bersifat melenakan dan akan segera sirna.

18

اِنَّ هٰذَا لَفِى الصُّحُفِ الْاُوْلٰىۙ

Inna hāżā lafiṣ-ṣuḥufil-ūlā.

Sesungguhnya (penjelasan) ini terdapat dalam suhuf (lembaran-lembaran) yang terdahulu,

Dasar-dasar ajaran agama samawi adalah sama, yaitu mereka yang beriman, beramal saleh, ingat kepada Allah, membersihkan diri dari dosa, dan memilih kehidupan akhirat akan berbahagia. Sebaliknya, mereka yang memilih jalan kekafiran dan hidup berlumur dosa akan celaka. Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, yang diturunkan sebelum Al-Qur’an,

19

صُحُفِ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى ࣖ

Ṣuḥufi ibrāhīma wa mūsā.

(yaitu) suhuf (yang diturunkan kepada) Ibrahim dan Musa.

yaitu kitab-kitab Ibrahim dan Musa. Kedua nabi ini sangat disegani oleh para pengikut agama samawi. Nabi Ibrahim menerima sepuluh suhuf, sedangkan Nabi Musa menerima Taurat.

Surat Al-Ghasyiyah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

هَلْ اَتٰىكَ حَدِيْثُ الْغَاشِيَةِۗ

Hal atāka ḥadīṡul-gāsyiyah(ti).

Sudahkah sampai kepadamu berita tentang al-Gāsyiyah (hari Kiamat yang menutupi kesadaran manusia dengan kedahsyatannya)?

Hari kiamat adalah rahasia besar. Wahai Nabi, sudahkah sampai kepadamu berita tentang hari kiamat yang penuh kengerian itu?

2

وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ خَاشِعَةٌ ۙ

Wujūhuy yauma’iżin khāsyi‘ah(tun).

Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk hina

Pada hari kiamat manusia terbagi menjadi dua, kelompok yang celaka dan kelompok yang berbahagia. Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk hina. Mereka saat itu menyadari perilaku buruk mereka. Hati mereka terguncang dan sangat risau akan nasib mereka.

3

عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ ۙ

‘Amilatun nāṣibah(tun).

(karena) berusaha keras (menghindari azab neraka) lagi kepayahan (karena dibelenggu).

Raut wajah mereka kusut seperti orang yang telah bekerja keras lagi kepayahan karena beban berat yang menimpa mereka.

4

تَصْلٰى نَارًا حَامِيَةً ۙ

Taṣlā nāran ḥāmiyah(tan).

Mereka memasuki api (neraka) yang sangat panas.

Wajah-wajah dan tubuh-tubuh mereka akan memasuki api neraka yang sangat panas. Kadar panasnya tidak tergambarkan, jauh melebihi panas api dunia.

5

تُسْقٰى مِنْ عَيْنٍ اٰنِيَةٍ ۗ

Tusqā min ‘ainin āniyah(tin).

(Mereka) diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas.

Panas api neraka membuat mereka haus. Saat itulah mereka diberi minum dengan air dari sumber mata air yang sangat panas, membuat kerongkongan dan organ pencernaan mereka lebur.

6

لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ اِلَّا مِنْ ضَرِيْعٍۙ

Laisa lahum ṭa‘āmun illā min ḍarī‘(in).

Tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon yang berduri,

Tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon yang berduri, yang rasanya pahit, panas, menjijikkan, dan berbau tidak sedap. Para penghuni neraka itu memakannya, di samping memakan pohon Zaqqum (Lihat: ad-Dukhan/44: 43) dan Gislin (Lihat: al-Marij/70: 36).

7

لَّا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِيْ مِنْ جُوْعٍۗ

Lā yusminu wa lā yugnī min jū‘(in).

yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.

Itulah makanan yang sama sekali tidak memberi manfaat bagi pemakannya. Makanan itu tidak menggemukkan badan dan tidak pula menghilangkan rasa lapar.

8

وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاعِمَةٌ ۙ

Wujūhuy yauma’iżin nā‘imah(tun).

Pada hari itu banyak (pula) wajah yang berseri-seri,

Di sisi lain, para penghuni surga mendapat kebahagiaan yang tiada tara. Pada hari itu banyak pula wajah yang berseri-seri penuh kebahagiaan.

9

لِّسَعْيِهَا رَاضِيَةٌ ۙ

Lisa‘yihā rāḍiyah(tun).

merasa puas karena usahanya.

Mereka merasa senang dan puas karena usahanya sendiri di dunia. Mereka beriman, beramal saleh, dan bermanfaat bagi orang lain. Hidup mereka penuh nilai ibadah. Usaha mereka ini tidak akan sia-sia.

10

فِيْ جَنَّةٍ عَالِيَةٍۙ

Fī jannatin ‘āliyah(tin).

(Mereka) dalam surga yang tinggi.

Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga yang tinggi, istana yang sangat indah, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dengan jenis air yang bermacam-macam.

11

لَّا تَسْمَعُ فِيْهَا لَاغِيَةً ۗ

Lā tasama‘u fīhā lāgiyah(tan).

Di sana kamu tidak mendengar (perkataan) yang tidak berguna.

Di surga sana kamu tidak mendengar perkataan yang tidak berguna. Tidak ada perkataan kotor, umpatan, ungkapan kemarahan, dan semisalnya. Di sana mereka hanya mendengar hal-hal yang menyenangkan.

12

فِيْهَا عَيْنٌ جَارِيَةٌ ۘ

Fīhā ‘ainun jāriyah(tun).

Di sana ada mata air yang mengalir.

Di surga sana ada mata air yang mengalir dengan deras, jernih, dan menyejukkan.

13

فِيْهَا سُرُرٌ مَّرْفُوْعَةٌ ۙ

Fīhā sururum marfū‘ah(tun).

Di sana ada (pula) dipan-dipan yang ditinggikan,

Di surga sana ada dipan-dipan yang ditinggikan, baik posisinya maupun derajatnya, sebagai tempat mereka duduk dan berbaring.

14

وَّاَكْوَابٌ مَّوْضُوْعَةٌ ۙ

Wa akwābum mauḍū‘ah(tun).

gelas-gelas yang tersedia (di dekatnya),

Dan di sana ada pula gelas-gelas berisi bermacam minuman yang tersedia di dekat mereka. Mereka tidak perlu beringsut untuk mengambilnya.

15

وَّنَمَارِقُ مَصْفُوْفَةٌ ۙ

Wa namāriqu maṣfūfah(tun).

bantal-bantal sandaran yang tersusun,

Dan di sana tersedia pula bantal-bantal sandaran yang tersusun. Mereka duduk bersandar pada bantal itu, menikmati suasana bahagia di surga.

16

وَّزَرَابِيُّ مَبْثُوْثَةٌ ۗ

Wa zarābiyyu mabṡūṡah(tun).

dan permadani-permadani yang terhampar.

Dan di sana ada pula permadani-permadani yang terhampar, indah, dan berwarna-warni. Demikianlah ganjaran yang Allah berikan kepada mereka atas amal saleh mereka di dunia. Inilah bukti kemurahan dan kasih sayang Allah kepada hamba yang beriman dan bertakwa.

17

اَفَلَا يَنْظُرُوْنَ اِلَى الْاِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْۗ

Afalā yanẓurūna ilal-ibili kaifa khuliqat.

Tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?

Allah memperlihatkan begitu banyak tanda kekuasaan-Nya di hadapan manusia. Maka, tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana diciptakan? Unta diciptakan oleh Allah dengan bentuk tubuh dan anggota badan yang sesuai dengan lingkungan hidupnya di padang pasir. Air susunya dan dagingnya menjadi bahan makanan yang lezat, sedangkan kulitnya dapat dijadikan kemah dan sebagainya (Lihat pula: an-Nahl/16: 7, 81; Gafir/40: 7980).

18

وَاِلَى السَّمَاۤءِ كَيْفَ رُفِعَتْۗ

Wa ilas-samā’i kaifa rufi‘at.

Bagaimana langit ditinggikan?

Dan tidakkah pula mereka memperhatikan langit, bagaimana ditinggikan? Allah menjadikan langit sebagai atap bumi yang kukuh meski tanpa penopang. Di sana matahari, bulan, planet, dan berbagai benda langit beredar. Allah menghiasinya dengan bintang yang dapat menjadi petunjuk arah bagi para musafir. Dari langit itu pula turun hujan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan di bumi.

19

وَاِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْۗ

Wa ilal-jibāli kaifa nuṣibat.

Bagaimana gunung-gunung ditegakkan?

Dan tidakkah mereka memperhatikan gunung-gunung, bagaimana ditegakkan? Gunung, dengan akarnya yang menancap kukuh dan kuat di dalam perut bumi, berfungsi sebagai pasak yang menahan bumi agar tidak bergoncang dan dengan demikian bisa menjadi tempat tinggal yang nyaman (Lihat pula: an-Nahl/16: 15, 82).

20

وَاِلَى الْاَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْۗ

Wa ilal-arḍi kaifa suṭiḥat.

Bagaimana pula bumi dihamparkan?

Dan tidakkah mereka memperhatikan bumi, bagaimana dihamparkan? Di bumi itu manusia tinggal, beraktivitas, bercocok tanam, dan sebagainya. Di bumi Allah menciptakan beraneka flora, fauna, sungai, sumber air, dan lain sebagainya untuk kepentingan makhluk hidup.

21

فَذَكِّرْۗ اِنَّمَآ اَنْتَ مُذَكِّرٌۙ

Fa żakkir, innamā anta mużakkir(un).

Maka, berilah peringatan karena sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) hanyalah pemberi peringatan.

Semestinya dengan memperhatikan fenomena-fenomena itu manusia bersedia mengabdi kepada Allah. Allah meminta Nabi untuk terus berdakwah meski banyak manusia yang ingkar. Maka berilah peringatan kepada mereka yang tetap ingkar meski bukti-bukti tentang kekuasaan Allah mereka saksikan setiap hari. Ingatkanlah mereka karena sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan.

22

لَّسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍۙ

Lasta ‘alaihim bimusaiṭir(in).

Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.

Wahai Nabi, engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. Engkau tidak bisa memaksa mereka beriman, demikian juga para dai setelah dirimu, karena sesungguhnya hidayah adalah urusan Allah.

23

اِلَّا مَنْ تَوَلّٰى وَكَفَرَۙ

Illā man tawallā wa kafar(a).

Akan tetapi, orang yang berpaling dan kufur,

Engkau tidak kuasa memberi mereka hidayah, kecuali jika ada orang yang berpaling dari ajakanmu dan memilih untuk tetap kafir kepada Allah dan hari akhir,

24

فَيُعَذِّبُهُ اللّٰهُ الْعَذَابَ الْاَكْبَرَۗ

Fa yu‘ażżibuhullāhul-‘ażābal-akbar(a).

Allah akan mengazabnya dengan azab yang paling besar.

maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar dan tak tertahankan. Azab itu bukanlah bentuk kezaliman Allah karena Dia telah memaparkan kepada mereka bukti-bukti eksistensi dan keesaan Allah dan kebenaran risalah Nabi Muhammad, namun mereka masih ingkar dan membangkang, bahkan menantang dan menyakiti Nabi.

25

اِنَّ اِلَيْنَآ اِيَابَهُمْ

Inna ilainā iyābahum.

Sesungguhnya kepada Kamilah mereka kembali.

Engkau tidak bisa memaksa manusia untuk beriman. Janganlah bersedih atas keingkaran mereka. Sungguh, setelah mereka mati, hanya kepada Kamilah mereka kembali. Kamilah yang akan membalas dan menentukan nasib mereka di akhirat nanti.

26

ثُمَّ اِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ ࣖ

Ṡumma inna ‘alainā ḥisābahum.

Kemudian, sesungguhnya Kamilah yang berhak melakukan hisab (perhitungan) atas mereka.

Kemudian, sesungguhnya Kamilah pula yang akan membuat perhitungan atas mereka. Kami akan memberi mereka balasan sesuai tingkat kedurhakaan mereka supaya mereka tahu bahwa kehidupan ini bukan untuk bermain-main, melainkan harus dijalani dengan serius dan bertanggung jawab.

Surat Al-Fajr

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

وَالْفَجْرِۙ

Wal-fajr(i).

Demi waktu fajar,

Demi fajar, yaitu awal mula terangnya bumi setelah kegelapan malam sirna. Pada waktu ini manusia memulai aktivitasnya. Di balik kemunculan fajar itu pasti ada Zat Yang Mahaperkasa.

2

وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ

Wa layālin ‘asyr(in).

demi malam yang sepuluh,

Demi malam yang sepuluh, yaitu sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Mereka yang beramal saleh pada hari-hari tersebut akan mendapat pahala yang sangat agung.

3

وَّالشَّفْعِ وَالْوَتْرِۙ

Wasy-syaf‘i wal-watr(i).

demi yang genap dan yang ganjil,

Demi yang genap dan yang ganjil dari semua hal. Bisa juga dipahami bahwa yang genap itu adalah makhluk Allah, sedangkan yang ganjil adalah Allah. Dia Maha Esa dan tanpa bandingan. Allah tidak membutuhkan apa dan siapa pun, sedang makhluk sangat bergantung pada yang lain.

4

وَالَّيْلِ اِذَا يَسْرِۚ

Wal-laili iżā yasr(i).

dan demi malam apabila berlalu.

Demi malam apabila berlalu dan digantikan siang.

5

هَلْ فِيْ ذٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِيْ حِجْرٍۗ

Hal fī żālika qasamul liżī ḥijr(in).

Apakah pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh (orang) yang berakal?

Adakah pada yang demikian itu terdapat sumpah yang dapat diterima bagi orang-orang yang berakal? Bagi mereka sumpah-sumpah tersebut sangat menggugah. Mereka tergugah untuk memikirkannya secara mendalam karena sumpah itu menunjukkan kekuasaan Allah dan anugerah-Nya yang besar bagi manusia.

6

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍۖ

Alam tara kaifa fa‘ala rabbuka bi‘ād(in).

Tidakkah engkau (Nabi Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) ‘Ad,

Tidakkah engkau, wahai Rasul dan kaum musyrik, memperhatikan dan merenungkan dengan pikiran jernih bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad? Allah mengazab mereka karena telah berbuat durhaka, meski mereka memiliki kekuatan yang luar biasa.

7

اِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِۖ

Irama żātil-‘imād(i).

(yaitu) penduduk Iram (ibu kota kaum ‘Ad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi

Allah hancurkan kaum Ad, yaitu penduduk kota Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi dan bentuk fisik yang kuat.

8

الَّتِيْ لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِى الْبِلَادِۖ

Allatī lam yukhlaq miṡluhā fil-bilād(i).

yang sebelumnya tidak pernah dibangun (suatu kota pun) seperti itu di negeri-negeri (lain)?

Itulah kota dengan bangunan-bangunan megah yang pada masanya belum pernah dibangun seperti itu megahnya di negeri-negeri lain.

9

وَثَمُوْدَ الَّذِيْنَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِۖ

Wa ṡamūdal-lażīna jābuṣ-ṣakhra bil-wād(i).

(Tidakkah engkau perhatikan pula kaum) Samud yang memotong batu-batu besar di lembah

Dan tidakkah kamu perhatikan pula azab yang telah Allah timpakan atas kaum Samud yang memotong dan memahat batu-batu besar di lembah untuk dijadikan kediaman mereka?

10

وَفِرْعَوْنَ ذِى الْاَوْتَادِۖ

Wa fir‘auna żil-autād(i).

dan Fir‘aun yang mempunyai pasak-pasak (bangunan yang besar)

dan tidakkah kamu juga memperhatikan azab Allah kepada Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak? Allah mengazabnya meski ia mampu membangun piramida-piramida yang besar dan mempunyai bala tentara yang banyak.

11

الَّذِيْنَ طَغَوْا فِى الْبِلَادِۖ

Allażīna ṭagau fil-bilād(i).

yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri,

Mereka itulah orang-orang yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri dan berbuat zalim melewati batas kemanusiaan.

12

فَاَكْثَرُوْا فِيْهَا الْفَسَادَۖ

Fa akṡarū fīhal-fasād(a).

lalu banyak berbuat kerusakan di dalamnya (negeri itu),

lalu mereka dengan kezalimannya banyak berbuat kerusakan, dosa, dan maksiat dalam negeri itu.

13

فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍۖ

Fa ṣabba ‘alaihim rabbuka sauṭa ‘ażāb(in).

maka Tuhanmu menimpakan cemeti azab (yang dahsyat) kepada mereka?

Karena kesewenangan dan kezaliman mereka itu Tuhanmu menimpakan cemeti azab kepada mereka. Allah membinasakan kaum ‘Ad dengan topan yang sangat dingin selama tujuh malam berturut-turut; kaum amud dengan suara menggelegar dan petir yang menyambar (Lihat:Fussilat/41:16; al-Haqqah:/69:67); dan Fir’aun beserta tentaranya ditenggelamkan di Laut Merah.

14

اِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِۗ

Inna rabbaka labil-mirṣād(i).

Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.

Allah timpakan azab kepada mereka karena sungguh, Tuhanmu benar-benar mengawasi gerak gerik dan perilaku mereka. Tidak seorang pun lepas dari pengawasan Allah. Kebinasaan tiga kaum itu hendaknya menjadi pelajaran bagi umat setelahnya, terutama kaum musyrik Mekah.

15

فَاَمَّا الْاِنْسَانُ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ رَبُّهٗ فَاَكْرَمَهٗ وَنَعَّمَهٗۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَكْرَمَنِۗ

Fa ammal-insānu iżā mabtalāhu rabbuhū fa akramahū wa na‘‘amah(ū), fa yaqūlu rabbī akraman(i).

Adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kenikmatan, berkatalah dia, “Tuhanku telah memuliakanku.”

Ayat ini menjelaskan sifat dasar manusia kafir ketika mendapat kebahagiaan dan kesusahan, yakni bergembira berlebihan saat mendapat kenikmatan dan putus asa ketika tertimpa kesulitan. Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu dia memuliakannya dan memberinya kesenangan serta kenikmatan, baik lahir maupun batin, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.” Mereka menilai kenikmatan yang diterimanya adalah berkat kemuliaan nya di sisi Allah. Mereka lupa bahwa nikmat itu pada dasarnya salah satu bentuk ujian Allah kepada manusia.

16

وَاَمَّآ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهٗ ەۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَهَانَنِۚ

Wa ammā iżā mabtalāhu fa qadara ‘alaihi rizqah(ū), fa yaqūlu rabbī ahānan(i).

Sementara itu, apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, berkatalah dia, “Tuhanku telah menghinaku.”

Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinakanku.” Mereka tidak dapat memahami bahwa kefakiran dan kesusahan bukanla htolok ukur mutlak bagi kehinaan seseorang di mata Allah karena keduanya tidak lain hanyalah cobaan dari Allah.

17

كَلَّا بَلْ لَّا تُكْرِمُوْنَ الْيَتِيْمَۙ

Kallā bal lā tukrimūnal-yatīm(a).

Sekali-kali tidak! Sebaliknya, kamu tidak memuliakan anak yatim,

Sekali-kali tidak demikian. Ketahuilah, kemuliaan seseorang tidak diukur dari kekaya annya dan kehinaan tidak dipandang dari kemiskinannya. Kemulian diukur dari ketaatan dan kehinaan adalah akibat kemaksiatan seseorang kepada Allah. Bahkan kamu tidak memuliakan, menyantuni, mengasihi, dan menolong anak yatim. Kamu biarkan mereka susah, padahal menyantuni mereka adalah amal saleh yang menjanjikan derajat tinggi di sisi Allah.

18

وَلَا تَحٰۤضُّوْنَ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۙ

Wa lā taḥāḍḍūna ‘alā ṭa‘āmil-miskīn(i).

tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,

Dan kamu tidak saling mengajak satu sama lain untuk memberi makan orang miskin. Tidak mengajak orang lain untuk berbuat baik juga merupakan tindakan tidak terpuji. Mengajak orang lain berbuat baik adalah tindakan terpuji, apa lagi jika dibarengi dengan melakukannya. Makanan adalah kebutuhan pokok manusia. Memberi makanan fakir miskin, baik muslim atau bukan, adalah suatu bentuk kesalehan sosial yang sangat terpuji (Lihat pula: al-Insan/76: 8).

19

وَتَأْكُلُوْنَ التُّرَاثَ اَكْلًا لَّمًّاۙ

Wa ta’kulūnat-turāṡa aklal lammā(n).

memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram),

Kamu tidak berbuat baik kepada anak yatim dan orang miskin, sedangkan kamu justru memakan harta warisan dengan cara mencampur baurkan yang halal dengan yang haram. Harta warisan adalah hak ahli waris tertentu. Merampas harta warisan yang menjadi hak orang lain adalah perbuatan zalim.

20

وَّتُحِبُّوْنَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّاۗ

Wa tuḥibbūnal-māla ḥubban jammā(n).

dan mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.

Dan tidak hanya itu, kamu juga mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan. Kecintaan berlebih seseorang terhadap harta menjadikan motivasi hidupnya semata untuk mengumpulkan harta, tidak peduli halal atau haram. Di sisi lain, dia akan menjadi kikir dan tidak mau peduli kepada sesama. Perilaku ini akan menjerumuskannya ke neraka.

21

كَلَّآ اِذَا دُكَّتِ الْاَرْضُ دَكًّا دَكًّاۙ

Kallā iżā dukkatil-arḍu dakkan dakkā(n).

Jangan sekali-kali begitu! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan),

Sekali-kali tidak! janganlah kamu berbuat demikian. Apabila bumi diguncangkan berturut-turut, memuntahkan isinya, hancur lebur, kemudian muncul bumi yang sama sekali baru,

22

وَّجَاۤءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّاۚ

Wa jā’a rabbuka wal-malaku ṣaffan ṣaffā(n).

Tuhanmu datang, begitu pula para malaikat (yang datang) berbaris-baris,

dan setelah itu datanglah Tuhanmu dengan cara yang tidak diketahui hakikatnya sama sekali oleh manusia; dan malaikat menunggu perintah Tuhan sambil berbaris-baris penuh kepatuhan.

23

وَجِايْۤءَ يَوْمَىِٕذٍۢ بِجَهَنَّمَۙ يَوْمَىِٕذٍ يَّتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ وَاَنّٰى لَهُ الذِّكْرٰىۗ

Wa jī’a yauma’iżim bijahannam(a), yauma’iżiy yatażakkarul-insānu wa annā lahuż-żikrā.

dan pada hari itu (neraka) Jahanam didatangkan, sadarlah manusia pada hari itu juga. Akan tetapi, bagaimana bisa kesadaran itu bermanfaat baginya?

Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam kepada orang kafir agar mereka melihat dengan mata kepada sendiri apa yang dahulu mereka ingkari. Ketika semua itu terjadi, maka pada hari itu sadarlah manusia yang ingkar atas kealpaannya, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu. Kesempatan untuk bertobat sudah tiada. Kini tiba saatnya untuk menghitung dan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Betapa besar penyesalan orang kafir pada hari itu.

24

يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ قَدَّمْتُ لِحَيَاتِيْۚ

Yaqūlu yā laitanī qaddamtu liḥayātī.

Dia berkata, “Oh, seandainya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini!”

Dia berkata dengan penuh kesadaran, “Alangkah baiknya sekiranya di dunia dahulu aku beriman dan mengerjakan amal saleh untuk kenyamanan hidupku di akhirat ini.” Penyesalan itu sudah tidak berguna. Maka, berbahagialah kini orang yang membekali diri di dunia dengan iman dan amal saleh.

25

فَيَوْمَىِٕذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهٗٓ اَحَدٌ ۙ

Fa yauma’iżil lā yu‘ażżibu ‘ażābahū aḥad(un).

Pada hari itu tidak ada seorang pun yang mampu mengazab (seadil) azab-Nya.

Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya yang adil. Azab Allah mahadahsyat. Orang yang menerima azab Allah pada hari itu akan merasa sebagai orang yang paling sengsara.

26

وَّلَا يُوْثِقُ وَثَاقَهٗٓ اَحَدٌ ۗ

Wa lā yūṡiqu waṡāqahū aḥad(un).

Tidak ada seorang pun juga yang mampu mengikat (sekuat) ikatan-Nya.

Dan tidak ada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya. Ikatan Allah sangat kukuh dan kuat. Tidak ada kekuatan yang mampu mengendurkan ikatan itu, apalagi melepaskannya.

27

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ

Yā ayyatuhan-nafsul-muṭma’innah(tu).

Wahai jiwa yang tenang,

Allah berfirman kepada manusia yang beriman dan beramal saleh, “Wahai jiwa yang tenang, tenteram, damai, dan tidak takut apa pun serta tidak merasa sedih karena apa pun.

28

ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ

Irji‘ī ilā rabbiki rāḍiyatam marḍiyyah(tan).

kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai.

Kembalilah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan mendidikmu, dengan hati yang rida atas pahala dan nikmat yang Allah siapkan untukmu, dan di ridai-Nya karena Allah telah menerima amalan salehmu.

29

فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ

Fadkhuli fī ‘ibādī.

Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku

Maka kini masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku yang saleh, seperti para nabi, orang yang jujur, pecinta kebenaran, dan syuhada.

30

وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ ࣖࣖ

Wadkhulī jannatī.

dan masuklah ke dalam surga-Ku!

Dan masuklah bersama mereka ke dalam surga-Ku yang telah Aku persiapkan untukmu, surga yang penuh kenikmatan. Kekallah di sana selama-lamanya. Terima dan nikmatilah anugerah-Ku yang agung ini.

Surat Al-Balad

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

لَآ اُقْسِمُ بِهٰذَا الْبَلَدِۙ

Lā uqsimu bihāżal-balad(i).

Aku bersumpah demi negeri ini (Makkah),

Aku bersumpah dengan negeri ini, yakni kota Mekah, kota kelahiran Nabi dan kota suci umat Islam.

2

وَاَنْتَ حِلٌّۢ بِهٰذَا الْبَلَدِۙ

Wa anta ḥillum bihāżal-balad(i).

sedangkan engkau (Nabi Muhammad) bertempat tinggal di negeri (Makkah) ini.

Dan engkau, wahai Nabi, bertempat tinggal di negeri Mekah ini, membuatnya bertambah mulia.

3

وَوَالِدٍ وَّمَا وَلَدَۙ

Wa wālidiw wa mā walad(a).

(Aku juga bersumpah) demi bapak dan anaknya,

Dan demi pertalian bapak dan anaknya, demi Adam dan anak cucunya. Manusia dengan kehendak Allah mengalami siklus dari kanak-kanak menuju dewasa, berkeluarga, beranak pinak, dan berakhir dengan kematian. Inilah fenomena kehidupan yang perlu direnungi.

4

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْ كَبَدٍۗ

Laqad khalaqnal-insāna fī kabad(in).

sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam keadaan susah payah.

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Siapa pun, termasuk Nabi, dalam masa hidupnya pasti menemui kepayahan, sejak dalam kandungan sampai masa dewasa. Manusia mesti bersusah payah mencari nafkah, mengalami sakit, dan mati. Dalam alam kubur menuju alam mahsyar pun manusia menghadapi kepayahan. Manusia harus mengisi kehidupannya di dunia dengan amal saleh agar tidak menemukan kepayahan lagi di akhirat.

5

اَيَحْسَبُ اَنْ لَّنْ يَّقْدِرَ عَلَيْهِ اَحَدٌ ۘ

Ayaḥsabu allay yaqdira ‘alaihi aḥad(un).

Apakah dia (manusia) itu mengira bahwa tidak ada seorang pun yang berkuasa atasnya?

Apakah dia yang Kami ciptakan dalam kepayahan itu mengira bahwa dirinya kuat dan berkuasa sehingga tidak ada sesuatu pun yang berkuasa atasnya? Apakah ia mengingkari kuasa Allah, Pencipta alam semesta, yang mampu menundukkan siapa pun, betapapun kuatnya?

6

يَقُوْلُ اَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًاۗ

Yaqūlu ahlaktu mālal lubadā(n).

Dia mengatakan, “Aku telah menghabiskan harta yang banyak.”

Dia dengan angkuh mengatakan, “Aku telah menghabiskan harta yang banyak.” Sikap ini sangat tidak terpuji, apalagi jika dia membelanjakan harta untuk memusuhi Allah dan rasul-Nya.

7

اَيَحْسَبُ اَنْ لَّمْ يَرَهٗٓ اَحَدٌۗ

Ayaḥsabu allam yarahū aḥad(un).

Apakah dia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang melihatnya?

Apakah dia bermaksud pamer dengan perbuatannya itu lalu mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang melihatnya? Tidak demikian. Semua gerak-gerik manusia, kecil maupun besar, selalu dalam pantauan Allah. Dia akan membalas sekecil apa pun perbuatan manusia.

8

اَلَمْ نَجْعَلْ لَّهٗ عَيْنَيْنِۙ

Alam naj‘al lahū ‘ainain(i).

Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata,

Allahlah yang berkuasa atasnya dan melihat setiap perbuatannya. Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata untuk membantunya melihat sekeliling,

9

وَلِسَانًا وَّشَفَتَيْنِۙ

Wa lisānaw wa syafatain(i).

lidah, dan sepasang bibir,

Dan lidah dan sepasang bibir untuk memungkinkannya mencecap, berbicara, dan memberi penjelasan kepada orang lain,

10

وَهَدَيْنٰهُ النَّجْدَيْنِۙ

Wa hadaināhun-najdain(i).

serta Kami juga telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)?

dan bukankah Kami juga telah menunjukkan kepadanya dua jalan, yaitu kebaikan dan keburukan, kebenaran dan kebatilan, melalui fitrah, akal, dan petunjuk lain? Kami sudah memberinya petunjuk, lalu manusia itu sendiri yang akan memutuskan jalan hidupnya; apakah memilih jalan kesesatan atau kebenaran.

11

فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ ۖ

Falaqtaḥamal-‘aqabah(ta).

Maka, tidakkah sebaiknya dia menempuh jalan (kebajikan) yang mendaki dan sukar?

Kami telah menganugerahkan itu semua kepada manusia, tetapi mengapa dia tidak mau menempuh jalan yang mendaki dan sukar, padahal itu baik baginya? Melakukan kebaikan tidak jarang memerlukan perjuangan dan kesabaran. Begitulah kehidupan dunia, semuanya terasa berat.

12

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْعَقَبَةُ ۗ

Wa mā adrāka mal-‘aqabah(tu).

Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?

Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu, sehingga manusia merasa berat untuk menempuhnya?

13

فَكُّ رَقَبَةٍۙ

Fakku raqabah(tin).

(Itulah upaya) melepaskan perbudakan

Jalan yang mendaki dan sukar itu adalah melepaskan hamba sahaya dari perbudakan atau membantunya untuk membebaskan diri, karena perbudakan tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan,

14

اَوْ اِطْعَامٌ فِيْ يَوْمٍ ذِيْ مَسْغَبَةٍۙ

Au iṭ‘āmun fī yaumin żī masgabah(tin).

atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan

atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan kepada orang yang sangat membutuhkannya,

15

يَّتِيْمًا ذَا مَقْرَبَةٍۙ

Yatīman żā maqrabah(tin).

(kepada) anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan

yakni kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat sehingga dia akan mendapat dua pahala kebaikan sekaligus, yakni pahala sedekah dan silaturrahim

16

اَوْ مِسْكِيْنًا ذَا مَتْرَبَةٍۗ

Au miskīnan żā matrabah(tin).

atau orang miskin yang sangat membutuhkan.

atau kepada orang miskin yang sangat fakir. Kepedulian kepada anak yatim dan orang miskin adalah akhlak yang sangat terpuji, namun butuh sifat kedermawanan agar seseorang bisa melakukannya.

17

ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِۗ

Ṡumma kāna minal-lażīna āmanū wa tawāṣau biṣ-ṣabri wa tawāṣau bil-marḥamah(ti).

Kemudian, dia juga termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar serta saling berpesan untuk berkasih sayang.

Kemudian, bila dia mau menempuh jalan yang mendaki dan sukar itu maka dia termasuk orang-orang yang beriman dengan kukuh dan saling berpesan untuk bersabar dalam berbuat baik, menjauhi maksiat, serta menghadapi kesusahan hidup, dan saling berpesan untuk berkasih sayang kepada sesama makhluk.

18

اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِۗ

Ulā’ika aṣḥābul-maimanah(ti).

Mereka itulah golongan kanan.

Apabila mereka berkenan menempuh jalan yang sukar, beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan berkasih sayang, mereka adalah golongan kanan yang akan menemui kebahagiaan di akhirat berupa surga dengan segala kenikmatan di dalamnya.

19

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِنَا هُمْ اَصْحٰبُ الْمَشْـَٔمَةِۗ

Wal-lażīna kafarū bi’āyātinā hum aṣḥābul-masy’amah(ti).

Adapun orang-orang yang kufur pada ayat-ayat Kami, merekalah golongan kiri.

Dan sebaliknya, orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, baik dengan ucapan maupun tindakan, mereka itu adalah golongan kiri yang akan celaka dan menjumpai azab yang pedih.

20

عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌ ࣖ

‘Alaihim nārum mu’ṣadah(tun).

Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.

Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat dari semua sisinya. Tidak ada jalan keluar bagi mereka dari neraka itu dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk sekadar beristirahat dari siksanya.

Surat Asy-Syams

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

وَالشَّمْسِ وَضُحٰىهَاۖ

Wasy-syamsi wa ḍuḥāhā.

Demi matahari dan sinarnya pada waktu duha (ketika matahari naik sepenggalah),

Demi matahari dan semburat sinarnya pada pagi hari. Penciptaan matahari, peredarannya pada poros dan orbitnya membuktikan kuasa Allah. Sinarnya yang terang dan panas sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia di bumi.

2

وَالْقَمَرِ اِذَا تَلٰىهَاۖ

Wal-qamari iżā talāhā.

demi bulan saat mengiringinya,

Demi bulan apabila mengiringinya dan menggantikan tugasnya menerangi bumi setelah matahari itu terbenam. Bulan muncul dalam bentuk bulan sabit, kemudian seiring pergantian hari berubah menjadi purnama, dan kembali ke bulan sabit lagi pada akhir bulan.

3

وَالنَّهَارِ اِذَا جَلّٰىهَاۖ

Wan-nahāri iżā jallāhā.

demi siang saat menampakkannya,

Demi siang apabila menampakkannya, yakni menampakkan matahari. Siang yang terang menjadi waktu bagi manusia untuk beraktivitas.

4

وَالَّيْلِ اِذَا يَغْشٰىهَاۖ

Wal-laili iżā yagsyāhā.

demi malam saat menutupinya (gelap gulita),

Demi malam apabila menutupinya sehingga suasana menjadi gelap gulita. Malam menjadi waktu istirahat bagi manusia guna mengembalikan kekuatan untuk kembali beraktivitas esok hari.

5

وَالسَّمَاۤءِ وَمَا بَنٰىهَاۖ

Was-samā’i wa mā banāhā.

demi langit serta pembuatannya,

Demi langit serta pembinaannya yang menakjubkan. Langit yang kukuh laksana atap yang melindungi manusia di bawahnya. Langit menjadi tempat bagi miliaran benda langit yang beredar pada orbit masing-masing. Tidak ada benturan antara satu benda langit dengan lainnya. Semuanya mencerminkan kekuasaan Zat Yang Mahakuasa dan Mahaperkasa.

6

وَالْاَرْضِ وَمَا طَحٰىهَاۖ

Wal-arḍi wa mā ṭaḥāhā.

demi bumi serta penghamparannya,

Demi bumi serta penghamparannya sehingga menjadi tempat makhluk hidup berpijak. Karena bumi terhampar luas, manusia dapat dengan mudah berpindah dari satu ke tempat lain.

7

وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰىهَاۖ

Wa nafsiw wa mā sawwāhā.

dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya,

Demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya. Jiwa bukan materi sebagaimana benda-benda yang disebut sebelumnya, tetapi jiwa mempunyai peran yang sangat sentral dalam membentuk perilaku manusia.

8

فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ

Fa alhamahā fujūrahā wa taqwāhā.

lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya,

Setelah menyempurnakan ciptaan jwia itu maka Dia mengilhamkan kepadanya jalan kejahatan dan ketakwaannya. Jiwa manusia laksana wadah bagi nilai-nilai yang diembannya. Jiwa bisa menjadi baik atau buruk tergantung nilai mana yang manusia pilih dan aktualisasikan.

9

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ

Qad aflaḥa man zakkāhā.

sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu)

Sungguh beruntung orang yang membersihkan jiwa itu dan menyucikannya dari segala kekotoran seperti syirik, kufur, takabur, iri, dengki, kikir, tamak, dan sebagainya, lalu menghiasinya dengan sifat-sifat baik seperti iman, ikhlas, sabar, syukur, dan sebagainya.

10

وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ

Wa qad khāba man dassāhā.

dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.

Dan sungguh rugi orang yang menutupi kemuliaan jiwa itu, mengotorinya dengan sifat-sifat buruk, dan mematikan potensinya untuk berbuat baik. Dengan melakukan hal itu, manusia tidak malu lagi berperilaku buruk, berbuat dosa, dan merugikan orang lain.

11

كَذَّبَتْ ثَمُوْدُ بِطَغْوٰىهَآ ۖ

Każżabat ṡamūdu biṭagwāhā.

(Kaum) Samud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas

Kaum Samud, yang dahulu tinggal di sebelah selatan Madinah, adalah contoh manusia yang mengotori jiwa dengan kekafiran dan maksiat. Kaum Samud telah mendustakan rasulnya, yaitu Nabi Saleh, karena mereka melampaui batas dalam keingkaran terhadap ajakan nabi mereka dan melakukan tindakan yang penuh dosa.

12

اِذِ انْۢبَعَثَ اَشْقٰىهَاۖ

Iżimba‘aṡa asyqāhā.

ketika orang yang paling celaka di antara mereka bangkit (untuk menyembelih unta betina Allah).

Puncak perilaku buruk mereka tampak ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka untuk melakukan tindakan yang sangat buruk akibatnya bagi mereka semua, yaitu membantai unta mukjizat Nabi Saleh.

13

فَقَالَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللّٰهِ نَاقَةَ اللّٰهِ وَسُقْيٰهَاۗ

Fa qāla lahum rasūlullāhi nāqatallāhi wa suqyāhā.

Rasul Allah (Saleh) lalu berkata kepada mereka, “(Biarkanlah) unta betina Allah ini beserta minumannya.”

Melihat gelagat buruk itu lalu Rasul Allah, Nabi Saleh, berkata kepada mereka, “Biarkanlah unta betina dari Allah ini dengan minumannya.” Janganlah kamu mengusik apalagi membunuhnya. Jangan pula kamu larang unta itu mengambil jatah air minumnya sesuai kesepakatan kita satu hari untuk unta dan hari berikutnya untuk kaum amud.

14

فَكَذَّبُوْهُ فَعَقَرُوْهَاۖ فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْۢبِهِمْ فَسَوّٰىهَاۖ

Fa każżabūhu fa ‘aqarūhā fa damdama ‘alaihim rabbuhum biżambihim fa sawwāhā.

Namun, mereka kemudian mendustakannya (Saleh) dan menyembelih (unta betina) itu. Maka, Tuhan membinasakan mereka karena dosa-dosanya, lalu meratakan mereka (dengan tanah).

Kaum Samud tidak rela dengan pembagian jatah air itu. Nabi Saleh telah menasihati mereka, namun mereka mengabaikan serta mendustakannya, dan dengan beringas pria paling celaka itu menyembelih unta tersebut dan membantainya atas perintah kaum Samud. Karena itu Tuhan membinasakan mereka karena dosanya, lalu diratakan-Nya mereka dengan tanah. Hanya Nabi Saleh dan orang beriman yang selamat dari azab itu. Kejadian ini memberi pesan kepada generasi setelahnya bahwa aturan agama Allah harus diindahkan. Mereka yang menentang dan melakukan dosa akan mendapatkan sanksi yang keras dari Allah di dunia sebelum sanksi yang lebih keras lagi di akhirat.

15

وَلَا يَخَافُ عُقْبٰهَا ࣖ

Wa lā yakhāfu ‘uqbāhā.

Dia tidak takut terhadap akibatnya.

Allah membinasakan mereka dan Dia tidak takut terhadap akibatnya. Allah tidak diminta pertanggungjawaban atas tindakan-Nya oleh siapa pun. Tindakan Allah, apa pun bentuknya, adalah keadilan sejati. Makhluk harus menaati aturan-Nya dan mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di hadapan Allah di akhirat nanti.

Surat Al-Lail

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

وَالَّيْلِ اِذَا يَغْشٰىۙ

Wal-laili iżā yagsyā.

Demi malam apabila menutupi (cahaya siang),

Demi malam apabila menutupi cahaya siang. Malam yang gelap gulita dan hening menjadi waktu bagi manusia untuk beristirahat dari kepenatan kerja di siang hari.

2

وَالنَّهَارِ اِذَا تَجَلّٰىۙ

Wan-nahāri iżā tajallā.

demi siang apabila terang benderang,

Demi waktu siang apabila terang benderang oleh cahaya matahari sehingga manusia dapat beraktivitas dengan leluasa.

3

وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْاُنْثٰىٓ ۙ

Wa mā khalaqaż-żakara wal-unṡā.

dan demi penciptaan laki-laki dan perempuan,

Demi penciptaan laki-laki dan perempuan dari setetes mani. Manusia tidak mempunyai rekayasa apa pun dalam penciptaan kedua jenis ini. Semua diatur oleh Allah sesuai kebijaksanaan-Nya terhadap makhluk.

4

اِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتّٰىۗ

Inna sa‘yakum lasyattā.

sesungguhnya usahamu benar-benar beraneka ragam.

Demi ketiga hal itu, sungguh usahamu memang beraneka macam. Sebagian dari kamu memilih jalan ketaatan kepada Allah dan sebagian yang lain memilih durhaka.

5

فَاَمَّا مَنْ اَعْطٰى وَاتَّقٰىۙ

Fa ammā man a‘ṭā wattaqā.

Siapa yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa

Maka barang siapa memberikan hartanya di jalan Allah, seperti ke-pada fakir miskin, anak yatim, dan kebajikan lainnya, dan bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menghindari larangan-Nya,

6

وَصَدَّقَ بِالْحُسْنٰىۙ

Wa ṣaddaqa bil-ḥusnā.

serta membenarkan adanya (balasan) yang terbaik (surga),

dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, yaitu surga di akhirat, atau membenarkan kalimat tauhid dengan beriman kepada Allah dengan kukuh,

7

فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْيُسْرٰىۗ

Fa sanuyassiruhū lil-yusrā.

Kami akan melapangkan baginya jalan kemudahan (kebahagiaan).

maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan dan kebahagiaan; menuju surga. Kami juga akan memudahkan jalannya untuk senantiasa beramal saleh dan taat kepada Kami.

8

وَاَمَّا مَنْۢ بَخِلَ وَاسْتَغْنٰىۙ

Wa ammā man bakhila wastagnā.

Adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah)

Dan adapun orang yang kikir terhadap hartanya dengan tidak memenuhi hak Allah dalam harta itu dan merasa dirinya cukup dengan apa yang dia punya sehingga tidak lagi memerlukan pahala dari Allah tidak mau beramal untuk kehidupan akhiratnya

9

وَكَذَّبَ بِالْحُسْنٰىۙ

Wa każżaba bil-ḥusnā.

serta mendustakan (balasan) yang terbaik,

serta mendustakan pahala yang terbaik, yaitu surga di akhirat; atau ingkar kepada Allah, hari akhir, dan apa yang Allah janjikan kepada mereka yang beramal saleh sehingga dia senantiasa melakukan maksiat,

10

فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْعُسْرٰىۗ

Fa sanuyassiruhū lil-‘usrā.

Kami akan memudahkannya menuju jalan kesengsaraan.

maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran dan kesengsaraan. Kami tutup hatinya dari keinginan untuk berbuat kebajikan dan Kami tahan langkahnya untuk taat kepada Kami.

11

وَمَا يُغْنِيْ عَنْهُ مَالُهٗٓ اِذَا تَرَدّٰىٓۙ

Wa mā yugnī ‘anhu māluhū iżā taraddā.

Hartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah binasa.

Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah binasa dalam kemurkaan Allah. Allah tidak membutuhkan harta sebanyak apa pun. Hanya iman dan ketaatan, bukan harta, yang menyelamatkan seseorang dari azab Allah.

12

اِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدٰىۖ

Inna ‘alainā lal-hudā.

Sesungguhnya Kamilah yang (berhak) memberi petunjuk.

Sesungguhnya Kamilah yang memberi petunjuk kepada manusia sesuai dengan kebijaksanaan Kami agar mereka berjalan pada jalan yang benar demi kebaikan mereka di dunia dan akhirat,

13

وَاِنَّ لَنَا لَلْاٰخِرَةَ وَالْاُوْلٰىۗ

Wa inna lanā lal-ākhirata wal-ūlā.

Sesungguhnya milik Kamilah akhirat dan dunia.

dan sesungguhnya milik Kamilah kerajaan akhirat dan dunia. Kami yang mengatur urusan keduanya, sedangkan manusia tinggal menjalankan apa yang wajib baginya dan meninggalkan apa yang dilarang darinya.

14

فَاَنْذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظّٰىۚ

Fa anżartukum nāran talaẓẓā.

Aku memperingatkanmu dengan neraka yang menyala-nyala.

Maka, Aku memperingatkan kamu, wahai manusia, dengan neraka yang menyala-nyala dan panas tiada tara; itulah neraka Jahanam. Demikianlah cara Allah mendidik manusia, dengan memberi sanksi kepada pelanggar dan penghargaan kepada penaat.

15

لَا يَصْلٰىهَآ اِلَّا الْاَشْقَىۙ

Lā yaṣlāhā illal-asyqā.

Tidak masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka,

Itulah neraka yang hanya dimasuki dan dirasakan panasnya oleh orang yang paling celaka.

16

الَّذِيْ كَذَّبَ وَتَوَلّٰىۗ

Allażī każżaba wa tawallā.

yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari keimanan).

Mereka itulah orang yang mendustakan kebenaran yang datang dari Allah dan berpaling dari iman kepada-Nya.

17

وَسَيُجَنَّبُهَا الْاَتْقَىۙ

Wa sayujannabuhal-atqā.

Akan dijauhkan darinya (neraka) orang yang paling bertakwa,

Dan sebaliknya, akan selamat dari neraka itu dijauhkan darinya orang yang paling bertakwa sebagai penghargaan iman dan amal salehnya.

18

الَّذِيْ يُؤْتِيْ مَالَهٗ يَتَزَكّٰىۚ

Allażī yu’tī mālahū yatazakkā.

yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan (diri dari sifat kikir dan tamak).

Dia itulah orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah untuk membersihkan dirinya dari kekikiran, ketamakan, dan sifat buruk lainnya.

19

وَمَا لِاَحَدٍ عِنْدَهٗ مِنْ نِّعْمَةٍ تُجْزٰىٓۙ

Wa mā li’aḥadin ‘indahū min ni‘matin tujzā.

Tidak ada suatu nikmat pun yang diberikan seseorang kepadanya yang harus dibalas,

Dan tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat atau jasa padanya yang harus dibalasnya. Dia tidak berinfak hanya karena hendak membalas budi baik orang lain kepadanya, melainkan berinfak dengan tulus dan ikhlas.

20

اِلَّا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْاَعْلٰىۚ

Illabtigā’a wajhi rabbihil-a‘lā.

kecuali (dia memberikannya semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi.

Dia tidak berinfak demi manusia, tetapi berinfak semata karena mencari keridaan Tuhannya yang Mahatinggi. Allah sangat senang kepada orang yang tulus dan ikhlas dalam berinfak maupun ibadah lainnya.

21

وَلَسَوْفَ يَرْضٰى ࣖ

Wa lasaufa yarḍā.

Sungguh, kelak dia akan mendapatkan kepuasan (menerima balasan amalnya).

Dan niscaya kelak dia akan mendapat kesenangan yang sempurna dari Allah sebagai balasan atas ketulusannya. Allah memperlakukannya dengan baik, memasukkanya ke surga yang penuh nikmat, dan mempersilakannya bertemu dan melihat Allah.

Surat Ad-Dhuha

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

وَالضُّحٰىۙ

Waḍ-ḍuḥā.

Demi waktu duha

Demi waktu duha ketika matahari naik sepenggalah, atau demi waktu siang seluruhnya. Penyebutan waktu duha mengisyaratkan bahwa tenggang waktu ketika Nabi tidak menerima wahyu beberapa lama bagaikan malam yang gelap, sedangkan turunnya surah ini setelah itu bagaikan fajar yang menyingsing.

2

وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ

Wal-laili iżā sajā.

dan demi waktu malam apabila telah sunyi,

Dan demi malam apabila telah sunyi dan gelap. Ketika matahari bergeser ke tempat lain, belahan bumi yang ditinggalkannya beranjak tenang dan gelap, menjadi waktu yang tepat untuk istirahat.

3

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰىۗ

Mā wadda‘aka rabbuka wa mā qalā.

Tuhanmu (Nabi Muhammad) tidak meninggalkan dan tidak (pula) membencimu.

Wahai Nabi, tidak adanya wahyu yang turun kepadamu dalam beberapa hari ini bukan karena Allah membencimu. Tuhanmu yang telah memilihmu sebagai nabi dan rasul tidak akan meninggalkan engkau sendirian dalam menyampaikan risalah dan tidak pula membencimu.

4

وَلَلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰىۗ

Wa lal-ākhiratu khairul laka minal-ūlā.

Sungguh, akhirat itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan (dunia).

Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan. Akhirat beserta pahala yang Allah sediakan untukmu itu lebih baik daripada dunia ini. Kenikmatan akhirat bersifat abadi, sedangkan kehidupan dunia hanya sementara.

5

وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضٰىۗ

Wa lasaufa yu‘ṭīka rabbuka fa tarḍā.

Sungguh, kelak (di akhirat nanti) Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau rida.

Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya yang berlimpah kepadamu, baik dalam urusan dunia seperti kesuksesan menyampaikan risalah, maupun di akhirat dengan pahala, hak memberi syafaat, dan sebagainya. Dia akan mencurahkan karunia kepadamu sehingga engkau menjadi puas karenanya.

6

اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ

Alam yajidka yatīman fa āwā.

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(-mu);

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim ketika kedua orang tuamu wafat, lalu Dia melindungimu dalam asuhan kakek dan pamanmu? Ayah Nabi wafat ketika beliau dalam kandungan dan ibunya wafat ketika beliau berumur 6 tahun. Allah melindungi Nabi dalam asuhan kakeknya, Abdul Muttalib, sampai usia 8 tahun, dilanjutkan oleh pamannya, Abu Talib, hingga sang paman wafat.

7

وَوَجَدَكَ ضَاۤلًّا فَهَدٰىۖ

Wa wajadaka ḍāllan fa hadā.

mendapatimu sebagai seorang yang tidak tahu (tentang syariat), lalu Dia memberimu petunjuk (wahyu);

Dan bukankah Dia juga mendapatimu sebelum menjadi nabi sebagai seorang yang bingung karena belum mengetahui akidah dan hukum yang benar, lalu Dia memberikan petunjuk melalui wahyu dan membimbingmu sampai akhir hayatmu?

8

وَوَجَدَكَ عَاۤىِٕلًا فَاَغْنٰىۗ

Wa wajadaka ‘ā’ilan fa agnā.

dan mendapatimu sebagai seorang yang fakir, lalu Dia memberimu kecukupan?

Dan bukankah Dia juga mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan kepadamu dengan mengelola dagangan Khadijah dan dengan harta lainnya, seperti ganimah, serta membekalimu dengan sifat kanaah dan kesabaran atas pemberian-Nya?

9

فَاَمَّا الْيَتِيْمَ فَلَا تَقْهَرْۗ

Fa ammal-yatīma falā taqhar.

Terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.

Dengan karunia Allah yang demikian agung itu, maka berbuat baiklah terhadap anak yatim dan janganlah engkau berlaku sewenang-wenang kepadanya, seperti mengambil hartanya, menghardiknya, dan menyakiti hatinya.

10

وَاَمَّا السَّاۤىِٕلَ فَلَا تَنْهَرْ

Wa ammas-sā’ila falā tanhar.

Terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardik.

Dan berbuat baiklah terhadap orang yang meminta-minta, baik meminta ilmu pengetahuan atau harta, dan janganlah engkau menghardiknya. Berilah mereka apa yang engkau mampu atau tolaklah dengan halus dan ramah.

11

وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ ࣖ

Wa ammā bini‘mati rabbika fa ḥaddiṡ.

Terhadap nikmat Tuhanmu, nyatakanlah (dengan bersyukur).

Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau nyatakan dengan dibarengi rasa bersyukur. Allah telah memberimu nikmat yang tiada tara, seperti nikmat kenabian dan turunnya Al-Qur’an kepadamu. Sampaikan dan perlihatkanlah nikmat-nikmat Allah itu kepada orang lain sebagai bentuk rasa syukurmu kepada-Nya.

Surat Al-Insyirah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

اَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَۙ

Alam nasyraḥ laka ṣadrak(a).

Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Nabi Muhammad),

Wahai Nabi, bukankah Kami telah melapangkan dadamu? Kami telah menjadikanmu seorang nabi yang menerima syariat agama, berakhlak mulia, berwawasan luas, santun, dan sabar dalam menghadapi kepahitan hidup.

2

وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَۙ

Wa waḍa‘nā ‘anka wizrak(a).

meringankan beban (tugas-tugas kenabian) darimu

dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu,

3

الَّذِيْٓ اَنْقَضَ ظَهْرَكَۙ

Allażī anqaḍa ẓahrak(a).

yang memberatkan punggungmu,

yang memberatkan punggungmu? Kami jadikan tugasmu yang sejatinya berat, seperti menyampaikan risalah dan mendakwahkan syariat, terasa ringan.

4

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَۗ

Wa rafa‘nā laka żikrak(a).

dan meninggikan (derajat)-mu (dengan selalu) menyebut-nyebut (nama)-mu?

dan Kami pun telah tinggikan sebutan namamu bagimu. Kami sebut namamu secara berurutan dengan nama-Ku, seperti dalam syahadat, azan, tasyahud, dan sebagainya. Itu adalah kemuliaan tersendiri yang tidak Kami berikan kepada nabi-nabi yang lain.

5

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ

Fa’inna ma‘al-‘usri yusrā(n).

Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.

Demikianlah nikmat-nikmat-Ku kepadamu. Maka tetaplah optimis dan berharap pada pertolongan Tuhanmu karena sesungguhnya beserta kesulitan apa pun pasti ada kemudahan yang menyertainya. Engkau hadapi kesulitan besar dalam menyampaikan dakwah kepada kaummu; mereka ingkar dan menentangmu, tetapi Allah memberimu kemudahan untuk menaklukkan mereka.

6

اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ

Inna ma‘al-‘usri yusrā(n).

Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.

Sesungguhnya beserta kesulitan itu pasti ada kemudahan.

7

فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ

Fa iżā faragta fanṣab.

Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain)

Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain. Bila engkau menyelesaikan suatu urusan dunia atau berdakwah, bergegaslah bersimpuh di hadapan Tuhanmu. Begitu engkau selesai beribadah, bersungguh-sungguhlah dalam berdoa. Demikian seterusnya.

8

وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ ࣖ

Wa ilā rabbika fargab.

dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah!

Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau patut berharap dengan selalu bertawakal serta mengharap rahmat dan rida-Nya.

Surat At-Tin

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

وَالتِّيْنِ وَالزَّيْتُوْنِۙ

Wat-tīni waz-zaitūn(i).

Demi (buah) tin dan (buah) zaitun,

Demi buah Tin dan Zaitun,

2

وَطُوْرِ سِيْنِيْنَۙ

Wa ṭūri sīnīn(a).

demi gunung Sinai,

demi gunung Sinai,

3

وَهٰذَا الْبَلَدِ الْاَمِيْنِۙ

Wa hāżal-baladil-amīn(i).

dan demi negeri (Makkah) yang aman ini,

dan demi negeri Mekah yang aman ini. Buah Tin dan Zaitun banyak tumbuh di Syam dan Baitul makdis, tempat para nabi diutus, antara lain Nabi Isa. Gunung Sinai adalah tempat Nabi Musa bermunajat, sedangkan Mekah adalah tempat kelahiran dan pengutusan Nabi Muhammad. Ketiga nabi ini memiliki misi yang sama, yaitu mengajak manusia menuju tauhid.

4

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ

Laqad khalaqnal-insāna fī aḥsani taqwīm(in).

sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk fisik yang sebaik-baiknya, jauh lebih sempurna daripada hewan. Kami juga bekali mereka dengan akal dan sifat-sifat yang unggul. Dengan kelebihan-kelebihan itulah Kami amanati manusia sebagai khalifah di bumi.

5

ثُمَّ رَدَدْنٰهُ اَسْفَلَ سٰفِلِيْنَۙ

Ṡumma radadnāhu asfala sāfilīn(a).

Kemudian, kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya,

Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, yaitu ke neraka, bila mereka durhaka kepada Allah dan tidak menaati utusan-Nya. Ketika itu, kesempurnaan fisik, akal, dan sifat mereka tidak akan menyelamatkannya dari azab Allah.

6

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍۗ

Illal-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti falahum ajrun gairu mamnūn(in).

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Maka, mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya.

Kami masukkan manusia ke neraka, kecuali orang-orang yang benar-benar beriman dan mengerjakan kebajikan, baik spiritual maupun sosial, secara ikhlas dan sesuai syariat Islam; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya dan tidak pula berkurang. Kami selamatkan mereka dari neraka dan Kami berikan itu semua kepada mereka sebagai ganjaran dari Kami.

7

فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّيْنِۗ

Famā yukażżibuka ba‘du bid-dīn(i).

Maka, apa alasanmu (wahai orang kafir) mendustakan hari Pembalasan setelah (adanya bukti-bukti) itu?

Allah menciptakanmu dengan bentuk yang sempurna dari setetes mani yang menjadi janin, kemudian melewati berbagai tahap dari bayi, remaja, dewasa, tua, hingga meninggal. Itu merupakan dalil yang paling jelas tentang kekuasaan Allah; bahwa Dia kuasa untuk membangkitkanmu dari kematian. Maka, apa yang menyebabkan mereka mendustakanmu tentang hari pembalasan yaitu hari kiamat setelah adanya keterangan-keterangan yang gamblang itu?

8

اَلَيْسَ اللّٰهُ بِاَحْكَمِ الْحٰكِمِيْنَ ࣖ

Alaisallāhu bi’aḥkamil-ḥākimīn(a).

Bukankah Allah hakim yang paling adil?

Bukankah Allah adalah hakim yang paling adil? Jangan kaukira Allah menciptakan manusia secara sia-sia dengan tidak memberinya perintah dan larangan. Allah telah menurunkan aturan syariat. Dia akan memberi putusan dengan adil; memberi pahala kepada orang yang taat dan menghukum orang yang bersalah.

Surat Al-‘Alaq

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ

Iqra’ bismi rabbikal-lażī khalaq(a).

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!

Wahai Nabi, bacalah apa yang Allah wahyukan kepadamu dengan terlebih dahulu menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan segala sesuatu dengan keesaan-Nya.

2

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ

Khalaqal-insāna min ‘alaq(in).

Dia menciptakan manusia dari segumpal darah.

Dia telah menciptakan manusia yang sempurna bentuk dan pengetahuannya dari segumpal darah, sebagai kelanjutan dari fase nutfah. Setelah itu berturut-turut akan terbentuk sekepal daging, tulang, pelapisan tulang dengan daging, dan peniupan roh.

3

اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ

Iqra’ wa rabbukal-akram(u).

Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia,

Wahai Nabi, bacalah firman yang Allah turunkan kepadamu, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Dia membagi kemurahan-Nya kepada semua makhluk. Di antara kemurahan-Nya adalah menjadikan manusia bisa membaca, menulis, dan mempelajari ilmu pengetahuan.

4

الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ

Allażī ‘allama bil-qalam(i).

yang mengajar (manusia) dengan pena.

Tuhanmu itulah yang mengajar manusia menulis dengan perantaraan pena atau alat tulis lain. Tulisan berguna untuk menyimpan dan menyebarkan pesan serta ilmi pengetahuan kepada orang lain.

5

عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ

‘Allamal-insāna mā lam ya‘lam.

Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Manusia adalah makhluk yang potensial untuk berkarya melalui ilmu pengetahuan yang diperolehnya dari Allah. Manusia belajar baik dari alam sekitar yang merupakan ciptaan-Nya maupun dari wahyu yang Allah sampaikan melalui para rasul.

6

كَلَّآ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰىٓ ۙ

Kallā innal-insāna layaṭgā.

Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas

Manusia sangat bangga dengan materi sehingga tidak segan berbuat zalim. Sekali kali tidak boleh demikian! Sungguh,

7

اَنْ رَّاٰهُ اسْتَغْنٰىۗ

Ar ra’āhustagnā.

ketika melihat dirinya serba berkecukupan.

manusia itu benar-benar melampaui batas apabila melihat dirinya serba cukup dengan harta, jabatan, pengikut, dan semisalnya. Apa yang dimiliki membuatnya mudah mengingkari nikmat Allah dan lupa bahwa semua adalah anugerah-Nya.

8

اِنَّ اِلٰى رَبِّكَ الرُّجْعٰىۗ

Inna ilā rabbikar-ruj‘ā.

Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali(-mu).

Wahai manusia, sungguh hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali-mu. Pada hari kiamat Allah akan menghitung apa saja yang engkau perbuat di dunia. Dia akan membalas orang yang melampaui batas sesuai dengan azab yang setimpal.

9

اَرَاَيْتَ الَّذِيْ يَنْهٰىۙ

Ara’aital-lażī yanhā.

Tahukah kamu tentang orang yang melarang

Wahai Rasul atau siapa saja, bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang

10

عَبْدًا اِذَا صَلّٰىۗ

‘Abdan iżā ṣallā.

seorang hamba ketika dia melaksanakan salat?

seorang hamba ketika dia melaksanakan salat? Adakah yang lebih mengherankan daripada kelakukan orang (Ab Jahl) yang menghalang-halangi hamba-Ku (Nabi Muhammad) mendekatkan diri kepada Tuhan yang telah memberinya kehidupan dan kecukupan?

11

اَرَاَيْتَ اِنْ كَانَ عَلَى الْهُدٰىٓۙ

Ara’aita in kāna ‘alal-hudā.

Bagaimana pendapatmu kalau terbukti dia berada di dalam kebenaran

Bagaimana pendapatmu jika dia yang dilarang salat itu berada di atas kebenaran dan petunjuk dari Tuhannya dalam salatnya,

12

اَوْ اَمَرَ بِالتَّقْوٰىۗ

Au amara bit-taqwā.

atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?

atau dia menyuruh orang lain bertakwa kepada Allah untuk kemaslahatan mereka? Bukankah amat mengherankan bila orang yang sesat melarang orang yang mendapat pentunjuk untuk melaksanakan perintah Tuhannya dan membimbing orang lain ke jalan takwa?

13

اَرَاَيْتَ اِنْ كَذَّبَ وَتَوَلّٰىۗ

Ara’aita in każżaba wa tawallā.

Bagaimana pendapatmu kalau dia mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari keimanan)?

Bagaimana pendapatmu jika dia yang melarang itu mendustakan Nabi serta wahyu Allah dan berpaling dari keimanan dan berbuat kebajikan?

14

اَلَمْ يَعْلَمْ بِاَنَّ اللّٰهَ يَرٰىۗ

Alam ya‘lam bi’annallāha yarā.

Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?

Tidakkah dia yang berbuat demikian jahat itu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat dan akan membalas perbuatan jahatnya? Allah Maha Melihat dan pasti akan memberi balasan dengan seadil-adilnya.

15

كَلَّا لَىِٕنْ لَّمْ يَنْتَهِ ەۙ لَنَسْفَعًاۢ بِالنَّاصِيَةِۙ

Kallā la’il lam yantah(i), lanasfa‘am bin-nāṣiyah(ti).

Sekali-kali tidak! Sungguh, jika dia tidak berhenti (berbuat demikian), niscaya Kami tarik ubun-ubunnya (ke dalam neraka),

Dia tidak dibenarkan untuk melarang orang lain melaksanakan salat dan mendekatkan diri kepada Allah. Sekali kali tidak! Sungguh, jika dia tidak berhenti berbuat demikian niscaya Kami tarik ubun-ubunnya dengan sangat kasar ke arah neraka;

16

نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍۚ

Nāṣiyatin kāżibatin khāṭi’ah(tin).

(yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan (kebenaran) dan durhaka.

yaitu ubun-ubun orang yang mendustakan nabi dan durhaka kepada Allah.

17

فَلْيَدْعُ نَادِيَهٗۙ

Falyad‘u nādiyah(ū).

Biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya).

Apabila azab Kami datang kepadanya maka biarlah dia memanggil golongannya yang dia banggakan untuk menyelamatkannya dari azab itu.

18

سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَۙ

Sanad‘uz-zabāniyah(ta).

Kelak Kami akan memanggil (Malaikat) Zabaniah (penyiksa orang-orang yang berdosa).

Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah yang bengis dan kasar untuk mencampakkannya ke dalam azab Kami dan menyelamatkan Nabi beserta para pengikutnya.

19

كَلَّاۗ لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ ۩ ࣖ

Kallā, lā tuṭi‘hu wasjud waqtarib.

Sekali-kali tidak! Janganlah patuh kepadanya, (tetapi) sujud dan mendekatlah (kepada Allah).

Perbuatan jahat orang itu (Ab Jahl) tidak akan mengenai dirimu, wahai Nabi. Sekali-kali tidak! Janganlah kamu patuh kepadanya. Tetaplah menunaikan salat sesuai perintah Tuhanmu dan sujudlah serta dekatkanlah dirimu kepada-Nya dengan menaati aturannya, niscaya Dia akan selalu melindungimu dari ancamannya.

Surat Al-Qadr

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Innā anzalnāhu fī lailatil-qadr(i).

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatulqadar.

Al-Qur’an adalah kitab suci yang mulia. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya untuk pertama kali kepada Nabi Muhammad di Gua Hira, atau menurunkannya secara sekaligus dari Lau Maf ke Baitul Izzah di langit dunia, pada malam qadar, malam kemuliaan dan ke agungan.

2

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ

Wa mā adrāka mā lailatul-qadr(i).

Tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu?

Dan tahukah kamu, wahai Nabi Muhammad, apakah malam kemuliaan dan keagungan itu? Ungkapan Lailatul Qadr baru disebut oleh Al-Qur’an dalam ayat pertama surah ini sehingga Allah perlu menjelaskan artinya dan menggugah perhatian Nabi tentangnya.

3

لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ

Lailatul-qadri khairum min alfi syahr(in).

Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan.

Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan tanpa malam qadar di dalamnya. Ibadah pada malam itu mempunyai nilai yang sangat tinggi di mata Allah, lebih tinggi daripada ibadah selama seribu bulan.

4

تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ

Tanazzalul-malā’ikatu war rūḥu fīhā bi’iżni rabbihim min kulli amr(in).

Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.

Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh, yakni Jibril, dari langit ke bumi dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan makhluk yang telah ditentukan-Nya di Lauh Mahfuz untuk satu tahun mendatang, seperti umur, rezeki, kematian, dan sebagainya. Inilah yang membuat malam itu begitu mulia.

5

سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ࣖ

Salāmun hiya ḥattā maṭla‘il-fajr(i).

Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.

Sejahteralah malam itu sejak matahari terbenam sampai terbit fajar. Pada malam itu Allah hanya menentukan keselamatan dan kesejahteraan bagi makhluknya. Para malaikat juga turun secara bergelombang sambil membawa rahmat, kebaikan, salam, dan berkah dari Allah. Pada malam itu pula, tiap kali berjumpa dengan orang beriman, para malaikat pasti mengucapkan salam kepadanya.

Surat Al-Bayyinah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

لَمْ يَكُنِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَالْمُشْرِكِيْنَ مُنْفَكِّيْنَ حَتّٰى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُۙ

Lam yakunil-lażīna kafarū min ahlil-kitābi wal-musyrikīna munfakkīna ḥattā ta’tiyahumul-bayyinah(tu).

Orang-orang yang kufur dari golongan Ahlulkitab dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan (kekufuran mereka) sampai datang kepada mereka bukti yang nyata,

Orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab, yaitu Yahudi dan Nasrani, dan orang-orang musyrik penyembah berhala tidak akan meninggalkan kekafiran mereka sampai datang kepada mereka bukti yang nyata.

2

رَسُوْلٌ مِّنَ اللّٰهِ يَتْلُوْا صُحُفًا مُّطَهَّرَةًۙ

Rasūlum minallāhi yatlū ṣuḥufam muṭahharah(tan).

(yaitu) seorang Rasul dari Allah (Nabi Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran suci (Al-Qur’an)

Bukti yang nyata itu adalah Nabi Muhammad, seorang rasul dari Allah yang membacakan kepada mereka lembaran-lembaran yang suci. Itulah Al-Quran yang disucikan dari kebohongan dan kebatilan.

3

فِيْهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌ ۗ

Fīhā kutubun qayyimah(tun).

yang di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus (benar).

Lembaran-lembaran suci itu di dalamnya terdapat kitab-kitab, yakni hukum-hukum tertulis, yang lurus. Al-Qur’an berisi akidah, hukum, kisah, dan aturan yang menuntun umat manusia ke jalan yang benar dan lurus.

4

وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُ ۗ

Wa mā tafarraqal-lażīna ūtul-kitāba illā mim ba‘di mā jā’athumul-bayyinah(tu).

Tidaklah terpecah-belah orang-orang Ahlulkitab, melainkan setelah datang kepada mereka bukti yang nyata.

Wahai Nabi, ketahuilah bahwa Ahli Kitab dahulu sepakat mengimani dirimu sebagai rasul terakhir sebagaimana informasi yang mereka dapati dalam kitab-kitab mereka. Dan tidaklah terpecah-belah orang-orang Ahli Kitab itu melainkan setelah datang kepada mereka bukti yang nyata, yaitu kedatanganmu atau Al-Qur’an yang kaubawa. Sebagian beriman kepadamu dan sebagian yang lain mengingkarimu.

5

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

Wa mā umirū illā liya‘budullāha mukhliṣīna lahud-dīn(a), ḥunafā’a wa yuqīmuṣ-ṣalāta wa yu’tuz-zakāta wa żālika dīnul-qayyimah(ti).

Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar).

Mereka terpecah belah seperti itu padahal mereka dalam kitab-kitab mereka hanya diperintah untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama, dan juga diperintah agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah aga-ma yang lurus dan benar agama Islam. Keikhlasan dalam beribadah dengan memurnikan niat demi mencari rida Allah dan menjauhkan diri dari kemusyrikan adalah salah satu syarat diterimanya ibadah.

6

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَالْمُشْرِكِيْنَ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِۗ

Innal-lażīna kafarū min ahlil-kitābi wal-musyrikīna fī nāri jahannama khālidīna fīhā, ulā’ika hum syarrul-bariyyah(ti).

Sesungguhnya orang-orang yang kufur dari golongan Ahlulkitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk.

Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik akan masuk ke neraka Jahanam dengan bermacam siksa pedih di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Tidak ada kesempatan bagi mereka untuk keluar, bahkan untuk sekadar sejenak lepas dari siksa. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk. Allah telah mem-beri mereka peringatan, tetapi mereka enggan mengindahkannya. Dia tidak akan menyiksa seseorang kecuali setelah memberinya peringatan.

7

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِۗ

Innal-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti ulā’ika hum khairul-bariyyah(ti).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itulah sebaik-baik makhluk.

Sungguh, orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasulnya dengan iman yang benar dan mengerjakan kebajikan dengan ikhlas dan sesuai ketetentuan syariat, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Mereka adalah makhluk yang Allah kehendaki untuk menjadi khalifah di bumi.

8

جَزَاۤؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗرَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗ ذٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهٗ ࣖ

Jazā’uhum ‘inda rabbihim jannātu ‘adnin tajrī min taḥtihal-anhāru khālidīna fīhā abadā(n), raḍiyallāhu ‘anhum wa raḍū ‘anh(u), żālika liman khasyiya rabbah(ū).

Balasan mereka di sisi Tuhannya adalah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.

Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya bersama segala kenikmatan di dalamnya. Selain itu, mereka mendapat nikmat yang lebih besar. Allah rida terhadap mereka atas keimanan dan amal saleh mereka dan mereka pun rida kepada-Nya atas kemuliaan yang Allah anugerahkan kepada mereka. Yang demikian itu adalah balasan yang agung bagi orang yang takut kepada Tuhannya. Ketakutannya pada siksaan Allah mendorongnya untuk menjauhkan diri dari larangan Allah, termasuk kemusyrikan dan kekafiran.

Surat Az-Zalzalah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

اِذَا زُلْزِلَتِ الْاَرْضُ زِلْزَالَهَاۙ

Iżā zulzilatil-arḍu zilzālahā.

Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat,

Banyak kejadian dahsyat yang terjadi di bumi ketika kiamat tiba. Apabila bumi diguncangkan oleh malaikat atas perintah Allah dengan guncangan yang dahsyat setelah Israfil meniupkan sangkakala pertama,

2

وَاَخْرَجَتِ الْاَرْضُ اَثْقَالَهَاۙ

Wa akhrajatil-arḍu aṡqālahā.

bumi mengeluarkan isi perutnya,

dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat yang dikandung-nya, baik kekayaan yang ada di dalamnya atau mayat-mayat yang terkubur,

3

وَقَالَ الْاِنْسَانُ مَا لَهَاۚ

Wa qālal-insānu mā lahā.

dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi dengannya (bumi)?”

dan pada saat itu manusia bertanya dengan penuh kekalutan dan ketakutan, “Apa yang terjadi pada bumi ini? Mengapa bumi berguncang sedemikian dahsyat dan mengeluarkan apa saja yang dikandungnya? Apakah ini hari kiamat?”

4

يَوْمَىِٕذٍ تُحَدِّثُ اَخْبَارَهَاۙ

Yauma’iżin tuḥaddiṡu akhbārahā.

Pada hari itu (bumi) menyampaikan berita (tentang apa yang diperbuat manusia di atasnya)

Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya kepada manusia, mengapa bumi berguncang dan mengeluarkan semua kandungannya. Pada hari itu pula bumi bersaksi kepada Allah dengan rinci apa saja yang telah manusia lakukan di atasnya: kebajikan atau keburukan, besar atau kecil.

5

بِاَنَّ رَبَّكَ اَوْحٰى لَهَاۗ

Bi’anna rabbaka auḥā lahā.

karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya.

Bumi menyampaikan kepada manusia apa yang terjadi padanya dan bersaksi di hadapan Allah tentang apa saja yang manusia lakukan di atasnya karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan padanya untuk berbuat demikian.

6

يَوْمَىِٕذٍ يَّصْدُرُ النَّاسُ اَشْتَاتًا ەۙ لِّيُرَوْا اَعْمَالَهُمْۗ

Yauma’iżiy yaṣdurun-nāsu asytātā(n), liyurau a‘mālahum.

Pada hari itu manusia keluar (dari kuburnya) dalam keadaan terpencar untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatan mereka.

Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya untuk menuju tempat hisab, atau beranjak dari tempat hisab itu, dalam keadaan berkelompok-kelompok. Kondisi mereka beragam; sebagian merasa tenang dan sebagian yang lain begitu gundah dan ketakutan. Mereka digiring dengan gegas ke surga atau neraka untuk diperlihatkan kepada mereka balasan semua perbuatannya yang telah Allah janjikan.

7

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ

Famay ya‘mal miṡqāla żarratin khairay yarah(ū).

Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.

Pada saat itu setiap manusia akan mengetahui nasib dirinya. Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya dalam buku catatan amalnya lalu dia akan menerima pahala atasnya. Dia merasa senang dan bahagia karena perbuatannya tidak sia-sia.

8

وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ ࣖ

Wa may ya‘mal miṡqāla żarratin syarray yarah(ū).

Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.

Dan sebaliknya, barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah dan menganggapnya remeh, niscaya dia akan melihatnya dalam buku catatan amalnya lalu dia pun akan menerima balasannya. Inilah bukti kemahaadilan Allah; Dia tidak menzalimi siapa pun.

Surat Al-‘Adiyat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

وَالْعٰدِيٰتِ ضَبْحًاۙ

Wal-‘ādiyāti ḍabḥā(n).

Demi kuda-kuda perang yang berlari kencang terengah-engah,

Demi kuda perang yang berlari kencang dan bernafas terengah-engah ke arah musuh dengan penuh keberanian dan semangat guna membawa tuannya berperang di jalan Allah.

2

فَالْمُوْرِيٰتِ قَدْحًاۙ

Fal-mūriyāti qadḥā(n).

yang memercikkan bunga api (dengan entakan kakinya),

Dan demi kuda yang memercikkan bunga api karena hentakan kuku kakinya beradu dengan batu batu. Hal ini menunjukkan keberaniannya menghadapi rintangan sebesar apa pun.

3

فَالْمُغِيْرٰتِ صُبْحًاۙ

Fal-mugīrāti ṣubḥā(n).

yang menyerang (dengan tiba-tiba) pada waktu pagi

Dan demi kuda yang menyerang dengan tiba-tiba pada waktu pagi hal ini menunjukkan kesiagaannya untuk berjihad tanpa mengenal waktu,

4

فَاَثَرْنَ بِهٖ نَقْعًاۙ

Fa’aṡarna bihī naq‘ā(n).

sehingga menerbangkan debu,

sehingga dengan serangan kuda-kuda itu menerbangkan debu yang tebal, tanda betapa dahsyat serangan mereka ke arah musuh,

5

فَوَسَطْنَ بِهٖ جَمْعًاۙ

Fawasaṭna bihī jam‘ā(n).

lalu menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh,

lalu menyerbu bersama dengan kepulan debu itu ke tengah-tengah kumpulan musuh dengan gagah berani.

6

اِنَّ الْاِنْسَانَ لِرَبِّهٖ لَكَنُوْدٌ ۚ

Innal-insāna lirabbihī lakanūd(un).

sesungguhnya manusia itu sangatlah ingkar kepada Tuhannya.

Demi kuda-kuda perang yang demikian sifatnya, sungguh manusia itu enggan bersyukur dan sangat ingkar kepada nikmat Tuhannya. Manusia, kecuali yang dirahmati Allah, malas bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan tidak mau memenuhi kewajiban yang dibebankan kepadanya.

7

وَاِنَّهٗ عَلٰى ذٰلِكَ لَشَهِيْدٌۚ

Wa innahū ‘alā żālika lasyahīd(un).

Sesungguhnya dia benar-benar menjadi saksi atas hal itu (keingkarannya).

dan sesungguhnya dia mengakui dan menyaksikan keingkarannya itu. Hal itu bisa dilihat dari mudahnya manusia bermaksiat kepada Allah.

8

وَاِنَّهٗ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيْدٌ ۗ

Wa innahū liḥubbil-khairi lasyadīd(un).

Sesungguhnya cintanya pada harta benar-benar berlebihan.

Dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan. Kecintaan berlebihnya pada harta membuatnya materialistis, mengumpulkan harta dengan jalan apa pun, tidak peduli halan atau haram. Cintanya itu juga membuatnya bakhil dan cenderung menggunakannya untuk sesuatu yang tidak benar.

9

۞ اَفَلَا يَعْلَمُ اِذَا بُعْثِرَ مَا فِى الْقُبُوْرِۙ

Afalā ya‘lamu iżā bu‘ṡira mā fil-qubūr(i).

Maka, tidakkah dia mengetahui (apa yang akan dialaminya) apabila dikeluarkan apa yang ada di dalam kubur

Maka tidakkah dia mengetahui apabila apa yang di dalam kubur dikeluarkan dan dibangkitkan pada hari kiamat untuk mempertanggung-jawabkan amalnya,

10

وَحُصِّلَ مَا فِى الصُّدُوْرِۙ

Wa ḥuṣṣila mā fiṣ-ṣudūr(i).

dan ditampakkan apa yang tersimpan di dalam dada?

dan tidakkah mereka mengetahui nasibnya bila apa yang tersimpan di dalam dada dilahirkan, baik itu keimanan maupun kekafiran? Kelakuan seseorang adalah cerminan isi hatinya. Buruknya perilaku seseorang merupakan pertanda buruknya hati orang tersebut, demikian sebaliknya.

11

اِنَّ رَبَّهُمْ بِهِمْ يَوْمَىِٕذٍ لَّخَبِيْرٌ ࣖ

Inna rabbahum bihim yauma’iżil lakhabīr(un).

Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu benar-benar Maha Teliti terhadap (keadaan) mereka.

Sungguh, Tuhan mereka pada hari itu Mahateliti terhadap keadaan mereka. Allah mencatat dengan rinci dan detail apa yang dilakukan manusia. Dengan bukti itu Allah akan menghisab dan memberi balasan yang sesuai kepada mereka.

Surat Al-Qari’ah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

اَلْقَارِعَةُۙ

Al-qāri‘ah(tu).

Al-Qāri‘ah (hari Kiamat yang menggetarkan).

Hari kiamat yang mengerikan;

2

مَا الْقَارِعَةُ ۚ

Mal-qāri‘ah(tu).

Apakah al-Qāri‘ah itu?

apakah hari kiamat itu? Allah mengulang penyebutan kata “al-Qari’ah” untuk menggugah perhatian manusia tentang kengeriannya dan peristiwa-peristiwa dahsyat yang terjadi pada hari itu.

3

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْقَارِعَةُ ۗ

Wa mā adrāka mal-qāri‘ah(tu).

Tahukah kamu apakah al-Qāri‘ah itu?

Allah mengulangi sekali lagi pertanyaan itu agar manusia semakin tergugah, “Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu?”

4

يَوْمَ يَكُوْنُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوْثِۙ

Yauma yakūnun-nāsu kal-farāsyil-mabṡūṡ(i).

Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan

Allah menggambarkan dahsyatnya hari kiamat melalui dua hal, yaitu keadaan manusia dan gunung-gunung. Pada hari kiamat itu manusia seperti laron yang beterbangan. Mereka berlarian tidak tentu arah, kacau balau, dan tidak lagi menghiraukan sekelilingnya.

5

وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوْشِۗ

Wa takūnul-jibālu kal-‘ihnil-manfūsy(i).

dan gunung-gunung seperti bulu yang berhamburan.

Dan pada hari kiamat itu pula gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Gunung yang demikian kekar diempaskan sehingga menjadi abu, kemudian disapu oleh angin dahsyat hingga beterbangan, menjadikan bumi terhampar rata.

6

فَاَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِيْنُهٗۙ

Fa ammā man ṡaqulat mawāzīnuh(ū).

Siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya,

Maka adapun orang yang berat timbangan kebaikan-nya, baik berupa ibadah ritual maupun sosial yang dikerjakan dengan ikhlas,

7

فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍۗ

Fa huwa fī ‘īsyatir rāḍiyah(tin).

dia berada dalam kehidupan yang menyenangkan.

maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan dan membahagiakan. Itulah surga yang penuh nikmat.

8

وَاَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهٗۙ

Wa ammā man khaffat mawāzīnuh(ū).

Adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)-nya,

Dan adapun orang yang ringan timbangan kebaikan-nya dan kalah berat dibanding timbangan keburukannya karena lebih banyak berbuat maksiat dan kebatilan daripada taat dan kebajikan,

9

فَاُمُّهٗ هَاوِيَةٌ ۗ

Fa ummuhū hāwiyah(tun).

tempat kembalinya adalah (neraka) Hawiyah.

maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.

10

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا هِيَهْۗ

Wa mā adrāka mā hiyah.

Tahukah kamu apakah (neraka Hawiyah) itu?

Menggugah perhatian manusia tentang neraka Hawiyah itu, Allah berfirman, “Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?”

11

نَارٌ حَامِيَةٌ ࣖ

Nārun ḥāmiyah(tun).

(Ia adalah) api yang sangat panas.

Neraka Hawiyah itu adalah api yang sangat panas dan menjadikan apa saja yang masuk ke dalamnya hancur lebur dan leleh.

Surat At-Takatsur

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ

Alhākumut-takāṡur(u).

Berbangga-bangga dalam memperbanyak (dunia) telah melalaikanmu

Wahai manusia, bermegah-megahan dalam hal harta, keturunan, dan pengikut telah melalaikan kamu dari ketaatan kepada Allah dan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari akhir.

2

حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَۗ

Ḥattā zurtumul-maqābir(a).

sampai kamu masuk ke dalam kubur.

Kamu tidak akan berhenti bermegah-megahan seperti itu sampai kamu mati dan masuk ke dalam kubur.

3

كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَۙ

Kallā saufa ta‘lamūn(a).

Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu).

Tidak patut bagimu untuk lalai karena bermegah-megahan. Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui dan menyadari bahwa akhirat itu lebih baik bagimu.

4

ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ

Ṡumma kallā saufa ta‘lamūn(a).

Sekali-kali tidak (jangan melakukan itu)! Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya).

Dan sekali-kali tidak patut bagimu berbuat demikian! Kelak kamu akan mengetahui akibat dari kesibukanmu dengan dunia dan kelalaianmu dari ketaatan.

5

كَلَّا لَوْ تَعْلَمُوْنَ عِلْمَ الْيَقِيْنِۗ

Kallā lau ta‘lamūna ‘ilmal-yaqīn(i).

Sekali-kali tidak (jangan melakukan itu)! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti, (niscaya kamu tidak akan melakukannya).

Sekali-kali tidak pantas bagimu bermegah-megahan! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti akibat buruk dari perbuatanmu itu di akhirat nanti, niscaya kamu akan meninggalkannya dan beralih menyibukkan diri dengan hal-hal yang menyelamatkanmu dari siksa neraka.

6

لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْمَۙ

Latarawunnal-jaḥīm(a).

Pasti kamu benar-benar akan melihat (neraka) Jahim.

Aku bersumpah, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim dan merasakan panasnya.

7

ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِيْنِۙ

Ṡumma latarawunnahā ‘ainal-yaqīn(i).

Kemudian, kamu pasti benar-benar akan melihatnya dengan ainulyakin.

Untuk menambah ketakutan manusia terhadap neraka Jahim, Allah mengulangi sumpahnya. Kemudian Aku bersumpah, kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri. Ketika itu kamu sadar betapa buruk akibat kelalaianmu dari iman dan taat kepada Allah.

8

ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَىِٕذٍ عَنِ النَّعِيْمِ ࣖ

Ṡumma latus’alunna yauma’iżin ‘anin-na‘īm(i).

Kemudian, kamu pasti benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).

Kemudian, pada saat kamu menyaksikan neraka Jahim dengan mata kepalamu, kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan yang kamu jadikan bahan bermegah-megahan di dunia itu, seperti harta, keturunan, pengikut, dan sebagainya. Semua itu pada haki-katnya adalah cobaan. Jika diperoleh secara halal dan digunakan dengan benar, semua itu akan menguntungkan pemiliknya, baik di dunia maupun akhirat. Bila tidak, semua itu akan menjadikan hidup pemilik-nya tidak berkah dan menjerumuskannya ke dalam siksaan Allah di akhirat nanti.

Surat Al-‘Asr

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

وَالْعَصْرِۙ

Wal-‘aṣr(i).

Demi masa,

Demi masa, waktu sore, atau salat Asar. Allah bersumpah dengan masa agar manusia memperhatikan masa dan memanfaatkannya dengan baik; bersumpah dengan waktu sore, sebagaimana dengan waktu duha, sebagai salah satu bukti kuasa Allah; dan bersumpah dengan salat Asar karena keutamaanya atas salat-salat yang lain.

2

اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ

Innal-insāna lafī khusr(in).

sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian,

Sungguh, manusia berada dalam kerugian, baik di dunia maupun akhirat, akibat hawa nafsu yang menyelubungi dirinya.

3

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ

Illal-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa tawāṣau bil-ḥaqq(i), wa tawāṣau biṣ-ṣabr(i).

kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.

Semua manusia rugi, kecuali orang-orang yang beriman dengan sejati dan mengerjakan kebajikan sesuai ketentuan syariat dengan penuh keikhlasan, serta saling menasihati satu sama lain dengan baik dan bijaksana untuk memegang teguh kebenaran sebagaimana diajarkan oleh agama dan saling menasihati untuk kesabaran dalam melaksanakan kewajiban agama, menjauhi larangan, menghadapi musibah, dan menjalani kehidupan.

Surat Al-Humazah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍۙ

Wailul likulli humazatil-lumazah(tin).

Celakalah setiap pengumpat lagi pencela

Celakalah bagi setiap pengumpat atau pencaci, baik dengan ucapan atau isyarat, dan demikian pula pencela dengan menampilkan keburukan orang lain untuk menghinakannya. Perbuatan ini berdampak buruk dalam pergaulan karena mencoreng wibawa dan kehormatan seseorang, serta menghilangkan kepercayaan kepada orang tersebut.

2

ۨالَّذِيْ جَمَعَ مَالًا وَّعَدَّدَهٗۙ

Allażī jama‘a mālaw wa ‘addadah(ū).

yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya.

Celakalah orang yang sifatnya demikian, yang selalu menyibukkan diri dan berorientasi pada mengumpulkan harta benda dan menghitung-hitungnya. Dia merasa nyaman untuk menumpuk dan menghitung harta untuk menjamin kehidupannya di masa datang, dan enggan me-nunaikan hak Allah dalam hartanya itu.

3

يَحْسَبُ اَنَّ مَالَهٗٓ اَخْلَدَهٗۚ

Yaḥsabu anna mālahū akhladah(ū).

Dia (manusia) mengira bahwa hartanya dapat mengekalkannya.

Dia senang dan sibuk mengumpulkan harta karena mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkan hidup-nya di dunia. Dia terbuai oleh hartanya dan lupa bahwa harta sebanyak apa pun tidak akan dapat digunakan untuk menolak datangnya sesuatu yang tidak diinginkannya, yaitu kematian.

4

كَلَّا لَيُنْۢبَذَنَّ فِى الْحُطَمَةِۖ

Kallā layumbażanna fil-ḥuṭamah(ti).

Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Hutamah.

Sekali-kali tidak! Harta itu tidak akan menolak datangnya kematian kepadanya. Setelah mati dan dihisab atas perbuatan buruknya itu, pasti dia akan dilemparkan dan dicampakkan dengan hina ke dalam neraka Hutamah oleh para malaikat Zabaniah yang bengis, kasar, dan galak.

5

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْحُطَمَةُ ۗ

Wa mā adrāka mal-ḥuṭamah(tu).

Tahukah kamu apakah (neraka) Hutamah?

Dan tahukah kamu apakah neraka Hutamah itu? Demikian pertanyaan Allah guna menarik perhatian serius manusia terhadap apa yang disampaikan-Nya.

6

نَارُ اللّٰهِ الْمُوْقَدَةُۙ

Nārullāhil-mūqadah(tu).

(Ia adalah) api (azab) Allah yang dinyalakan

Hutamah ialah api azab Allah yang dinyalakan,

7

الَّتِيْ تَطَّلِعُ عَلَى الْاَفْـِٕدَةِۗ

Allatī taṭṭali‘u ‘alal-af’idah(ti).

yang (membakar) naik sampai ke hati.

yang panasnya menembus dada manusia sampai ke hati lalu membakarnya. Hati adalah organ yang paling sensitif terhadap rasa sakit dalam kadar kecil sekalipun, lalu bagaimana bila api neraka itu sampai membakarnya hingga lebur?

8

اِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُّؤْصَدَةٌۙ

Innahā ‘alaihim mu’ṣadah(tun).

Sesungguhnya dia (api itu) tertutup rapat (sebagai hukuman) atas mereka,

Sungguh, api itu ditutup rapat atas diri mereka yang suka mengumpat, mencela, mengumpulkan harta, dan menghitung-hitungnya. Tidak ada celah sedikit pun yang memungkinkan udara dari luar merembes masuk. Akibatnya, kadar panas api itu tidak pernah turun, bahkan terus naik.

9

فِيْ عَمَدٍ مُّمَدَّدَةٍ ࣖ

Fī ‘amadim mumaddadah(tin).

(sedangkan mereka) diikat pada tiang-tiang yang panjang.

Para pendosa itu diikat dengan erat pada tiang-tiang yang panjang hingga mereka tidak dapat bergerak sedikit pun di Hutamah itu, apa lagi keluar darinya.

Surat Al-Fil

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِاَصْحٰبِ الْفِيْلِۗ

Alam tara kaifa fa‘ala rabbuka bi’aṣḥābil-fīl(i).

Tidakkah engkau (Nabi Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?

Wahai Nabi Muhammad atau siapa saja, tidakkah engkau perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah dengan menghancurkan mereka, yaitu tentara Abrahah dari Ethiopia yang hendak menghancurkan Kakbah?

2

اَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِيْ تَضْلِيْلٍۙ

Alam yaj‘al kaidahum fī taḍlīl(in).

Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia?

Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya dan usaha mereka menghancurkan Kakbah itu sia-sia, meski mereka datang dengan pasukan yang kuat dan persenjataan yang lengkap?

3

وَّاَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا اَبَابِيْلَۙ

Wa arsala ‘alaihim ṭairan abābīl(a).

Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong

Allah mempunyai cara untuk menggagalkan tipu daya mereka, dan Dia mengirimkan kepada mereka salah satu makhluk-Nya yang dijadikan bala tentara untuk menghancurkan mereka, yaitu burung yang berbondong-bondong dan tidak terhitung banyaknya.

4

تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ مِّنْ سِجِّيْلٍۙ

Tarmīhim biḥijāratim min sijjīl(in).

yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar,

Allah mengirim burung-burung yang melempari mereka dengan batu yang berasal dari tanah liat yang terbakar.

5

فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُوْلٍ ࣖ

Fa ja‘alahum ka‘aṣfim ma’kūl(in).

sehingga Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

Batu-batu yang dijatuhkan oleh burung-burung itu tepat mengenai tentara Abrahah sehingga mereka dijadikan-Nya bergelimpangan tak berdaya dan binasa seperti daun-daun yang dimakan ulat. Itulah balasan bagi orang yang angkuh dan hendak menghancurkan Kakbah, simbol agama Allah.

Surat Quraisy

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

لِاِيْلٰفِ قُرَيْشٍۙ

Li’īlāfi quraisy(in).

Disebabkan oleh kebiasaan orang-orang Quraisy,

Wahai manusia, kamu akan dibuat kagum karena kebiasaan orang-orang Quraisy, suatu kabilah besar yang mempunyai peranan sentral pada masyarakat Arab dalam bidang politik dan sosial.

2

اٖلٰفِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاۤءِ وَالصَّيْفِۚ

´lāfihim riḥlatasy-syitā’i waṣ-ṣaif(i).

(yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas (sehingga mendapatkan banyak keuntungan),

Yaitu kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin ke Yaman dan musim panas ke Syam untuk berniaga guna memenuhi kebutuhan hidup mereka di Mekah untuk berkhidmat merawat Kakbah dan melayani para peziarah, suatu hal yang menjadi kebanggan mereka atas kabilah-kabilah lain.

3

فَلْيَعْبُدُوْا رَبَّ هٰذَا الْبَيْتِۙ

Falya‘budū rabba hāżal-bait(i).

maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka‘bah)

Mereka pergi berniaga tiap tahun dengan aman dan sentosa. Oleh karena itu maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini, yaitu Kakbah, dengan pengabdian yang hakiki dan tidak mempersekutukan-Nya, sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah mereka terima.

4

الَّذِيْٓ اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ ەۙ وَّاٰمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ ࣖ

Allażī aṭ‘amahum min jū‘(in), wa āmanahum min khauf(in).

yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut.

Hendaklah mereka menyembah Tuhan Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar, memenuhi kebutuhan dasar mereka, dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan. Terpenuhinya kebutuhan akan makanan dan rasa aman merupakan dua prasyarat penting yang menjamin kesejahteraan suatu masyarakat.

Surat Al-Ma’un

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ

Ara’aital-lażī yukażżibu bid-dīn(i).

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

Tahukah kamu, wahai Rasul, orang yang mendustakan agama dan mengingkari hisab serta hari pembalasan di akhirat nanti?

2

فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ

Fa żālikal-lażī yadu‘‘ul-yatīm(a).

Itulah orang yang menghardik anak yatim

Jika engkau ingin tahu, maka para pendusta agama, hisab, dan hari pembalasan itulah orang yang menghardik anak yatim, menyakiti hatinya, dan berbuat zalim kepadanya dengan menahan haknya. Dia tidak lagi peduli terhadap anak yang sudah kehilangan tumpuan hidupnya itu.

3

وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ

Wa lā yaḥuḍḍu ‘alā ṭa‘āmil-miskīn(i).

dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin.

dan dia tidak mendorong orang lain untuk memberi makan orang miskin yang tidak mempunyai kecukupan untuk memenuhi keperluan hidupnya sehari-hari. Bila dia enggan mendorong orang lain untuk memberi makan dan memperhatikan kesejahteraan anak yatim, bagaimana mungkin dia, dengan kekikiran dan kecintaannya pada harta, mendorong dirinya sendiri untuk berbuat demikian?

4

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ

Fawailul lil-muṣallīn(a).

Celakalah orang-orang yang melaksanakan salat,

Maka binasa dan celakalah orang yang salat yang memiliki sifat-sifat tercela berikut.

5

الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ

Allażīna hum ‘an ṣalātihim sāhūn(a).

(yaitu) yang lalai terhadap salatnya,

Yaitu orang-orang yang lalai terhadap salatnya, di antaranya dengan tidak memenuhi ketentuannya, mengerjakannya di luar waktunya, bermalas-malasan, dan lalai akan tujuan pelaksanaanya.

6

الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ

Allażīna hum yurā’ūn(a).

yang berbuat riya,

Tidak hanya itu, mereka jugalah orang-orang yang berbuat ria, baik dalam salatnya maupun semua perbuatan baiknya. Dia beramal tanpa rasa ikhlas, melainkan demi mendapat pujian dan penilaian baik dari orang lain.

7

وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ ࣖ

Wa yamna‘ūnal-mā‘ūn(a).

dan enggan (memberi) bantuan.

Dan di samping itu, mereka juga enggan memberikan bantuan kepada sesama, bahkan untuk sekadar meminjamkan barang keperluan sehari-hari yang sepele. Hal ini mengindikasikan buruknya akhlak mereka kepada orang lain. Dengan begitu, lengkaplah keburukan mereka. Selain tidak beridabah kepada Tuhan dengan sempurna, mereka pun tidak berbuat baik kepada manusia.

Surat Al-Kautsar

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ

Innā a‘ṭainākal-kauṡar(a).

Sesungguhnya Kami telah memberimu (Nabi Muhammad) nikmat yang banyak.

Wahai Nabi Muhammad, sungguh Kami telah memberimu nikmat yang banyak dan langgeng, meliputi kenikmatan duniawi maupun ukhrawi, seperti kenabian, Al-Qur’an, syafaat, telaga di surga, dan sebagainya.

2

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ

Faṣalli lirabbika wanḥar.

Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!

Karena itu, sebagai rasa syukurmu kepada Tuhanmu, maka laksanakanlah salat dengan ikhlas semata-mata karena Tuhanmu, bukan dengan tujuan ria; dan berkurbanlah demi Allah dengan menyembelih hewan sebagai ibadah dan sarana mendekatkan diri kepada Allah.

3

اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ

Inna syāni’aka huwal-abtar(u).

Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah).

Sungguh orang-orang yang membencimu dan mengacuhkan hidayah yang engkau bawa, dialah orang yang terputus. Tidak hanya terputus jejaknya, mereka pun dijauhkan dari rahmat Allah dan segala kebaikan. Keteladanan dan kebaikanmu akan terus menjadi pembicaraan sepanjang zaman dan keturunanmu akan terus mewarisi kebaikanmu.

Surat Al-Kafirun

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

قُلْ يٰٓاَيُّهَا الْكٰفِرُوْنَۙ

Qul yā ayyuhal-kāfirūn(a).

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai orang-orang kafir,

Wahai Nabi Muhammad, katakanlah, “Wahai orang-orang yang me-milih kafir sebagai jalan hidup!

2

لَآ اَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَۙ

Lā a‘budu mā ta‘budūn(a).

aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

Sampai kapan pun aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah selain Allah, seperti berhala-berhala itu. Tuhan bukanlah ciptaan manusia dan Dia tidak menjelma menjadi suatu yang kasat mata sebagaimana sembahanmu itu.

3

وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۚ

Wa lā antum ‘ābidūna mā a‘bud(u).

Kamu juga bukan penyembah apa yang aku sembah.

Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, Penguasa alam semesta. Berhala sembahanmu itu sifat-sifat-nya sangat berbeda dari sifat-sifat sempurna Tuhan yang aku sembah.

4

وَلَآ اَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدْتُّمْۙ

Wa lā ana ‘ābidum mā ‘abattum.

Aku juga tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.

Jika dua ayat sebelumnya menerangkan ketidaksamaan Tuhan Nabi Muhammad dan Tuhan orang kafir, dua ayat berikut menjelaskan ketidaksamaan peribadahan kepada keduanya. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah karena kamu adalah orang-orang musyrik. Aku menyembah Tuhanku dengan bertauhid seperti yang Dia ajarkan kepadaku.

5

وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۗ

Wa lā antum ‘ābidūna mā a‘bud(u).

Kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah.

Dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah apa yang aku sembah. Kamu tidak tunduk pada perintah dan syariat Allah dalam menyembah-Nya. Kamu bahkan menyembah tuhan dengan penuh kemusyrikan dan cara-cara yang kamu buat-buat berdasarkan hawa nafsumu.

6

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ ࣖ

Lakum dīnukum wa liya dīn(i).

Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”

Tidak ada tukar-menukar dengan pengikut agama lain dalam hal peribadahan kepada Tuhan. Wahai orang kafir, untukmu agamamu, yakni kemusyrikan yang kamu yakini, dan untukku agamaku yang telah Allah pilihkan untukku sehingga aku tidak akan berpaling ke agama lain. Inilah jalan terbaik dalam hal toleransi antar umat beragama dalam urusan peribadahan kepada Tuhan.

Surat An-Nasr

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ

Iżā jā’a naṣrullāhi wal-fatḥ(u).

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan

Wahai Nabi Muhammad, apabila telah datang pertolongan Allah kepadamu dan pengikutmu dalam menghadapi kaum kafir Quraisy, dan telah datang pula kemenangan kepadamu dengan penaklukan Mekah menjadi kota yang suci kembali dari kesyirikan dan kekafiran,

2

وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙ

Wa ra’aitan-nāsa yadkhulūna fī dīnillāhi afwājā(n).

dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah,

dan engkau lihat manusia dari seluruh penjuru Jazirah Arab berbondong-bondong masuk agama Allah, yakni agama Islam, setelah sebelumnya mereka masuk Islam secara perorangan,

3

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا ࣖ

Fasabbiḥ biḥamdi rabbika wastagfirh(u), innahū kāna tawwābā(n).

bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.

dan engkau lihat manusia dari seluruh penjuru Jazirah Arab berbondong-bondong masuk agama Allah, yakni agama Islam, setelah sebelumnya mereka masuk Islam secara perorangan,

Surat Al-Lahab

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

تَبَّتْ يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّۗ

Tabbat yadā abī lahabiw wa tabb(a).

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia.

Karena kebenciannya kepada Nabi dan penentangannya terhadap dakwah beliau dengan cara yang menyakitkan, maka celaka dan binasalah kedua tangan Abu Lahab yakni diri Abu Lahab, yang bernama ‘Abdul Uzz bin Abdul Muttalib; dan benar-benar binasa dia!

2

مَآ اَغْنٰى عَنْهُ مَالُهٗ وَمَا كَسَبَۗ

Mā agnā ‘anhu māluhū wa mā kasab(a).

Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan.

Ketika azab Allah menimpanya maka tidaklah berguna baginya hartanya yang dia kumpulkan dan banggakan, dan tidak pula bermanfaat apa yang dia usahakan seperti jabatan dan keturunan untuk menyelamatkan dirinya dari azab itu. Hanya iman dan amal saleh yang dapat menyelamatkan seseorang dari murka Allah.

3

سَيَصْلٰى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍۙ

Sayaṣlā nāran żāta lahab(in).

Kelak dia akan memasuki api yang bergejolak (neraka),

Sebagai balasan atas kekejiannya kepada Nabi Muhammad dan dosa-dosanya yang lain, kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak dan membakar seluruh tubuhnya secara terus-menerus. Dia tidak akan pernah mati di dalamnya dan tidak pula akan keluar darinya.

4

وَّامْرَاَتُهٗ ۗحَمَّالَةَ الْحَطَبِۚ

Wamra’atuh(ū), ḥammālatal-ḥaṭab(i).

(begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah).

Abu Lahab akan masuk neraka, dan demikian pula istrinya, Ummu Jamil Arwa binti Harb bin Umayyah, sang pembawa kayu bakar berduri. Dia meletakkannya di sepanjang jalan yang dilalui Nabi untuk menjebak beliau. Dia juga gemar menyebar fitnah kepada Nabi dan para pengikutnya.

5

فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِّنْ مَّسَدٍ ࣖ

Fī jīdihā ḥablum mim masad(in).

Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal.

Bentuk azab yang akan diterimanya di neraka sesuai dengan perilakunya sendiri. Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal. Dengan tali itu Allah menjerat lehernya dan mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu mencampakkannya ke dasar neraka.

Surat Al-Ikhlas

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ

Qul huwallāhu aḥad(un).

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa.

Wahai Nabi Muhammad, Katakanlah kepada kaum musyrik yang menanyakan sifat dan nasab Allah dengan tujuan mengejek, “Dia lah Allah, Yang Maha Esa. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia tidak berbilang dalam nama, sifat, dan ketuhanan-Nya.

2

اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ

Allāhuṣ-ṣamad(u).

Allah tempat meminta segala sesuatu.

Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia Maha Pencipta, Mahakaya, dan Mahakuasa. Dia tidak memerlukan yang lain, sedangkan semua makhluk bergantung kepada-Nya.

3

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ

Lam yalid wa lam yūlad.

Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan

Dia tidak beranak; tidak ada yang sejenis dengan Allah sehingga bisa menikah dengan-Nya dan melahirkan anak; dan Dia tidak pula diperanakkan karena Dia kekal dan tidak bermula. Sesatlah orang Yahudi yang meyakini ‘Uzair sebagai putra Allah, orang Nasrani yang meyakini Nabi Isa sebagai putra Allah, dan orang musyrik Arab yang meyakini malaikat sebagai putri Allah.

4

وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ࣖ

Wa lam yakul lahū kufuwan aḥad(un).

serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia, baik dari segi zat, sifat, maupun tidakan-Nya.

Surat Al-Falaq

Fajar

Makkiyah • 5 Ayat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ

Qul a‘ūżu birabbil-falaq(i).

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan yang (menjaga) fajar (subuh)

Wahai Nabi Muhammad, katakanlah kepada umatmu, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, waktu yang membelah kegelapan malam. Allah Mahakuasa menyingkirkan segala kejahatan dari hamba-Nya karena semua makhluk berada dalam genggaman-Nya.

2

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ

Min syarri mā khalaq(a).

dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan,

Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan semua makhluk yang Dia ciptakan, baik yang tampak maupun tidak, yang tidak dapat menolak kejahatannya selain Sang Pencipta.

3

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ

Wa min syarri gāsiqin iżā waqab(a).

dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

Dan aku berlindung pula dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita pada waktu malam muncul hewan-hewan yang membahayakan dan pada waktu itu pula rencana jahat biasa disusun.

4

وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ

Wa min syarrin-naffāṡāti fil-‘uqad(i).

dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya),

Dan aku berlindung pula dari kejahatan perempuan-perempuan penyihir yang meniup pada buhul-buhul dengan rapalan-rapalan yang dilafalkannya. Mereka bekerja sama dengan setan untuk menimpakan keburukan kepada orang yang di sihir melalui cara cara tertentu, di antaranya dengan meniup buhul-buhul.

5

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ ࣖ

Wa min syarri ḥāsidin iżā ḥasad(a).

dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”

Dan aku berlindung pula dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki, yang selalu menginginkan hilangnya kenikmatan dari orang lain.”

Surat An-Nas

Manusia

Makkiyah • 6 Ayat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ

Qul a‘ūżu birabbin-nās(i).

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan manusia,

Wahai Nabi Muhammad, katakanlah kepada umatmu, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menciptakan, memelihara, dan mengurus manusia.

2

مَلِكِ النَّاسِۙ

Malikin-nās(i).

raja manusia,

Raja manusia, yang mengatur semua urusan mereka, dan Dia Mahakaya sehingga tidak membutuhkan mereka.

3

إِلٰهِ النَّاسِۙ

Ilāhin-nās(i).

sembahan manusia,

Sembahan manusia, Tuhan yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Itulah Tuhan yang patut disembah dan dimintai perlindungan.

4

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِۖ

Min syarril-waswāsil-khannās(i).

dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi

Aku berlindung kepada-Nya dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi pada diri manusia dan selalu bersamanya layaknya darah yang mengalir di dalam tubuhnya,

5

الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ

Allażī yuwaswisu fī ṣudūrin-nās(i).

yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

yang membisikkan kejahatan dan kesesatan ke dalam dada manusia dengan cara yang halus, lihai, licik, dan menjanjikan secara terus-menerus.

6

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِࣖ

Minal-jinnati wan-nās(i).

dari (golongan) jin dan manusia.”

Aku berlindung kepada-Nya dari setan pembisik kejahatan dan kesesatan yang berasal dari golongan jin, yakni makhluk halus yang tercipta dari api, dan juga dari golongan manusia yang telah menjadi budak setan.

Ayat berhasil disalin!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *