Lompat ke konten
Beranda » Al Quran Juz 27 Full Lengkap: Arab, Latin dan Terjemah

Al Quran Juz 27 Full Lengkap: Arab, Latin dan Terjemah

  • oleh

Juz 27

Surat Az-Zariyat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

31

۞ قَالَ فَمَا خَطْبُكُمْ اَيُّهَا الْمُرْسَلُوْنَۚ

Qāla famā khaṭbukum ayyuhal-mursalūn(a).

Dia (Ibrahim) bertanya, “Apa urusan pentingmu, wahai para utusan?”

Usai menjelaskan kedatangan para malaikat pemberi kabar gembira kepada Nabi Ibrahim tentang akan lahirnya seorang anak yang alim, pada ayat berikut Allah menerangkan bahwa dengan pengetahuannya sebagai seorang rasul, Nabi Ibrahim menduga para malaikat itu datang dengan tujuan lain. Dia berkata, “Apakah urusanmu yang penting, yang dengannya Allah menugaskanmu untuk datang ke wilayah ini, wahai para utusan yang mulia?

32

قَالُوْآ اِنَّآ اُرْسِلْنَآ اِلٰى قَوْمٍ مُّجْرِمِيْنَۙ

Qālū innā ursilnā ilā qaumim mujrimīn(a).

Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Lut untuk menyiksanya)

Mendapat pertanyaan dari Nabi Ibrahim, mereka menjawab, “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum Nabi Lut yang sebagian anggotanya adalah orang yang berdosa dan terang-terangan tanpa malu berbuat homoseksual.

33

لِنُرْسِلَ عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِّنْ طِيْنٍۙ

Linursila ‘alaihim ḥijāratam min ṭīn(in).

agar kami menimpa mereka dengan batu-batu yang berasal dari tanah liat

Kami datang agar kami menimpa mereka yang berdosa dengan batu-batu dari tanah yang keras

34

مُّسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ لِلْمُسْرِفِيْنَ

Musawwamatan ‘inda rabbika lil-musrifīn(a).

yang ditandai oleh Tuhanmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas.”

yang sudah ditandai dari Tuhanmu yang dipersiapkan untuk membinasakan orang-orang yang melampaui batas ajaran-ajaran Allah.

35

فَاَخْرَجْنَا مَنْ كَانَ فِيْهَا مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَۚ

Fa akhrajnā man kāna fīhā minal-mu’minīn(a).

Kami mengeluarkan orang-orang mukmin yang berada di dalamnya (negeri kaum Lut).

Allah mengkhususkan azabnya kepada mereka yang melampaui batas, sehingga orang-orang yang telah beriman tidak akan merasakan azab tersebut. Sebelum azab Allah datang, para malaikat memperingatkan mereka, lalu Kami, yakni Allah dan subjek lain yang berperan dalam penyelamatan ini, keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di dalamnya,

36

فَمَا وَجَدْنَا فِيْهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِّنَ الْمُسْلِمِيْنَۚ

Famā wajadnā fīhā gaira baitim minal-muslimīn(a).

Kami tidak mendapati di dalamnya, kecuali sebuah rumah dari orang-orang muslim (Lut dan keluarganya).

yakni di negeri kaum Lut, itu agar mereka selamat dari bencana yang segera tiba. Maka para malaikat yang Kami utus tidak mendapati di dalamnya, yaitu di negeri tersebut, kecuali sebuah rumah saja dari orang-orang muslim yang beriman dan mengikuti ajaran Nabi Lut.

37

وَتَرَكْنَا فِيْهَآ اٰيَةً لِّلَّذِيْنَ يَخَافُوْنَ الْعَذَابَ الْاَلِيْمَۗ

Wa taraknā fīhā āyatal lil-lażīna yakhāfūnal-‘ażābal-alīm(a).

Kami meninggalkan suatu tanda (kebesaran-Nya) di (negeri) itu bagi orang-orang yang takut pada azab yang pedih.

Kami turunkan azab sebagai peringatan bagi mereka yang ingkar, dan Kami telah tinggalkan pula padanya, yaitu negeri Nabi Lut, suatu tanda yang sangat jelas tentang kebesaran dan kekuasaan Kami. Kami menjadikannya pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab yang pedih.

38

وَفِيْ مُوْسٰىٓ اِذْ اَرْسَلْنٰهُ اِلٰى فِرْعَوْنَ بِسُلْطٰنٍ مُّبِيْنٍ

Wa fī mūsā iż arsalnāhu ilā fir‘auna bisulṭānim mubīn(in).

(Begitu pula Kami meninggalkan) pada Musa (tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengutusnya kepada Fir‘aun dengan membawa mukjizat yang nyata.

Usai menceritakan azab yang Allah timpakan kepada kaum Nabi Lut yang ingkar, pada ayat-ayat berikut Allah menyebut kisah umat masa lalu yang mengingkari nabinya. Kisah-kisah itu menunjukkan betapa Allah Mahakuasa, dan pada kisah Nabi Musa juga terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah. Bukti-bukti itu antara lain terlihat ketika Kami mengutusnya kepada Fir’aun, yaitu penguasa Mesir Kuno, dengan membawa tanda kekuasaan Kami, yaitu mukjizat yang nyata dan tidak terbantahkan.

39

فَتَوَلّٰى بِرُكْنِهٖ وَقَالَ سٰحِرٌ اَوْ مَجْنُوْنٌ

Fa tawallā biruknihī wa qāla sāḥirun au majnūn(un).

Kemudian, dia (Fir‘aun) bersama bala tentaranya berpaling dan (Fir‘aun) berkata, “(Dia adalah) seorang penyihir atau orang gila.”

Fir’aun melihat mukjizat itu, tetapi dia bersama bala tentaranya berpaling dan dengan angkuh menolak ajakan Nabi Musa karena merasa dirinya berkuasa dan memiliki harta berlimpah. Dia berpaling dan berkata, “Dia, yaitu Nabi Musa, adalah seorang pesihir yang tidak mengenal kemampuan orang lain atau orang gila yang berbuat sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu.”

40

فَاَخَذْنٰهُ وَجُنُوْدَهٗ فَنَبَذْنٰهُمْ فِى الْيَمِّ وَهُوَ مُلِيْمٌۗ

Fa akhażnāhu wa junūdahū fanabażnāhum fil-yammi wa huwa mulīm(un).

Maka, Kami menghukumnya beserta bala tentaranya, lalu Kami menenggelamkan mereka ke dalam laut dalam keadaan melakukan perbuatan yang tercela.

Akibat keangkuhan dan penolakan Fir’aun terhadap dakwah Nabi Musa, maka Kami siksa dia beserta bala tentaranya dengan berbagai musibah yang mengerikan, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut bagai barang yang tidak berguna. Kami menenggelamkannya hingga mati dalam keadaan tercela.

41

وَفِيْ عَادٍ اِذْ اَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الرِّيْحَ الْعَقِيْمَۚ

Wa fī ‘ādin iż arsalnā ‘alaihimur-rīḥal-‘aqīm(a).

(Begitu pula Kami meninggalkan) pada (kaum) ‘Ad (tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengirim kepada mereka angin yang membinasakan.

Dan perhatikanlah pula tanda-tanda kekuasaan Kami pada kisah kaum ‘Ad. Ingatlah ketika Kami kirimkan kepada mereka angin beku atau angin panas yang membinasakan mereka.

42

مَا تَذَرُ مِنْ شَيْءٍ اَتَتْ عَلَيْهِ اِلَّا جَعَلَتْهُ كَالرَّمِيْمِۗ

Mā tażaru min syai’in atat ‘alaihi illā ja‘alathu kar-ramīm(i).

(Angin) itu tidak meninggalkan apa pun pada semua yang dilandanya, kecuali menjadikannya bagai tulang yang hancur.

Saat bertiup, angin itu tidak membiarkan suatu apa pun yang dilandanya tetap seperti kondisinya semula, sesuai dengan ketetapan Allah. Bahkan, apa saja yang diterjang dijadikannya seperti serbuk halus yang diterbangkan angin.

43

وَفِيْ ثَمُوْدَ اِذْ قِيْلَ لَهُمْ تَمَتَّعُوْا حَتّٰى حِيْنٍ

Wa fī ṡamūda iż qīla lahum tamatta‘ū ḥattā ḥīn(in).

(Begitu pula Kami meninggalkan) pada (kaum) Samud (tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika dikatakan kepada mereka, “Bersenang-senanglah kamu sampai waktu yang ditentukan!”

Dan perhatikanlah pula tanda-tanda kekuasaan Kami pada ki-sah kaum Samud. Ingatlah ketika dikatakan kepada mereka oleh Nabi Saleh, “Bersenang-senanglah kamu sampai waktu yang telah ditentukan oleh Allah.”

44

فَعَتَوْا عَنْ اَمْرِ رَبِّهِمْ فَاَخَذَتْهُمُ الصّٰعِقَةُ وَهُمْ يَنْظُرُوْنَ

Fa‘atau ‘an amri rabbihim fa akhażathumuṣ-ṣā‘iqatu wa hum yanẓurūn(a).

Lalu, mereka bersikap angkuh terhadap perintah Tuhannya. Maka, mereka disambar petir sementara mereka menyaksikan(-nya).

Lalu mereka berlaku angkuh dan ingkar terhadap perintah Tuhannya. Mereka bahkan menyembelih unta betina mukjizat Nabi Saleh. Akibat kedurhakaan ini maka mereka disambar oleh petir yang datang dari arah awan hitam. Mereka binasa karenanya, sedang mereka saat itu melihatnya sendiri saat azab itu menimpa.

45

فَمَا اسْتَطَاعُوْا مِنْ قِيَامٍ وَّمَا كَانُوْا مُنْتَصِرِيْنَۙ

Famastaṭā‘ū min qiyāmiw wa mā kānū muntaṣirīn(a).

Mereka sama sekali tidak mampu bangun dan tidak pula mendapat pertolongan.

Petir itu menyambar dengan dahsyat, maka mereka tidak mampu bangun untuk menyelamatkan diri dan juga tidak mendapat pertolongan dari siapa pun. Itulah kisah umat terdahulu yang durhaka kepada para nabinya,

46

وَقَوْمَ نُوْحٍ مِّنْ قَبْلُ ۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا قَوْمًا فٰسِقِيْنَ ࣖ

Wa qauma nūḥim min qabl(u), innahum kānū qauman fāsiqīn(a).

Sebelum itu (Kami telah membinasakan) kaum Nuh. Sesungguhnya mereka adalah kaum fasik.

dan sesungguhnya sebelum itu telah Kami binasakan pula kaum Nuh karena keingkaran mereka. Sungguh, mereka semua adalah kaum yang fasik, durhaka, dan enggan beriman.

47

وَالسَّمَاۤءَ بَنَيْنٰهَا بِاَيْىدٍ وَّاِنَّا لَمُوْسِعُوْنَ

Was-samā’a banaināhā bi’aidiw wa innā lamūsi‘ūn(a).

Langit Kami bangun dengan tangan (kekuatan Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskan(-nya).

Tidak hanya berkuasa mengazab umat yang durhaka dan ingkar pada ajaran nabi, Allah juga kuasa menciptakan langit dan alam semesta. Dan langit yang terhampar luas di atas kepalamu itu Kami bangun dengan kekuasaan Kami Yang Mahadahsyat dan Mahasempurna, dan Kami benar-benar memiliki kekuasaan yang tidak terbatas sehingga tidak ada yang dapat menghalangi Kami untuk meluaskannya.

48

وَالْاَرْضَ فَرَشْنٰهَا فَنِعْمَ الْمٰهِدُوْنَ

Wal-arḍa farasynāhā fa ni‘mal-māhidūn(a).

Bumi Kami hamparkan. (Kami adalah) sebaik-baik Zat yang menghamparkan.

Dan bumi Kami hamparkan seluas-luasnya untuk menjadi tempat tinggal manusia dan makhluk lain; maka dengan bukti-bukti itu nyatalah bahwa Kami adalah sebaik-baik yang telah menghamparkan.

49

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Wa min kulli syai’in khalaqnā zaujaini la‘allakum tażakkarūn(a).

Segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).

Dan segala sesuatu di alam semesta telah Kami ciptakan secara berpasang-pasangan untuk saling melengkapi. Yang demikian ini agar kamu selalu mengingat kekuasaan dan kebesaran Allah.

50

فَفِرُّوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗاِنِّيْ لَكُمْ مِّنْهُ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌۚ

Fa firrū ilallāh(i), innī lakum minhu nażīrum mubīn(un).

Maka, (katakanlah kepada mereka, wahai Nabi Muhammad,) “Bersegeralah kembali (taat) kepada Allah. Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang jelas dari-Nya untukmu.

Wahai manusia, demikian besar kekuasaan Allah, maka segeralah kembali kepada Allah dengan menaati ajaran-Nya dan menunaikan perintah-Nya. Sungguh, aku adalah seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untuk kepentingan dan kebahagiaanmu.

51

وَلَا تَجْعَلُوْا مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَۗ اِنِّيْ لَكُمْ مِّنْهُ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ

Wa lā taj‘alū ma‘allāhi ilāhan ākhar(a), innī lakum minhu nażīrum mubīn(un).

Janganlah kamu mengadakan tuhan lain bersama Allah. Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu.”

Dan untuk kembali kepada-Nya janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain untuk disembah selain Allah. Sungguh, aku merupakan seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untuk kebaikan dan kesejahteraanmu.

52

كَذٰلِكَ مَآ اَتَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا قَالُوْا سَاحِرٌ اَوْ مَجْنُوْنٌ

Każālika mā atal-lażīna min qablihim mir rasūlin illā qālū sāḥirun au majnūn(un).

Demikianlah setiap kali seorang rasul datang kepada orang-orang sebelumnya, mereka pasti mengatakan, “(Dia itu adalah) penyihir atau orang gila.”

Tidak hanya Nabi Muhammad yang didustakan oleh kaumnya yang ingkar, para rasul terdahulu pun menghadapi tentangan kaumnya yang durhaka. Demikianlah sikap orang kafir Mekah; mereka menentang dakwah Nabi Muhammad dan mengatainya sebagai pendusta. Hal yang sama juga terjadi pada masa lalu; setiap kali seorang rasul yang datang untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang sebelum mereka, mereka yang ingkar pasti menolak dan mengingkarinya serta mengatakan, “Dia itu pasti seorang pesihir atau orang gila.”

53

اَتَوَاصَوْا بِهٖۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُوْنَۚ

Atawāṣau bih(ī), bal hum qaumun ṭāgūn(a).

Apakah mereka saling menasihati tentang (apa yang dikatakan) itu? (Tidak!) Sebaliknya, mereka adalah kaum yang melampaui batas.

Sikap kaum kafir Mekah dan umat terdahulu identik, maka muncul pertanyaan apakah mereka pernah saling berpesan melalui kakek moyang tentang apa yang dikatakan itu? Tentu tidak. Mereka tidak saling berpesan, tetapi sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas dan benar-benar tidak mau beriman pada dakwah para rasul.

54

فَتَوَلَّ عَنْهُمْ فَمَآ اَنْتَ بِمَلُوْمٍ

Fa tawalla ‘anhum famā anta bimalūm(in).

Berpalinglah dari mereka, maka engkau sama sekali bukan orang yang tercela.

Wahai Nabi Muhammad, mereka tidak akan berhenti mengingkarimu, maka berpalinglah engkau dari mereka. Biarkan mereka mencercamu, tetapi teruskan perjuanganmu mengajak mereka ke jalan Allah. Dan berkat keteguhan sikapmu dalam berdakwah, engkau sama sekali tidak keliru dan tidak pula tercela karena penolakan dan keingkaran mereka.

55

وَذَكِّرْ فَاِنَّ الذِّكْرٰى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِيْنَ

Wa żakkir fa innaż-żikrā tanfa‘ul-mu’minīn(a).

Teruslah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.

Wahai Nabi Muhammad, dengan anugerah Allah, istikamahlah dalam dakwahmu dan tetaplah memberi peringatan kepada umatmu. Kalau orang-orang kafir itu tidak memperoleh faedah dari dakwahmu akibat penolakan mereka, jangan berputus asa karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin dan hal itu akan selalu menambah keyakinan mereka.

56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya‘budūn(i).

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

Allah memerintah Nabi Muhammad beristikamah dalam mengajak umatnya mengesakan Allah karena sesunguhnya itulah tujuan penciptaan. Aku tidak menciptakan jin dan manusia untuk kebaikan-Ku sendiri. Aku tidak menciptakan mereka melainkan agar tujuan hidup mereka adalah beribadah kepada-Ku karena ibadah itu pasti bermanfaat bagi mereka.

57

مَآ اُرِيْدُ مِنْهُمْ مِّنْ رِّزْقٍ وَّمَآ اُرِيْدُ اَنْ يُّطْعِمُوْنِ

Mā urīdu minhum mir rizqiw wa mā urīdu ay yuṭ‘imūn(i).

Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku.

Aku menciptakan manusia dan jin hanya agar mereka beribadah, bukan agar mereka memberi balasan apa pun kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki atau balasan sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku, seperti halnya mereka memberi sesajian kepada dewa atau tuhan yang mereka sembah.

58

اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ

Innallāha huwar-razzāqu żul-quwwatil-matīn(u).

Sesungguhnya Allahlah Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh.

Sungguh, Allah Mahakuasa dan tidak memerlukan sesuatu dari makhluknya karena Dialah Pemberi rezeki kepada makhluk-Nya, dan Dia juga yang mempunyai kekuatan yang sangat besar lagi sangat kukuh.

59

فَاِنَّ لِلَّذِيْنَ ظَلَمُوْا ذَنُوْبًا مِّثْلَ ذَنُوْبِ اَصْحٰبِهِمْ فَلَا يَسْتَعْجِلُوْنِ

Fa inna lil-lażīna ẓalamū żanūbam miṡla żanūbi aṣḥābihim falā yasta‘jilūn(i).

Sesungguhnya orang-orang yang zalim mendapatkan bagian (azab) seperti bagian teman-teman mereka (dahulu). Maka, janganlah mereka meminta kepada-Ku untuk menyegerakan(-nya).

Dengan ajaran yang disampaikan para rasul, Allah menegaskan bahwa siapa saja yang ingkar kepada-Nya maka sungguh mereka diancam dengan azab yang pedih. Karena itu, untuk orang-orang yang zalim dan tidak taat pada tuntunan-Nya pasti akan ada bagian azab seperti bagian teman-teman mereka dari generasi terdahulu yang selalu ingkar; maka janganlah mereka yang durhaka itu meminta kepada-Ku untuk menyegerakan azab yang merupakan hukuman-Nya.

60

فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ يَّوْمِهِمُ الَّذِيْ يُوْعَدُوْنَ ࣖ

Fa wailul lil-lażīna kafarū miy yaumihimul-lażī yū‘adūn(a).

Celakalah orang-orang yang kufur pada hari yang telah dijanjikan kepada mereka (hari Kiamat).

Bila azab Allah datang, maka celakalah orang-orang yang kafir dan mendurhakai-Nya pada hari pembalasan yang telah dijanjikan kepada mereka. Pada saat itu tidak seorang pun dapat menghindarkan diri dari balasan perbuatannya dan tidak ada pula yang dapat menyelamatkannya dari azab tersebut.

Surat At-Tur

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

وَالطُّوْرِۙ

Waṭ-ṭūr(i).

Demi gunung (Sinai),

Surah až-Žariyat ditutup dengan penegasan jatuhnya ancaman Allah bagi mereka yang kafir. Surah at-Tur diawali dengan kepastian jatuhnya azab bagi mereka yang mengingkari ayat-ayat Allah. Penegasan tentang kepastian azab ini diawali dengan sumpah-sumpah Allah. Demi gunung Sinai yang menjadi lokasi Nabi Musa menerima Taurat,

2

وَكِتٰبٍ مَّسْطُوْرٍۙ

Wa kitābim masṭūr(in).

demi Kitab yang ditulis

dan demi Kitab Allah yang diwahyukan-Nya dan yang ditulis pada lembaran yang terbuka sehingga mudah dibaca dan dipahami maknanya,

3

فِيْ رَقٍّ مَّنْشُوْرٍۙ

Fī raqqim mansyūr(in).

pada lembaran yang terbuka,

danyang ditulis pada lembaran yang terbukasehingga mudah dibaca dan dipahami maknanya,

4

وَّالْبَيْتِ الْمَعْمُوْرِۙ

Wal-baitil-ma‘mūr(i).

demi Baitulmakmur,

Dan demi Baitulma’mur, yaitu Kakbah atau tempat yang menjadi lokasi para malaikat rukuk, sujud, dan tawaf,

5

وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوْعِۙ

Was-saqfil-marfū‘(i).

demi atap yang ditinggikan (langit),

Dan demi atap,yaitu langit, yang ditinggikan dan kukuh tanpa tiang penyangga,

6

وَالْبَحْرِ الْمَسْجُوْرِۙ

Wal-baḥril-masjūr(i).

dan demi lautan yang dipanaskan (di dalamnya ada api),

dan demi lautan yang penuh gelombang yang di dalam tanahnya terdapat api.

7

اِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌۙ

Inna ‘ażāba rabbika lawāqi‘(un).

sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi.

Sungguh, azab Tuhanmu yang diancamkan kepada para pengingkar ayat-ayat dan ajaran-Nya pasti terjadi.

8

مَّا لَهٗ مِنْ دَافِعٍۙ

Mā lahū min dāfi‘(in).

Tidak ada sesuatu pun yang dapat menolaknya.

Ketika itu, tidak ada sesuatu pun, baik manusia maupun makhluk lain, yang dapat menolak atau menghindari-nya,

9

يَّوْمَ تَمُوْرُ السَّمَاۤءُ مَوْرًاۙ

Yauma tamūrus-samā’u maurā(n).

(Azab Tuhanmu terjadi) pada hari (ketika) langit berguncang sekeras-kerasnya

Siksa bagi para pengingkar itu akan datang pada hari ketika langit berguncang dan bergerak naik turun

10

وَّتَسِيْرُ الْجِبَالُ سَيْرًاۗ

Wa tasīrul-jibālu sairā(n).

dan gunung-gunung bergerak dengan dahsyat.

kiri dan kanan dengan sekeras-kerasnya, dan gunung berjalan atau berpindah dari tempatnya bagaikan awan yang ditiup angin.

11

فَوَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَۙ

Fawailuy yauma’iżil lil-mukażżibīn(a).

Maka, pada hari itu celakalah orang-orang yang mendustakan,

Ketika azab itu datang, maka celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah,

12

الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ خَوْضٍ يَّلْعَبُوْنَۘ

Allażīna hum fī khauḍiy yal‘abūn(a).

(yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan (perbuatan dosa).

terutama yang terkait dengan keesaan-Nya dan keniscayaan kiamat. Mereka itulah orang-orang yang terus bermain-main dalam kebatilan dan perbuatan dosa.

13

يَوْمَ يُدَعُّوْنَ اِلٰى نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّاۗ

Yauma yuda‘‘ūna ilā nāri jahannama da‘‘ā(n).

(Azab Tuhanmu terjadi) pada hari (ketika) mereka dicampakkan ke neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya.

Datangnya azab kepada para pengingkar itu adalah suatu kepastian. Pada hari ketika siksa itu tiba, mereka didorong oleh para malaikat ke neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya sehingga mereka masuk ke dalamnya.

14

هٰذِهِ النَّارُ الَّتِيْ كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُوْنَ

Hāżihin-nārul-latī kuntum bihā tukażżibūn(a).

(Dikatakan kepada mereka,) “Inilah neraka yang dahulu kamu dustakan.”

Saat para pengingkar itu dimasukkan ke neraka, dikatakan kepada mereka, “Inilah neraka yang di dunia dahulu kamu terus-menerus mendustakannya.”

15

اَفَسِحْرٌ هٰذَآ اَمْ اَنْتُمْ لَا تُبْصِرُوْنَ

Afasiḥrun hāżā am antum lā tubṣirūn(a).

Apakah ini sihir? Ataukah kamu tidak melihat?

Begitu masuk neraka, para pengingkar itu mendapat ejekan dan kecaman. “Kamu sudah merasakan sendiri pedihnya azab neraka yang dauhlu kamu ingkari, maka dengan demikian, apakah neraka ini hanya merupakan sihir yang mengelabui mata ataukah kamu memang tidak melihat sehingga kamu akan terus mengingkari keberadaannya?

16

اِصْلَوْهَا فَاصْبِرُوْٓا اَوْ لَا تَصْبِرُوْاۚ سَوَاۤءٌ عَلَيْكُمْۗ اِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Iṣlauhā faṣbirū au lā taṣbirū, sawā’un ‘alaikum, innamā tujzauna mā kuntum ta‘malūn(a).

Masuklah ke dalamnya (dan rasakan panas apinya)! Baik kamu bersabar atau tidak, sama saja (tidak ada manfaatnya)bagimu. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan atas apa yang telah kamu kerjakan.

Wahai para pengingkar, masuklah ke dalamnya dan rasakanlah panas apinya; maka baik kamu bersabar atas pedihnya siksa neraka itu atau tidak bersabar atasnya, keduanya akan sama saja akibatnya bagimu. Tetapi, ketahuilah bahwa Allah tidak menganiaya kamu dengan siksa itu. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan yang setimpal atas apa yang telah kamu kerjakan.

17

اِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ جَنّٰتٍ وَّنَعِيْمٍۙ

Innal-muttaqīna fī jannātiw wa na‘īm(in).

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan.

Beralih dari penjelasan tentang azab bagi para pengingkar ayat-ayat Allah, pada ayat-ayat berikut Allah menjelaskan kenikmatan bagi mereka yang bertakwa. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa dan terus beribadah serta melakukan kebajikan, mereka itu berada dalam surga yang indah dan penuh kenikmatan ukhrawi yang tidak terlukiskan.

18

فٰكِهِيْنَ بِمَآ اٰتٰىهُمْ رَبُّهُمْۚ وَوَقٰىهُمْ رَبُّهُمْ عَذَابَ الْجَحِيْمِ

Fākihīna bimā ātāhum rabbuhum, wa waqāhum rabbuhum ‘ażābal-jaḥīm(i).

Mereka bersuka ria dengan apa yang Tuhan anugerahkan kepada mereka. Tuhan menjaga mereka dari azab (neraka) Jahim.

Di surga itu mereka selalu bersuka ria dan berbahagia dengan apa yang diberikan Tuhan Yang Maha Pengasih kepada mereka; dan selain itu, Tuhan Yang Maha Pemberi senantiasa memelihara mereka dari azab neraka yang panas dan pedihnya tidak terkira.

19

كُلُوْا وَاشْرَبُوْا هَنِيْۤـًٔا ۢبِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۙ

Kulū wasyrabū hanī’am bimā kuntum ta‘malūn(a).

(Dikatakan kepada mereka,) “Makan dan minumlah dengan nikmat sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan!”

Allah menyediakan di surga beragam makanan yang lezat dan minuman yang menyegarkan. Kemudian dikatakan kepada mereka yang bertakwa, “Makan dan minumlah dengan rasa nikmat semua yang sudah disediakan. Ini semua sebagai balasan dari apa, yaitu kebajikan, yang telah kamu kerjakan di dunia dengan ikhlas demi mengharap rida Allah.”

20

مُتَّكِـِٕيْنَ عَلٰى سُرُرٍ مَّصْفُوْفَةٍۚ وَزَوَّجْنٰهُمْ بِحُوْرٍ عِيْنٍ

Muttaki’īna ‘alā sururim maṣfūfah(tin), wa zawwajnāhum biḥūrin ‘īn(in).

Mereka bertelekan di atas dipan-dipan yang tersusun dan Kami menganugerahkan kepada mereka pasangan, yaitu bidadari yang bermata indah.

Saat menikmati anugerah Allah itu, mereka duduk dengan nyaman sambil bersandar di atas dipan-dipan yang tersusun dengan indah dan rapi. Kami anugerahi mereka berbagai kenikmatan yang sempurna dan Kami berikan pula kepada mereka pasangan berupa bidadari yang bermata indah.

21

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِاِيْمَانٍ اَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ اَلَتْنٰهُمْ مِّنْ عَمَلِهِمْ مِّنْ شَيْءٍۗ كُلُّ امْرِئٍ ۢبِمَا كَسَبَ رَهِيْنٌ

Wal-lażīna āmanū wattaba‘athum żurriyyatuhum bi’īmānin alḥaqnā bihim żurriyyatahum wa mā alatnāhum min ‘amalihim min syai'(in), kullumri’im bimā kasaba rahīn(un).

Orang-orang yang beriman dan anak cucunya mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan mengumpulkan anak cucunya itu dengan mereka (di dalam surga). Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.

Di surga Allah akan mempertemukan orang tua dengan keturunannya yang seiman. Dan orang-orang yang beriman dan mendapat balasan surga, beserta anak cucu mereka atau ibu bapak mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, walaupun derajat keimanannya tidak serupa, akan Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka di surga sebagai anugerah atas ketakwaan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal kebajikan yang telah mereka perbuat di dunia. Setiap orang terikat dan akan bertanggung jawab dengan apa yang dikerjakannya, dan dia tidak akan dihukum karena dosa orang lain.

22

وَاَمْدَدْنٰهُمْ بِفَاكِهَةٍ وَّلَحْمٍ مِّمَّا يَشْتَهُوْنَ

Wa amdadnāhum bifākihatiw wa laḥmim mimmā yasytahūn(a).

Kami menganugerahkan kepada mereka tambahan (kenikmatan) berupa buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka inginkan.

Dan selain itu, Kami berikan pula kepada mereka tambahan berupa aneka buah-buahan yang lezat dan daging dari segala jenis hewan yang mereka inginkan.

23

يَتَنَازَعُوْنَ فِيْهَا كَأْسًا لَّا لَغْوٌ فِيْهَا وَلَا تَأْثِيْمٌ

Yatanāza‘ūna fīhā ka’sal lā lagwun fīhā wa lā ta’ṡīm(un).

Di dalam (surga) itu mereka saling mengulurkan gelas (yang isinya) tidak (menimbulkan) ucapan atau sikap yang tidak berfaedah dan tidak pula (menimbulkan) perbuatan dosa.

Di dalam surga itu mereka bersuka ria dan merasakan kegembiraan yang tiada habis. Mereka saling mengulurkan gelas yang isinya minuman yang tidak memabukkan dan tidak pula menyebabkan munculnya ucapan yang tidak berfaedah ataupun perbuatan dosa seperti halnya minuman keras di dunia.

24

۞ وَيَطُوْفُ عَلَيْهِمْ غِلْمَانٌ لَّهُمْ كَاَنَّهُمْ لُؤْلُؤٌ مَّكْنُوْنٌۚ

Wa yaṭūfu ‘alaihim gilmānul lahum ka’annahum lu’lu’um maknūn(un).

Di sekitar mereka ada anak-anak muda belia berkeliling untuk (melayani) mereka, seakan-akan (anak muda belia) itu bagaikan mutiara yang tersimpan.

Dan di surga itu, di sekitar mereka ada pelayan berupa anak-anak muda yang berkeliling untuk melayani keperluan mereka. Para pemuda itu tampak tampan dan berpakaian rapi seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan di tempat yang terjaga.

25

وَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَسَاۤءَلُوْنَ

Wa aqbala ba‘ḍuhum ‘alā ba‘ḍiy yatasā’alūn(a).

Sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling bertegur sapa.

Orang-orang bertakwa itu sangat menikmati anugerah Allah, dan sebagian mereka berhadap-hadapan satu sama lain untuk bercengkerama dan saling bertegur sapa dalam keriangan.

26

قَالُوْٓا اِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِيْٓ اَهْلِنَا مُشْفِقِيْنَ

Qālū innā kunnā qablu fī ahlinā musyfiqīn(a).

Mereka berkata, “Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami, adalah orang yang takut (ditimpa azab Allah).

Ketika para penghuni surga ditanya tentang sikap dan perbuatan apa yang membuat mereka mendapat ganjaran surga, dengan serentak mereka berkata, “Sesungguhnya kami di dunia dahulu, sewaktu kami masih berada di tengah-tengah keluarga, kami selalu merasa takut akan diazab di neraka, karena itu kami selalu melakukan kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah.

27

فَمَنَّ اللّٰهُ عَلَيْنَا وَوَقٰىنَا عَذَابَ السَّمُوْمِ

Fa mannallāhu ‘alainā wa waqānā ‘ażābas-samūm(i).

Allah menganugerahkan karunia kepada kami dan menjaga kami dari azab neraka.

Sebagai rahmat dari dari Allah, maka Allah sesuai dengan janji-Nya memberikan karunia surga kepada kami dan senantiasa memelihara kami dari azab neraka yang tidak terkirakan pedihnya.

28

اِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوْهُۗ اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمُ ࣖ

Innā kunnā min qablu nad‘ūh(u), innahū huwal-barrur-raḥīm(u).

Sesungguhnya kami menyembah-Nya sejak dahulu. Sesungguhnya hanya Dialah Yang Maha Luas kebajikan-Nya lagi Maha Penyayang.”

Sesungguhnya kami sebelum menerima anugerah ini selalu menyembah dan berdoa kepada-Nya sejak di dunia dahulu. Tuhan telah mengabulkan doa kami. Sesungguhnya hanya Dialah Yang Maha Melimpahkan kebaikan kepada orang yang bertakwa, lagi Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya.

29

فَذَكِّرْ فَمَآ اَنْتَ بِنِعْمَتِ رَبِّكَ بِكَاهِنٍ وَّلَا مَجْنُوْنٍۗ

Fa żakkir famā anta bini‘mati rabbika bikāhiniw wa lā majnūn(in).

(Wahai Nabi Muhammad,) teruslah menyampaikan peringatan karena berkat nikmat Tuhanmulah, engkau bukan seorang tukang tenung dan bukan pula orang gila!

Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk melanjutkan dak-wahnya, “Bila kesudahan manusia itu sesuai amal dan perbuatan masing-masing, maka peringatkanlah orang-orang kafir itu karena dengan nikmat dari Tuhanmu, engkau bukanlah seorang tukang tenung, seperti tuduhan mereka, yang menyampaikan berita gaib tanpa dasar yang jelas, dan engkau bukan pula orang gila yang berpikiran kacau.

30

اَمْ يَقُوْلُوْنَ شَاعِرٌ نَّتَرَبَّصُ بِهٖ رَيْبَ الْمَنُوْنِ

Am yaqūlūna syā‘irin natarabbaṣu bihī raibal-manūn(i).

Bahkan, mereka (orang musyrik Makkah) berkata, “Dia (Nabi Muhammad) adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.”

Tidak hanya menuduhmu tukang tenung dan orang gila, bahkan mereka yang kafir itu juga berkata, “Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan, seperti musibah atau kematian, menimpanya.”

31

قُلْ تَرَبَّصُوْا فَاِنِّيْ مَعَكُمْ مِّنَ الْمُتَرَبِّصِيْنَۗ

Qul tarabbaṣū fa innī ma‘akum minal-mutarabbiṣīn(a).

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tunggulah! Sesungguhnya aku pun termasuk orang yang sedang menunggu bersamamu.”

Allah tidak memerintahkan Nabi Muhammad untuk menanggapi tuduhan orang kafir yang tidak berdasar itu. Dia berfirman, “Katakanlah kepada mereka, ‘Wahai orang kafir, tunggulah ketetapan Allah atasmu! Sesungguhnya aku pun termasuk orang yang sedang menunggu bersama kamu datangnya ketetapan Allah itu.”

32

اَمْ تَأْمُرُهُمْ اَحْلَامُهُمْ بِهٰذَآ اَمْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُوْنَۚ

Am ta’muruhum aḥlāmuhum bihāżā am hum qaumun ṭāgūn(a).

Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan (tuduhan-tuduhan) ini atau apakah mereka kaum yang melampaui batas?

Tuduhan-tuduhan orang-orang kafir itu tidak berdasar. Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka yang sesat untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar ini ataukah mereka memang kaum yang melampaui batas kewajaran sehingga tidak segan melancarkan tuduhan negatif itu?

33

اَمْ يَقُوْلُوْنَ تَقَوَّلَهٗۚ بَلْ لَّا يُؤْمِنُوْنَۚ

Am yaqūlūna taqawwalah(ū), bal lā yu’minūn(a).

Bahkan, apakah mereka (juga) berkata, “Dia (Nabi Muhammad) mereka-rekanya?” Tidak! Merekalah yang tidak beriman.

Ataukah mereka juga menuduhnya menggubah Al-Qur’an, dengan berkata, “Dia telah mereka-rekanya dengan pikirannya sendiri dan mengklaimnya sebagai wahyu Allah.” Tidak! Semua yang mereka katakan itu tidaklah benar! Sesungguhnya merekalah yang tidak beriman kepada ajaran Allah.

34

فَلْيَأْتُوْا بِحَدِيْثٍ مِّثْلِهٖٓ اِنْ كَانُوْا صٰدِقِيْنَۗ

Falya’tū biḥadīṡim miṡlihī in kānū ṣādiqīn(a).

Cobalah mereka membuat yang semisal dengannya (Al-Qur’an) jika mereka orang-orang benar.

Bila orang-orang kafir itu bersikukuh dengan tuduhannya tentang Al-Qur’an, maka cobalah mereka, baik secara sendiri maupun berkelompok, membuat karya yang semisal dengannya, jika mereka memang merupakan orang-orang yang benar dalam tuduhan dan penilaiannya.

35

اَمْ خُلِقُوْا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ اَمْ هُمُ الْخٰلِقُوْنَۗ

Am khuliqū min gairi syai’in am humul-khāliqūn(a).

Apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka menciptakan (diri mereka sendiri)?

Usai memberi bantahan atas tuduhan orang-orang musyrik, Allah lalu memberi bantahan atas keyakinan mereka. Allah berfirman, “Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul yang jelas, ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri sehingga tidak mau mengakui Allah sebagai Pencipta?

36

اَمْ خَلَقُوا السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ بَلْ لَّا يُوْقِنُوْنَۗ

Am khalaqus-samāwāti wal-arḍ(a), bal lā yūqinūn(a).

Apakah mereka menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).

Ataukah mereka enggan beriman karena merasa telah menciptakan langit dan bumi yang demikian indah dan rapi? Sebenarnya mereka sendiri tidak meyakini apa yang mereka katakan, karena mereka memang tidak mengetahuinya.

37

اَمْ عِنْدَهُمْ خَزَاۤىِٕنُ رَبِّكَ اَمْ هُمُ الْمُصَۣيْطِرُوْنَۗ

Am ‘indahum khazā’inu rabbika am humul-musaiṭirūn(a).

Apakah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu ataukah mereka yang berkuasa?

Ataukah mereka ingkar karena merasa bahwa di sisi mereka ada per-bendaharaan Tuhanmu, wahai Nabi Muhammad, ataukah mereka yang berkuasa mengatur dan menggunakan perbendaharan Allah dengan semaunya sehingga mereka menolak risalahmu dan menuduhmu dengan ungkapan yang merendahkan?

38

اَمْ لَهُمْ سُلَّمٌ يَّسْتَمِعُوْنَ فِيْهِۚ فَلْيَأْتِ مُسْتَمِعُهُمْ بِسُلْطٰنٍ مُّبِيْنٍۗ

Am lahum sullamuy yastami‘ūna fīh(i), falya’ti mustami‘uhum bisulṭānim mubīn(in).

Apakah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan (hal-hal yang gaib)? Hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka itu datang membawa keterangan yang nyata.

Atau apakah mereka, yaitu orang-orang musyrik, mempunyai tangga menuju langit untuk mendengarkan hal-hal gaib? Bila demikian maka hendaklah orang yang mendengarkan berita gaib di antara mereka itu datang dengan membawa keterangan yang nyata yang didengarnya. Pasti tidak akan ada yang tampil untuk mengungkapkannya.

39

اَمْ لَهُ الْبَنٰتُ وَلَكُمُ الْبَنُوْنَۗ

Am lahul-banātu wa lakumul-banūn(a).

Apakah (pantas) bagi-Nya anak-anak perempuan, sedangkan untuk kamu anak-anak laki-laki?

Allah mengecam kaum musyrik yang meyakini Dia punya anak perempuan, yaitu para malaikat, “Ataukah pantas bila kalian mengatakan bahwa untuk Dia Yang Maha Esa itu anak-anak perempuan seperti yang kamu yakini, sedangkan untuk kamu anak-anak laki-laki? Sungguh, itu semua merupakan anggapan yang sangat keji dan keliru.”

40

اَمْ تَسْـَٔلُهُمْ اَجْرًا فَهُمْ مِّنْ مَّغْرَمٍ مُّثْقَلُوْنَۗ

Am tas’aluhum ajran fahum mim magramim muṡqalūn(a).

Apakah engkau (Nabi Muhammad) meminta imbalan kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan utang?

Allah lalu mengajak bicara Nabi Muhammad, “Ataukah keengganan kaum musyrik untuk beriman adalah karena engkau meminta imbalan kepada mereka saat menyampaikan dakwah sehingga mereka dibebani de-ngan utang? Tentu tidak. Engkau tidak pernah meminta upah pada mereka atas dakwahmu.”

41

اَمْ عِنْدَهُمُ الْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُوْنَۗ

Am ‘indahumul-gaibu fahum yaktubūn(a).

Apakah mereka mempunyai (pengetahuan) tentang yang gaib, lalu mereka menuliskannya?

Ataukah mereka menolak beriman karena di sisi mereka mempunyai pengetahuan tentang yang gaib, lalu dengan pengetahuan itu mereka ingin menguasai segala hal dan menuliskannya untuk yang lain?

42

اَمْ يُرِيْدُوْنَ كَيْدًاۗ فَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا هُمُ الْمَكِيْدُوْنَۗ

Am yurīdūna kaidā(n), fal-lażīna kafarū humul-makīdūn(a).

Apakah mereka hendak melakukan tipu daya? Justru orang-orang yang kufur itulah yang terkena tipu daya.

Ataukah mereka dengan segala tindakan itu hendak melakukan tipu daya untuk memadamkan cahaya Ilahi? Sungguh, tipu daya mereka betapapun rapi dan kuat, pasti tidak akan berhasil. Tetapi, orang-orang yang kafir itu akan merasakan akibatnya karena justru merekalah yang terkena dampak buruk dari tipu daya mereka.

43

اَمْ لَهُمْ اِلٰهٌ غَيْرُ اللّٰهِ ۗسُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

Am lahum ilāhun gairullāh(i), subḥānallāhi ‘ammā yusyrikūn(a).

Apakah mereka mempunyai tuhan selain Allah? Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Ataukah penolakan itu karena mereka mempunyai tuhan yang berkuasa selain Allah, yang melarang mereka untuk mempercayaimu, wahai Nabi Muhammad? Sungguh, tidak ada tuhan selain Dia, dan Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan, apa pun bentuknya.

44

وَاِنْ يَّرَوْا كِسْفًا مِّنَ السَّمَاۤءِ سَاقِطًا يَّقُوْلُوْا سَحَابٌ مَّرْكُوْمٌ

Wa iy yarau kisfam minas-samā’i sāqiṭay yaqūlū saḥābum markūm(un).

Jika mereka melihat gumpalan-gumpalan awan berjatuhan dari langit, mereka berkata, “Itu adalah awan yang bertumpuk-tumpuk (yang akan menurunkan hujan).”

Ayat-ayat berikut menerangkan keingkaran dan sikap kaum musyrik yang melampaui batas. Dan jika mereka melihat dengan mata kepala sendiri gumpalan-gumpalan awan berjatuhan dari langit ke bumi, mereka akan memandang remeh dan berkata, “Itu adalah awan yang bertumpuk-tumpuk sehingga membentuk butir-butir hujan yang tidak membahayakan.”

45

فَذَرْهُمْ حَتّٰى يُلٰقُوْا يَوْمَهُمُ الَّذِيْ فِيْهِ يُصْعَقُوْنَۙ

Fażarhum ḥattā yulāqū yaumahumul-lażī fīhi yuṣ‘aqūn(a).

Biarkanlah mereka (dalam kesesatan) hingga mereka menemui hari (yang dijanjikan kepada) mereka yang pada hari itu mereka dibinasakan,

Karena mereka meremehkan hal itu, maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya, wahai Nabi Muhammad, hingga mereka menemui hari jatuhnya ancaman yang dijanjikan kepada mereka. Pada hari itu, hari kiamat, mereka pasti dibinasakan sebagai balasan atas keingkaran mereka.

46

يَوْمَ لَا يُغْنِيْ عَنْهُمْ كَيْدُهُمْ شَيْـًٔا وَّلَا هُمْ يُنْصَرُوْنَۗ

Yauma lā yugnī ‘anhum kaiduhum syai’aw wa lā hum yunṣarūn(a).

(yaitu) pada hari (ketika) tipu daya mereka tidak berguna sedikit pun bagi mereka dan mereka tidak akan diberi pertolongan.

Balasan itu datang pada hari ketika tipu daya yang mereka upayakan tidak berguna sedikit pun bagi mereka, dan pada hari itu mereka juga tidak akan diberi pertolongan.

47

وَاِنَّ لِلَّذِيْنَ ظَلَمُوْا عَذَابًا دُوْنَ ذٰلِكَ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

Wa inna lil-lażīna ẓalamū ‘ażāban dūna żālika wa lākinna akṡarahum lā ya‘lamūn(a).

Sesungguhnya bagi orang-orang yang zalim ada azab selain itu, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Azab yang dikemukakan pada ayat sebelumnya diberikan kepada orang yang ingkar, dan sesungguhnya bagi orang-orang yang zalim, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, masih ada azab selain yang sudah disebutkan itu. Tetapi, sayangnya kebanyakan di antara mereka tidak mengetahui.

48

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَاِنَّكَ بِاَعْيُنِنَا وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِيْنَ تَقُوْمُۙ

Waṣbir liḥukmi rabbika fa innaka bi’a‘yuninā wa sabbiḥ biḥamdi rabbika ḥīna taqūm(u).

Bersabarlah (Nabi Muhammad) menunggu ketetapan Tuhanmu karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami! Bertasbihlah seraya bertahmid (memuji) Tuhanmu ketika engkau bangun!

Wahai Nabi Muhammad, hendaklah engkau mengetahui keadaan mereka yang seperti itu, dan bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau selalu berada dalam pengawasan dan pemeliharaan Kami. Berzikir dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika engkau bangun pagi untuk melakukan kegiatan duniawi atau ukhrawi.

49

وَمِنَ الَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَاِدْبَارَ النُّجُوْمِ ࣖ

Wa minal-laili fa sabbiḥhu wa idbāran-nujūm(i).

Bertasbihlah kepada-Nya pada sebagian malam dan pada waktu terbenamnya bintang-bintang (waktu fajar).

Dan selain itu, pada sebagian malam, ketika kebanyakan orang tidur, dekatkanlah dirimu kepada Allah, bertasbihlah kepada-Nya, dan berzikir serta bertasbihlah pada waktu terbenamnya bintang-bintang pada waktu fajar.

Surat An-Najm

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

وَالنَّجْمِ اِذَا هَوٰىۙ

Wan-najmi iżā hawā.

Demi bintang ketika terbenam,

Surah at-Tur diakhiri dengan perintah untuk bertasbih dan memuji Allah setiap saat, terutama pagi. Pada Surah an-Najm ini Allah memulai dengan bersumpah demi bintang. Demi bintang yang bertebaran di angkasa ketika hendak terbenam akibat terbitnya matahari di ufuk timur dengan sinarnya yang kuat.

2

مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوٰىۚ

Mā ḍalla ṣāḥibukum wa mā gawā.

kawanmu (Nabi Muhammad) tidak sesat, tidak keliru,

Sesungguhnya kawanmu yang sangat kamu kenal kejujurannya, yaitu Nabi Muhammad, tidak sesat dalam perilakunya saat menyampaikan dakwah dan tidak pula keliru dalam ucapan-ucapan yang disampaikannya.

3

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى

Wa mā yanṭiqu ‘anil-hawā.

dan tidak pula berucap (tentang Al-Qur’an dan penjelasannya) berdasarkan hawa nafsu(-nya).

Apa saja yang dilakukan oleh Nabi Muhammad merupakan perintah Tuhannya, dan tidaklah pula yang diucapkannya itu, yaitu ayat-ayat Al-Qur’an, merupakan perkataan kosong dan menurut keinginannya saja.

4

اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ

In huwa illā waḥyuy yūḥā.

Ia (Al-Qur’an itu) tidak lain, kecuali wahyu yang disampaikan (kepadanya)

Al-Qur’an yang disampaikannya tidak lain adalah wahyu Allah yang diwahyukan kepadanya.

5

عَلَّمَهٗ شَدِيْدُ الْقُوٰىۙ

‘Allamahū syadīdul-quwā.

yang diajarkan kepadanya oleh (malaikat) yang sangat kuat (Jibril)

Wahyu yang diterimanya diajarkan kepadanya oleh Jibril, malaikat yang sangat kuat,

6

ذُوْ مِرَّةٍۗ فَاسْتَوٰىۙ

Żū mirrah(tin), fastawā.

lagi mempunyai keteguhan. Lalu, ia (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli

yang mempunyai keteguhan sangat hebat; maka ia menampakkan diri kepada Nabi Muhammad dengan rupa yang asli, yakni bagus dan perkasa.i.

7

وَهُوَ بِالْاُفُقِ الْاَعْلٰىۗ

Wa huwa bil-ufuqil-a‘lā.

ketika dia berada di ufuk yang tinggi.

Sedang dia, yaitu Jibril, pada saat itu berada di ufuk langit yang tinggi.

8

ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰىۙ

Ṡumma danā fa tadallā.

Dia kemudian mendekat (kepada Nabi Muhammad), lalu bertambah dekat,

Kemudian dia mendekat ke arah Nabi Muhammad, lalu turun sehingga bertambah dekat lagi.

9

فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ اَوْ اَدْنٰىۚ

Fa kāna qāba qausaini au adnā.

sehingga jaraknya (sekitar) dua busur panah atau lebih dekat (lagi).

Jibril semakin mendekat sehingga jaraknya dari Nabi Muhammad sekitar dua busur panah atau bahkan lebih dekat lagi.

10

فَاَوْحٰىٓ اِلٰى عَبْدِهٖ مَآ اَوْحٰىۗ

Fa auḥā ilā ‘abdihī mā auḥā.

Lalu, dia (Jibril) menyampaikan wahyu kepada hamba-Nya (Nabi Muhammad) apa yang Dia wahyukan.

Lalu disampaikan oleh-nya wahyu secara cepat dan rahasia kepada hamba-Nya, yaitu Nabi Muhammad, apa yang telah diwahyukan oleh Allah.

11

مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَاٰى

Mā każabal-fu’ādu mā ra’ā.

Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.

Hatinya, yaitu hati Nabi Muhammad, meyakini dan tidak mendusta-kan atau mengingkari apa yang telah dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

12

اَفَتُمٰرُوْنَهٗ عَلٰى مَا يَرٰى

Afa tumārūnahū ‘alā mā yarā.

Apakah kamu (kaum musyrik Makkah) hendak membantahnya (Nabi Muhammad) tentang apa yang dilihatnya itu (Jibril)?

Maka, wahai kaum musyrik, apakah kamu dan orang yang meragukannya hendak membantahnya tentang apa, yaitu Jibril, yang telah dilihatnya itu?

13

وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ

Wa laqad ra’āhu nazlatan ukhrā.

Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain,

Dan sungguh, dia, yaitu Nabi Muhammad, telah melihatnya, yakni Jibril, dalam rupanya yang asli pada waktu yang lain,

14

عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى

‘Inda sidratil-muntahā.

(yaitu ketika) di Sidratulmuntaha.

yaitu di Sidratul Muntaha saat mikraj.

15

عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوٰىۗ

‘Indahā jannatul-ma’wā.

Di dekatnya ada surga tempat tinggal.

Di dekatnya, yakni dekat Sidratul Muntaha, ada surga yang menjadi tempat tinggal.

16

اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰىۙ

Iż yagsyas-sidrata mā yagsyā.

(Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya.

Nabi Muhammad melihat Jibril ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang indah yang meliputinya dan memperlihatkan keagungan Tuhan.

17

مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغٰى

Mā zāgal-baṣaru wa mā ṭagā.

Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak menyimpang dan tidak melampaui (apa yang dilihatnya).

Karena keindahan yang dilihat oleh Nabi Muhammad itu, penglihatannya tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya.

18

لَقَدْ رَاٰى مِنْ اٰيٰتِ رَبِّهِ الْكُبْرٰى

Laqad ra’ā min āyāti rabbihil-kubrā.

Sungguh, dia benar-benar telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang sangat besar.

Sungguh, pada saat itu dia, yakni Nabi Muhammad, telah melihat sebagian tanda-tanda keagungan dan kemuliaan Tuhannya yang paling besar.

19

اَفَرَءَيْتُمُ اللّٰتَ وَالْعُزّٰى

Afa ra’aitumul-lāta wal-‘uzzā.

Apakah patut kamu (orang-orang musyrik) menganggap (dua berhala) al-Lata dan al-‘Uzza,

Bila ayat-ayat yang lalu menjelaskan keteguhan sikap Nabi Muhammad dan kelurusan jalan yang ditempuhnya, maka pada ayat-ayat ini Allah menerangkan kecaman terhadap orang kafir yang tetap me-nyembah berhala. Wahai orang musyrik, maka apakah patut kamu menganggap Al-Lata dan Al-Uzza,

20

وَمَنٰوةَ الثَّالِثَةَ الْاُخْرٰى

Wa manātaṡ-ṡāliṡatal-ukhrā.

serta Manata (berhala) ketiga yang lain (sebagai anak-anak perempuan Allah yang kamu sembah)?

dan Manat, yang merupakan berhala ketiga yang kemudian kamu anggap sebagai anak perempuan Allah?

21

اَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْاُنْثٰى

Alakumuż-żakaru wa lahul-unṡā.

Apakah (pantas) bagi kamu (anak) laki-laki dan bagi-Nya (anak) perempuan?

Apakah pantas bila kamu memilih untuk kamu sendiri anak yang laki-laki dan untuk-Nya kamu memilihkan anak yang perempuan, sedangkan kamu sendiri benci dan marah bila mendapatkan anak perempuan?

22

تِلْكَ اِذًا قِسْمَةٌ ضِيْزٰى

Tilka iżan qismatun ḍīzā.

Itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.

Keinginan yang demikian itu tentulah merupakan suatu pembagian yang tidak adil untuk dihubungkan dengan Allah.

23

اِنْ هِيَ اِلَّآ اَسْمَاۤءٌ سَمَّيْتُمُوْهَآ اَنْتُمْ وَاٰبَاۤؤُكُمْ مَّآ اَنْزَلَ اللّٰهُ بِهَا مِنْ سُلْطٰنٍۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْاَنْفُسُۚ وَلَقَدْ جَاۤءَهُمْ مِّنْ رَّبِّهِمُ الْهُدٰىۗ

In hiya illā asmā’un sammaitumūhā antum wa ābā’ukum mā anzalallāhu bihā min sulṭān(in), iy yattabi‘ūna illaẓ-ẓanna wa mā tahwal-anfus(u), wa laqad jā’ahum mir rabbihimul-hudā.

(Berhala-berhala) itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu ada-adakan. Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuk (menyembah)-nya. Mereka hanya mengikuti dugaan dan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu. Padahal, sungguh, mereka benar-benar telah didatangi petunjuk dari Tuhan mereka.

Wahai kaum musyrik, sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah itu tidak lain hanyalah nama-nama belaka, yang tidak memiliki sifat ketuhanan dan karenanya tidak layak disembah. Kamulah pada masa ini dan nenek moyangmu pada masa lalu yang mengada-adakan nama mereka, sedang Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun terkait ketuhanannya sehingga kamu tidak punya alasan untuk menyembah-nya. Sesungguhnya mereka, yaitu kaum musyrik, hanya mengikuti dugaan yang tidak berdasar dan apa yang diingini oleh keinginannya. Padahal sungguh, telah datang petunjuk yang benar dari Tuhan mereka. Andai saja mereka mau memahami dan menerimanya.

24

اَمْ لِلْاِنْسَانِ مَا تَمَنّٰىۖ

Am lil-insāni mā tamannā.

Apakah manusia akan mendapat segala yang diinginkannya?

Kaum musyrik mestinya menerima petunjuk Allah dan mendapatkan keselamatan atau apakah manusia yang musyrik itu akan mendapat segala yang dicita-citakannya,

25

فَلِلّٰهِ الْاٰخِرَةُ وَالْاُوْلٰى ࣖ

Fa lillāhil-ākhiratu wal-ūlā.

(Tidak!) Milik Allahlah kehidupan akhirat dan dunia.

yaitu yang terkait dengan harta, kedudukan, dan kesenangan hidup? Tidak! Mereka hanya makhluk yang telah ditetapkan oleh Allah, maka sesungguhnya milik Allahlah kehidupan akhirat yang abadi dan kehidupan dunia yang fana.

26

۞ وَكَمْ مِّنْ مَّلَكٍ فِى السَّمٰوٰتِ لَا تُغْنِيْ شَفَاعَتُهُمْ شَيْـًٔا اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ اَنْ يَّأْذَنَ اللّٰهُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَرْضٰى

Wa kam mim malakin fis-samāwāti lā tugnī syafā‘atuhum syai’an illā mim ba‘di ay ya’żanallāhu limay yasyā’u wa yarḍā.

Betapa banyak malaikat di langit yang syafaat (pertolongan) mereka sedikit pun tidak berguna, kecuali apabila Allah telah mengizinkan(-nya untuk diberikan) kepada siapa yang Dia kehendaki dan ridai.

Berapa banyak manusia dengan kemampuan luar biasa nyatanya tidak dapat menggapai keinginannya, dan berapa banyak pula malaikat yang suci dan berkedudukan mulia di langit, tetapi syafa’at dan pertolongan mereka sedikit pun tidak berguna bagi makhluk lain, kecuali apabila Allah Yang Mahakuasa telah mengizinkan mereka untuk memberi syafa’at bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridai karena amal saleh dan keta’atannya.

27

اِنَّ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِ لَيُسَمُّوْنَ الْمَلٰۤىِٕكَةَ تَسْمِيَةَ الْاُنْثٰى

Innal-lażīna lā yu’minūna bil-ākhirati layusammūnal-malā’ikata tasmiyatal-unṡā.

Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat benar-benar menamai para malaikat dengan nama perempuan.

Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, yaitu orang musyrik penyembah berhala, mereka benar-benar menamakan para malaikat dan menyifati mereka dengan nama dan sifat pe-rempuan. Selanjutnya, mereka mengatakan bahwa para malaikat itu adalah putri-putri Allah.

28

وَمَا لَهُمْ بِهٖ مِنْ عِلْمٍۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِيْ مِنَ الْحَقِّ شَيْـًٔاۚ

Wa mā lahum bihī min ‘ilm(in), iy yattabi‘ūna illaẓ-ẓann(a), wa innaẓ-ẓanna lā yugnī minal-ḥaqqi syai’ā(n).

Padahal, mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan dan sesungguhnya dugaan itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran.

Orang-orang musyrik itu hanya menuruti keinginannya saat me-nyatakan bahwa para malaikat itu adalah putri-putri Allah, dan mereka tidak mempunyai ilmu yang mendasari keyakinannya tentang hal itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan yang hanya berdasar hawa nafsu, dan sesungguhnya dugaan yang tidak didukung kenyataan atau ilmu itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran. Karena itu, dugaan demikian tidak dapat dijadikan sebagai dasar dalam keyakinan agama.

29

فَاَعْرِضْ عَنْ مَّنْ تَوَلّٰىۙ عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ اِلَّا الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۗ

Fa a‘riḍ ‘am man tawallā, ‘an żikrinā wa lam yurid illal-ḥayātad-dun-yā.

Tinggalkanlah (Nabi Muhammad) orang yang berpaling dari peringatan Kami (Al-Qur’an) dan hanya menginginkan kehidupan dunia!

Wahai Nabi Muhammad, jika orang-orang musyrik enggan meng-ikuti ajakanmu dan bersikeras menyembah berhala, maka tinggalkanlah orang yang berpaling dari peringatan Kami itu, dan ketahuilah bahwa dia hanya mengingini kehidupan dunia yang bersifat sementara seraya menolak kepastian hari akhirat.

30

ذٰلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِّنَ الْعِلْمِۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖۙ وَهُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدٰى

Żālika mablaguhum minal-‘ilm(i), inna rabbaka huwa a‘lamu biman ḍalla ‘an sabīlih(ī), wa huwa a‘lamu bimanihtadā.

Itulah kadar pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmulah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.

Itulah, yaitu berpalingnya mereka dari kebenaran dan kecenderungan pada kenikmatan hidup duniawi, kadar ilmu mereka. Sungguh, Tuhanmu yang selalu membimbing dan menunjukimu, Dia lebih mengetahui siapa yang lebih memilih kekafiran dengan mengikuti potensi fujur, sehingga tersesat dari jalan-Nya dan Dia pula yang mengetahui siapa di antara manu-sia yang memilih ketaatan dengan selalu mengikuti potensi takwanya sehingga ia selalu mendapat petunjuk ke jalan yang benar dan diridai-Nya.

31

وَلِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ لِيَجْزِيَ الَّذِيْنَ اَسَاۤءُوْا بِمَا عَمِلُوْا وَيَجْزِيَ الَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا بِالْحُسْنٰىۚ

Wa lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ(i), liyajziyal-lażīna asā’ū bimā ‘amilū wa yajziyal-lażīna aḥsanū bil-ḥusnā.

Milik Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. (Dengan demikian,) Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan dan Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).

Menolak anggapan bahwa orang yang sesat dan ingkar itu seolah-olah di luar pengetahuan Allah, ditegaskan bahwa semua sifat kesempurnaan itu ada pada Zat-Nya. Dan hanya milik Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dia yang menciptakan semua makhluk dan yang mengaturnya sesuai kehendak-Nya. Bisa saja Dia membuat semua ma-nusia beriman, tetapi Dia tidak menginginkannya karena Dia telah membekali mereka dengan akal, petunjuk, dan kebebasan memilih. Dengan demikian, Dia akan memberi balasan dan hukuman kepada orang-orang yang berbuat jahat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan dan Dia akan memberi balasan dan anugerah kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik, yaitu surga dengan segala kenikmatan dan keindahannya.

32

اَلَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰۤىِٕرَ الْاِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ اِلَّا اللَّمَمَۙ اِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِۗ هُوَ اَعْلَمُ بِكُمْ اِذْ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاِذْ اَنْتُمْ اَجِنَّةٌ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْۗ فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى ࣖ

Allażīna yajtanibūna kabā’iral-iṡmi wal-fawāḥisya illal-lamam(a), inna rabbaka wāsi‘ul-magfirah(ti), huwa a‘lamu bikum iż ansya’akum minal-arḍi wa iż antum ajinnatun fī buṭūni ummahātikum, falā tuzakkū anfusakum, huwa a‘lamu bimanittaqā.

(Mereka adalah) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji. Akan tetapi, mereka (memang) melakukan dosa-dosa kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dia lebih mengetahui dirimu sejak Dia menjadikanmu dari tanah dan ketika kamu masih berupa janin dalam perut ibumu. Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.

Orang-orang yang akan mendapat anugerah dan kebaikan adalah mereka yang sungguh-sungguh menjauhi dosa-dosa besar yang disebut secara khusus ancamannya, dan perbuatan keji yang dicela oleh akal dan tabiat manusia. Semua itu ada hukumannya, kecuali kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan sesekali dan tanpa sengaja. Sungguh, pengampunan atas dosa kecil itu karena Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya. Dia pun akan mengampuni dosa besar bila pelakunya bertobat dengan tulus. Janganlah kamu bangga karena telah berbuat baik. Sesungguhnya Dia mengetahui tentang keadaan kamu, bahkan sejak Dia menjadikan kamu dari tanah lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu yang berproses sesuai tahapannya. Maka dengan pengampunan dan pahala itu, janganlah kamu menganggap dirimu suci dengan memuji diri dan membanggakan amal-amalmu. Sungguh, Dia yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa dan benar-benar suci.

33

اَفَرَءَيْتَ الَّذِيْ تَوَلّٰىۙ

Afa ra’aital-lażī tawallā.

Tidakkah engkau melihat orang yang berpaling (dari Al-Qur’an)?

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa al-Walid bin al-Mugirah yang telah memeluk Islam kembali murtad akibat celaan teman-teman-nya ajakan mereka untuk kembali pada kemusyrikan. Wahai Nabi Muhammad, maka tidakkah engkau melihat orang yang berpaling dan menolak ajaran yang engkau sampaikan padahal sebelum itu dia telah menerimanya?

34

وَاَعْطٰى قَلِيْلًا وَّاَكْدٰى

Wa a‘ṭā qalīlaw wa akdā.

Dia memberikan sedikit (dari apa yang telah disepakati), lalu menahan sisanya.

Orang yang berpaling itu juga bersifat tercela, dan dia memberikan sedikit dari apa yang dijanjikan, lalu menahan sisanya dan tidak mau memberi lagi.

35

اَعِنْدَهٗ عِلْمُ الْغَيْبِ فَهُوَ يَرٰى

A‘indahū ‘ilmul-gaibi fahuwa yarā.

Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang gaib, sehingga dia dapat melihat(-nya)?

Apakah dia merasa bahwa hanya dia yang mempunyai ilmu tentang yang gaib sehingga dia dapat melihat dan mengetahui kemaslahatan dan apa yang mendorongnya untuk berpaling dari kebenaran dan kikir dalam bersedekah?

36

اَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِيْ صُحُفِ مُوْسٰى

Am lam yunabba’ bimā fī ṣuḥufi mūsā.

Apakah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran (kitab suci yang diturunkan kepada) Musa

Ingkar dan kikir merupakan sifat tercela dan dia telah mendapat tuntunan untuk menghindarinya. Apakah dia memang ingkar ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran kitab suci yang diwahyukan kepada Nabi Musa?

37

وَاِبْرٰهِيْمَ الَّذِيْ وَفّٰىٓ ۙ

Wa ibrāhīmal-lażī waffā.

dan (lembaran-lembaran) Ibrahim yang telah memenuhi janji setianya?

Dan apakah dia juga mengingkari tuntunan wahyu yang terdapat pada lembaran-lembaran yang diwahyukan kepada Nabi Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji kepada Allah?

38

اَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۙ

Allā taziru wāziratuw wizra ukhrā.

(Dalam lembaran-lembaran itu terdapat ketetapan) bahwa seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,

Di antara ajaran dalam lembaran-lembaran kitab suci itu adalah bahwa seseorang yang berdosa karena perbuatan dan keingkarannya tidak akan memikul dosa orang lain dan tidak mendapat manfaat dari perbuat-an baik orang lain.

39

وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ

Wa al laisa lil-insāni illā mā sa‘ā.

bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya,

Dan diajarkan pula dalam lembaran-lembaran kitab suci itu bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, dan usahanya yang baik atau buruk tidak akan dihilangkan.

40

وَاَنَّ سَعْيَهٗ سَوْفَ يُرٰىۖ

Wa anna sa‘yahū saufa yurā.

bahwa sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya),

Semua itu kelak akan diperlihatkan kepadanya sehingga ia dapat berbangga dengan kebaikannya dan malu dengan amal buruknya.

41

ثُمَّ يُجْزٰىهُ الْجَزَاۤءَ الْاَوْفٰىۙ

Ṡumma yujzāhul-jazā’al-aufā.

kemudian dia akan diberi balasan atas (amalnya) itu dengan balasan yang paling sempurna,

Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.

42

وَاَنَّ اِلٰى رَبِّكَ الْمُنْتَهٰىۙ

Wa anna ilā rabbikal-muntahā.

bahwa sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu),

Amal yang baik akan mendapat balasan yang berlipat ganda, dan amal yang buruk akan dibalas sesuai kadar keburukannya. Dan selain itu, disebutkan pula dalam lembaran-lembaran kitab suci itu bahwa sesungguhnya hanya kepada Tuhanmu permulaan dan kesudahan segala sesuatu.

43

وَاَنَّهٗ هُوَ اَضْحَكَ وَاَبْكٰى

Wa annahū huwa aḍḥaka wa abkā.

bahwa sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,

Dan selain itu, diterangkan pula dalam lembaran-lembaran kitab suci itu bahwa sesungguhnya Dialah Yang Mahakuasa yang telah menjadikan orang tertawa dan menangis serta menciptakan faktor-faktor yang menyebabkannya,

44

وَاَنَّهٗ هُوَ اَمَاتَ وَاَحْيَاۙ

Wa annahū huwa amāta wa aḥyā.

bahwa sesungguhnya Dialah yang mematikan dan menghidupkan,

dan sesungguhnya Dia pula yang mematikan dan menghidupkan ciptaan-Nya.

45

وَاَنَّهٗ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْاُنْثٰىۙ

Wa annahū khalaqaz-zaujainiż-żakara wal-unṡā.

bahwa sesungguhnya Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan

Dan disebutkan pula dalam suhuf Nabi Ibrahim dan Musa bahwa sesungguhnya Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan, jantan dan betina,

46

مِنْ نُّطْفَةٍ اِذَا تُمْنٰىۙ

Min nuṭfatin iżā tumnā.

dari mani ketika dipancarkan

dari mani apabila dipancarkan, yang selanjutnya pencipaan itu melalui proses yang telah ditetapkan.

47

وَاَنَّ عَلَيْهِ النَّشْاَةَ الْاُخْرٰىۙ

Wa anna ‘alaihin nasy’atal-ukhrā.

bahwa sesungguhnya Dialah yang menetapkan penciptaan yang lain (kebangkitan setelah mati),

Dan dalam kedua suhuf itu juga diterangkan bahwa sesungguhnya Dialah yang menetapkan penciptaan yang lain,

48

وَاَنَّهٗ هُوَ اَغْنٰى وَاَقْنٰىۙ

Wa annahū huwa agnā wa aqnā.

bahwa sesungguhnya Dialah yang menganugerahkan kekayaan dan kecukupan,

dan disebutkan pula bahwa sesungguhnya Dialah yang memberikan kepada semua makhluk kekayaan serta kepuasan hati dari kegiatan yang diusahakan dan memberikan kecukupan atas apa yang disimpan.

49

وَاَنَّهٗ هُوَ رَبُّ الشِّعْرٰىۙ

Wa annahū huwa rabbusy-syi‘rā.

bahwa sesungguhnya Dialah Tuhan (yang memiliki) bintang Syi‘ra,

Dan selain itu, dalam kedua suhuf itu juga disebutkan bahwa sesungguhnya Dialah Tuhan yang menciptakan, memiliki, dan mengendalikan bintang Syira, bintang sembahan orang Arab pada masa Jahiliah.

50

وَاَنَّهٗٓ اَهْلَكَ عَادًا ۨالْاُوْلٰىۙ

Wa annahū ahlaka ‘ādanil-ūlā.

dan bahwa sesungguhnya Dialah yang telah membinasakan (kaum) ‘Ad yang terdahulu

Setelah menjelaskan ajaran dan tuntunan Allah dalam suhuf Nabi Ibrahim dan Musa, pada ayat ini Allah menyebut azab yang telah ditimpakan-Nya kepada umat-umat masa lalu. Dan diterangkan bahwa sesungguhnya Dialah yang telah membinasakan umat Nabi Hud, yakni kaum Ad pada zaman dahulu kala,

51

وَثَمُوْدَا۟ فَمَآ اَبْقٰىۙ

Wa ṡamūda famā abqā.

dan (kaum) Samud. Tidak seorang pun ditinggalkan-Nya (hidup).

dan Allah pula yang telah membinasakan kaum Samud, umat Nabi Saleh. Karena kafir, mereka semua dibinasakan dan tidak seorang pun yang ditinggalkan-Nya dalam keadaan hidup.

52

وَقَوْمَ نُوْحٍ مِّنْ قَبْلُۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا هُمْ اَظْلَمَ وَاَطْغٰىۗ

Wa qauma nūḥim min qabl(u), innahum kānū hum aẓlama wa aṭgā.

Sebelum itu kaum Nuh juga (dibinasakan). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang lebih zalim dan lebih durhaka.

dan karena keingkarannya pula kaum Nabi Nuh dibinasakan sebelum itu. Sungguh, mereka adalah orang-orang yang paling zalim dan paling durhaka dibanding kedua umat sebelumnya, Ad dan Samud.

53

وَالْمُؤْتَفِكَةَ اَهْوٰىۙ

Wal-mu’tafikata ahwā.

Dia juga menjungkirbalikkan negeri kaum Lut,

Itulah kisah umat yang durhaka kepada nabinya, dan selain mereka hukuman Allah yang berupa prahara angin telah meruntuhkan negeri kaum Nabi Lut yang ingkar dan menolak ajarannya,

54

فَغَشّٰىهَا مَا غَشّٰىۚ

Fa gasysyāhā mā gasysyā.

lalu Dia menimbuninyadengan apa yang menimpanya.

lalu dengan angin tersebut Allah menimbuni negeri itu dengan puing-puing dan bebatuan yang menimpanya.

55

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكَ تَتَمَارٰى

Fa bi’ayyi ālā’i rabbika tatamārā.

Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang masih kamu ragukan?

Kehancuran umat-umat pengingkar pada masa lalu merupakan peringatan dari Allah untuk generasi sekarang dan mendatang. Merupakan salah satu bentuk nikmat-Nya bagaimana umat pada masa kini dapat mengambil pelajaran dan lebih berhati-hati dalam kehidupannya. Wahai manusia, jika umat-umat itu mendapat hukuman karena keingkaran mereka, maka terhadap nikmat Tuhanmu yang manakah yang masih kamu ragukan sehingga kamu mengingkarinya?

56

هٰذَا نَذِيْرٌ مِّنَ النُّذُرِ الْاُوْلٰى

Hāżā nażīrum minan-nużuril-ūlā.

Ini (Nabi Muhammad) adalah salah seorang pemberi peringatan di antara para pemberi peringatan yang terdahulu.

Wahai manusia, Nabi Muhammad ini adalah salah seorang pemberi peringatan yang diamanati untuk mengingatkan kamu dan ia termasuk di antara para pemberi peringatan yang telah terdahulu.

57

اَزِفَتِ الْاٰزِفَةُ ۚ

Azifatil-āzifah(tu).

(Hari Kiamat) yang dekat makin mendekat.

Di antara peringatan Nabi Muhammad adalah kepastian akan datangnya hari kiamat yang semakin hari semakin dekat. Sesuatu yang dekat, yaitu hari kiamat, kedatangannya telah makin mendekat

58

لَيْسَ لَهَا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ كَاشِفَةٌ ۗ

Laisa lahā min dūnillāhi kāsyifah(tun).

Tidak ada yang akan dapat mengungkapkan (terjadinya hari itu) selain Allah.

dan tidak ada seorang pun yang akan dapat mengungkapkan kapan hari itu tiba, selain Allah yang telah menetapkannya sejak zaman azali.

59

اَفَمِنْ هٰذَا الْحَدِيْثِ تَعْجَبُوْنَۙ

Afamin hāżal-ḥadīṡi ta‘jabūn(a).

Maka, apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini?

Wahai kaum kafir, bila kiamat memang akan datang, maka apakah kamu masih merasa heran terhadap pemberitaan ini, lalu menolak kebenarannya?

60

وَتَضْحَكُوْنَ وَلَا تَبْكُوْنَۙ

Wa taḍḥakūna wa lā tabkūn(a).

Kamu mentertawakan dan tidak menangisi(-nya),

Dan tidak hanya menolaknya, kamu bahkan terus menertawakan berita ini dan tidak menangis sebagaimana orang yang sepenuhnya percaya dan takut karena merasa belum cukup bekal untuk menghadapi hari itu.

61

وَاَنْتُمْ سٰمِدُوْنَ

Wa antum sāmidūn(a).

sedangkan kamu lengah (darinya).

Wahai kaum kafir, saat sedang menertawakan berita tentang kiamat itu kamu berada dalam keadaan lengah dan lalai dari kedatangannya dan siksa di dalamnya.

62

فَاسْجُدُوْا لِلّٰهِ وَاعْبُدُوْا ࣖ ۩

Fasjudū lillāhi wa‘budū.

Bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).

Maka, demi keselamatanmu bersujudlah kepada Allah, patuhi ajaran-Nya, dan sembahlah Dia secara tulus, baik dengan ibadah yang diwajibkan maupun yang dianjurkan.

Surat Al-Qamar

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ

Iqtarabatis-sā‘atu wansyaqqal-qamar(u).

Hari Kiamat makin dekat dan bulan terbelah.

Terdapat keterkaitan erat antara Surah an-Najm dengan Surah al-Qamar. Bila Surah an-Najm ditutup dengan ancaman terhadap orang kafir tentang hari kiamat yang makin dekat, Surah al-Qamar diawali dengan penegasan bahwa kiamat itu benar-benar telah dekat. Allah juga menunjukkan kuasa-Nya terhadap bulan. Saat kedatangan hari kiamat yang telah ditetapkan semakin dekat, bulan pun terbelah.

2

وَاِنْ يَّرَوْا اٰيَةً يُّعْرِضُوْا وَيَقُوْلُوْا سِحْرٌ مُّسْتَمِرٌّ

Wa iy yarau āyatay yu‘riḍū wa yaqūlū siḥrum mustamirr(un).

Jika mereka (kaum musyrik Makkah) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, “(Ini adalah) sihir yang terus-menerus.”

Orang musyrik selalu enggan memercayai berita yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Dan jika mereka melihat dengan mata kepala satu tanda dan mukjizat yang membuktikan kebenaran ajaran beliau, mereka tetap berpaling seraya menolak kebenaran itu dan berkata, Semua yang terjadi ini sesungguhnya hanya sihir yang bersifat terus-menerus.

3

وَكَذَّبُوْا وَاتَّبَعُوْٓا اَهْوَاۤءَهُمْ وَكُلُّ اَمْرٍ مُّسْتَقِرٌّ

Wa każżabū wattaba‘ū ahwā’ahum wa kullu amrim mustaqirr(un).

Mereka mendustakan (Nabi Muhammad) dan mengikuti keinginan mereka, padahal setiap urusan telah ada ketetapannya.

Demikianlah sikap orang musyrik, dan mereka memang senantiasa mendustakan kebenaran dari-Nya. Mereka cenderung menyimpang dari fitrah dan mengikuti keinginannya yang menjerumuskan mereka pada kesesatan, padahal setiap urusan yang terjadi pasti telah ada ketetapannya.

4

وَلَقَدْ جَاۤءَهُمْ مِّنَ الْاَنْۢبَاۤءِ مَا فِيْهِ مُزْدَجَرٌۙ

Wa laqad jā’ahum minal-ambā’i mā fīhi muzdajar(un).

Sungguh, benar-benar telah datang kepada mereka beberapa berita yang di dalamnya terdapat ancaman (terhadap orang-orang kafir).

Dan sungguh, telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat ancaman bagi mereka untuk tidak berbuat ingkar dan syirik.

5

حِكْمَةٌ ۢ بَالِغَةٌ فَمَا تُغْنِ النُّذُرُۙ

Ḥikmatum bāligatun famā tugnin-nużur(u).

(Berita-berita itu adalah) hikmah yang sempurna, tetapi peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka).

Wahai Nabi Muhammad, peristiwa-peristiwa yang engkau sam-paikan kepada umatmu adalah hikmah, yaitu ilmu amaliah dan amal ilmiah, yang sempurna kebenaran dan kejelasannya. Tetapi, sesungguhnya peringatan-peringatan itu tidak berguna bagi mereka.

6

فَتَوَلَّ عَنْهُمْ ۘ يَوْمَ يَدْعُ الدَّاعِ اِلٰى شَيْءٍ نُّكُرٍۙ

Fa tawalla ‘anhum, yauma yad‘ud-dā‘i ilā syai’in nukur(in).

Maka, berpalinglah (Nabi Muhammad) dari mereka. Pada hari (ketika) penyeru (malaikat) mengajak (mereka) pada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari Pembalasan),

Maka, berpalinglah engkau dari mereka! Orang musyrik itu akan menghadapi masa yang mengerikan, yaitu pada hari ketika penyeru, ketika malaikat atau utusan-Nya, mengajak mereka kepada sesuatu yang tidak menyenangkan, yaitu datangnya kiamat dan keharusan setiap orang mempertanggung jawabkan perbuatannya.

7

خُشَّعًا اَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُوْنَ مِنَ الْاَجْدَاثِ كَاَنَّهُمْ جَرَادٌ مُّنْتَشِرٌۙ

Khusysya‘an abṣāruhum yakhrujūna minal-ajdāṡi ka’annahum jarādum muntasyir(un).

pandangan mereka tertunduk. Mereka keluar (berhamburan) dari kubur seperti belalang yang beterbangan.

Orang yang diseru itu akan datang pandangan mereka tertunduk, ketika mereka keluar dari kuburan dengan ketakutan. Keadaan ini menyebabkan mereka berjalan serampangan, seakan-akan mereka belalang yang beterbangan.

8

مُّهْطِعِيْنَ اِلَى الدَّاعِۗ يَقُوْلُ الْكٰفِرُوْنَ هٰذَا يَوْمٌ عَسِرٌ

Muhṭi‘īna ilad-dā‘(i), yaqūlul-kāfirūna hāżā yaumun ‘asir(un).

Mereka bersegera datang kepada penyeru itu. Orang-orang kafir berkata, “Ini adalah hari yang sulit.”

Dengan patuh dan penuh rasa takut mereka segera datang kepada penyeru itu. Dalam keadaan seperti ini orang-orang kafir terus saja berkata, Ini adalah hari yang sangat sulit dihadapi.

9

۞ كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوْحٍ فَكَذَّبُوْا عَبْدَنَا وَقَالُوْا مَجْنُوْنٌ وَّازْدُجِرَ

Każżabat qablahum qaumu nūḥin fakażżabū ‘abdanā wa qālū majnūnuw wazdujir(a).

Sebelum mereka, kaum Nuh juga telah mendustakan (rasul). Mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan, “(Dia) orang gila!” Dia pun dibentak (dengan cacian dan lainnya).

Ayat-ayat berikut menguraikan siksaan duniawi atas orang-orang yang mengingkari para rasul. Sebelum mereka, yaitu kaum musyrik Mekah, sebagian besar kaum Nabi Nuh juga telah mendustakan dan menolak dakwah hamba Kami. Maka mereka mendustakan Nabi Nuh, hamba Kami yang terpilih, dan mengatakan, Dia adalah orang gila! Lalu diusirnya dengan ancaman, ejekan, dan makian dari hampir seluruh kaumnya.

10

فَدَعَا رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَغْلُوْبٌ فَانْتَصِرْ

Fa da‘ā rabbahū annī maglūbun fantaṣir.

Dia (Nuh) lalu mengadu kepada Tuhannya, “Sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka tolonglah (aku).”

Pembangkangan kaum Nabi Nuh makin menjadi. Meski sudah didakwahi sekian ratus tahun, hanya segelintir kaumnya yang beriman. Maka dia menengadahkan tangan, mengadu kepada Tuhannya, Sesungguhnya aku telah dikalahkan dengan keingkaran dan perlakuan buruk kaumku, maka tolonglah aku, wahai Tuhan Pemeliharaku.

11

فَفَتَحْنَآ اَبْوَابَ السَّمَاۤءِ بِمَاۤءٍ مُّنْهَمِرٍۖ

Fa fataḥnā abwābas-samā’i bimā’im munhamir(in).

Lalu, Kami membukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah.

Allah meperkenankan doa Nabi Nuh, lalu Kami bukakan pintu-pintu langit, yaitu awan yang mencurahkan hujan dan membanjiri permukiman kaum Nabi Nuh dengan air yang tercurah deras,

12

وَّفَجَّرْنَا الْاَرْضَ عُيُوْنًا فَالْتَقَى الْمَاۤءُ عَلٰٓى اَمْرٍ قَدْ قُدِرَ ۚ

Wa fajjarnal-arḍa ‘uyūnan faltaqal-mā’u ‘alā amrin qad qudir(a).

Kami pun menjadikan bumi menyemburkan banyak mata air. Maka, berkumpullah semua air itu sehingga (meluap dan menimbulkan) bencana yang telah ditetapkan.

dan selain itu Kami jadikan bumi menyemburkan mata-mata air. Karena dahsyatnya peristiwa itu, maka bertemulah air-air yang tercurah dari langit dan tersembur dari bumi itu sehingga meluap dan menimbulkan keadaan dan bencana yang telah ditetapkan untuk menghukum kaum yang mengingkari rasulnya.

13

وَحَمَلْنٰهُ عَلٰى ذَاتِ اَلْوَاحٍ وَّدُسُرٍۙ

Wa ḥamalnāhu ‘alā żāti alwāḥiw wa dusur(in).

Kami mengangkut dia (Nuh) ke atas (kapal) yang terbuat dari papan dan pasak

Limpahan air dari langit dan pancarannya dari bumi merupakan azab bagi kaum Nabi Nuh yang ingkar. Dan Kami angkut serta selamatkan dia bersama orang-orang yang beriman ke atas kapal yang terbuat dari papan yang disusun dan diikat dengan pasak,

14

تَجْرِيْ بِاَعْيُنِنَاۚ جَزَاۤءً لِّمَنْ كَانَ كُفِرَ

Tajrī bi’a‘yuninā, jazā’al liman kāna kufir(a).

yang berlayar dengan pengawasan Kami sebagai balasan (kebaikan) bagi orang yang telah diingkari (kaumnya).

yang berlayar dengan pemeliharaan dan pengawasan Kami, sebagai ganjaran dan balasan bagi orang yang telah diingkari oleh kaumnya.

15

وَلَقَدْ تَّرَكْنٰهَآ اٰيَةً فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ

Wa laqat taraknāhā āyatan fahal mim muddakir(in).

Sungguh, Kami benar-benar telah menjadikan (kapal) itu sebagai tanda (pelajaran). Maka, adakah orang yang mau mengambil pelajaran?

Dan sungguh, kapal itu telah Kami awetkan dan Kami jadikan sebagai tanda dan pelajaran bagi kaum yang datang kemudian. Maka, adakah orang yang mau dan bersungguh-sungguh mengambil pelajaran dari peristiwa itu? Bila hal itu tidak menyadarkannya untuk menaati ajakan rasul,

16

فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِيْ وَنُذُرِ

Fa kaifa kāna ‘ażābī wa nużur(i).

Betapa dahsyatnya azab dan peringatan-Ku!

maka perhatikan betul-betul betapa dahsyatnya azab-Ku dan peringatan-Ku.

17

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ

Wa laqad yassarnal-qur’āna liż-żikri fahal mim muddakir(in).

Sungguh, Kami benar-benar telah memudahkan Al-Qur’an sebagai pelajaran. Maka, adakah orang yang mau mengambil pelajaran?

Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi semua manusia, maka adakah di antara mereka yang mau mengambil pelajaran sehingga Allah melimpahkan karunia kepada-nya dan membantunya memahami kitab suci ini?

18

كَذَّبَتْ عَادٌ فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِيْ وَنُذُرِ

Każżabat ‘ādun fa kaifa kāna ‘ażābī wa nużur(i).

(Kaum) ‘Ad pun telah mendustakan (rasul mereka). Maka, betapa dahsyatnya azab dan peringatan-Ku!

Sebagaimana kaum Nabi Nuh, kaum ‘Ad pun mengingkari dakwah nabi mereka, Nabi Hud. Kaum ‘Ad pun telah mendustakan Nabi Hud yang telah Kami utus kepada mereka. Kami binasakan mereka, maka lihatlah betapa dahsyatnya azab-Ku dan peringatan-Ku yang telah Kusampaikan melalui rasul-rasul-Ku.

19

اِنَّآ اَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيْحًا صَرْصَرًا فِيْ يَوْمِ نَحْسٍ مُّسْتَمِرٍّۙ

Innā arsalnā ‘alaihim rīḥan ṣarṣaran fī yaumi naḥsim mustamirr(in).

Sesungguhnya Kami telah mengembuskan angin yang sangat kencang kepada mereka pada hari nahas yang terus-menerus,

Sebagai hukuman atas keingkaran kaum ‘Ad, sesungguhnya Kami telah mengembuskan angin yang sangat kencang kepada mereka pada hari yang mereka anggap sebagai hari nahas. Embusan yang tidak ada bandingannya itu terjadi secara terus-menerus.

20

تَنْزِعُ النَّاسَۙ كَاَنَّهُمْ اَعْجَازُ نَخْلٍ مُّنْقَعِرٍ

Tanzi‘un-nās(a), ka’annahum a‘jāzu nakhlim munqa‘ir(in).

yang membuat manusia bergelimpangan, seakan-akan mereka itu pohon-pohon kurma yang tumbang dengan akar-akarnya.

Allah mengembuskan angin mahadahsyat yang membuat manusia durhaka itu bergelimpangan seakan-akan mereka bagaikan pohon-pohon kurma yang tumbang dengan akar-akarnya.

21

فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِيْ وَنُذُرِ

Fa kaifa kāna ‘ażābī wa nużur(i).

Maka, betapa dahsyatnya azab dan peringatan-Ku!

Maka perhatikanlah betapa dahsyatnya azab-Ku dan peringatan-Ku kepada orang-orang yang ingkar dan durhaka.

22

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ ࣖ

Wa laqad yassarnal-qur’āna liż-żikri fahal mim muddakir(in).

Sungguh, Kami benar-benar telah memudahkan Al-Qur’an sebagai pelajaran. Maka, adakah orang yang mau mengambil pelajaran?

Peristiwa yang menimpa kaum ‘Ad merupakan pelajaran berharga bagi orang yang mau memperhatikan. Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi semua manusia. Maka, adakah di antara mereka orang yang mau mengambil pelajaran sehingga Allah melimpahkan karunia kepadanya dan membantunya memahami kitab suci ini?

23

كَذَّبَتْ ثَمُوْدُ بِالنُّذُرِ

Każżabat ṡamūdu bin-nużur(i).

(Kaum) Samud pun telah mendustakan peringatan-peringatan.

Seperti kaum Nabi Nuh dan kaum ‘Ad, kaum Samud pun mengingkari dakwah nabi mereka, Nabi Saleh. Kaum Samud pun telah mendustakan rasul Allah dan peringatan itu

24

فَقَالُوْٓا اَبَشَرًا مِّنَّا وَاحِدًا نَّتَّبِعُهٗٓ ۙاِنَّآ اِذًا لَّفِيْ ضَلٰلٍ وَّسُعُرٍ

Fa qālū abasyaram minnā wāḥidan nattabi‘uh(ū), innā iżal lafī ḍalāliw wa su‘ur(in).

Mereka berkata, “Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia (biasa) di antara kita? Sesungguhnya kalau begitu kita benar-benar telah sesat dan gila.

Maka mereka berkata, “Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia biasa di antara kita yang tidak memiliki keistimewaan dan pengikut, sedang dia mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan nenek moyang kita? Sungguh, kalau begitu kita benar-benar telah sesat dan gila.

25

ءَاُلْقِيَ الذِّكْرُ عَلَيْهِ مِنْۢ بَيْنِنَا بَلْ هُوَ كَذَّابٌ اَشِرٌ

A’ulqiyaż-żikru ‘alaihi mim baininā bal huwa każżābun asyir(un).

Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Pastilah dia (Saleh) seorang yang sangat pendusta lagi sombong.”

Apakah wahyu itu justru diturunkan kepadanya, bukan kepada orang lain di antara kita yang lebih istimewa dan berpengaruh? Pastilah dia seorang pendusta besar lagi sombong.”

26

سَيَعْلَمُوْنَ غَدًا مَّنِ الْكَذَّابُ الْاَشِرُ

Saya‘lamūna gadam manil-każżābul-asyir(u).

Kelak mereka akan mengetahui siapa yang sebenarnya sangat pendusta lagi sombong itu.

Allah membantah, “Kelak, saat bukti-bukti yang menguatkan kenabiannya ditampakkan, mereka akan mengetahui siapa yang sebenarnya layak disebut sangat pendusta dan sombong itu.”

27

اِنَّا مُرْسِلُوا النَّاقَةِ فِتْنَةً لَّهُمْ فَارْتَقِبْهُمْ وَاصْطَبِرْۖ

Innā mursilun-nāqati fitnatal lahum fartaqibhum waṣṭabir.

Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai ujian bagi mereka, maka tunggulah mereka dan bersabarlah (wahai Saleh).

Sesungguhnya Kami akan menciptakan dan mengirimkan seekor unta betina sebagai mukjizat yang membuktikan kebenaran Nabi Saleh dan sebagai cobaan bagi mereka, apakah mereka beriman atau tidak. Maka sesudah kami kirimkan unta itu, tunggulah tindakan mereka kepadanya dan bersabarlah menanti tindakan Kami terhadap mereka.

28

وَنَبِّئْهُمْ اَنَّ الْمَاۤءَ قِسْمَةٌ ۢ بَيْنَهُمْۚ كُلُّ شِرْبٍ مُّحْتَضَرٌ

Wa nabbi’hum annal-mā’a qismatum bainahum, kullu syirbim muḥtaḍar(un).

Beri tahulah mereka bahwa air itu dibagi di antara mereka (dengan unta betina itu). Setiap pihak berhak mendapat giliran minum.

Wahai Nabi Saleh, dan beritahukanlah kepada mereka, yaitu kaum Samud, bahwa air sumur yang menjadi sumber minum mereka itu dibagi di antara mereka dengan unta betina itu; setiap orang berhak mendapat giliran minum dan hanya bisa mengambil jatah sesuai giliran tersebut.

29

فَنَادَوْا صَاحِبَهُمْ فَتَعَاطٰى فَعَقَرَ

Fa nādau ṣāḥibahum fa ta‘āṭā fa ‘aqar(a).

Mereka memanggil kawannya, lalu dia menangkap (unta itu) dan menyembelihnya.

Mereka merasa kecewa dengan pembagian jatah air itu. Maka mereka memanggil kawannya yang dikenal kuat dan kejam untuk membunuh unta itu, lalu dia menangkap unta itu dan memotongnya. Akibat kedurhakaan ini,

30

فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِيْ وَنُذُرِ

Fakaifa kāna ‘ażābī wa nużur(i).

Betapa dahsyatnya azab dan peringatan-Ku!

maka lihatlah betapa dahsyatnya azab-Ku dan peringatan-Ku kepada mereka.

31

اِنَّآ اَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ صَيْحَةً وَّاحِدَةً فَكَانُوْا كَهَشِيْمِ الْمُحْتَظِرِ

Innā arsalnā ‘alaihim ṣaiḥataw wāḥidatan fa kānū kahasyīmil-muḥtaẓir(i).

Kami mengirimkan atas mereka suara menggelegar satu kali. Maka, jadilah mereka seperti batang-batang kering yang lapuk milik pembuat kandang ternak.

Begitu unta tersebut dibunuh, datanglah azab Allah kepada mereka. Kami kirimkan atas mereka satu suara yang keras dan mengguntur, maka dengan sangat cepat jadilah mereka seperti batang-batang kering yang lapuk.

32

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ

Wa laqad yassarnal-qur’āna liż-żikri fahal mim muddakir(in).

Sungguh, Kami benar-benar telah memudahkan Al-Qur’an sebagai pelajaran. Adakah orang yang mau mengambil pelajaran?

Uraian pada ayat-ayat sebelumnya menjadi pelajaran bagi mereka mau berpikir dan mengambil ibrah. Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk dijadikan peringatan, maka adakah orang yang secara sungguh-sungguh mau mengambil pelajaran darinya sehingga Allah melimpahkan karunia dan membantu dia memahami isinya?

33

كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوْطٍ ۢبِالنُّذُرِ

Każżabat qaumu lūṭim bin-nużur(i).

Kaum Lut pun telah mendustakan peringatan-peringatan.

Beralih dari kisah Kaum Samud dan azab yang menimpa mereka, Allah lalu bertutur tentang kisah Nabi Lut. Kaum Lut pun telah mendustakan peringatan nabinya itu.

34

اِنَّآ اَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ حَاصِبًا اِلَّآ اٰلَ لُوْطٍ ۗنَجَّيْنٰهُمْ بِسَحَرٍۙ

Innā arsalnā ‘alaihim ḥāṣiban illā āla lūṭ(in), najjaināhum bisaḥar(in).

Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka badai batu, kecuali pengikut Lut. Kami menyelamatkan mereka sebelum fajar menyingsing

Akibat keingkaran mereka, sesungguhnya Kami kirimkan kepada mereka badai yang berembus amat kencang dan membawa batu-batu untuk kami timpakan kepada mereka, kecuali keluarga Lut. Kami selamatkan mereka dari bencana itu sebelum fajar menyingsing.

35

نِّعْمَةً مِّنْ عِنْدِنَاۗ كَذٰلِكَ نَجْزِيْ مَنْ شَكَرَ

Ni‘matam min ‘indinā, każālika najzī man syakar(a).

sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

Kami lakukan itu semua sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami selalu memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

36

وَلَقَدْ اَنْذَرَهُمْ بَطْشَتَنَا فَتَمَارَوْا بِالنُّذُرِ

Wa laqad anżarahum baṭsyatanā fa tamārau bin-nużur(i).

Sungguh, dia (Lut) benar-benar telah memperingatkan mereka akan hukuman Kami, tetapi mereka membantah peringatan itu.

Allah tidak menimpakan azab itu kepada kaum Nabi Lut secara tiba-tiba karena sebelumnya mereka telah diberi peringatan. Dan sungguh, dia telah memperingatkan mereka agar berhenti dari kedurhakaan yang akan menyebabkan jatuhnya hukuman Kami, tetapi mereka tetap mendustakan peringatan-Ku.

37

وَلَقَدْ رَاوَدُوْهُ عَنْ ضَيْفِهٖ فَطَمَسْنَآ اَعْيُنَهُمْ فَذُوْقُوْا عَذَابِيْ وَنُذُرِ

Wa laqad rāwadūhu ‘an ḍaifihī fa ṭamasnā a‘yunahum fa żūqū ‘ażābī wa nużur(i).

Sungguh, mereka benar-benar telah membujuknya berkali-kali (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka). Lalu, Kami butakan mata mereka. Maka, rasakanlah azab-Ku dan peringatan-peringatan-Ku!

Puncak keingkaran kaum Nabi Lut adalah kebiasaan mereka berhubungan seksual sesama jenis. Suatu hari Nabi Lut kedatangan tamu pria. Mereka pun bergegas ke rumah Nabi Lut. Dan sungguh, mereka telah membujuknya agar menyerahkan tamunya itu kepada mereka untuk diajak berhubungan seksual, lalu Kami butakan mata mereka akibat kedurhakaan ini, maka rasakanlah betapa pedih azab-Ku dan peringatan-Ku!

38

وَلَقَدْ صَبَّحَهُمْ بُكْرَةً عَذَابٌ مُّسْتَقِرٌّۚ

Wa laqad ṣabbaḥahum bukratan ‘ażābum mustaqirr(un).

Sungguh, pada esok harinya mereka benar-benar ditimpa azab yang terus-menerus.

Tidak hanya membutakan mata mereka, Allah juga menimpakan kepada mereka azab yang lebih pedih. Dan sungguh, pada esok harinya mereka benar-benar ditimpa azab yang tetap sehingga binasalah mereka semua.

39

فَذُوْقُوْا عَذَابِيْ وَنُذُرِ

Fa żūqū ‘ażābī wa nużur(i).

Maka, rasakanlah azab-Ku dan peringatan-peringatan-Ku!

Maka rasakanlah betapa pedihnya azab-Ku dan bukti dari peringatan-Ku!

40

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ ࣖ

Wa laqad yassarnal-qur’āna liż-żikri fahal mim muddakir(in).

Sungguh, Kami benar-benar telah memudahkan Al-Qur’an sebagai pelajaran. Maka, adakah orang yang mau mengambil pelajaran?

Allah menuturkan kisah ini untuk mengingatkan betapa besar nikmat-Nya kepada manusia. Allah ingin agar manusia mau mengambil dari kisah itu pelajaran bagi kehidupannya. Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk dijadikan peringatan, maka adakah orang yang secara sungguh-sungguh mau mengambil pelajaran darinya sehingga Allah melimpahkan karunia dan membantunya memahami isinya?

41

وَلَقَدْ جَاۤءَ اٰلَ فِرْعَوْنَ النُّذُرُۚ

Wa laqad jā’a āla fir‘aunan-nużur(u).

Sungguh, berbagai peringatan benar-benar telah datang kepada pengikut Fir‘aun.

Dari kisah kaum Nabi Lut Allah beralih menyebut kisah Fir’aun dan kaumnya. Dan sungguh, peringatan Kami telah datang kepada keluarga Fir’aun dan kaumnya agar mereka beriman kepada Allah Yang Esa.

42

كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا كُلِّهَا فَاَخَذْنٰهُمْ اَخْذَ عَزِيْزٍ مُّقْتَدِرٍ

Każżabū bi’āyātinā kullihā fa’akhażnāhum akhża ‘azīzim muqtadir(in).

Mereka mendustakan semua tanda-tanda (kebesaran) Kami. Maka, Kami mengazab mereka dengan azab (Tuhan) Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa.

Namun, mereka mendustakan mukjizat-mukjizat Kami semuanya yang ditunjukkan oleh Nabi Musa, maka Kami azab mereka dengan azab dari Allah Yang Mahaperkasa, lagi Mahakuasa.

43

اَكُفَّارُكُمْ خَيْرٌ مِّنْ اُولٰۤىِٕكُمْ اَمْ لَكُمْ بَرَاۤءَةٌ فِى الزُّبُرِۚ

Akuffārukum khairum min ulā’ikum am lakum barā’atun fiz-zubur(i).

Apakah orang-orang kafir di lingkunganmu (kaum Quraisy) lebih baik daripada mereka (kaum terdahulu) ataukah kamu telah mempunyai (jaminan) kebebasan (dari azab) dalam kitab-kitab terdahulu?

Allah kemudian mengalihkan arah komunikasi kepada kaum musyrik Mekah. Wahai kaum musyrik, apakah orang-orang kafir di lingkunganmu yang lebih baik daripada mereka yang telah dikisahkan itu, ataukah kamu telah mempunyai jaminan kebebasan dari azab seperti yang tercantum dalam kitab-kitab terdahulu, sehingga kamu bersikeras untuk ingkar?

44

اَمْ يَقُوْلُوْنَ نَحْنُ جَمِيْعٌ مُّنْتَصِرٌ

Am yaqūlūna naḥnu jamī‘um muntaṣir(un).

Bahkan, apakah mereka mengatakan, “Kami adalah golongan yang pasti menang.”

Peringatan itu tidak diperhatikan oleh kaum musyrik Mekah. Atau mereka mengatakan dengan penuh kesombongan, “Kami ini golongan yang sangat kompak dan selalu bersatu. Kami adalah golongan yang pasti menang dalam menghadapi siapa saja.”

45

سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّوْنَ الدُّبُرَ

Sayuhzamul-jam‘u wa yuwallūnad-dubur(a).

Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka berbalik ke belakang (mundur).

Allah menegasikan keyakinan kaum kafir itu . Golongan itu pasti akan dikalahkan oleh kaum yang beriman dan mereka akan mundur ke belakang sambil berlari pontang-panting.

46

بَلِ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ اَدْهٰى وَاَمَرُّ

Balis-sā‘atu mau‘iduhum was-sā‘atu adhā wa amarr(u).

Bahkan hari Kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka. Hari Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.

Kekalahan mereka di dunia bukan akhir segalanya karena di akhirat mereka juga akan menerima azab atas kekafirannya. Bahkan, hari Kiamat itulah hari paling sulit yang dijanjikan oleh Allah kepada mereka, dan hari Kiamat itu lebih dahsyat daripada semua bencana dunia dan lebih pahit karena siksa itu berlanjut tanpa akhir.

47

اِنَّ الْمُجْرِمِيْنَ فِيْ ضَلٰلٍ وَّسُعُرٍۘ

Innal-mujrimīna fī ḍalāliw wa su‘ur(in).

Sesungguhnya para pendurhaka berada dalam kesesatan dan akan berada dalam (neraka) Sa‘ir (yang menyala-nyala).

Uraian tentang peringatan terhadap kaum kafir Mekah diikuti oleh penjelasan mengenai siksa bagi pendosa dan pahala bagi orang yang bertakwa. Sungguh, orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan saat di dunia, dan di akhirat kelak akan berada dalam neraka yang penuh siksa pedih.

48

يَوْمَ يُسْحَبُوْنَ فِى النَّارِ عَلٰى وُجُوْهِهِمْۗ ذُوْقُوْا مَسَّ سَقَرَ

Yauma yusḥabūna fin-nāri ‘alā wujūhihim, żūqū massa saqar(a).

Pada hari (ketika) mereka diseret ke neraka dengan wajah (tertelungkup), (dikatakan kepada mereka,) “Rasakanlah sentuhan (api neraka) Saqar.”

Pada hari mereka yang kafir itu diseret ke neraka pada wajahnya, dikatakan kepada mereka, “Rasakanlah sentuhan api neraka yang sangat panas itu.”

49

اِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ

Innā kulla syai’in khalaqnāhu biqadar(in).

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu sesuai dengan ukuran.

Apa yang terjadi pada semua makhluk sudah ditetapkan oleh Allah. Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran, yaitu suatu sistem dan ketentuan yang telah ditetapkan.

50

وَمَآ اَمْرُنَآ اِلَّا وَاحِدَةٌ كَلَمْحٍ ۢبِالْبَصَرِ

Wa mā amrunā illā wāḥidatun kalamḥim bil-baṣar(i).

Perintah Kami (ketika menghendaki sesuatu) hanyalah (dengan perkataan) sekali saja seperti kejapan mata.

Dan ketahuilah bahwa semua perintah Kami yang menyangkut apa pun hanyalah diungkapkan dengan satu perkataan yang mudah dan cepat, seperti kejapan mata.

51

وَلَقَدْ اَهْلَكْنَآ اَشْيَاعَكُمْ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ

Wa laqad ahlaknā asy-yā‘akum fahal mim muddakir(in).

Sungguh, Kami benar-benar telah membinasakan orang yang (kekafirannya) serupa dengan kamu. Maka, adakah orang yang mau mengambil pelajaran?

Azab atas kaum-kaum terdahulu membuktikan betapa Allah Mahakuasa. Dan sungguh, telah Kami binasakan orang yang kekafirannya serupa dengan kamu, wahai kaum musyrik Mekah. Maka, adakah di antara kamu orang yang mau mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa itu?

52

وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوْهُ فِى الزُّبُرِ

Wa kullu syai’in fa‘alūhu fiz-zubur(i).

Segala sesuatu yang telah mereka perbuat (tertulis) dalam buku-buku catatan (amal).

Kami juga mengetahui apa saja yang berkaitan dengan mereka. Dan untuk membuktikan perilaku mereka, segala sesuatu yang telah mereka perbuat kapan dan di mana pun tercatat dengan rinci oleh malaikat Kami dalam buku-buku catatan.

53

وَكُلُّ صَغِيْرٍ وَّكَبِيْرٍ مُّسْتَطَرٌ

Wa kullu ṣagīriw wa kabīrim mustaṭar(un).

Segala (amalan) yang kecil atau yang besar (semuanya) tertulis (di Lauhulmahfuz).

Dan di samping itu, segala sesuatu baik yang kecil dan remeh maupun yang besar dan penting tertulis di sana dengan rinci.

54

اِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ جَنّٰتٍ وَّنَهَرٍۙ

Innal-muttaqīna fī jannātiw wa nahar(in).

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di taman-taman dan sungai

Bila orang-orang musyrik diseret pada wajahnya ke arah neraka, maka sungguh, orang-orang yang benar-benar bertakwa secara tulus berada di taman-taman dan sungai-sungai yang beragam.

55

فِيْ مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيْكٍ مُّقْتَدِرٍ ࣖ

Fī maq‘adi ṣidqin ‘inda malīkim muqtadir(in).

di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.

Mereka tinggal di tempat yang disenangi dan penuh kebahagiaan, di sisi Tuhan Yang Mahakuasa.

Surat Ar-Rahman

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

اَلرَّحْمٰنُۙ

Ar-raḥmān(u).

(Allah) Yang Maha Pengasih,

Uraian pada akhir Surah al-Qamar tentang keagungan kuasa Allah dan kesempurnaan kodrat-Nya disusul dengan penjelasan mengenai limpahan rahmat Allah kepada makhluk-Nya, yang disebutkan dalam Surah ar-Rahman. Surah ini diawali dengan nama-Nya yang indah. Dialah Allah Yang Maha Pengasih kepada makhluk, baik jin, manusia, hewan, tumbuhan, dan lainnya dalam kehidupan mereka di dunia.

2

عَلَّمَ الْقُرْاٰنَۗ

‘Allamal-qur’ān(a).

telah mengajarkan Al-Qur’an.

Allah menyebut rahmat-Nya yang paling agung. Dialah Tuhan Yang telah mengajarkan Al-Qur’an kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

3

خَلَقَ الْاِنْسَانَۙ

Khalaqal-insān(a).

Dia menciptakan manusia.

Dia juga yang menciptakan manusia,

4

عَلَّمَهُ الْبَيَانَ

‘Allamahul-bayān(a).

Dia mengajarinya pandai menjelaskan.

makhluk yang paling memerlukan tuntunan-Nya, dan kemudian mengajarnya pandai berbicara untuk mengungkapkan ide dalam benaknya.

5

اَلشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍۙ

Asy-syamsu wal-qamaru biḥusbān(in).

Matahari dan bulan (beredar) sesuai dengan perhitungan.

Di antara tanda kekuasaan-Nya adalah bahwa matahari dan bulan beredar pada porosnya menurut perhitungan yang sangat teliti dan tepat tanpa cacat;

6

وَّالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ

Wan-najmu wasy-syajaru yasjudān(i).

Tetumbuhan dan pepohonan tunduk (kepada-Nya).

dan tetumbuhan tak berbatang dan pepohonan berbatang pun keduanya tunduk kepada ketentuan-Nya.

7

وَالسَّمَاۤءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيْزَانَۙ

Was-samā’a rafa‘ahā wa waḍa‘al-mīzān(a).

Langit telah Dia tinggikan dan Dia telah menciptakan timbangan (keadilan dan keseimbangan)

Dan Dia telah menciptakan langit. Langit itu telah ditinggikan-Nya setelah sebelumnya menyatu dengan bumi dalam bentuk gumpalan, dan Dia ciptakan keseimbangan dengan mantap

8

اَلَّا تَطْغَوْا فِى الْمِيْزَانِ

Allā taṭgau fil-mīzān(i).

agar kamu tidak melampaui batas dalam timbangan itu.

agar kamu jangan merusak keseimbangan itu dengan berbuat melampaui batas,

9

وَاَقِيْمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيْزَانَ

Wa aqīmul-wazna bil-qisṭi wa lā tukhsirul-mīzān(a).

Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi timbangan itu.

dan karenanya tegakkanlah keseimbangan itu dalam segala bentuknya, termasuk kepada dirimu atau keluargamu, dengan adil sehingga menguntungkan semua pihak, dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu dengan cara dan bentuk apa pun.

10

وَالْاَرْضَ وَضَعَهَا لِلْاَنَامِۙ

Wal-arḍa waḍa‘ahā lil-anām(i).

Bumi telah Dia bentangkan untuk makhluk(-Nya).

Usai menjelaskan neraca keseimbangan di alam semesta, Allah kemudian berbicara tentang bumi. Dan di samping langit yang diatur dengan baik, bumi pun telah dibentangkan dan dihamparkan-Nya untuk kenyamanan semua makhluk yang menghuninya.

11

فِيْهَا فَاكِهَةٌ وَّالنَّخْلُ ذَاتُ الْاَكْمَامِۖ

Fīhā fākihatuw wan-nakhlu żātul-akmām(i).

Padanya terdapat buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang,

Bumi tidak hanya dihamparkan. Di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang,

12

وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُۚ

Wal-ḥabbu żul-‘aṣfi war-raiḥān(u).

biji-bijian yang berkulit, dan bunga-bunga yang harum baunya.

tempat buah sebelum kemunculannya, dan ada pula biji-bijian yang berkulit pelindung dan bunga-bunga yang harum baunya.

13

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Setelah memaparkan nikmat dan anugerah-Nya, Allah lalu menantang jin dan manusia, “Wahai manusia dan jin, nikmat-nikmat Allah begitu banyak, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan, Apakah nikmat yang sudah disebutkan ataukah yang lainnya?

14

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ

Khalaqal-insāna min ṣalṣālin kal-fakhkhār(i).

Dia telah menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar.

Setelah menjelaskan penciptaan langit dan bumi seisinya, Allah menjelaskan penciptaan manusia dan jin. Dia menciptakan jenis manusia dari tanah kering seperti tembikar,

15

وَخَلَقَ الْجَاۤنَّ مِنْ مَّارِجٍ مِّنْ نَّارٍۚ

Wa khalaqal-jānna mim mārijim min nār(in).

Dia juga telah menciptakan jin dari nyala api tanpa asap.

dan Dia menciptakan jenis jin dari nyala api yang murni tanpa asap.

16

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

17

رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِۚ

Rabbul-masyriqaini wa rabbul-magribain(i).

(Dialah) Tuhan kedua tempat terbit (matahari pada musim panas dan musim dingin) dan Tuhan kedua tempat terbenam (matahari pada kedua musim itu).

Allah Yang Maha Pencipta itu adalah Tuhan yang memelihara dan mengendalikan dua timur, yaitu dua tempat terbit matahari pada musim panas dan musim dingin, dan Dia pula Tuhan yang memelihara dan mengendalikan dua barat, yaitu tempat terbenamnya matahari pada kedua musim tersebut.

18

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

19

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيٰنِۙ

Marajal-baḥraini yaltaqiyān(i).

Dia membiarkan dua laut (tawar dan asin) bertemu.

Dia membiarkan bebas dua laut mengalir berdampingan yang kemudian keduanya bertemu pada permukaannya.

20

بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَّا يَبْغِيٰنِۚ

Bainahumā barzakhul lā yabgiyān(i).

Di antara keduanya ada pembatas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.

Di antara keduanya ada batas yang diciptakan Allah sehingga batas itu tidak dilampaui oleh masing-masing.

21

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Keduanya tidak bercampur atau melampaui batas tersebut. Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

22

يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُۚ

Yakhruju minhumal-lu’lu’u wal-marjān(u).

Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.

Demikianlah Allah membiarkan kedua laut itu mengalir berdampingan. Dari keduanya keluar atau ditemukan mutiara dan marjan yang indah.

23

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

24

وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنْشَاٰتُ فِى الْبَحْرِ كَالْاَعْلَامِۚ

Wa lahul-jawāril-munsya’ātu fil-baḥri kal-a‘lām(i).

Milik-Nyalah (bahtera) buatan manusia yang berlayar di laut laksana gunung-gunung.

Hanya milik-Nyalah kapal-kapal yang berlayar di lautan yang tampak bagaikan gunung-gunung yang menjulang tinggi.

25

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ ࣖ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

26

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍۖ

Kullu man ‘alaihā fān(in).

Semua yang ada di atasnya (bumi) itu akan binasa.

Usai menjelaskan anugerah-Nya bagi kelangsungan hidup makhluk di bumi, Allah mengingatkan bahwa semua itu tidak akan membuat mereka kekal. Semua yang ada di bumi itu akan binasa,

27

وَّيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِۚ

Wa yabqā wajhu rabbika żul-jalāli wal-ikrām(i).

(Akan tetapi,) wajah (zat) Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.

mati dan meninggalkan dunia ini, tetapi wajah atau Zat Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan itu tetap kekal.

28

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

29

يَسْـَٔلُهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِيْ شَأْنٍۚ

Yas’aluhū man fis-samāwāti wal-arḍ(i), kulla yaumin huwa fī sya’n(in).

Siapa yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap hari Dia menangani urusan.

Dalam kehidupan ini, apa saja yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya untuk memenuhi hajat hidup mereka. Karenanya, setiap waktu Dia terus berada dalam kesibukan mengatur dan memenuhi kebutuhan makhluk-Nya.

30

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?

31

سَنَفْرُغُ لَكُمْ اَيُّهَ الثَّقَلٰنِۚ

Sanafrugu lakum ayyuhaṡ-ṡaqalān(i).

Kami akan mencurahkan perhatian kepadamu, wahai manusia dan jin.

Kami bersama para malaikat akan memberi perhatian sepenuhnya kepadamu, wahai golongan manusia dan jin. Kami akan melakukan perhitungan secara cermat atas semua perbuatanmu.

32

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

33

يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ اِنِ اسْتَطَعْتُمْ اَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ اَقْطَارِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ فَانْفُذُوْاۗ لَا تَنْفُذُوْنَ اِلَّا بِسُلْطٰنٍۚ

Yā ma‘syaral-jinni wal-insi inistaṭa‘tum an tanfużū min aqṭāris-samāwāti wal-arḍi fanfużū, lā tanfużūna illā bisulṭān(in).

Wahai segenap jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya, kecuali dengan kekuatan (dari Allah).

Allah menegaskan bahwa manusia dan jin tidak akan dapat menghindar dari pertanggung jawaban. Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus atau melintasi penjuru langit dan bumi untuk menghindari pertanggung jawaban dan balasan yang akan menimpamu, maka keluar dan tembuslah keduanya. Ketauhilah, kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan, sedangkan kamu sama sekali tidak mempunyai kekuatan itu.

34

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

35

يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِّنْ نَّارٍۙ وَّنُحَاسٌ فَلَا تَنْتَصِرَانِۚ

Yursalu ‘alaikumā syuwāẓum min nār(in), wa nuḥāsun falā tantaṣirān(i).

Kepadamu, (wahai jin dan manusia,) disemburkan nyala api dan (ditumpahkan) cairan tembaga panas sehingga kamu tidak dapat menyelamatkan diri.

Wahai jin dan manusia, bila kamu berupaya menembus langit dan bumi, maka kepada kamu akan dikirim nyala api dan cairan tembaga panas yang meleleh sehingga kamu tidak dapat menyelamatkan diri dari-nya.

36

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

37

فَاِذَا انْشَقَّتِ السَّمَاۤءُ فَكَانَتْ وَرْدَةً كَالدِّهَانِۚ

Fa iżansyaqqatis-samā’u fa kānat wardatan kad-dihān(i).

Maka, apabila langit terbelah, lalu (warnanya) menjadi merah mawar seperti (kilauan) minyak, (terjadilah kengerian yang hebat).

Usai menjelaskan ketidakmampuan manusia menghindar dari pertanggung jawaban, Allah menguraikan keadaan pada hari kemudian. Maka apabila langit telah terbelah karena takut dengan balasan Allah dan menjadi merah mawar seperti kilauan minyak akibat panas yang menerpanya.

38

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

39

فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُسْـَٔلُ عَنْ ذَنْۢبِهٖٓ اِنْسٌ وَّلَا جَاۤنٌّۚ

Fa yauma’iżil lā yus’alu ‘an żambihī insuw wa lā jānn(un).

Maka, pada hari itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya

Maka pada hari ketika langit terbelah itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya, melainkan ditanya untuk diminta pertanggung jawabannya.

40

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

41

يُعْرَفُ الْمُجْرِمُوْنَ بِسِيْمٰهُمْ فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِيْ وَالْاَقْدَامِۚ

Yu‘raful-mujrimūna bisīmāhum fa yu’khażu bin-nawāṣī wal-aqdām(i).

Para pendosa dikenali dengan tanda-tandanya, lalu direnggut ubun-ubun dan kakinya.

Orang-orang yang berdosa itu diketahui dengan tanda-tandanya, lalu dengan mudah mereka direnggut ubun-ubun dan kakinya untuk dilempar ke neraka. Ini merupakan peringatan keras Allah kepada para jin dan manusia.

42

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

43

هٰذِهٖ جَهَنَّمُ الَّتِيْ يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُوْنَۘ

Hāżihī jahannamul-latī yukażżibu bihal-mujrimūn(a).

Inilah (neraka) Jahanam yang didustakan oleh para pendosa.

Kepada mereka dikatakan, “Inilah neraka Jahanam yang selalu di dustakan oleh orang-orang yang berdosa, termasuk olehmu.”

44

يَطُوْفُوْنَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ حَمِيْمٍ اٰنٍۚ

Yaṭūfūna bainahā wa baina ḥamīmin ān(in).

Mereka bolak-balik di antaranya (api neraka) dan air mendidih yang sangat panas.

Mereka ber-keliling berulang kali di sana, di antara neraka itu, dan di antara air yang mendidih karena panas api neraka.

45

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ ࣖ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

46

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ جَنَّتٰنِۚ

Wa liman khāfa maqāma rabbihī jannatān(i).

Bagi siapa yang takut pada keagungan Tuhannya disediakan dua surga.

Selain menyediakan siksa bagi pendurhaka, Allah juga menjanjikan pahala bagi orang yang bertakwa. Dan bagi siapa yang takut akan keagungan dan kekuasaan-Nya pada saat menghadap Tuhannya sehingga ia terdorong untuk beramal saleh, baginya ada dua surga.

47

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۙ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

48

ذَوَاتَآ اَفْنَانٍۚ

Żawātā afnān(in).

Kedua surga itu mempunyai (pepohonan) yang bercabang-cabang.

Kedua surga yang Allah janjikan kepada orang yang bertakwa itu mempunyai aneka pepohonan yang rindang dan buah-buahan yang beraneka ragam dan menyenangkan

49

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

Fabi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

50

فِيْهِمَا عَيْنٰنِ تَجْرِيٰنِۚ

Fīhimā ‘aināni tajriyān(i).

Di dalam kedua (surga) itu terdapat dua mata air yang memancar.

Tidak hanya pepohonan dengan buahnya yang beraneka ragam, di dalam kedua surga itu ada pula dua buah mata air yang memancar, mengeluarkan air yang jernih.

51

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

52

فِيْهِمَا مِنْ كُلِّ فَاكِهَةٍ زَوْجٰنِۚ

Fīhimā min kulli fākihatin zaujān(i).

Di dalam kedua (surga) itu terdapat aneka buah-buahan yang berpasang-pasangan.

Selain itu, di dalam kedua surga itu terdapat aneka buah-buahan yang berpasang-pasangan.

53

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

54

مُتَّكِـِٕيْنَ عَلٰى فُرُشٍۢ بَطَاۤىِٕنُهَا مِنْ اِسْتَبْرَقٍۗ وَجَنَا الْجَنَّتَيْنِ دَانٍۚ

Muttaki’īna ‘alā furusyim baṭā’inuhā min istabraq(in), wa janal-jannataini dān(in).

Mereka berbaring di atas permadani yang bagian dalamnya (terbuat) dari sutera tebal. Buah-buahan di kedua surga itu (dapat) dipetik dari dekat.

Para penghuni surga itu sangat menikmati anugerah Allah. Mereka bersandar dengan santai di atas permadani yang bagian dalamnya terbuat dari sutera tebal. Dan buah-buahan di kedua surga itu sangat dekat sehingga dapat dipetik dari dekat, tanpa perlu beranjak dari tempat mereka bersandar.

55

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

56

فِيْهِنَّ قٰصِرٰتُ الطَّرْفِۙ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ اِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَاۤنٌّۚ

Fīhinna qāṣirātuṭ-ṭarf(i), lam yaṭmiṡhunna insun qablahum wa lā jānn(un).

Di dalamnya ada (bidadari) yang membatasi pandangan (hanya untuk pasangannya) yang tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka dan tidak (pula) oleh jin.

Tidak saja buah-buahan, di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang menjadi pasangan para pria penghuni surga, dan bagi wanita ada pula pasangannya, yang amat santun sehingga membatasi pandangan dan tidak menoleh kecuali kepada pasangannya. Mereka itu perawan yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya.

57

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

58

كَاَنَّهُنَّ الْيَاقُوْتُ وَالْمَرْجَانُۚ

Ka’annahunnal-yāqūtu wal-marjān(u).

Seakan-akan mereka itu permata yakut dan marjan.

Para bidadari itu demikian cantik dan sedap dipandang seakan-akan mereka itu permata yakut dan marjan.

59

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

60

هَلْ جَزَاۤءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُۚ

Hal jazā’ul-iḥsāni illal-iḥsān(u).

Adakah balasan kebaikan selain kebaikan (pula)?

Tidak ada balasan untuk amal kebaikan selain anugerah Ilahi yang berupa kebaikan pula.

61

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

62

وَمِنْ دُوْنِهِمَا جَنَّتٰنِۚ

Wa min dūnihimā jannatān(i).

Selain dari kedua (surga) itu ada dua surga (lagi).

Bila pada ayat yang lalu Allah menjelaskan keadaan surga, pada ayat ini Dia menerangkan suasana surga yang lain lagi. Dan selain dari dua surga yang telah dijelaskan itu masih ada dua surga lagi.

63

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۙ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

64

مُدْهَاۤمَّتٰنِۚ

Mudhāmmatān(i).

Kedua surga itu (terlihat warnanya) hijau tua.

Kedua surga yang lain itu tampak hijau tua warnanya karena lebat-nya pepohonan.

65

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

66

فِيْهِمَا عَيْنٰنِ نَضَّاخَتٰنِۚ

Fīhimā ‘aināni naḍḍākhatān(i).

Di dalam keduanya ada dua mata air yang memancar tanpa henti.

Di dalam keduanya ada dua buah mata air yang memancar dan mengeluarkan air yang jernih dan segar.

67

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

68

فِيْهِمَا فَاكِهَةٌ وَّنَخْلٌ وَّرُمَّانٌۚ

Fīhimā fākihatuw wa nakhluw wa rummān(un).

Di dalam keduanya ada buah-buahan (antara lain) kurma dan delima.

Di dalam kedua surga itu juga ada buah-buahan, kurma, dan delima yang lezat dan manis.

69

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

70

فِيْهِنَّ خَيْرٰتٌ حِسَانٌۚ

Fīhinna khairātun ḥisān(un).

Di dalamnya ada (bidadari) yang mulia (akhlaknya) lagi jelita.

Di dalam surga-surga itu juga ada bidadari-bidadari yang baik-baik dan cantik jelita sebagai pasangan para penghuninya.

71

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

72

حُوْرٌ مَّقْصُوْرٰتٌ فِى الْخِيَامِۚ

Ḥūrum maqṣūrātun fil-khiyām(i).

Bidadari-bidadari yang dipingit dalam kemah-kemah.

Bidadari-bidadari yang terdapat dalam kedua surga itu dipelihara dan dijaga di dalam kemah-kemah.

73

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

74

لَمْ يَطْمِثْهُنَّ اِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَاۤنٌّۚ

Lam yaṭmiṡhunna insun qablahum wa lā jānn(un).

Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka dan tidak (pula) oleh jin.

Para bidadari itu terjaga dengan baik. Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia maupun oleh jin sebelumnya.

75

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

76

مُتَّكِـِٕيْنَ عَلٰى رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَّعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍۚ

Muttaki’īna ‘alā rafrafin khuḍriw wa ‘abqariyyin ḥisān(in).

Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah.

Mereka, para bidadari, bersandar pada bantal-bantal empuk yang berwarna hijau dan permadani-permadani yang indah.

77

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ

Fa bi’ayyi ālā’i rabbikumā tukażżibān(i).

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?

Maka, wahai manusia dan jin, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

78

تَبٰرَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِى الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِ ࣖ

Tabārakasmu rabbika żil-jalāli wal-ikrām(i).

Maha Berkah nama Tuhanmu Pemilik keagungan dan kemuliaan.

Demikianlah nikmat-nikmat Tuhanmu, wahai manusia dan jin. Akhirnya, wahai Nabi Muhammad, Mahasuci nama Tuhanmu, pemilik keagungan dan kemuliaan.

Surat Al-Waqi’ah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

اِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُۙ

Iżā waqa‘atil-wāqi‘ah(tu).

Apabila terjadi hari Kiamat (yang pasti terjadi),

Allah mengawali surah ini dengan penjelasan tentang hari akhir yang Dia tetapkan sebagai tanda dimulainya balasan bagi hamba. Apabila terjadi hari kiamat pada akhir kehidupan dunia kelak

2

لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ ۘ

Laisa liwaq‘atihā kāżibah(tun).

tidak ada seorang pun yang (dapat) mendustakan terjadinya.

terjadinya peristiwa dahsyat ini tidak dapat didustakan atau disangkal oleh siapa pun. Peristiwa ini merupakan ketetapan Allah yang pasti terjadi.

3

خَافِضَةٌ رَّافِعَةٌ

Khāfiḍatur rāfi‘ah(tun).

(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain).

Peristiwa itu akan merendahkan golongan yang ingkar kepada Allah dan meninggikan golongan lain yang beriman, melaksanakan perintah Allah, dan meninggalkan larangan-Nya.

4

اِذَا رُجَّتِ الْاَرْضُ رَجًّاۙ

Iżā rujjatil-arḍu rajjā(n).

Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya

Apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya pada saat kiamat dan gempa hebat di seluruh penjuru bumi menghancurkan apa saja yang ada di atasnya (lihat pula: Surah az-Zalzalah/99: 1),

5

وَّبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّاۙ

Wa bussatil-jibālu bassā(n).

dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya,

dan ketika itu gunung-gunung dihancur-luluhkan seluluh-luluhnya,

6

فَكَانَتْ هَبَاۤءً مُّنْۢبَثًّاۙ

Fa kānat habā’am mumbaṡṡā(n).

jadilah ia debu yang beterbangan.

maka jadilah ia debu yang beterbangan bagai bulu tertiup angin ke segala arah (lihat pula: Su-rah al-Qriah/101: 5).

7

وَّكُنْتُمْ اَزْوَاجًا ثَلٰثَةً ۗ

Wa kuntum azwājan ṡalāṡah(tan).

Kamu menjadi tiga golongan,

Dan pada saat kiamat itu kamu, wahai manusia, akan terbagi menjadi tiga golongan.

8

فَاَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِ ەۙ مَآ اَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِ ۗ

Fa aṣḥābul-maimanah(ti), mā aṣḥābul-maimanah(ti).

yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu

Yaitu golongan kanan; mereka itulah orang yang beriman kepada Allah, melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Alangkah mulianya golongan kanan itu karena mereka akan mendapat karunia yang Dia janjikan.

9

وَاَصْحٰبُ الْمَشْـَٔمَةِ ەۙ مَآ اَصْحٰبُ الْمَشْـَٔمَةِ ۗ

Wa aṣḥābul-masy’amah(ti), mā aṣḥābul-masy’amah(ti).

dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu.

Dan yang kedua adalah golongan kiri, yaitu mereka yang ingkar dan berbuat kemaksiatan. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu karena mereka akan mendapat hukuman akibat kemungkarannya.

10

وَالسّٰبِقُوْنَ السّٰبِقُوْنَۙ

Was-sābiqūnas-sābiqūn(a).

Selain itu, (golongan ketiga adalah) orang-orang yang paling dahulu (beriman). Merekalah yang paling dahulu (masuk surga).

Dan yang ketiga adalah orang-orang yang paling dahulu beriman pada dakwah Rasulullah. Karena itu, merekalah yang paling dulu masuk surga sebagai balasan atas keimanan dan ketaatannya.

11

اُولٰۤىِٕكَ الْمُقَرَّبُوْنَۚ

Ulā’ikal-muqarrabūn(a).

Mereka itulah orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).

Mereka yang pertama beriman itu adalah orang-orang yang dekat kepada Allah. Sebagai balasan, mereka akan mendapat rahmat-Nya,

12

فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِ

Fī jannātin-na‘īm(i).

(Mereka) berada dalam surga (yang penuh) kenikmatan.

yaitu berada dalam surga yang penuh kenikmatan sebagaimana yang Dia janjikan.

13

ثُلَّةٌ مِّنَ الْاَوَّلِيْنَۙ

Ṡullatum minal-awwalīn(a).

(Mereka adalah) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu

Ayat-ayat ini menerangkan kenikmatan yang akan mereka terima di surga tersebut. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu beriman kepada Allah

14

وَقَلِيْلٌ مِّنَ الْاٰخِرِيْنَۗ

Wa qalīlum minal-ākhirīn(a).

dan sedikit dari orang-orang yang (datang) kemudian.

dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian yang tetap teguh dalam ketaatan dan tauhid akan mendapat balasan yang Dia janjikan.

15

عَلٰى سُرُرٍ مَّوْضُوْنَةٍۙ

‘Alā sururim mauḍūnah(tin).

(Mereka berada) di atas dipan-dipan yang bertatahkan emas dan permata

Mereka berada di atas dipan yang kukuh dan indah karena bertahta emas dan permata,

16

مُّتَّكِـِٕيْنَ عَلَيْهَا مُتَقٰبِلِيْنَ

Muttaki’īna ‘alaihā mutaqābilīn(a).

seraya bersandar di atasnya saling berhadapan.

seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan sambil mensyukuri nikmat yang mereka terima.

17

يَطُوْفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُوْنَۙ

Yaṭūfu ‘alaihim wildānum mukhalladūn(a).

Mereka dikelilingi oleh anak-anak yang selalu muda

Di surga itu mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda dan selalu menyenangkan bila dipandang.

18

بِاَكْوَابٍ وَّاَبَارِيْقَۙ وَكَأْسٍ مِّنْ مَّعِيْنٍۙ

Bi’akwābiw wa abārīq(a), wa ka’sim mim ma‘īn(in).

dengan (membawa) gelas, kendi, dan seloki (berisi minuman yang diambil) dari sumber yang mengalir.

Anak-anak muda itu melayani mereka dengan membawa gelas, cerek, dan minuman segar yang diambil dari air yang mengalir dari sumber yang tidak pernah kering.

19

لَّا يُصَدَّعُوْنَ عَنْهَا وَلَا يُنْزِفُوْنَۙ

Lā yuṣadda‘ūna ‘anhā wa lā yunzifūn(a).

Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk.

Mereka juga mendapat minuman anggur yang tidak memabukkan sehingga mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk.

20

وَفَاكِهَةٍ مِّمَّا يَتَخَيَّرُوْنَۙ

Wa fākihatim mimmā yatakhayyarūn(a).

(Mereka menyuguhkan pula) buah-buahan yang mereka pilih

Di sana disediakan pula makanan dan buah-buahan yang beragam sehingga mereka mendapatkan buah apa pun yang mereka pilih.

21

وَلَحْمِ طَيْرٍ مِّمَّا يَشْتَهُوْنَۗ

Wa laḥmi ṭairim mimmā yasytahūn(a).

dan daging burung yang mereka sukai.

Dan dihidangkan pula kepada mereka daging burung apa pun yang menggugah selera, seperti yang mereka inginkan.

22

وَحُوْرٌ عِيْنٌۙ

Wa ḥūrun ‘īn(un).

Ada bidadari yang bermata indah

Orang-orang yang beriman itu mendapat karunia dan nikmat saat di surga, dan di sekeliling mereka ada bidadari-bidadari yang cantik jelita dan bermata jeli.

23

كَاَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُوْنِۚ

Ka’amṡālil-lu’lu’il-maknūn(i).

laksana mutiara yang tersimpan dengan baik

Mereka laksana mutiara yang tersimpan baik dan tidak ternoda oleh apa pun.

24

جَزَاۤءًۢ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Jazā’am bimā kānū ya‘malūn(a).

sebagai balasan atas apa yang selama ini mereka kerjakan.

Kami berikan kenikmatan itu sebagai balasan atas keimanan mereka kepada Allah dan kebaikan apa saja yang mereka kerjakan di dunia.

25

لَا يَسْمَعُوْنَ فِيْهَا لَغْوًا وَّلَا تَأْثِيْمًاۙ

Lā yasma‘ūna fīhā lagwaw wa lā ta’ṡīmā(n).

Di sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia dan tidak (pula) percakapan yang menimbulkan dosa,

Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia, seperti gurauan atau perkataan yang tidak bermanfaat, dan tidak pula mereka mendengar perkataan yang menimbulkan dosa.

26

اِلَّا قِيْلًا سَلٰمًا سَلٰمًا

Illā qīlan salāman salāmā(n).

kecuali (yang mereka dengar hanyalah) ucapan, “Salam… salam.”

Tetapi, di dalam sana mereka hanya mendengar ucapan salam hangat dan doa yang menyejukkan.

27

وَاَصْحٰبُ الْيَمِيْنِ ەۙ مَآ اَصْحٰبُ الْيَمِيْنِۗ

Wa aṣḥābul-yamīn(i), mā aṣḥābul-yamīn(i).

Golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu.

Usai menguraikan nikmat bagi orang beriman, pada ayat-ayat ini Allah menjelaskan siapakah golongan kanan itu. Dan sebagian manusia termasuk golongan kanan, yaitu mereka yang beriman dan menaati ajaran Allah. Alangkah bahagianya mereka yang termasuk golongan kanan itu. Mereka pasti akan mendapat balasan surga yang penuh kenikmatan.

28

فِيْ سِدْرٍ مَّخْضُوْدٍۙ

Fī sidrim makhḍūd(in).

(Mereka) berada di antara pohon bidara yang tidak berduri,

Orang yang termasuk golongan kanan itu berada di antara pohon bidara yang tak berduri dengan penuh kegembiraan,

29

وَّطَلْحٍ مَّنْضُوْدٍۙ

Wa ṭalḥim manḍūd(in).

pohon pisang yang (buahnya) bersusun-susun,

dan di sekeliling mereka terdapat pohon pisang yang bersusun-susun buahnya dan telah masak.

30

وَّظِلٍّ مَّمْدُوْدٍۙ

Wa ẓillim mamdūd(in).

naungan yang terbentang luas,

Suasana di tempat itu sangat menyenangkan. Dan di bagian atasnya terdapat naungan yang terbentang luas,

31

وَّمَاۤءٍ مَّسْكُوْبٍۙ

Wa mā’im maskūb(in).

air yang tercurah,

menjadikannya terasa sejuk, dan selain itu terdapat pula air jernih yang tercurah di sana.

32

وَّفَاكِهَةٍ كَثِيْرَةٍۙ

Wa fākihatin kaṡīrah(tin).

buah-buahan yang banyak

Di surga terdapat beragam sayuran dan buah-buahan yang sudah masak dan banyak macamnya.

33

لَّا مَقْطُوْعَةٍ وَّلَا مَمْنُوْعَةٍۙ

Lā maqṭū‘atiw wa lā mamnū‘ah(tin).

yang tidak berhenti berbuah dan tidak terlarang memetiknya,

Pepohonan di dalamnya merupakan tumbuhan yang tidak berhenti berbuah dan tidak terlarang pula bagi penghuni surga untuk mengambilnya.

34

وَّفُرُشٍ مَّرْفُوْعَةٍۗ

Wa furusyim marfū‘ah(tin).

dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.

Bagi mereka disediakan pula tempat istirahat yang dilengkapi pembaringan, dan di atasnya terdapat kasur-kasur yang tebal lagi empuk.

35

اِنَّآ اَنْشَأْنٰهُنَّ اِنْشَاۤءًۙ

Innā ansya’nāhunna insyā’ā(n).

Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari itu) secara langsung,

Selain kenikmatan yang telah diuraikan, sesungguhnya di surga juga terdapat bidadari-bidadari cantik yang Kami ciptakan mereka secara langsung.

36

فَجَعَلْنٰهُنَّ اَبْكَارًاۙ

Faja‘alnāhunna abkārā(n).

lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan

Kami jadikan mereka sebagai gadis-gadis perawan.

37

عُرُبًا اَتْرَابًاۙ

‘Uruban atrābā(n).

yang penuh cinta (lagi) sebaya umurnya,

Mereka selalu penuh dengan cinta lagi sebaya umurnya.

38

لِّاَصْحٰبِ الْيَمِيْنِۗ

Li’aṣḥābil-yamīn(i).

(diperuntukkan)bagi golongan kanan,

Kami ciptakan mereka khusus untuk golongan kanan yang teguh imannya dan selalu menaati aturan Allah.

39

ثُلَّةٌ مِّنَ الْاَوَّلِيْنَۙ

Ṡullatum minal-awwalīn(a).

(yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu

Karunia dan kenikmatan itu diperuntukkan bagi kelompok kanan, yaitu segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu beriman dan menaati ajaran Allah,

40

وَثُلَّةٌ مِّنَ الْاٰخِرِيْنَۗ ࣖ

Wa ṡullatum minal-ākhirīn(a).

dan segolongan besar (pula) dari orang-orang yang kemudian.

dan disiapkan pula bagi segolongan besar pula dari orang-orang yang kemudian dalam memeluk Islam.

41

وَاَصْحٰبُ الشِّمَالِ ەۙ مَآ اَصْحٰبُ الشِّمَالِۗ

Wa aṣḥābusy-syimāl(i), mā aṣḥābusy-syimāl(i).

Golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu.

Beralih dari uraian tentang golongan kanan, Allah pada ayat-ayat berikut menerangkan golongan kiri. Dan orang-orang yang termasuk golongan kiri adalah mereka yang ingkar pada Allah dan selalu berbuat menyimpang. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu karena mereka akan menerima azab sesuai dengan perilakunya di dunia.

42

فِيْ سَمُوْمٍ وَّحَمِيْمٍۙ

Fī samūmiw wa ḥamīm(in).

(Mereka berada) dalam siksaan angin yang sangat panas, air yang mendidih,

Mereka disiksa dalam pusaran angin yang membawa udara amat panas hingga membuat seluruh tubuh mereka melepuh, dan bagi mereka disediakan pula minuman dari air panas yang mendidih sehingga lidah mereka terbakar saat meminumnya.

43

وَّظِلٍّ مِّنْ يَّحْمُوْمٍۙ

Wa ẓillim miy yaḥmūm(in).

dan naungan asap hitam

Demikian pedih azab bagi golongan kiri itu, dan mereka selalu dalam naungan asap yang hitam dari api neraka.

44

لَّا بَارِدٍ وَّلَا كَرِيْمٍ

Lā bāridiw wa lā karīm(in).

yang tidak sejuk dan tidak menyenangkan.

Asap hitam itu membuat suasana di neraka sama sekali tidak sejuk dan tidak pula menyenangkan.

45

اِنَّهُمْ كَانُوْا قَبْلَ ذٰلِكَ مُتْرَفِيْنَۚ

Innahum kānū qabla żālika mutrafīn(a).

Sesungguhnya mereka sebelum ituhidup bermewah-mewah.

Golongan kiri itu mendapat azab yang sangat pedih karena sesungguhnya mereka sebelum itu selalu hidup bermewahan dari harta yang tidak halal,

46

وَكَانُوْا يُصِرُّوْنَ عَلَى الْحِنْثِ الْعَظِيْمِۚ

Wa kānū yuṣirrūna ‘alal-ḥinṡil-‘aẓīm(i).

Mereka terus-menerus mengerjakan dosa yang besar.

dan di samping itu mereka terus menerus mengerjakan dosa besar.

47

وَكَانُوْا يَقُوْلُوْنَ ەۙ اَىِٕذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَّعِظَامًا ءَاِنَّا لَمَبْعُوْثُوْنَۙ

Wa kānū yaqūlūn(a), a’iżā mitnā wa kunnā turābaw wa ‘iẓāman a’innā lamab‘ūṡūn(a).

Mereka berkata, “Apabila kami telahmati menjadi tanah dan tulang-belulang,apakah kami benar-benar akan dibangkitkan (kembali)?

Golongan kiri itu tidak mempercayai adanya hari kebangkitan, dan mereka selalu mengatakan, “Apakah bila kami mati, dikubur, dan menjadi tanah dan tulang belulang kami hancur, apakah sesungguhnya kami akan benar-benar dibangkitkan kembali seperti saat di dunia ini?

48

اَوَاٰبَاۤؤُنَا الْاَوَّلُوْنَ

Awa’ābā’unal-awwalūn(a).

Apakah nenek moyang kami yang terdahulu (akan dibangkitkan pula)?”

Apakah bapak-bapak kami yang sudah meninggal terdahulu juga akan dibangkitkan seperti halnya kami?”

49

قُلْ اِنَّ الْاَوَّلِيْنَ وَالْاٰخِرِيْنَۙ

Qul innal-awwalīna wal-ākhirīn(a).

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan yang kemudian

49-50. Wahai Nabi, katakanlah untuk meyakinkan mereka, “Sesungguhnya orang-orang yang sudah meninggal terdahulu, termasuk kakek moyang mereka, dan orang-orang yang terkemudian, seperti anak cucu mereka, benar-benar akan dikumpulkan di Padang Mahsyar pada waktu tertentu pada hari yang telah dikenal dan ditetapkan.

50

لَمَجْمُوْعُوْنَۙ اِلٰى مِيْقَاتِ يَوْمٍ مَّعْلُوْمٍ

Lamajmū‘ūn(a), ilā mīqāti yaumim ma‘lūm(in).

benar-benar akan dikumpulkan pada waktu tertentu, yaitu hari yang sudah diketahui.

49-50. Wahai Nabi, katakanlah untuk meyakinkan mereka, “Sesungguhnya orang-orang yang sudah meninggal terdahulu, termasuk kakek moyang mereka, dan orang-orang yang terkemudian, seperti anak cucu mereka, benar-benar akan dikumpulkan di Padang Mahsyar pada waktu tertentu pada hari yang telah dikenal dan ditetapkan.

51

ثُمَّ اِنَّكُمْ اَيُّهَا الضَّاۤ لُّوْنَ الْمُكَذِّبُوْنَۙ

Ṡumma innakum ayyuhaḍ-ḍāllūnal-mukażżibūn(a).

Kemudian, sesungguhnya kamu, wahai orang-orang sesat lagi pendusta,

51-53. Kemudian pada kehidupan di akhirat itu, sesungguhnya kamu wahai orang-orang yang sesat dan selalu berbuat dosa dan maksiat lagi mendustakan ayat-ayat Allah dan dakwah Nabi, pasti kamu akan memakan buah pohon zaqqum yang sangat pahit dan tidak enak, dan ketahuilah bahwa kamu tidak hanya memakan satu buah, melainkan akan penuh perutmu dengannya akibat makan dalam jumlah banyak.

52

لَاٰكِلُوْنَ مِنْ شَجَرٍ مِّنْ زَقُّوْمٍۙ

La’ākilūna min syajarim min zaqqūm(in).

pasti akan memakan pohon zaqum.

51-53. Kemudian pada kehidupan di akhirat itu, sesungguhnya kamu wahai orang-orang yang sesat dan selalu berbuat dosa dan maksiat lagi mendustakan ayat-ayat Allah dan dakwah Nabi, pasti kamu akan memakan buah pohon zaqqum yang sangat pahit dan tidak enak, dan ketahuilah bahwa kamu tidak hanya memakan satu buah, melainkan akan penuh perutmu dengannya akibat makan dalam jumlah banyak.

53

فَمَالِـُٔوْنَ مِنْهَا الْبُطُوْنَۚ

Fa māli’ūna minhal-buṭūn(a).

Lalu, kamu akan memenuhi perut-perutmu dengannya.

51-53. Kemudian pada kehidupan di akhirat itu, sesungguhnya kamu wahai orang-orang yang sesat dan selalu berbuat dosa dan maksiat lagi mendustakan ayat-ayat Allah dan dakwah Nabi, pasti kamu akan memakan buah pohon zaqqum yang sangat pahit dan tidak enak, dan ketahuilah bahwa kamu tidak hanya memakan satu buah, melainkan akan penuh perutmu dengannya akibat makan dalam jumlah banyak.

54

فَشٰرِبُوْنَ عَلَيْهِ مِنَ الْحَمِيْمِۚ

Fasyāribūna ‘alaihi minal-ḥamīm(i).

Setelah itu, untuk penawarnya (zaqum) kamu akan meminum air yang sangat panas.

54-56. Wahai orang yang sesat, sesudah memenuhi perut dengan buah zaqqum yang sangat tidak enak itu, kamu akan meminum air yang sangat panas dan membakar lidah. Meski demikian, karena dahaga yang sangat mencekik maka kamu minum air panas itu seperti unta yang sangat haus minum. Itulah beragam hidangan menyakitkan yang Kami sediakan untuk mereka yang selalu ingkar dan berbuat maksiat, pada hari pembalasan”.

55

فَشٰرِبُوْنَ شُرْبَ الْهِيْمِۗ

Fa syāribūna syurbal-hīm(i).

Maka, kamu minum bagaikan unta yang sangat haus.

54-56. Wahai orang yang sesat, sesudah memenuhi perut dengan buah zaqqum yang sangat tidak enak itu, kamu akan meminum air yang sangat panas dan membakar lidah. Meski demikian, karena dahaga yang sangat mencekik maka kamu minum air panas itu seperti unta yang sangat haus minum. Itulah beragam hidangan menyakitkan yang Kami sediakan untuk mereka yang selalu ingkar dan berbuat maksiat, pada hari pembalasan”.

56

هٰذَا نُزُلُهُمْ يَوْمَ الدِّيْنِۗ

Hāżā nuzuluhum yaumad-dīn(i).

Inilah hidangan (untuk) mereka pada hari Pembalasan.”

54-56. Wahai orang yang sesat, sesudah memenuhi perut dengan buah zaqqum yang sangat tidak enak itu, kamu akan meminum air yang sangat panas dan membakar lidah. Meski demikian, karena dahaga yang sangat mencekik maka kamu minum air panas itu seperti unta yang sangat haus minum. Itulah beragam hidangan menyakitkan yang Kami sediakan untuk mereka yang selalu ingkar dan berbuat maksiat, pada hari pembalasan”.

57

نَحْنُ خَلَقْنٰكُمْ فَلَوْلَا تُصَدِّقُوْنَ

Naḥnu khalaqnākum falau lā tuṣaddiqūn(a).

Kami telah menciptakanmu. Mengapa kamu tidak membenarkan (hari Kebangkitan)?

Setelah menjelaskan azab bagi orang yang mengingkari hari kebangkitan, pada ayat-ayat ini Allah menguraikan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang terkait kiamat tersebut. Wahai manusia, Kami Yang Mahakuasa telah menciptakan kamu, maka saat kamu mengetahui hal itu, mengapa kamu tidak membenarkan adanya penciptaan dan kebangkitan?

58

اَفَرَءَيْتُمْ مَّا تُمْنُوْنَۗ

Afa ra’aitum mā tumnūn(a).

Apakah kamu memperhatikan apa yang kamu pancarkan (sperma)?

58-59. Maka adakah kamu perhatikan, wahai manusia yang ingkar, tentang benih manusia yang kamu pancarkan? Kamukah yang menciptakannya untuk kemudian menjadi manusia utuh, atau Kami yang menciptakannya?

59

ءَاَنْتُمْ تَخْلُقُوْنَهٗٓ اَمْ نَحْنُ الْخٰلِقُوْنَ

A’antum takhluqūnahū am naḥnul-khāliqūn(a).

Apakah kamu yang menciptakannya atau Kami Penciptanya?

58-59. Maka adakah kamu perhatikan, wahai manusia yang ingkar, tentang benih manusia yang kamu pancarkan? Kamukah yang menciptakannya untuk kemudian menjadi manusia utuh, atau Kami yang menciptakannya?

60

نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوْقِيْنَۙ

Naḥnu qaddarnā bainakumul-mauta wa mā naḥnu bimasbūqīn(a).

Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami tidak lemah

60-61. Wahai orang yang ingkar, ketahuilah bahwa Kami telah menentukan kematian masing-masing di antara kamu sesuai kehendak Kami, dan Kami sekali-kali tidak pernah merasa lemah untuk menggantikan kamu yang ingkar dengan orang-orang yang seperti kamu di dunia ini, dan Kami berkuasa pula untuk membangkitkan kamu kelak di akhirat dalam keadaan yang tidak kamu ketahui.

61

عَلٰٓى اَنْ نُّبَدِّلَ اَمْثَالَكُمْ وَنُنْشِئَكُمْ فِيْ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

‘Alā an nubaddila amṡālakum wa nunsyi’akum fī mā lā ta‘lamūn(a).

untuk mengubah bentukmu (di hari Kiamat) dan menciptakanmu kelak dalam keadaan yang tidak kamu ketahui.

60-61. Wahai orang yang ingkar, ketahuilah bahwa Kami telah menentukan kematian masing-masing di antara kamu sesuai kehendak Kami, dan Kami sekali-kali tidak pernah merasa lemah untuk menggantikan kamu yang ingkar dengan orang-orang yang seperti kamu di dunia ini, dan Kami berkuasa pula untuk membangkitkan kamu kelak di akhirat dalam keadaan yang tidak kamu ketahui.

62

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ النَّشْاَةَ الْاُوْلٰى فَلَوْلَا تَذَكَّرُوْنَ

Wa laqad ‘alimtumun-nasy’atal-ūlā falau lā tażakkarūn(a).

Sungguh, kamu benar-benar telah mengetahui penciptaan yang pertama. Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

Allah pencipta seluruh makhluk, termasuk manusia. Dan sungguh, wahai orang yang mengingkari kebangkitan, kamu telah mengetahui bahwa Allah Yang Mahakuasa telah melakukan penciptaan manusia yang pertama, maka tentu Dia kuasa pula untuk menghidupkan kembali mereka yang sudah mati pada penciptaan kedua. Maka, mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran dari kekuasaan-Nya itu untuk meyakini adanya kebangkitan? 63-64. Maka terangkanlah kepadaku, wahai pengingkar, tentang benih yang kamu tanam di ladang. Kamukah yang menumbuhkannya hingga menjadi tanaman atau Kamikah yang menumbuhkannya hingga menjadi besar dan berbuah?

63

اَفَرَءَيْتُمْ مَّا تَحْرُثُوْنَۗ

Afara’aitum mā taḥruṡūn(a).

Apakah kamu memperhatikan benih yang kamu tanam?

63-64. Maka terangkanlah kepadaku, wahai pengingkar, tentang benih yang kamu tanam di ladang. Kamukah yang menumbuhkannya hingga menjadi tanaman atau Kamikah yang menumbuhkannya hingga menjadi besar dan berbuah?

64

ءَاَنْتُمْ تَزْرَعُوْنَهٗٓ اَمْ نَحْنُ الزّٰرِعُوْنَ

A’antum tazra‘ūnahū am naḥnuz-zāri‘ūn(a).

Apakah kamu yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkan?

63-64. Maka terangkanlah kepadaku, wahai pengingkar, tentang benih yang kamu tanam di ladang. Kamukah yang menumbuhkannya hingga menjadi tanaman atau Kamikah yang menumbuhkannya hingga menjadi besar dan berbuah?

65

لَوْ نَشَاۤءُ لَجَعَلْنٰهُ حُطَامًا فَظَلْتُمْ تَفَكَّهُوْنَۙ

Lau nasyā’u laja‘alnāhu ḥuṭāman fa ẓaltum tafakkahūn(a).

Seandainya Kami berkehendak, Kami benar-benar menjadikannya hancur sehingga kamu menjadi heran tercengang,

65-67. Sekiranya Kami kehendaki, pepohonan subur dan berbuah lebat yang Kami tumbuhkan itu dapat Kami hancurkan sampai kering dan lumat sehingga tidak lagi bermanfaat. Bila hal ini terjadi maka kamu akan heran dan tercengang sambil berkata, “Sesungguhnya, akibat peristiwa tidak terduga itu, kami benar-benar menderita kerugian yang sangat besar, bahkan kami benar-benar akan menjadi orang yang tidak mendapat hasil apa-apa.”

66

اِنَّا لَمُغْرَمُوْنَۙ

Innā lamugramūn(a).

(sambil berkata,) “Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian.

65-67. Sekiranya Kami kehendaki, pepohonan subur dan berbuah lebat yang Kami tumbuhkan itu dapat Kami hancurkan sampai kering dan lumat sehingga tidak lagi bermanfaat. Bila hal ini terjadi maka kamu akan heran dan tercengang sambil berkata, “Sesungguhnya, akibat peristiwa tidak terduga itu, kami benar-benar menderita kerugian yang sangat besar, bahkan kami benar-benar akan menjadi orang yang tidak mendapat hasil apa-apa.”

67

بَلْ نَحْنُ مَحْرُوْمُوْنَ

Bal naḥnu maḥrūmūn(a).

Bahkan, kami tidak mendapat hasil apa pun.”

65-67. Sekiranya Kami kehendaki, pepohonan subur dan berbuah lebat yang Kami tumbuhkan itu dapat Kami hancurkan sampai kering dan lumat sehingga tidak lagi bermanfaat. Bila hal ini terjadi maka kamu akan heran dan tercengang sambil berkata, “Sesungguhnya, akibat peristiwa tidak terduga itu, kami benar-benar menderita kerugian yang sangat besar, bahkan kami benar-benar akan menjadi orang yang tidak mendapat hasil apa-apa.”

68

اَفَرَءَيْتُمُ الْمَاۤءَ الَّذِيْ تَشْرَبُوْنَۗ

Afa ra’aitumul-mā’al-lażī tasyrabūn(a).

Apakah kamu memperhatikan air yang kamu minum?

68-70. Pernahkah pula kamu memperhatikan air yang kamu minum tiap hari? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan air itu? Ketahuilah, kalau Kami kehendaki niscaya Kami menjadikannya asin sehingga tidak layak minum. Maka, mengapakah kamu tidak bersyukur atas anugerah Allah yang besar itu?

69

ءَاَنْتُمْ اَنْزَلْتُمُوْهُ مِنَ الْمُزْنِ اَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُوْنَ

A’antum anzaltumūhu minal-muzni am naḥnul-munzilūn(a).

Apakah kamu yang menurunkannya dari awan atau Kami yang menurunkan?

68-70. Pernahkah pula kamu memperhatikan air yang kamu minum tiap hari? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan air itu? Ketahuilah, kalau Kami kehendaki niscaya Kami menjadikannya asin sehingga tidak layak minum. Maka, mengapakah kamu tidak bersyukur atas anugerah Allah yang besar itu?

70

لَوْ نَشَاۤءُ جَعَلْنٰهُ اُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُوْنَ

Lau nasyā’u ja‘alnāhu ujājan falau lā tasykurūn(a).

Seandainya Kami berkehendak, Kami menjadikannya asin. Mengapa kamu tidak bersyukur?

68-70. Pernahkah pula kamu memperhatikan air yang kamu minum tiap hari? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan air itu? Ketahuilah, kalau Kami kehendaki niscaya Kami menjadikannya asin sehingga tidak layak minum. Maka, mengapakah kamu tidak bersyukur atas anugerah Allah yang besar itu?

71

اَفَرَءَيْتُمُ النَّارَ الَّتِيْ تُوْرُوْنَۗ

Afa ra’aitumun-nāral-latī tūrūn(a).

Apakah kamu memperhatikan api yang kamu nyalakan?

71-74. Bila kamu sudah memahami siapa yang menurunkan air, maka pernahkah kamu memperhatikan tentang api yang kamu nyalakan dari kayu bakar? Kamukah yang menumbuhkan pohon penghasil kayu bakar itu ataukah Kami yang menumbuhkannya? Ketahuilah, Kami jadikan api itu untuk peringatan dan bahan bakar yang berguna bagi musafir di padang pasir. Dengan anugerah ini, maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Mahabesar.”

72

ءَاَنْتُمْ اَنْشَأْتُمْ شَجَرَتَهَآ اَمْ نَحْنُ الْمُنْشِـُٔوْنَ

A’antum ansya’tum syajaratahā am naḥnul-munsyi’ūn(a).

Apakah kamu yang menumbuhkan kayunya atau Kami yang menumbuhkan?

71-74. Bila kamu sudah memahami siapa yang menurunkan air, maka pernahkah kamu memperhatikan tentang api yang kamu nyalakan dari kayu bakar? Kamukah yang menumbuhkan pohon penghasil kayu bakar itu ataukah Kami yang menumbuhkannya? Ketahuilah, Kami jadikan api itu untuk peringatan dan bahan bakar yang berguna bagi musafir di padang pasir. Dengan anugerah ini, maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Mahabesar.”

73

نَحْنُ جَعَلْنٰهَا تَذْكِرَةً وَّمَتَاعًا لِّلْمُقْوِيْنَۚ

Naḥnu ja‘alnāhā tażkirataw wa matā‘al lil-muqwīn(a).

Kami menjadikannya (api itu) sebagai peringatan dan manfaat bagi para musafir.

71-74. Bila kamu sudah memahami siapa yang menurunkan air, maka pernahkah kamu memperhatikan tentang api yang kamu nyalakan dari kayu bakar? Kamukah yang menumbuhkan pohon penghasil kayu bakar itu ataukah Kami yang menumbuhkannya? Ketahuilah, Kami jadikan api itu untuk peringatan dan bahan bakar yang berguna bagi musafir di padang pasir. Dengan anugerah ini, maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Mahabesar.”

74

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِ ࣖ

Fa sabbiḥ bismi rabbikal-‘aẓīm(i).

Maka, bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Agung.

71-74. Bila kamu sudah memahami siapa yang menurunkan air, maka pernahkah kamu memperhatikan tentang api yang kamu nyalakan dari kayu bakar? Kamukah yang menumbuhkan pohon penghasil kayu bakar itu ataukah Kami yang menumbuhkannya? Ketahuilah, Kami jadikan api itu untuk peringatan dan bahan bakar yang berguna bagi musafir di padang pasir. Dengan anugerah ini, maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Mahabesar.”

75

۞ فَلَآ اُقْسِمُ بِمَوٰقِعِ النُّجُوْمِ

Falā uqsimu bimawāqi‘in-nujūm(i).

Aku bersumpah demi tempat beredarnya bintang-bintang.

75-76. Usai menjelaskan tanda-tanda kekuasan-Nya, Allah beralih menguraikan kemuliaan Al-Qur’an. Kemudian Aku bersumpah dengan salah satu tanda kekuasaan-Ku, yaitu tempat beredarnya bintang-bintang. Dan sesungguhnya, bila manusia mau memikirkan betapa teraturnya bintang-bintang yang beredar pada posisinya itu, mereka akan tahu bahwa sumpah ini benar-benar sumpah yang besar, kalau kamu mengetahui.”

76

وَاِنَّهٗ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُوْنَ عَظِيْمٌۙ

Wa innahū laqasamul lau ta‘lamūna ‘aẓīm(un).

Sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang sangat besar seandainya kamu mengetahui.

75-76. Usai menjelaskan tanda-tanda kekuasan-Nya, Allah beralih menguraikan kemuliaan Al-Qur’an. Kemudian Aku bersumpah dengan salah satu tanda kekuasaan-Ku, yaitu tempat beredarnya bintang-bintang. Dan sesungguhnya, bila manusia mau memikirkan betapa teraturnya bintang-bintang yang beredar pada posisinya itu, mereka akan tahu bahwa sumpah ini benar-benar sumpah yang besar, kalau kamu mengetahui.”

77

اِنَّهٗ لَقُرْاٰنٌ كَرِيْمٌۙ

Innahū laqur’ānun karīm(un).

Sesungguhnya ia benar-benar Al-Qur’an yang sangat mulia,

77-80. Allah bersumpah bahwa sesungguhnya Al-Qur’an yang berisi tuntunan-Nya ini adalah bacaan yang sangat mulia. Wahyu Allah ini tertulis pada kitab yang terpelihara, yaitu Lauh Mahfuz yang selalu terjaga, sehingga tidak ada yang dapat menyentuhnya kecuali hamba-hamba-Nya yang disucikan. Sungguh, Al-Qur’an ini diturunkan dari Tuhan seluruh alam.

78

فِيْ كِتٰبٍ مَّكْنُوْنٍۙ

Fī kitābim maknūn(in).

dalam Kitab yang terpelihara.

77-80. Allah bersumpah bahwa sesungguhnya Al-Qur’an yang berisi tuntunan-Nya ini adalah bacaan yang sangat mulia. Wahyu Allah ini tertulis pada kitab yang terpelihara, yaitu Lauh Mahfuz yang selalu terjaga, sehingga tidak ada yang dapat menyentuhnya kecuali hamba-hamba-Nya yang disucikan. Sungguh, Al-Qur’an ini diturunkan dari Tuhan seluruh alam.

79

لَّا يَمَسُّهٗٓ اِلَّا الْمُطَهَّرُوْنَۗ

Lā yamassuhū illal-muṭahharūn(a).

Tidak ada yang menyentuhnya, kecuali para hamba (Allah) yang disucikan.

77-80. Allah bersumpah bahwa sesungguhnya Al-Qur’an yang berisi tuntunan-Nya ini adalah bacaan yang sangat mulia. Wahyu Allah ini tertulis pada kitab yang terpelihara, yaitu Lauh Mahfuz yang selalu terjaga, sehingga tidak ada yang dapat menyentuhnya kecuali hamba-hamba-Nya yang disucikan. Sungguh, Al-Qur’an ini diturunkan dari Tuhan seluruh alam.

80

تَنْزِيْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ

Tanzīlum mir rabbil-‘ālamīn(a).

(Al-Qur’an) diturunkan dari Tuhan seluruh alam.

77-80. Allah bersumpah bahwa sesungguhnya Al-Qur’an yang berisi tuntunan-Nya ini adalah bacaan yang sangat mulia. Wahyu Allah ini tertulis pada kitab yang terpelihara, yaitu Lauh Mahfuz yang selalu terjaga, sehingga tidak ada yang dapat menyentuhnya kecuali hamba-hamba-Nya yang disucikan. Sungguh, Al-Qur’an ini diturunkan dari Tuhan seluruh alam.

81

اَفَبِهٰذَا الْحَدِيْثِ اَنْتُمْ مُّدْهِنُوْنَۙ

Afa biḥāżal-ḥadīṡi antum mudhinūn(a).

Apakah kamu menganggap remeh berita ini (Al-Qur’an)

81-82. Bila kamu mengetahui bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah, maka apakah kamu masih menganggap remeh berita tentang wahyu-Nya ini? Masihkah kamu berani menjadikan rezeki yang kamu terima dari Allah justru untuk mendustakan ajaran dan mengingkari kekuasaan-Nya?

82

وَتَجْعَلُوْنَ رِزْقَكُمْ اَنَّكُمْ تُكَذِّبُوْنَ

Wa taj‘alūna rizqakum annakum tukażżibūn(a).

dan kamu menjadikan rezeki yang kamu terima (dari Allah) justru untuk mendustakan (Al-Qur’an)?

81-82. Bila kamu mengetahui bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah, maka apakah kamu masih menganggap remeh berita tentang wahyu-Nya ini? Masihkah kamu berani menjadikan rezeki yang kamu terima dari Allah justru untuk mendustakan ajaran dan mengingkari kekuasaan-Nya?

83

فَلَوْلَآ اِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُوْمَۙ

Falau lā iżā balagatil-ḥulqūm(a).

Kalau begitu, mengapa (kamu) tidak (menahan nyawa) ketika telah sampai di kerongkongan,

83-85. Pada ayat-ayat ini Allah memberi peringatan kepada mereka yang mendustakan-Nya, terlebih lagi saat sakaratul maut tiba. Bila telah tiba waktunya, semua manusia akan meninggal, maka kalau begitu mengapa kamu tidak mencegah kedatangan kematian, ketika nyawa yang menjadi tanda kehidupan telah sampai di kerongkongan, dan kamu ketika itu melihat bagaimana penderitaan orang yang sekarat itu, dan Kami serta para malaikat lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu ketika itu tidak melihat keberadaan Kami?

84

وَاَنْتُمْ حِيْنَىِٕذٍ تَنْظُرُوْنَۙ

Wa antum ḥīna’iżin tanẓurūn(a).

padahal kamu ketika itu melihat (orang yang sedang sekarat)?

83-85. Pada ayat-ayat ini Allah memberi peringatan kepada mereka yang mendustakan-Nya, terlebih lagi saat sakaratul maut tiba. Bila telah tiba waktunya, semua manusia akan meninggal, maka kalau begitu mengapa kamu tidak mencegah kedatangan kematian, ketika nyawa yang menjadi tanda kehidupan telah sampai di kerongkongan, dan kamu ketika itu melihat bagaimana penderitaan orang yang sekarat itu, dan Kami serta para malaikat lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu ketika itu tidak melihat keberadaan Kami?

85

وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلٰكِنْ لَّا تُبْصِرُوْنَ

Wa naḥnu aqrabu ilaihi minkum wa lākil lā tubṣirūn(a).

Kami lebih dekat kepadanya (orang yang sedang sekarat) daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat.

83-85. Pada ayat-ayat ini Allah memberi peringatan kepada mereka yang mendustakan-Nya, terlebih lagi saat sakaratul maut tiba. Bila telah tiba waktunya, semua manusia akan meninggal, maka kalau begitu mengapa kamu tidak mencegah kedatangan kematian, ketika nyawa yang menjadi tanda kehidupan telah sampai di kerongkongan, dan kamu ketika itu melihat bagaimana penderitaan orang yang sekarat itu, dan Kami serta para malaikat lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu ketika itu tidak melihat keberadaan Kami?

86

فَلَوْلَآ اِنْ كُنْتُمْ غَيْرَ مَدِيْنِيْنَۙ

Falau lā in kuntum gaira madīnīn(a).

Maka, mengapa jika kamu tidak diberi balasan,

86-87. Setelah mengetahui keadaan orang yang sekarat, maka mengapa jika kamu memang benar tidak dikuasai oleh Allah dan bisa melakukan apa saja, kamu tidak mengembalikan nyawa itu ke tempatnya jika kamu, seperti pengakuanmu, adalah orang-orang yang benar?

87

تَرْجِعُوْنَهَآ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

Tarji‘ūnahā in kuntum ṣādiqīn(a).

kamu tidak mengembalikannya (nyawa itu) jika kamu orang-orang yang benar?

86-87. Setelah mengetahui keadaan orang yang sekarat, maka mengapa jika kamu memang benar tidak dikuasai oleh Allah dan bisa melakukan apa saja, kamu tidak mengembalikan nyawa itu ke tempatnya jika kamu, seperti pengakuanmu, adalah orang-orang yang benar?

88

فَاَمَّآ اِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِيْنَۙ

Fa ammā in kāna minal-muqarrabīn(a).

Jika dia (orang yang mati) itu termasuk yang didekatkan (kepada Allah),

88-89. Adapun jika dia yang mati itu termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Allah karena ketaatan dan amal baiknya, maka dia pasti akan memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga yang penuh kenikmatan sebagai balasan atas semua yang telah mereka perbuat di dunia.

89

فَرَوْحٌ وَّرَيْحَانٌ ەۙ وَّجَنَّتُ نَعِيْمٍ

Fa rauḥuw wa raiḥān(un), wa jannatu na‘īm(in).

dia memperoleh ketenteraman, rezeki, dan surga (yang penuh) kenikmatan.

88-89. Adapun jika dia yang mati itu termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Allah karena ketaatan dan amal baiknya, maka dia pasti akan memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga yang penuh kenikmatan sebagai balasan atas semua yang telah mereka perbuat di dunia.

90

وَاَمَّآ اِنْ كَانَ مِنْ اَصْحٰبِ الْيَمِيْنِۙ

Wa ammā in kāna min aṣḥābil-yamīn(i).

Jika dia (termasuk) golongan kanan,

90-91. Dan adapun jika dia yang meninggal itu termasuk golongan kanan, yaitu orang yang selalu berbuat baik dan menaati ajaran Allah, maka keselamatanlah yang akan dikaruniakan bagimu karena kamu adalah bagian dari golongan kanan.

91

فَسَلٰمٌ لَّكَ مِنْ اَصْحٰبِ الْيَمِيْنِۗ

Fa salāmul laka min aṣḥābil-yamīn(i).

“Salam bagimu” dari (sahabatmu,) golongan kanan.

90-91. Dan adapun jika dia yang meninggal itu termasuk golongan kanan, yaitu orang yang selalu berbuat baik dan menaati ajaran Allah, maka keselamatanlah yang akan dikaruniakan bagimu karena kamu adalah bagian dari golongan kanan.

92

وَاَمَّآ اِنْ كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِيْنَ الضَّاۤلِّيْنَۙ

Wa ammā in kāna minal-mukażżibīnaḍ-ḍāllīn(a).

Jika dia termasuk golongan para pendusta lagi sesat,

92-94. Dan adapun jika dia yang meninggal itu termasuk golongan yang mendustakan ayat-ayat Allah lagi sesat akidah dan ibadahnya, maka dia akan mendapat hidangan air yang mendidih sebagai minumannya, dan dia akan mendapat hukuman yang pedih karena dibakar di dalam Jahanam.

93

فَنُزُلٌ مِّنْ حَمِيْمٍۙ

Fa nuzulum min ḥamīm(in).

jamuannya berupa air mendidih

92-94. Dan adapun jika dia yang meninggal itu termasuk golongan yang mendustakan ayat-ayat Allah lagi sesat akidah dan ibadahnya, maka dia akan mendapat hidangan air yang mendidih sebagai minumannya, dan dia akan mendapat hukuman yang pedih karena dibakar di dalam Jahanam.

94

وَّتَصْلِيَةُ جَحِيْمٍ

Wa taṣliyatu jaḥīm(in).

dan dibakar oleh (neraka) Jahim.

92-94. Dan adapun jika dia yang meninggal itu termasuk golongan yang mendustakan ayat-ayat Allah lagi sesat akidah dan ibadahnya, maka dia akan mendapat hidangan air yang mendidih sebagai minumannya, dan dia akan mendapat hukuman yang pedih karena dibakar di dalam Jahanam.

95

اِنَّ هٰذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِيْنِۚ

Inna hāżā lahuwa ḥaqqul-yaqīn(i).

Sesungguhnya ini benar-benar merupakan hakulyakin.

95-96. Sungguh, semua yang disebutkan ini adalah suatu keyakinan yang benar. Maka, setelah kamu mengetahui dan memahami dengan benar, bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Mahabesar lagi Mahaagung.

96

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيْمِ ࣖ

Fa sabbiḥ bismi rabbikal-‘aẓīm(i).

Maka, bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Agung.

95-96. Sungguh, semua yang disebutkan ini adalah suatu keyakinan yang benar. Maka, setelah kamu mengetahui dan memahami dengan benar, bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Mahabesar lagi Mahaagung.

Surat Al-Hadid

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Sabbaḥa lillāhi mā fis-samāwāti wal-arḍ(i), wa huwal-‘azīzul-ḥakīm(u).

Apa yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Apa yang di langit, baik makhluk hidup seperti burung maupun makhluk mati semisal planet, bintang, bulan, dan matahari, dan demi-kian juga makhluk di bumi; mereka bertasbih kepada Allah untuk mengakui kebesaran dan kesucian-Nya. Dialah yang Mahaperkasa atas semua makhluk, lagi Mahabijaksana dalam menetapkan ketentuan dan hukum bagi mereka.

2

لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ يُحْيٖ وَيُمِيْتُۚ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Lahū mulkus-samāwāti wal-arḍ(i), yuḥyī wa yumīt(u), wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr(un).

Milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Allah adalah Pencipta semua makhluk, karena itu hanya milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya. Dia berkuasa menghidupkan dan mematikan apa saja sesuai kehendak-Nya, dan Dia Mahakuasa untuk menentukan apa yang Dia inginkan atas segala sesuatu.

3

هُوَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

Huwal-awwalu wal-ākhiru waẓ-ẓāhiru wal-bāṭin(u), wa huwa bikulli syai’in ‘alīm(un).

Dialah Yang Maha Awal, Maha Akhir, Maha Zahir, dan Maha Batin. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Sebagai Pencipta, Dialah Yang Awal tanpa permulaan, dan Dia pula Yang Akhir karena Dia abadi tanpa batas akhir bagi eksistensinya. Selain itu, Dia adalah Yang Zahir dan mengetahui apa saja yang tampak, dan Yang Batin dan mengetahui apa saja yang disembunyikan atau yang tersirat dalam hati. Dia lebih dekat kepada makhluk daripada dirinya sendiri, dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu di alam semesta.

4

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى الْاَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاۤءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيْهَاۗ وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌۗ

Huwal-lażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa fī sittati ayyāmin ṡummastawā ‘alal-‘arsy(i), ya‘lamu mā yaliju fil-arḍi wa mā yakhruju minhā wa mā yanzilu minas-samā’i wa mā ya‘ruju fīhā, wa huwa ma‘akum aina mā kuntum, wallāhu bimā ta‘malūna baṣīr(un).

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian, Dia bersemayam di atas ʻArasy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya serta apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dia bersamamu di mana saja kamu berada. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Dialah yang menciptakan langit dan bumi beserta semua yang ada di dalam dan di antara keduanya dalam enam masa; kemudian setelah penciptaan itu Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur urusan makhluk-Nya. Apa saja yang terjadi pada ciptaan-Nya tidak pernah luput dari pengetahuan-Nya. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, seperti hewan yang menyusup, dan apa yang keluar dari dalamnya, seperti tanaman yang tumbuh. Dia mengetahui pula apa yang turun dari langit, seperti air hujan, dan apa yang naik ke sana, seperti kebajikan dan doa manusia. Wajib diyakini bahwa Allah itu ada dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan; tidak ada yang tersembunyi dari-Nya.

5

لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَاِلَى اللّٰهِ تُرْجَعُ الْاُمُوْرُ

Lahū mulkus-samāwāti wal-arḍ(i), wa ilallāhi turja‘ul-umūr(u).

Milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan

Allah adalah Pencipta semua makhluk, karena itu milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Semua berasal dari-Nya dan hanya kepada Allah segala urusan yang terkait dengan makhluk dikembalikan.

6

يُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَيُوْلِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِۗ وَهُوَ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِ

Yūlijul-laila fin-nahāri wa yūlijun-nahāra fil-lail(i), wa huwa ‘alīmum biżātiṣ-ṣudūr(i).

Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dia Maha Mengetahui segala isi hati.

Di antara tanda kekuasaan Allah adalah pergantian waktu. Dia memasukkan sebagian waktu malam ke dalam siang sehingga waktunya lebih panjang saat musim panas, dan memasukkan siang ke dalam malam sehingga waktunya lebih lama saat musim dingin. Dia mengatur semua yang ada dan Dia Maha mengetahui segala isi hati, baik yang kemudian diungkapkan maupun yang terus disembunyikan.

7

اٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاَنْفِقُوْا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُّسْتَخْلَفِيْنَ فِيْهِۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَاَنْفَقُوْا لَهُمْ اَجْرٌ كَبِيْرٌۚ

Āminū billāhi wa rasūlihī wa anfiqū mimmā ja‘alakum mustakhlafīna fīh(i), fal-lażīna āmanū minkum wa anfaqū lahum ajrun kabīr(un).

Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya serta infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari apa yang Dia (titipkan kepadamu dan) telah menjadikanmu berwenang dalam (penggunaan)-nya. Lalu, orang-orang yang beriman di antaramu dan menginfakkan (hartanya di jalan Allah) memperoleh pahala yang sangat besar.

Bila sebelumnya Allah memperlihatkan bukti-bukti kekuasaan-Nya, pada ayat ini Allah menganjurkan orang mukmin untuk berinfak. Wahai manusia, berimanlah kamu kepada Allah yang telah menciptakanmu dan kepada Rasul yang diutus-Nya untuk menyampaikan tuntunan-Nya, dan infakkanlah sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya, kepada orang yang berhak. Sesungguhnya dalam hartamu itu terdapat bagian Allah bagi mereka. Maka, orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya di antara kamu dan menginfakkan sebagian dari hartanya di jalan Allah akan memperoleh pahala yang besar, baik di dunia maupun akhirat.

8

وَمَا لَكُمْ لَا تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۚوَالرَّسُوْلُ يَدْعُوْكُمْ لِتُؤْمِنُوْا بِرَبِّكُمْ وَقَدْ اَخَذَ مِيْثَاقَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

Wa mā lakum lā tu’minūna billāh(i), war-rasūlu yad‘ūkum litu’minū birabbikum wa qad akhaża mīṡāqakum in kuntum mu’minīn(a).

Mengapa kamu tidak beriman kepada Allah, padahal Rasul mengajakmu beriman kepada Tuhanmu? Sungguh, Dia telah mengambil janji (setia)-mu jika kamu adalah orang-orang mukmin.

Dan mengapa kamu, wahai manusia, tidak beriman kepada Allah Yang Maha Pencipta, padahal Rasul mengajak dan menyeru kamu beriman kepada Tuhanmu? Dan sungguh, Dia telah mengambil janji setia-mu untuk bertauhid kepada-Nya. Kamu tentu akan menepati janji itu jika kamu adalah orang-orang mukmin.

9

هُوَ الَّذِيْ يُنَزِّلُ عَلٰى عَبْدِهٖٓ اٰيٰتٍۢ بَيِّنٰتٍ لِّيُخْرِجَكُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ وَاِنَّ اللّٰهَ بِكُمْ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Huwal-lażī yunazzilu ‘alā ‘abdihī āyātim bayyinātil liyukhrijakum minaẓ-ẓulumāti ilan-nūr(i), wa innallāha bikum lara’ūfur raḥīm(un).

Dialah yang menurunkan ayat-ayat yang terang (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Nabi Muhammad) untuk mengeluarkanmu dari kegelapan kepada cahaya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang kepadamu.

Sungguh, Dialah yang menurunkan ayat-ayat yang terang, yaitu Al-Qur’an, yang diwahyukan kepada hamba-Nya untuk mengeluarkan kamu dari kegelapan, yaitu kekafiran dan kemungkaran, kepada cahaya petunjuk menuju keimanan dan kebajikan. Dan sungguh, terhadap kamu Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang, baik di dunia maupun akhirat.

10

وَمَا لَكُمْ اَلَّا تُنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلِلّٰهِ مِيْرَاثُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ لَا يَسْتَوِيْ مِنْكُمْ مَّنْ اَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَۗ اُولٰۤىِٕكَ اَعْظَمُ دَرَجَةً مِّنَ الَّذِيْنَ اَنْفَقُوْا مِنْۢ بَعْدُ وَقَاتَلُوْاۗ وَكُلًّا وَّعَدَ اللّٰهُ الْحُسْنٰىۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ࣖ

Wa mā lakum allā tunfiqū fī sabīlillāhi wa lillāhi mīrāṡus-samāwāti wal-arḍ(i), lā yastawī minkum man anfaqa min qablil-fatḥi wa qātal(a), ulā’ika a‘ẓamu darajatam minal-lażīna anfaqū mim ba‘du wa qātalū, wa kullaw wa‘adallāhul-ḥusnā, wallāhu bimā ta‘malūna khabīr(un).

Mengapa kamu tidak menginfakkan (hartamu) di jalan Allah, padahal milik Allah semua pusaka langit dan bumi? Tidak sama orang yang menginfakkan (hartanya di jalan Allah) di antara kamu dan berperang sebelum penaklukan (Makkah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang setelah itu. Allah menjanjikan (balasan) yang baik kepada mereka masing-masing. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Dalam hartamu ada bagian Allah yang mesti kamu infakkan. Lalu, mengapa kamu kikir dan mengapa kamu tidak menginfakkan sebagian hartamu di jalan Allah, padahal milik Allah semua pusaka langit dan bumi? Dialah yang menciptakannya dan semua yang ada di antara keduanya. Ketahuilah, tidak akan sama orang yang menginfakkan sebagian hartanya di jalan Allah di antara kamu dan berperang sebelum penaklukan Mekah. Dengan kebajikan dan perjuangannya itu mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menginfakkan sebagian hartanya dan berpe-rang setelah penaklukan kota Mekah itu. Dan Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka balasan yang lebih baik sesuai amal dan niat masing-masing. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu lakukan kapan dan di mana pun. Dia akan memberi balasan atasnya dengan setimpal.

11

مَنْ ذَا الَّذِيْ يُقْرِضُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهٗ لَهٗ وَلَهٗٓ اَجْرٌ كَرِيْمٌ

Man żal-lażī yuqriḍullāha qarḍan ḥasanan fa yuḍā‘ifahū lahū wa lahū ajrun karīm(un).

Siapakah yang (mau) memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik? Dia akan melipatgandakan (pahala) untuknya, dan baginya (diberikan) ganjaran yang sangat mulia (surga).

Untuk mendorong agar manusia gemar bersedekah, Allah menetap-kan bahwa barang siapa meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, berupa kebajikan atau sedekah kepada orang lain, maka Allah akan mengembalikannya dengan jumlah yang berlipat ganda untuknya. Dan selain itu, baginya akan dikaruniakan pahala yang mulia dari Allah.

12

يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ يَسْعٰى نُوْرُهُمْ بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَبِاَيْمَانِهِمْ بُشْرٰىكُمُ الْيَوْمَ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُۚ

Yauma taral-mu’minīna wal-mu’mināti yas‘ā nūruhum baina aidīhim wa bi’aimānihim busyrākumul-yauma jannātun tajrī min taḥtihal-anhāru khālidīna fīhā, żālika huwal-fauzul-‘aẓīm(u).

Pada hari engkau akan melihat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka. (Dikatakan kepada mereka,) “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai (dan) mereka kekal di dalamnya. Demikian itulah kemenangan yang sangat agung.”

Usai menerangkan fadilah berinfak di jalan Allah, melalui ayat berikut Allah menjelaskan balasan di akhirat bagi orang yang berinfak. Ingatlah pada hari ketika engkau akan melihat orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan di akhirat, betapa cahaya mereka yang terang bersinar di depan dan di samping kanan mereka sebagai balasan atas kebajikan dan kepatuhan mereka. Dikatakan kepada mereka, “Pada hari ini ada berita gembira untukmu. Allah menganugerahkan kepadamu surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dengan air, susu yang tidak berubah rasa, khamr yang lezat, dan madu. Mereka semua kekal di dalamnya. Demikian itulah anugerah dan kemenangan yang agung dari Allah.”

13

يَوْمَ يَقُوْلُ الْمُنٰفِقُوْنَ وَالْمُنٰفِقٰتُ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوا انْظُرُوْنَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُّوْرِكُمْۚ قِيْلَ ارْجِعُوْا وَرَاۤءَكُمْ فَالْتَمِسُوْا نُوْرًاۗ فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُوْرٍ لَّهٗ بَابٌۗ بَاطِنُهٗ فِيْهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهٗ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُۗ

Yauma yaqūlul-munāfiqūna wal-munāfiqātu lil-lażīna āmanunẓurūnā naqtabis min nūrikum, qīlarji‘ū warā’akum faltamisū nūrā(n), faḍuriba bainahum bisūril lahū bāb(un), bāṭinuhū fīhir-raḥmatu wa ẓāhiruhū min qibalihil-‘ażāb(u).

Pada hari (itu juga) orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, “Tunggulah kami! Kami ingin mengambil cahayamu.” (Kepada mereka) dikatakan, “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).” Lalu, di antara mereka dipasang dinding (pemisah) yang berpintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di luarnya ada azab.

Balasan bagi orang yang memberi Allah pinjaman yang baik juga akan terlihat pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, “Tunggulah dan jangan tinggalkan kami! Kami ingin mengambil cahayamu untuk menerangi kami.” Dikatakan kepada mereka dengan nada mengejak, “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya yang menyinari dirimu.” Lalu di antara mereka dipasang dinding pemisah yang berpintu. Di sebelah dalam dinding itu ada rahmat dan anugerah bagi orang yang beriman dan beramal saleh, dan di luarnya hanya ada azab dan hukuman bagi orang munafik.

14

يُنَادُوْنَهُمْ اَلَمْ نَكُنْ مَّعَكُمْۗ قَالُوْا بَلٰى وَلٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ اَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْاَمَانِيُّ حَتّٰى جَاۤءَ اَمْرُ اللّٰهِ وَغَرَّكُمْ بِاللّٰهِ الْغَرُوْرُ

Yunādūnahum alam nakum ma‘akum, qālū balā wa lākinnakum fatantum anfusakum wa tarabbaṣtum wartabtum wa garratkumul-amāniyyu ḥattā jā’a amrullāhi wa garrakum billāhil-garūr(u).

Orang-orang (munafik) memanggil mereka (orang-orang beriman), “Bukankah kami dahulu bersama kamu?” Mereka menjawab, “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri (dengan kemunafikan), menunggu-nunggu (kebinasaan kami), meragukan (ajaran Islam), dan ditipu oleh angan-angan kosong sampai datang ketetapan Allah. (Setan) penipu memperdayakanmu (sehingga kamu lalai) terhadap Allah.

Begitu mendapati azab, orang-orang munafik memanggil orang-orang mukmin, “Bukankah kami di dunia dahulu bersama kamu?” Mereka yang beriman menjawab, “Benar, tetapi kamu selalu mencelakakan dirimu sendiri dengan melakukan perbuatan yang tidak patut dan hanya menunggu kehancuran kami dengan pengkhianatanmu, dan kamu meragukan janji Allah dan seringkali kamu ditipu oleh angan-angan kosong sampai pada akhirnya datang-lah ketetapan Allah; dan setan penipu datang memperdaya kamu tentang Allah sehingga kamu terus berada dalam keraguan.

15

فَالْيَوْمَ لَا يُؤْخَذُ مِنْكُمْ فِدْيَةٌ وَّلَا مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۗ مَأْوٰىكُمُ النَّارُۗ هِيَ مَوْلٰىكُمْۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ

Fal-yauma lā yu’khażu minkum fidyatuw wa lā minal-lażīna kafarū, ma’wākumun-nār(u), hiya maulākum, wa bi’sal-maṣīr(u).

Pada hari ini tidak akan diterima tebusan darimu maupun dari orang-orang yang kufur. Tempatmu adalah neraka. Ia adalah tempat berlindungmu dan seburuk-buruk tempat kembali.”

Wahai orang munafik, karena keraguanmu kepada Allah dan janji-Nya, maka pada hari ini, yaitu di akhirat, tidak akan diterima tebusan dari kamu maupun dari orang-orang kafir. Karena sikapmu itu maka tempat kamu yang sesuai adalah di neraka. Itulah tempat berlindungmu untuk selama-lamanya, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali bagi orang yang ingkar.”

16

۞ اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّۙ وَلَا يَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْۗ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ

Alam ya’ni lil-lażīna āmanū an takhsya‘a qulūbuhum liżikrillāhi wa mā nazala minal-ḥaqq(i), wa lā yakūnū kal-lażīna ūtul-kitāba min qablu faṭāla ‘alaihimul-amadu faqasat qulūbuhum, wa kaṡīrum minhum fāsiqūn(a).

Apakah belum tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman agar hati mereka khusyuk mengingat Allah dan apa yang turun dari kebenaran (Al-Qur’an). Janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Banyak di antara mereka adalah orang-orang fasik.

Usai menjelaskan balasan bagi orang munafik dan kafir, pada ayat ini Allah memberi teguran kepada orang mukmin yang lalai pada ibadahnya. Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang tidak meragukan janji Allah, untuk secara khusyuk mengingat Allah dengan berzikir dan beribadah, dan mematuhi kebenaran Al-Qur’an yang telah diwahyukan kepada mereka? Dan janganlah mereka berperilaku seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, di mana sebagian dari mereka mengingkari hukumnya dan sebagian yang lain menyembunyikan atau mengubah isinya, kemudian mereka melalui masa yang panjang tanpa adanya rasul yang mengingatkan mereka se-hingga pada akhirnya hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik karena tidak ada yang mengingatkan kekeliruannya.

17

اِعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يُحْيِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَاۗ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ

I‘lamū annallāha yuḥyil-arḍa ba‘da mautihā, qad bayyannā lakumul-āyāti la‘allakum ta‘qilūn(a).

Ketahuilah bahwa Allah menghidupkan bumi setelah matinya (kering). Sungguh, telah Kami jelaskan kepadamu tanda-tanda (kebesaran Kami) agar kamu mengerti.

Wahai orang yang beriman, ketahuilah bahwa Allah berkuasa menghidupkan bumi setelah mati dan kering-nya dengan menurunkan hujan sehingga bumi menjadi subur dan menjadi media tumbuh tanaman. Sungguh, telah Kami jelaskan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami, baik yang ada di alam semesta atau pada dirimu sendiri, agar kamu mengerti.

18

اِنَّ الْمُصَّدِّقِيْنَ وَالْمُصَّدِّقٰتِ وَاَقْرَضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا يُّضٰعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ اَجْرٌ كَرِيْمٌ

Innal-muṣṣaddiqīna wal-muṣṣaddiqāti wa aqraḍullāha qarḍan ḥasanay yuḍā‘afu lahum wa lahum ajrun karīm(un).

Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah, baik laki-laki maupun perempuan, dan meminjamkan (kepada) Allah pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) kepada mereka dan baginya (diberikan) ganjaran yang sangat mulia (surga).

Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah dengan menginfakkan sebagian hartanya, baik laki-laki maupun perempuan, dan mereka dengan ikhlas meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan balasan kebaikan bagi mereka; dan mereka akan mendapat pahala yang mulia dari sisi-Nya.

19

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖٓ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الصِّدِّيْقُوْنَ ۖوَالشُّهَدَاۤءُ عِنْدَ رَبِّهِمْۗ لَهُمْ اَجْرُهُمْ وَنُوْرُهُمْۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَكَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَآ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ ࣖ

Wal-lażīna āmanū billāhi wa rasūlihī ulā’ika humuṣ-ṣiddīqūn(a), wasy-syuhadā’u ‘inda rabbihim, lahum ajruhum wa nūruhum, wal-lażīna kafarū wa każżabū bi’āyātinā ulā’ika aṣḥābul-jaḥīm(i).

Orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya mereka itulah aṣ-ṣiddīqūn (yang sangat kukuh dalam kebenaran dan pembenarannya) dan syuhadā’ (orang-orang yang disaksikan kebenaran dan kebajikannya) di sisi Tuhan mereka. Mereka mendapatkan pahala dan cahaya (dari Tuhan) mereka. Adapun orang-orang yang kufur dan mendustakan ayat-ayat Kami itulah penghuni (neraka) Jahim.

Dan orang-orang yang beriman dengan mantap kepada Allah dan rasul-rasul-Nya serta tidak meragukan janji-Nya, mereka itu orang-orang yang tulus hati dan pecinta kebenaran, dan mereka menjadi saksi-saksi di sisi Tuhan mereka. Karena keimanan dan kebaikan itu mereka berhak mendapat pahala dan cahaya dari sisi Allah. Tetapi, orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami serta mengingkari ajaran-ajaran Kami, mereka itu penghuni-penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.

20

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

I‘lamū annamal-ḥayātud-dun-yā la‘ibuw wa lahwuw wa zīnatuw wa tafākhurum bainakum wa takāṡurun fil-amwāli wal-aulād(i), kamaṡali gaiṡin a‘jabal-kuffāra nabātuhū ṡumma yahīju fatarāhu muṣfarran ṡumma yakūnu ḥuṭāmā(n), wa fil-ākhirati ‘ażābun syadīd(un), wa magfiratum minallāhi wa riḍwān(un), wa mal-ḥayātud-dun-yā illā matā‘ul-gurūr(i).

Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya.

Wahai orang mukmin, ketahuilah sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan. Karena itu, jangan sampai kamu larut di dalamnya. Kehidupan dunia ini juga merupakan perhiasan bagimu dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Semua itu seperti hujan yang menumbuhkan tanam-tanamannya sehingga mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering saat kemarau dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Itulah permisalan bagi kehidupan dunia yang fana. Dan ketahuilah, di akhirat nanti ada azab yang keras bagi mereka yang ingkar dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya bagi orang yang beriman dan mematuhi ajaran-Nya. Dan kehidupan dunia yang sekarang kamu nik-mati tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.

21

سَابِقُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِۙ اُعِدَّتْ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ

Sābiqū ilā magfiratim mir rabbikum wa jannatin ‘arḍuhā ka‘arḍis-samā’i wal-arḍ(i), u‘iddat lil-lażīna āmanū billāhi wa rasūlih(ī), żālika faḍlullāhi yu’tīhi may yasyā'(u), wallāhu żul-faḍlil-‘aẓīm(i).

Berlombalah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang lebarnya (luasnya) selebar langit dan bumi, yang telah disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya. Itulah karunia Allah yang dianugerahkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah adalah Pemilik karunia yang agung.

Setelah kamu semua wahai orang beriman mengetahui hakikat kehidupan dunia, maka segera berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dengan istigfar dan berlombalah untuk men-dapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi dengan selalu melakukan kebaikan, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia tertinggi Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia dikehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar bagi mereka yang beriman dan berbuat kebajikan.

22

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ

Mā aṣāba mim muṣībatin fil-arḍi wa lā fī anfusikum illā fī kitābim min qabli an nabra’ahā, inna żālika ‘alallāhi yasīr(un).

Tidak ada bencana (apa pun) yang menimpa di bumi dan tidak (juga yang menimpa) dirimu, kecuali telah tertulis dalam Kitab (Lauhulmahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah.

Usai menjelaskan karunia-Nya kepada orang memohon ampunan, Allah menerangkan bahwa semua yang terjadi di alam ini merupakan ketetapan Allah yang tertulis di Lauh Mahfuz. Setiap bencana yang menimpa di bumi, seperti gempa, banjir, erupsi, dan lainnya, dan demikian pula bencana yang menimpa dirimu sendiri, seperti sakit, kecelakaan, dan lainnya, semuanya telah tertulis dalam Kitab yang disebut Lauh Mahfuz sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu, yaitu semua yang terjadi, sangat mudah bagi Allah.

23

لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَآ اٰتٰىكُمْ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۙ

Likailā ta’sau ‘alā mā fātakum wa lā tafraḥū bimā ātākum, wallāhu lā yuḥibbu kulla mukhtālin fakhūr(in).

(Yang demikian itu kami tetapkan) agar kamu tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Kami beritahukan hal tersebut agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak dapat kamu capai, dan jangan pula terlalu gembira dan sombong terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan ketahuilah, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri dengan kelebihan atau anugerah yang Dia karuniakan

24

ۨالَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ وَيَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ ۗوَمَنْ يَّتَوَلَّ فَاِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ

Allażīna yabkhalūna wa ya’murūnan-nāsa bil-bukhl(i), wa may yatawalla fa’innallāha huwal-ganiyyul-ḥamīd(u).

(Mereka itu adalah) orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain (berbuat) kikir. Siapa yang berpaling (dari perintah Allah), sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Allah tidak menyukai orang sombong dan membanggakan diri, yaitu orang-orang yang kikir, yang enggan menginfakkan sebagian hartanya di jalan Allah, dan menyuruh orang lain berbuat kikir pula. Barang siapa berpaling dari perintah Allah dan mengingkari ajaran-Nya, maka sesungguhnya Allah, Dia Mahakaya dan tidak memerlukan sesuatu, Maha Terpuji dengan segala sifat kebaikan-Nya.

25

لَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنٰتِ وَاَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتٰبَ وَالْمِيْزَانَ لِيَقُوْمَ النَّاسُ بِالْقِسْطِۚ وَاَنْزَلْنَا الْحَدِيْدَ فِيْهِ بَأْسٌ شَدِيْدٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗ وَرُسُلَهٗ بِالْغَيْبِۗ اِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ عَزِيْزٌ ࣖ

Laqad arsalnā rusulanā bil-bayyināti wa anzalnā ma‘ahumul-kitāba wal-mīzāna liyaqūman-nāsu bil-qisṭ(i), wa anzalnal-ḥadīda fīhi ba’sun syadīduw wa manāfi‘u lin-nāsi wa liya‘lamallāhu may yanṣuruhū wa rusulahū bil-gaib(i), innallāha qawiyyun ‘azīz(un).

Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami menurunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. Kami menurunkan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan berbagai manfaat bagi manusia agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya walaupun (Allah) tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat manusia dengan bukti-bukti yang nyata, dan Kami turunkan bersama mereka kitab sebagai pedoman hidup, dan Kami turunkan pula neraca sebagai ukuran keadilan agar manusia dapat berlaku adil. Dan Kami menciptakan besi sebagai kelengkapan hidup yang mempunyai kekuatan, hebat, dan banyak manfaat bagi manusia, dan Kami ciptakan semua itu agar Allah mengetahui siapa yang menolong agama-Nya dan rasul-rasul-Nya dalam berdakwah, walaupun Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat terhadap segala sesuatu, Mahaperkasa menghadapi semua yang mengingkari-Nya.

26

وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا وَّاِبْرٰهِيْمَ وَجَعَلْنَا فِيْ ذُرِّيَّتِهِمَا النُّبُوَّةَ وَالْكِتٰبَ فَمِنْهُمْ مُّهْتَدٍۚ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ

Wa laqad arsalnā nūḥaw wa ibrāhīma wa ja‘alnā fī żurriyyatihiman-nubuwwata wal-kitāba fa minhum muhtad(in), wa kaṡīrum minhum fāsiqūn(a).

Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh dan Ibrahim serta Kami memberikan kenabian dan kitab (wahyu) kepada keturunan keduanya. Di antara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak pula di antara mereka yang fasik.

Kehidupan kependetaan bukan ajaran Allah. Dan sungguh, Kami telah mengutus Nabi Nuh dan Ibrahim kepada umat masing-masing untuk mengajak mereka bertauhid, dan Kami berikan pula kenabian dan kitab petunjuk kepada keturunan keduanya; di antara mereka ada yang menerima petunjuk itu sehingga beriman dan berbuat kebajikan sesuai perintah-Nya, dan banyak di antara mereka yang fasik akibat mengingkari petunjuk itu dan memilih kekafiran.

27

ثُمَّ قَفَّيْنَا عَلٰٓى اٰثَارِهِمْ بِرُسُلِنَا وَقَفَّيْنَا بِعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَاٰتَيْنٰهُ الْاِنْجِيْلَ ەۙ وَجَعَلْنَا فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُ رَأْفَةً وَّرَحْمَةً ۗوَرَهْبَانِيَّةَ ِۨابْتَدَعُوْهَا مَا كَتَبْنٰهَا عَلَيْهِمْ اِلَّا ابْتِغَاۤءَ رِضْوَانِ اللّٰهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا ۚفَاٰتَيْنَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْهُمْ اَجْرَهُمْ ۚ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ

Ṡumma qaffainā ‘alā āṡārihim birusulinā wa qaffainā bi‘īsabni maryama wa ātaināhul-injīl(a), wa ja‘alnā fī qulūbil-lażīnattaba‘ūhu ra’fataw wa raḥmah(tan), wa rahbāniyyatanibtada‘ūhā mā katabnā ‘alaihim illabtigā’a riḍwānillāhi famā ra‘auhā ḥaqqa ri‘āyatihā, fa’ātainal-lażīna āmanū minhum ajrahum, wa kaṡīrum minhum fāsiqūn(a).

Kemudian, Kami meneruskan jejak mereka dengan (mengutus) rasul-rasul Kami dan Kami meneruskan (pula dengan mengutus) Isa putra Maryam serta Kami memberikan Injil kepadanya. Kami menjadikan kesantunan dan kasih sayang dalam hati orang-orang yang mengikutinya. Mereka mengada-adakan rahbaniah (berlebih-lebihan dalam beribadah). Padahal, Kami tidak mewajibkannya kepada mereka. Akan tetapi, (mereka mengada-adakannya dengan tujuan) mencari keridaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Maka, kepada orang-orang yang beriman di antara mereka Kami berikan pahalanya dan di antara mereka banyak yang fasik.

Sesudah Nabi Nuh dan Ibrahim, kemudian Kami susulkan rasul-rasul Kami untuk mengikuti jejak mereka, yaitu dengan mengajak umatnya beriman dan mentaati perintah-Nya, dan Kami susulkan pula Isa putra Maryam, dan Kami berikan Injil kepadanya sebagai pedoman bagi umatnya, dan Kami jadikan rasa santun dan kasih sayang kepada sesama manusia dalam hati orang-orang yang mengikutinya. Sebagian dari mereka mengada-adakan rahbàniyyah, yaitu hidup membujang dan mengurung diri dalam biara, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka. Ka-mi hanya mewajibkan mereka untuk mencari keridaan Allah, tetapi tuntunan itu tidak mereka pelihara dengan semestinya. Maka, kepada orang-orang yang beriman di antara mereka dan berbuat kebajikan, Kami berikan pahalanya. Dan banyak di antara mereka yang fasik dengan mengingkari atau mengubah ajaran itu.

28

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَاٰمِنُوْا بِرَسُوْلِهٖ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَّحْمَتِهٖ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ نُوْرًا تَمْشُوْنَ بِهٖ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌۙ

Yā ayyuhal-lażīna āmanuttaqullāha wa āminū birasūlihī yu’tikum kiflaini mir raḥmatihī wa yaj‘al lakum nūran tamsyūna bihī wa yagfir lakum, wallāhu gafūrur raḥīm(un).

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya (Nabi Muhammad), niscaya Allah menganugerahkan kepadamu dua bagian dari rahmat-Nya dan menjadikan cahaya untukmu yang dengan cahaya itu kamu berjalan serta Dia mengampunimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Allah menerangkan keingkaran Ahli Kitab pada kenabian Muhammad. Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah. Laksa-nakan semua perintah-Nya dan jauhilah semua larangan-Nya, dan berimanlah kepada Rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad yang diutus untuk melengkapi dan meluruskan syariat terdahulul. Jika kamu melaksanakannya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, yaitu kebahagiaan di dunia dan kemuliaan di akhirat, dan menjadikan cahaya terang untukmu yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dengan tenang tanpa takut tersesat, serta Dia akan mengampuni semua dosa kamu bila kamu bertobat dengan sungguh-sungguh. Dan Allah Maha Pengampun atas dosamu dan dosa seluruh manusia yang bertobat, Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya.

29

لِّئَلَّا يَعْلَمَ اَهْلُ الْكِتٰبِ اَلَّا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاَنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ ࣖ ۔

Li’allā ya‘lama ahlul-kitābi allā yaqdirūna ‘alā syai’im min faḍlillāhi wa annal-faḍla biyadillāhi yu’tīhi may yasyā'(u), wallāhu żul-faḍlil-‘aẓīm(i).

(Allah menganugerahkan itu) agar Ahlulkitab (yang tidak beriman kepada Nabi Muhammad) mengetahui bahwa mereka sedikit pun tidak akan mendapat karunia Allah dan bahwa karunia itu ada di tangan Allah. Dia menganugerahkannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah Pemilik karunia yang agung.

Semua peringatan itu disampaikan agar Ahli Kitab mengetahui bahwa sedikit pun mereka tidak akan mendapat karunia Allah jika mereka tidak beriman kepada Nabi Muhammad dan mengikuti sunahnya, dan agar mereka mengetahui bahwa karunia itu ada di tangan Allah; Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki, yaitu mereka yang beriman dan berbuat kebajikan. Dan Allah mempunyai karunia yang besar bagi siapa saja yang mematuhi ajaran-Nya.

Ayat berhasil disalin!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *