Lompat ke konten
Beranda » Al Quran Juz 23 Full Lengkap: Arab, Latin dan Terjemah

Al Quran Juz 23 Full Lengkap: Arab, Latin dan Terjemah

  • oleh

Juz 23

Surat Yasin

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

22

وَمَا لِيَ لَآ اَعْبُدُ الَّذِيْ فَطَرَنِيْ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

Wa mā liya lā a‘budul-lażī faṭaranī wa ilaihi turja‘ūn(a).

Apa (alasanku) untuk tidak menyembah (Allah) yang telah menciptakanku dan hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan?

Dan Mengapa kamu enggan menyembah Allah ? tidak ada alasan bagiku dan bagimu untuk tidak menyembah Allah yang telah menciptakanku dan hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan untuk menerima balasan atas segala amal perbuatan yang dilakukan sewaktu di dunia.

23

ءَاَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِهٖٓ اٰلِهَةً اِنْ يُّرِدْنِ الرَّحْمٰنُ بِضُرٍّ لَّا تُغْنِ عَنِّيْ شَفَاعَتُهُمْ شَيْـًٔا وَّلَا يُنْقِذُوْنِۚ

A’attakhiżu min dūnihī ālihatan iy yuridnir-raḥmānu biḍurril lā tugni ‘annī syafā‘atuhum syai’aw wa lā yunqiżūn(i).

Mengapa aku (harus) mengambil sembahan-sembahan selain-Nya? Jika (Allah) Yang Maha Pengasih menghendaki bencana terhadapku, pasti pertolongan mereka tidak berguna sama sekali bagi diriku dan mereka (juga) tidak dapat menyelamatkanku.

Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya? Padahal, mereka sedikitpun tidak memiliki kekuasaan Jika (Allah) Yang Maha Pengasih menghendaki bencana terhadapku, pasti pertolongan mereka yakni tuhan-tuhan yang disembah selain Allah tersebut tidak berguna sama sekali bagi diriku dan mereka juga tidak dapat menyelamatkanku.

24

اِنِّيْٓ اِذًا لَّفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Innī iżal lafī ḍalālim mubīn(in).

Sesungguhnya aku (jika berbuat) begitu, pasti berada dalam kesesatan yang nyata.

Sesungguhnya jika aku (berbuat) begitu yakni menyembah tuhan selain Allah, pasti aku berada dalam kesesatan yang nyata, karena tidak ada yang dapat memberikan manfaat dan menolak mudarat melainkan Allah semata.

25

اِنِّيْٓ اٰمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُوْنِۗ

Innī āmantu birabbikum fasma‘ūn(i).

Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu. Maka, dengarkanlah (pengakuan)-ku.”

Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu yaitu Allah, Tuhan yang kalian ingkari; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)-ku.”

26

قِيْلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ ۗقَالَ يٰلَيْتَ قَوْمِيْ يَعْلَمُوْنَۙ

Qīladkhulil-jannah(ta), qāla yā laita qaumī ya‘lamūn(a).

Dikatakan (kepadanya), “Masuklah ke surga.” Dia (laki-laki itu) berkata, “Aduhai, sekiranya kaumku mengetahui

Setelah menyatakan iman di hadapan kaumnya, kaummnya pun membunuhnya. Allah pun memberikan pahala atas imannya yang kokoh itu. Ketika dia meninggal, malaikat turun memberitahukan bahwa Allah telah mengampuni dosanya dan dia akan masuk surga dikatakan kepadanya, “Masuklah ke surga.” Dia laki-laki itu berkata, “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui,

27

بِمَا غَفَرَ لِيْ رَبِّيْ وَجَعَلَنِيْ مِنَ الْمُكْرَمِيْنَ

Bimā gafaralī rabbī wa ja‘alanī minal-mukramīn(a).

(bagaimana) Tuhanku mengampuniku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan.”

Duhai seandainya kaumku mengetahui apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang telah dimuliakan niscaya mereka akan beriman sebagaimana aku beriman.”

28

۞ وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلٰى قَوْمِهٖ مِنْۢ بَعْدِهٖ مِنْ جُنْدٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَمَا كُنَّا مُنْزِلِيْنَ

Wa mā anzalnā ‘alā qaumihī mim ba‘dihī min jundim minas-samā’i wa mā kunnā munzilīn(a).

Setelah dia (dibunuh), Kami tidak menurunkan satu pasukan pun dari langit kepada kaumnya dan Kami tidak perlu menurunkannya.

Beralih dari penjelasan perihal Habib an-Najjar yang mati dibunuh dan harapannya agar kaumnya ikut beriman, Allah dalam ayat berikut menjelaskan azab yang akan ditimpakan kepada orang musyrik. Dan setelah dia, yakni Habib an-Najjar dibunuh karena keimanannya, Kami tidak menurunkan suatu pasukan malaikat pun dari langit kepada kaumnya untuk menghancurkan mereka. Kami sudah menetapkan siksa bagi mereka berupa teriakan yang sangat keras. Dan karena itu, Kami tidak perlu menurunkannya, yakni para malaikat, dalam jumlah banyak.

29

اِنْ كَانَتْ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً فَاِذَا هُمْ خٰمِدُوْنَ

In kānat illā ṣaiḥataw wāḥidatan fa’iżā hum khāmidūn(a).

(Azab mereka) itu cukup dengan satu teriakan saja. Maka, seketika itu mereka mati.

Dengan demikian, tidak ada siksaan terhadap mereka yang mendustakan utusan Allah melainkan dengan satu teriakan saja, yaitu teriakan Jibril yang sangat keras; maka seketika itu mereka pun mati. Demikianlah balasan di dunia bagi orang yang mendustakan utusan Allah.

30

يٰحَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِۚ مَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ

Yā ḥasratan ‘alal-‘ibād(i), mā ya’tīhim mir rasūlin illā kānū bihī yastahzi’ūn(a).

Alangkah besar penyesalan diri para hamba itu. Setiap datang seorang rasul kepada mereka, mereka selalu memperolok-olokkannya.

Orang-orang yang mendustakan para rasul akan menyesal pada hari Kiamat. Alangkah besar penyesalan terhadap hamba-hamba itu, setiap datang seorang rasul yang menyeru kepada mereka agar beriman kepada Allah dan menempuh jalan yang benar, mereka selalu memperolok-olokkan bahkan membunuh-nya.

31

اَلَمْ يَرَوْا كَمْ اَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِّنَ الْقُرُوْنِ اَنَّهُمْ اِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُوْنَ

Alam yarau kam ahlaknā qablahum minal-qurūni annahum ilaihim lā yarji‘ūn(a).

Tidakkah mereka mengetahui berapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan? Mereka (setelah binasa) tidak ada yang kembali kepada mereka (di dunia).

Dengan berita yang orang-orang musyrik Mekah terima dari Rasulullah, tidakkah mereka mengetahui berapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan akibat pengingkaran mereka kepada utusan Allah? Padahal Kami telah menetapkan bahwa orang-orang yang telah Kami binasakan itu tidak ada yang kembali lagi kepada mereka. Mereka tidak akan kembali ke dunia.

32

وَاِنْ كُلٌّ لَّمَّا جَمِيْعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُوْنَ ࣖ

Wa in kullul lammā jamī‘ul ladainā muḥḍarūn(a).

Tidak ada satu (umat) pun, kecuali semuanya akan dihadirkan kepada Kami (untuk dihisab).

Dan setiap umat, dari generasi pertama hingga terakhir, semuanya akan dihadapkan oleh malaikat kepada Kami untuk diminta pertanggungjawaban atas perbuatan mereka di dunia.

33

وَاٰيَةٌ لَّهُمُ الْاَرْضُ الْمَيْتَةُ ۖاَحْيَيْنٰهَا وَاَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُوْنَ

Wa āyatul lahumul-arḍul-maitah(tu), aḥyaināhā wa akhrajnā minhā ḥabban faminhu ya’kulūn(a).

Suatu tanda (kekuasaan-Nya) bagi mereka adalah bumi yang mati (tandus lalu) Kami menghidupkannya dan mengeluarkan darinya biji-bijian kemudian dari (biji-bijian) itu mereka makan.

Usai menjelaskan kuasa-Nya membinasakan para pendurhaka, Allah lantas menjelaskan tanda kekuasaan-Nya di bumi. Dan suatu tanda kebesaran dan kekuasaan Allah bagi mereka adalah bumi yang mati atau tandus sehingga tidak bisa ditumbuhi tanaman, lalu Kami hidupkan bumi itu dengan air hujan dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka dari biji-bijian itu mereka makan untuk menjamin kelangsungan hidup dan memperoleh kekuatan.

34

وَجَعَلْنَا فِيْهَا جَنّٰتٍ مِّنْ نَّخِيْلٍ وَّاَعْنَابٍ وَّفَجَّرْنَا فِيْهَا مِنَ الْعُيُوْنِۙ

Wa ja‘alnā fīhā jannātim min nakhīliw wa a‘nābiw wa fajjarnā fīhā minal-‘uyūn(i).

Kami (juga) menjadikan padanya (bumi) kebun-kebun kurma dan anggur serta Kami memancarkan padanya beberapa mata air

Dan di antara bukti kuasa Kami di bumi adalah bahwa Kami jadikan padanya kebun-kebun yang dapat ditanami berbagai tanaman penghasil bahan makanan, seperti kurma dan anggur, dan Kami pun pancarkan padanya beberapa mata air yang mengalir menjadi sungai-sungai yang sangat diperlukan bagi kehidupan di bumi.

35

لِيَأْكُلُوْا مِنْ ثَمَرِهٖۙ وَمَا عَمِلَتْهُ اَيْدِيْهِمْ ۗ اَفَلَا يَشْكُرُوْنَ

Liya’kulū min ṡamarihī wa mā ‘amilathu aidīhim, afalā yasykurūn(a).

agar mereka dapat makan dari buahnya, dan dari hasil usaha tangan mereka. Mengapa mereka tidak bersyukur?

Allah menciptakan dan menganugerahkan semua itu kepada manusia agar mereka dapat makan dari buahnya dan menikmati dari hasil usaha tangan mereka. Maka mengapa mereka tidak bersyukur kepada-Nya? Mengingkari nikmat adalah sikap yang tidak pantas bagi orang yang berakal.

36

سُبْحٰنَ الَّذِيْ خَلَقَ الْاَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْۢبِتُ الْاَرْضُ وَمِنْ اَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُوْنَ

Subḥānal-lażī khalaqal-azwāja kullahā mimmā tumbitul-arḍu wa min anfusihim wa mimmā lā ya‘lamūn(a).

Maha Suci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.

Mahasuci Allah dari sifat yang tidak layak bagi-Nya, Dialah yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, yaitu keturunan Nabi Adam dari jenis laki-laki dan perempuan, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui dari semua ciptaan Allah yang terbentang di alam semesta.

37

وَاٰيَةٌ لَّهُمُ الَّيْلُ ۖنَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَاِذَا هُمْ مُّظْلِمُوْنَۙ

Wa āyatul lahumul-lailu naslakhu minhun-nahāra fa’iżā hum muẓlimūn(a).

Suatu tanda juga (atas kekuasaan Allah) bagi mereka adalah malam. Kami pisahkan siang dari (malam) itu. Maka, seketika itu mereka (berada dalam) kegelapan.

Dan suatu tanda kebesaran Allah bagi mereka adalah datangnya waktu malam. Ketika malam tiba, Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka seketika itu mereka berada dalam kegelapan malam.

38

وَالشَّمْسُ تَجْرِيْ لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۗذٰلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِۗ

Wasy-syamsu tajrī limustaqarril lahā, żālika taqdīrul-‘azīzil-‘alīm(i).

(Suatu tanda juga atas kekuasaan Allah bagi mereka adalah) matahari yang berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Dan di antara tanda kuasa-Nya adalah bahwa matahari berjalan di tempat peredarannya yang telah ditentukan dengan tertib menurut kehendak Allah dan sedikit pun tidak menyimpang. Demikianlah ketetapan Allah Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui dengan ilmu-Nya yang meliputi seluruh makhluk.

39

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنٰهُ مَنَازِلَ حَتّٰى عَادَ كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِ

Wal-qamara qaddarnāhu manāzila ḥattā ‘āda kal-‘urjūnil-qadīm(i).

(Begitu juga) bulan, Kami tetapkan bagi(-nya) tempat-tempat peredaran sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir,) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua.

Dan telah Kami tetapkan pula jarak-jarak tertentu sebagai tempat peredaran bagi bulan, sehingga setiap saat jarak tersebut mengalami perubahan. Sesampainya ke tempat peredaran yang terakhir, kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. Mula-mula penampakan bulan muncul dalam keadaan kecil dan cahaya yang lemah, beralih menjadi bulan sabit dengan sinar yang terang, berubah menjadi bulan purnama, kemudian perlahan kembali mengecil dan kembali ke bentuk semula.

40

لَا الشَّمْسُ يَنْۢبَغِيْ لَهَآ اَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۗوَكُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ

Lasy-syamsu yambagī lahā an tudrikal-qamara wa lal-lailu sābiqun-nahār(i), wa kullun fī falakiy yasbaḥūn(a).

Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.

Demikianlah sunatullah yang telah Dia tetapkan. Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan sehingga keduanya bertabrakan, dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya yang telah digariskan untuknya.

41

وَاٰيَةٌ لَّهُمْ اَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِى الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِۙ

Wa āyatul lahum annā ḥamalnā żurriyyatahum fil-fulkil-masyḥūn(i).

Suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah bahwa Kami mengangkut keturunan mereka dalam kapal yang penuh muatan.

Tidak terbatas pada kejadian-kejadian di alam semesta, kekuasaan Allah juga meliputi fenomena di samudera. Dan suatu tanda kebesaran Allah bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dan segala macam barang keperluan mereka dalam kapal yang penuh muatan, dari satu kota ke kota lain atau dari satu negeri ke negeri lain.

42

وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِّنْ مِّثْلِهٖ مَا يَرْكَبُوْنَ

Wa khalaqnā lahum mim miṡlihī mā yarkabūn(a).

(Begitu juga) Kami menciptakan untuk mereka dari jenis itu angkutan (lain) yang mereka kendarai.

Dan selain itu Kami ciptakan juga untuk mereka angkutan lainnya, seperti apa yang mereka kendarai di darat berupa hewan-hewan tunggangan dan alat-alat angkut pada umumnya (Lihat Surah an-Nahl/16: 8).

43

وَاِنْ نَّشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيْخَ لَهُمْ وَلَاهُمْ يُنْقَذُوْنَۙ

Wa in nasya’ nugriqhum falā ṣarīkha lahum wa lā hum yunqażūn(a).

Jika Kami menghendaki, Kami akan menenggelamkan mereka. Kemudian, tidak ada penolong bagi mereka dan tidak (pula) mereka diselamatkan.

Dan ingatlah, jika Kami menghendaki mereka tidak selamat dalam pelayaran laut itu, Kami tenggelamkan mereka ke laut dengan datangnya badai atau rusaknya bahtera. Maka ketika itu tidak ada seorang penolong pun bagi mereka dan tidak pula mereka dapat diselamatkan.

44

اِلَّا رَحْمَةً مِّنَّا وَمَتَاعًا اِلٰى حِيْنٍ

Illā raḥmatam minnā wa matā‘an ilā ḥīn(in).

Akan tetapi, (Kami menyelamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberi mereka kesenangan hidup sampai waktu tertentu.

Mereka tidak akan selamat dari bencana itu melainkan jika kami menghendakinya karena rahmat dan kasih sayang yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup dengan sarana transportasi tersebut sampai waktu tertentu, selagi mereka tidak melakukan penyimpangan. Ayat ini mengingatkan manusia agar tidak berlaku sombong dan angkuh dalam segala urusan.

45

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّقُوْا مَا بَيْنَ اَيْدِيْكُمْ وَمَا خَلْفَكُمْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Wa iżā qīla lahumuttaqū mā baina aidīkum wa mā khalfakum la‘allakum turḥamūn(a).

Ketika dikatakan kepada mereka, “Takutlah kamu akan (siksa) yang ada di hadapanmu (di dunia) dan azab yang ada di belakangmu (akhirat) agar kamu mendapat rahmat,” (maka mereka berpaling).

Meski menyaksikan dengan nyata bukti-bukti kekuasaan Allah dan kemampuan yang Allah berikan kepada manusia untuk membuat sarana transportasi, banyak manusia tetap ingkar dan menyekutukan Allah. Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Takutlah kamu akan siksa dunia yang di hadapanmu sebagaimana yang menimpa umat-umat terdahulu, dan azab yang akan datang kelak di akhirat agar kamu mendapat rahmat dari-Nya.”

46

وَمَا تَأْتِيْهِمْ مِّنْ اٰيَةٍ مِّنْ اٰيٰتِ رَبِّهِمْ اِلَّا كَانُوْا عَنْهَا مُعْرِضِيْنَ

Wa mā ta’tīhim min āyatim min āyāti rabbihim illā kānū ‘anhā mu‘riḍīn(a).

Tidak satu pun dari tanda-tanda (kebesaran) Tuhan datang kepada mereka, kecuali mereka berpaling darinya.

Dan adapun orang yang ingkar, setiap kali suatu tanda dari tanda-tanda kebesaran dan keesaan Tuhan datang kepada mereka melalui para rasul dan ayat Al-Qur’an, mereka selalu berpaling darinya dengan penuh pengingkaran.

47

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ اَنْفِقُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ ۙقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنُطْعِمُ مَنْ لَّوْ يَشَاۤءُ اللّٰهُ اَطْعَمَهٗٓ ۖاِنْ اَنْتُمْ اِلَّا فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Wa iżā qīla lahum anfiqū mimmā razaqakumullāh(u), qālal-lażīna kafarū lil-lażīna āmanū anuṭ‘imu mal lau yasyā’ullāhu aṭ‘amah(ū), in antum illā fī ḍalālim mubīn(in).

Apabila dikatakan kepada mereka, “Infakkanlah sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadamu,” orang-orang yang kufur itu berkata kepada orang-orang yang beriman, “Apakah pantas kami memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki, Dia akan memberinya makan? Kamu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Dan salah satu bukti keingkaran mereka adalah bahwa apabila dikatakan kepada mereka, “Infakkanlah sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadamu kepada orang yang membutuhkan,” orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman dengan nada mengejek, “Apakah pantas kami memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki, Dia akan memberinya makan? Sungguh, kamu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” Demikianlah sifat orang kafir. Mereka tidak mau berinfak, bersedekah, dan berzakat padahal semua itu akan kembali manfaatnya kepada diri mereka.

48

وَيَقُوْلُوْنَ مَتٰى هٰذَا الْوَعْدُ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

Wa yaqūlūna matā hāżal-wa‘du in kuntum ṣādiqīn(a).

Mereka berkata, “Kapankah janji (hari Kebangkitan) ini (terjadi) jika kamu orang-orang benar?”

Tidak hanya mengingkari utusan Allah, orang-orang kafir itu juga mengingkari hari kebangkitan. Dan apabila dikatakan bahwa mereka kelak akan dibangkitkan dari kubur, mereka itu pun berkata dengan nada mengejek, “Kapan janji hari kebangkitan itu terjadi jika kamu orang yang benar dalam perkataanmu tentangnya?”

49

مَا يَنْظُرُوْنَ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُوْنَ

Mā yanẓurūna illā ṣaiḥataw wāḥidatan ta’khużuhum wa hum yakhiṣṣimūn(a).

Mereka hanya menunggu satu teriakan yang akan membinasakan mereka saat mereka (sibuk) bertengkar (tentang urusan dunia).

Allah mengingatkan orang-orang kafir itu bahwa mereka tidak akan menunggu lama kedatangan hari kebangkitan, melainkan hanya menunggu satu teriakan saja, yaitu tiupan sangkakala pertama yang menghancurkan alam semesta. Suara sangkakala itu yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar karena ia datang secara tiba-tiba (Lihat Surah az-Zukhruf/43: 66).

50

فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَ تَوْصِيَةً وَّلَآ اِلٰٓى اَهْلِهِمْ يَرْجِعُوْنَ ࣖ

Falā yastaṭī‘ūna tauṣiyataw wa lā ilā ahlihim yarji‘ūn(a).

Oleh sebab itu, mereka tidak dapat berwasiat dan tidak dapat kembali kepada keluarganya.

Tiupan sangkakala yang pertama itu terjadi dengan cepat dan tiba-tiba sehingga mereka tidak mampu membuat suatu wasiat atau pesan kepada keluarganya dan mereka juga tidak dapat kembali berkumpul kepada keluarganya lagi.

51

وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَاِذَا هُمْ مِّنَ الْاَجْدَاثِ اِلٰى رَبِّهِمْ يَنْسِلُوْنَ

Wa nufikha fiṣ-ṣūri fa’iżā hum minal-ajdāṡi ilā rabbihim yansilūn(a).

Sangkakala pun ditiup dan seketika itu mereka bergerak cepat dari kuburnya menuju kepada Tuhannya.

Semua makhluk hidup binasa dengan tiupan sangkakala yang pertama, lalu ditiuplah sangkakala yang kedua untuk membangkitkan mereka dari kematian, maka seketika itu mereka keluar dari kuburnya dalam keadaan hidup dan berjalan menuju kepada Tuhannya untuk dihisab dan menerima putusan (Lihat Surah al-Ma’arij/70: 43).

52

قَالُوْا يٰوَيْلَنَا مَنْۢ بَعَثَنَا مِنْ مَّرْقَدِنَا ۜهٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُوْنَ

Qālū yā wailanā mam ba‘aṡanā mim marqadinā…hāżā mā wa‘adar-raḥmānu wa ṣadaqal-mursalūn(a).

Mereka berkata, “Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” (Lalu, dikatakan kepada mereka,) “Inilah yang dijanjikan (Allah) Yang Maha Pengasih dan benarlah para rasul(-Nya).”

Orang-orang kafir itu kaget dan heran pada saat dibangkitkan. Mereka berkata, “Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami di alam kubur?” Mereka berkata demikian karena akan menghadapi kesulitan dan malapetaka yang lebih besar. Adapun orang-orang beriman akan berkata, “Inilah hari kebangkitan yang dijanjikan oleh Allah Yang Maha Pengasih, dan benarlah apa yang disampaikan oleh rasul-rasul-Nya.”

53

اِنْ كَانَتْ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً فَاِذَا هُمْ جَمِيْعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُوْنَ

In kānat illā ṣaiḥataw wāḥidatan fa’iżā hum jamī‘ul ladainā muḥḍarūn(a).

Teriakan itu hanya sekali saja, maka seketika itu mereka semua dihadapkan kepada Kami (untuk dihisab).

Teriakan sebagai pertanda kebangkitan itu hanya sekali saja, maka seketika itu mereka semua dihadapkan kepada Kami untuk dihisab. Ayat ini menerangkan betapa mudah bagi Allah untuk membangkitkan seluruh umat manusia (Lihat Surah an-Nahl/16: 77)

54

فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْـًٔا وَّلَا تُجْزَوْنَ اِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Fal-yauma lā tuẓlamu nafsun syai’aw wa lā tujzauna illā mā kuntum ta‘malūn(a).

Pada hari itu tidak ada sama sekali orang yang dirugikan sedikit pun. Kamu tidak akan diberi balasan, kecuali atas apa yang telah kamu kerjakan.

Maka pada hari kebangkitan itu seseorang tidak akan dirugikan sedikit pun dalam menerima imbalan atau balasan dari Allah atas amal perbuatan mereka, dan kamu tidak akan diberi balasan berupa siksa atau pahala kecuali sesuai dengan apa yang telah kamu kerjakan di dunia.

55

اِنَّ اَصْحٰبَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِيْ شُغُلٍ فٰكِهُوْنَ ۚ

Inna aṣḥābal-jannatil-yauma fī syugulin fākihūn(a).

Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu berada dalam kesibukan (sehingga tidak sempat berpikir tentang penghuni neraka) lagi bersenang-senang.

Beralih dari penjelasan tentang keniscayaan hari Kiamat dan kebangkitan, Allah kemudian menggambarkan kebahagiaan orang mukmin di surga. Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan mereka. Mereka merasakan kesenangan dan kenikmatan yang belum pernah mereka temukan, keindahan yang belum pernah mereka lihat, dan suara menyejukkan kalbu yang belum pernah mereka dengar.

56

هُمْ وَاَزْوَاجُهُمْ فِيْ ظِلٰلٍ عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ مُتَّكِـُٔوْنَ ۚ

Hum wa azwājuhum fī ẓilālin ‘alal-arā’iki muttaki’ūn(a).

Mereka dan pasangan-pasangannya berada dalam tempat yang teduh sambil berbaring di atas ranjang berkelambu.

Orang-orang beriman itu bersenang-senang di surga. Mereka dan pasangan-pasangannya di surga berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan sambil berbincang dan menikmati berbagai rezeki dari Allah.

57

لَهُمْ فِيْهَا فَاكِهَةٌ وَّلَهُمْ مَّا يَدَّعُوْنَ ۚ

Lahum fīhā fākihatuw wa lahum mā yadda‘ūn(a).

Di (surga) itu mereka memperoleh buah-buahan dan apa saja yang mereka inginkan.

Di surga itu mereka memperoleh berbagai macam buah-buahan yang segar lagi lezat (Lihat Surah ad-Dukhan/44: 55) dan memperoleh apa saja yang mereka inginkan dari berbagai macam kebutuhan.

58

سَلٰمٌۗ قَوْلًا مِّنْ رَّبٍّ رَّحِيْمٍ

Salāmun qaulam mir rabbir raḥīm(in).

(Kepada mereka dikatakan,) “Salam sejahtera” sebagai ucapan dari Tuhan Yang Maha Penyayang.

Kepada mereka dikatakan, “Salam,” sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. Salam inilah yang sangat mereka harapkan karena merupakan suatu bentuk pemuliaan bagi mereka.

59

وَامْتَازُوا الْيَوْمَ اَيُّهَا الْمُجْرِمُوْنَ

Wamtāzul-yauma ayyuhal-mujrimūn(a).

(Dikatakan kepada orang-orang kafir,) “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, wahai para pendurhaka!

Usai memaparkan keadaan orang mukmin beserta kenikmatan yang mereka peroleh di surga, Allah dalam ayat ini beralih menjelaskan kondisi orang kafir di akhirat. Dan dikatakan kepada orang kafir, “Berpisahlah kamu pada hari ini dari orang mukmin, wahai orang-orang yang berdosa! Masuklah kamu ke neraka, berpisah dari orang mukmin yang akan menuju surga (Lihat Surah a-Saffat/37: 22-23)

60

۞ اَلَمْ اَعْهَدْ اِلَيْكُمْ يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ اَنْ لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطٰنَۚ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Alam a‘had ilaikum yā banī ādama allā ta‘budusy-syaiṭān(a), innahū lakum ‘aduwwum mubīn(un).

Bukankah Aku telah berpesan kepadamu dengan sungguh-sungguh, wahai anak cucu Adam, bahwa janganlah kamu menyembah setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu.

Dikatakan juga kepada orang kafir itu, “Bukankah Aku dahulu telah memerintahkan kepadamu, wahai anak cucu Adam, agar kamu sekali-kali tidak menyembah setan? Aku bahkan telah mengutus para rasul untuk menyampaikan risalah kepadamu. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kamu karena sejak dahulu telah menyesatkan manusia.

61

وَاَنِ اعْبُدُوْنِيْ ۗهٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ

Wa ani‘budūnī, hāżā ṣirāṭum mustaqīm(un).

(Begitu juga bahwa) sembahlah Aku. Inilah jalan yang lurus.”

Dan bukankah telah Aku perintahkan juga kepadamu, wahai anak cucu Adam, hendaklah kamu menyembah-Ku dan menaati perintah-Ku. Inilah agama Islam, jalan yang lurus yang harus kamu tempuh agar kamu selamat.

62

وَلَقَدْ اَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيْرًا ۗاَفَلَمْ تَكُوْنُوْا تَعْقِلُوْنَ

Wa laqad aḍalla minkum jibillan kaṡīrā(n), afalam takūnū ta‘qilūn(a).

Sungguh, ia (setan itu) benar-benar telah menyesatkan sangat banyak orang dari kamu. Maka, apakah kamu tidak mengerti?

Janganlah kamu menyembah setan. Dan ketahuilah bahwa sungguh, ia telah menyesatkan sebagian besar di antara kamu dengan mendorong mereka untuk ingkar terhadap perintah Allah, bahkan menyekutukan-Nya. Maka, apakah kamu tidak mengerti akibat dari mengikuti langkah setan dan menempuh jalan kesesatan?

63

هٰذِهٖ جَهَنَّمُ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

Hāżihī jahannamul-latī kuntum tū‘adūn(a).

Inilah (neraka) Jahanam yang dahulu telah diperingatkan kepadamu.

Dikatakan juga kepada orang kafir, “Inilah neraka Jahanam, tempat bagi para pendurhaka, yang dahulu telah diperingatkan kepadamu agar kamu menjauhinya. Para rasul telah mengingatkan kamu tentangnya.”

64

اِصْلَوْهَا الْيَوْمَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُوْنَ

Iṣlauhal-yauma bimā kuntum takfurūn(a).

Masuklah ke dalamnya pada hari ini karena dahulu kamu mengingkarinya.

Allah berkata kepada orang-orang kafir, “Masuklah ke dalamnya dan rasakanlah pada hari ini panasnya api neraka karena dahulu kamu mengingkarinya.”

65

اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰٓى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Al-yauma nakhtimu ‘alā afwāhihim wa tukallimunā aidīhim wa tasyhadu arjuluhum bimā kānū yaksibūn(a).

Pada hari ini Kami membungkam mulut mereka. Tangan merekalah yang berkata kepada Kami dan kaki merekalah yang akan bersaksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka sehingga tidak dapat berkata bohong atau berdalih sedikit pun. Tangan mereka akan berkata kepada Kami perihal perbuatan yang mereka lakukan di dunia, dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Dengan demikian, mereka tidak mungkin mengelak atas dosa yang telah mereka lakukan (Lihat Surah Fussilat/41: 19-20).

66

وَلَوْ نَشَاۤءُ لَطَمَسْنَا عَلٰٓى اَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَاَنّٰى يُبْصِرُوْنَ

Wa lau nasyā’u laṭamasnā ‘alā a‘yunihim fastabaquṣ-ṣirāṭa fa annā yubṣirūn(a).

Seandainya Kami menghendaki, pastilah Kami akan menghapus penglihatan (membutakan) mereka sehingga mereka berlomba-lomba (mencari) jalan (selamat). Maka, bagaimana mungkin mereka dapat melihat?

Dan jika Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan penglihatan mata mereka sehingga dengan demikian mereka berlomba-lomba mencari jalan yang terang. Namun, Kami tidak melakukan hal itu karena kasih sayang Kami agar mereka mencari jalan yang benar dan mensyukuri karunia Allah. Andaikata Kami hapus penglihatan mereka, maka bagaimana mungkin mereka dapat melihat karunia dan kekuasaan Allah? Karena itu, tidak ada alasan bagi mereka berdalih terhadap ketetapan Allah.

67

وَلَوْ نَشَاۤءُ لَمَسَخْنٰهُمْ عَلٰى مَكَانَتِهِمْ فَمَا اسْتَطَاعُوْا مُضِيًّا وَّلَا يَرْجِعُوْنَ ࣖ

Wa lau nasyā’u lamasakhnāhum ‘alā makānatihim famastaṭā‘ū muḍiyyaw wa lā yarji‘ūn(a).

Seandainya Kami menghendaki, pastilah Kami akan mengubah bentuk mereka di tempat mereka berada, sehingga mereka tidak sanggup meneruskan perjalanan dan juga tidak sanggup pulang kembali.

Dan jika Kami menghendaki pula, pastilah Kami ubah bentuk mereka,yakni orang-orang kafir, di tempat mereka berada sehingga mereka tidak sanggup berjalan lagi dan juga tidak sanggup kembali. Namun, hal itu tidak Kami lakukan karena kasih sayang Kami. Karena rahmat pula, Aku masih memberi manusia kesempatan untuk bertobat dan beramal saleh meski mereka telah menyekutukan-Ku.

68

وَمَنْ نُّعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِى الْخَلْقِۗ اَفَلَا يَعْقِلُوْنَ

Wa man nu‘ammirhu nunakkishu fil-khalq(i), afalā ya‘qilūn(a).

Siapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami balik proses penciptaannya (dari kuat menuju lemah). Maka, apakah mereka tidak mengerti?

Dan ingatlah wahai anak cucu Adam, barang siapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadiannya. Pada saat itu dia kembali lemah dan kurang akal, layaknya anak kecil, sehingga tidak kuat lagi melakukan ibadah yang berat. Maka, mengapa mereka tidak mengerti dan memanfaatkan kesempatan selagi muda?

69

وَمَا عَلَّمْنٰهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْۢبَغِيْ لَهٗ ۗاِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ وَّقُرْاٰنٌ مُّبِيْنٌ ۙ

Wa mā ‘allamnāhusy-syi‘ra wa mā yambagī lah(ū), in huwa illā żikruw wa qur’ānum mubīn(un).

Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Nabi Muhammad) dan (bersyair) itu tidaklah pantas baginya. (Wahyu yang Kami turunkan kepadanya) itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Al-Qur’an yang jelas

Kumpulan ayat berikut menyangkal orang kafir yang menuduh Al-Qur’an adalah syair ciptaan Nabi Muhammad. Dan Kami tidak meng-ajarkan syair kepadanya dan bersyair itu tidaklah pantas baginya karena syair adalah buah khayalan. Nabi Muhammad adalah rasul yang Allah tugaskan untuk menyampaikan wahyu, dan Al-Qur’an itu adalah wahyu Allah yang kandungannya tidak lain hanyalah pelajaran untuk memperbaiki umat dan merupakan Kitab yang jelas dalam menerangkan hukum dan syariat Allah.

70

لِّيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَّيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ

Liyunżira man kāna ḥayyaw wa yaḥiqqal-qaulu ‘alal-kāfirīn(a).

agar dia (Nabi Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan agar ketetapan (azab) terhadap orang-orang kafir itu menjadi pasti.

Kami wahyukan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad agar dia memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup hatinya sehingga bisa mengambil pelajaran darinya dan agar dia memberi peringatan serta bukti yang pasti akan ketetapan dan azab terhadap orang-orang kafir yang mengingkari wahyu itu.

71

اَوَلَمْ يَرَوْا اَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِّمَّا عَمِلَتْ اَيْدِيْنَآ اَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مٰلِكُوْنَ

Awalam yarau annā khalaqnā lahum mimmā ‘amilat aidīnā an‘āman fahum lahā mālikūn(a).

Tidakkah mereka mengetahui bahwa Kami telah menciptakan untuk mereka hewan-hewan ternak dari ciptaan tangan Kami (sendiri), lalu mereka menjadi pemiliknya?

Kami telah memberi peringatan kepada orang-orang kafir itu. Dan tidakkah mereka melihat bahwa Kami telah menciptakan hewan ternak untuk mereka seperti unta, sapi, dan kambing, yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami, lalu mereka menguasainya untuk memperoleh manfaat darinya sedemikian rupa? Seharusnya mereka mensyukuri hal tersebut, bukan mengingkarinya.

72

وَذَلَّلْنٰهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوْبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُوْنَ

Wa żallalnāhā lahum fa minhā rakūbuhum wa minhā ya’kulūn(a).

Kami menjadikannya (hewan-hewan itu) tunduk kepada mereka. Sebagian di antaranya menjadi tunggangan mereka dan sebagian (lagi) mereka makan.

Dan tidak hanya menciptakan hewan-hewan itu, Kami pun menundukkannya untuk mereka, lalu sebagiannya mereka manfaatkan untuk menjadi tunggangan dan alat angkut mereka serta barang-barang mereka, dan sebagian dari hewan-hewan itu Kami ciptakan untuk mereka makan dagingnya.

73

وَلَهُمْ فِيْهَا مَنَافِعُ وَمَشَارِبُۗ اَفَلَا يَشْكُرُوْنَ

Wa lahum fīhā manāfi‘u wa masyārib(u), afalā yasykurūn(a).

Pada dirinya (hewan-hewan ternak itu) terdapat berbagai manfaat dan minuman untuk mereka. Apakah mereka tidak bersyukur?

Dan mereka dapat pula memperoleh berbagai manfaat berupa bahan pakaian dan minuman darinya, yakni dari hewan-hewan tersebut (Lihat Surah an-Nahl/16: 80). Maka, mengapa mereka tidak bersyukur kepada Allah yang telah menyediakan itu semua untuk keperluan mereka?

74

وَاتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اٰلِهَةً لَّعَلَّهُمْ يُنْصَرُوْنَ ۗ

Wattakhażū min dūnillāhi ālihatal la‘allahum yunṣarūn(a).

Mereka menjadikan sesembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan.

Dan alih-alih bersyukur atas manfaat yang orang-orang kafir itu dapatkan dari hewan-hewan tersebut, mereka justru kufur dan mengambil sesembahan selain Allah. Mereka menjadikan berhala atau benda-benda lain yang dianggap memiliki kekuatan sebagai sesembahan agar keinginan mereka terwujud dan mereka mendapat pertolongan darinya.

75

لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ نَصْرَهُمْۙ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُّحْضَرُوْنَ

Lā yastaṭī‘ūna naṣrahum, wa hum lahum jundum muḥḍarūn(a).

(Sesembahan) itu tidak mampu menolong mereka, padahal (sesembahan) itu adalah tentara yang dihadirkan untuk menjaganya.

Sesembahan orang-orang musyrik itu tidak memiliki kekuatan apa pun untuk memberi manfaat atau menolak mudarat dari mereka. Mereka itu tidak dapat menolong mereka sedikit pun; padahal mereka itu, yaitu orang-orang musyrik, menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga sesembahan itu karena tidak mampu menjaga diri mereka sendiri.

76

فَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ ۘاِنَّا نَعْلَمُ مَا يُسِرُّوْنَ وَمَا يُعْلِنُوْنَ

Falā yaḥzunka qauluhum, innā na‘lamu mā yusirrūna wa mā yu‘linūn(a).

Maka, jangan sampai ucapan mereka membuat engkau (Nabi Muhammad) bersedih hati. Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.

Maka dari itu, wahai Nabi Muhammad, jangan sampai ucapan mereka yang penuh kekafiran kepada Allah dan pendustaan kepadamu itu membuat engkau bersedih hati. Sungguh, Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dalam hati mereka dan apa yang mereka nyatakan dalam bentuk perbuatan. Mereka akan diminta pertanggungjawaban atasnya pada hari Kiamat dan pasti akan menerima balasannya.

77

اَوَلَمْ يَرَ الْاِنْسَانُ اَنَّا خَلَقْنٰهُ مِنْ نُّطْفَةٍ فَاِذَا هُوَ خَصِيْمٌ مُّبِيْنٌ

Awalam yaral-insānu annā khalaqnāhu min nuṭfatin fa’iżā huwa khaṣīmum mubīn(un).

Tidakkah manusia mengetahui bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani? Kemudian tiba-tiba saja dia menjadi musuh yang nyata.

Beralih dari uraian tentang pendustaan kaum kafir kepada Nabi Muhammad, Allah melalui ayat ini menjelaskan keniscayaan hari kebangkitan. Ayat ini turun untuk menjawab kelancangan al-‘As bin Wa’il yang menantang Rasulullah untuk membuktikan kemampuan Allah membangkitkan kembali tulang lapuk yang dibawanya. Dan tidakkah manusia memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, kemudian setelah melalui berbagai proses ia lahir ke dunia dan tumbuh menjadi manusia sempurna, lalu ternyata dia menjadi musuh yang nyata! Mereka berubah menjadi musuh dengan mengingkari hari kebangkitan. Sungguh, sikap ini tidak sejalan dengan akal sehat.

78

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَّنَسِيَ خَلْقَهٗۗ قَالَ مَنْ يُّحْيِ الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيْمٌ

Wa ḍaraba lanā maṡalaw wa nasiya khalqah(ū), qāla may yuḥyil-‘iẓāma wa hiya ramīm(un).

Dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal penciptaannya. Dia berkata, “Siapakah yang bisa menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?”

Demikianlah keingkaran manusia kepada Kami. Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya dari setetes air mani yang hina. Dia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh?” Jika menyadari asal kejadiannya, tentu manusia akan percaya bahwa Allah Mahakuasa menghidupkannya kembali sesudah mati.

79

قُلْ يُحْيِيْهَا الَّذِيْٓ اَنْشَاَهَآ اَوَّلَ مَرَّةٍ ۗوَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيْمٌ ۙ

Qul yuḥyīhal-lażī ansya’ahā awwala marrah(tin), wa huwa bikulli khalqin ‘alīm(un).

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Yang akan menghidupkannya adalah Zat yang menciptakannya pertama kali. Dia Maha Mengetahui setiap makhluk.

Untuk menjawab pertanyaan mereka, katakanlah wahai Nabi Muhammad bahwa yang akan menghidupkannya kembali setelah hancur luluh ialah Allah yang telah menciptakannya pertama kali. Baik menciptakan untuk pertama kali maupun menghidupkan kembali manusia yang telah telah mati adalah hal yang sangat mudah bagi Allah. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk ciptaan-Nya.

80

ۨالَّذِيْ جَعَلَ لَكُمْ مِّنَ الشَّجَرِ الْاَخْضَرِ نَارًاۙ فَاِذَآ اَنْتُمْ مِّنْهُ تُوْقِدُوْنَ

Allażī ja‘ala lakum minasy-syajaril-akhḍari nārā(n), fa’iżā antum minhu tūqidūn(a).

(Dialah) yang menjadikan api untukmu dari kayu yang hijau. Kemudian, seketika itu kamu menyalakan (api) darinya.”

Tuhan yang akan menghidupkan kembali tulang belulang yang telah lapuk tersebut yaitu Allah yang menjadikan api untukmu dari kayu yang semula berupa pohon yang basah dan hijau. Begitu kayu itu kering, maka seketika itu kamu nyalakan api dari kayu itu dan dapat meng-ambil manfaat dari api itu.”

81

اَوَلَيْسَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِقٰدِرٍ عَلٰٓى اَنْ يَّخْلُقَ مِثْلَهُمْ ۗبَلٰى وَهُوَ الْخَلّٰقُ الْعَلِيْمُ

Awa laisal-lażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa biqādirin ‘alā ay yakhluqa miṡlahum, balā wa huwal-khallāqul-‘alīm(u).

Bukankah Zat yang menciptakan langit dan bumi mampu menciptakan manusia yang serupa mereka itu (di akhirat kelak)? Benar. Dialah yang Maha Banyak Mencipta lagi Maha Mengetahui.

Demikianlah bukti-bukti kuasa Allah. Dan bukankah Allah yang mampu menciptakan langit dan bumi, mampu pula menciptakan kembali yang serupa itu, yaitu jasad mereka yang sudah hancur? Benar. Allah kuasa menciptakannya dan Dia Maha Pencipta segala sesuatu lagi Maha Mengetahui ciptaan-Nya.

82

اِنَّمَآ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔاۖ اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ

Innamā amruhū iżā arāda syai’an ay yaqūla lahū kun fa yakūn(u).

Sesungguhnya ketetapan-Nya, jika Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka, jadilah (sesuatu) itu.

Sesungguhnya urusan-Nya menciptakan segala sesuatu sangatlah mudah bagi-Nya. Apabila Dia menghendaki untuk menciptakan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka dengan serta-merta jadilah sesuatu yang dikehendaki-Nya itu.

83

فَسُبْحٰنَ الَّذِيْ بِيَدِهٖ مَلَكُوْتُ كُلِّ شَيْءٍ وَّاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ ࣖ

Fa subḥānal-lażī biyadihī malakūtu kulli syai’iw wa ilaihi turja‘ūn(a).

Maka, Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan.

Itulah Allah Yang Mahakuasa. Maka Mahasuci Allah yang di tangan-Nya kekuasaan penuh atas segala sesuatu di alam ini. Dialah yang menciptakan, mengatur, serta memeliharanya, dan kepada-Nya juga kamu dikembalikan. Keyakinan akan kekuasaan Allah akan timbul dalam hati apabila manusia mau menggunakan akal sehatnya untuk memperhatikan alam semesta ini.

Surat As-Saffat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

وَالصّٰۤفّٰتِ صَفًّاۙ

Waṣ-ṣāffāti ṣaffā(n).

Demi (rombongan malaikat) yang berbaris bersaf-saf, (untuk beribadah kepada Allah),

Bila pada akhir Surah Yasin Allah menjelaskan keesaan dan kekuasaan-Nya pada hari Kiamat, pada permulaan surah ini Allah menegaskan bukti kekuasaan-Nya di alam raya. Demi rombongan malaikat yang berbaris bersaf-saf dengan rapi dalam melaksanakan tugas dan perintah Allah;

2

فَالزّٰجِرٰتِ زَجْرًاۙ

Faz-zājirāti zajrā(n).

demi (rombongan malaikat) yang mencegah (segala sesuatu) dengan sungguh-sungguh,

Demi rombongan malaikat yang mencegah dengan sungguh-sungguh pelaku tindakan menyimpang, dalam rangka menegakkan aturan dan keseimbangan alam;

3

فَالتّٰلِيٰتِ ذِكْرًاۙ

Fat-tāliyāti żikrā(n).

demi (rombongan malaikat) yang membacakan peringatan,

Demi rombongan malaikat yang membacakan ayat-ayat yang berisi peringatan dan pelajaran yang agung,

4

اِنَّ اِلٰهَكُمْ لَوَاحِدٌۗ

Inna ilāhakum lawāḥid(un).

sungguh, Tuhanmu benar-benar Esa.

Sungguh, Tuhanmu yang berhak disembah benar-benar Esa. Tidak ada sekutu bagi-Nya baik dalam pekerjaan maupun sifat-Nya.

5

رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَرَبُّ الْمَشَارِقِۗ

Rabbus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā wa rabbul-masyāriq(i).

Tuhan langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya dan Tuhan tempat-tempat terbitnya matahari.

Dialah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya dan Tuhan yang menciptakan tempat-tempat terbitnya matahari, bulan, bintang, planet, dan benda langit lainnya.

6

اِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاۤءَ الدُّنْيَا بِزِيْنَةِ ِۨالْكَوَاكِبِۙ

Innā zayyannas-samā’ad-dun-yā bizīnatinil-kawākib(i).

Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit dunia (yang terdekat) dengan hiasan (berupa) bintang-bintang.

Sesungguhnya Kami telah menghias langit dunia yang terdekat dengan bumi dengan hiasan bintang-bintang dan planet-planet yang begitu indah.

7

وَحِفْظًا مِّنْ كُلِّ شَيْطٰنٍ مَّارِدٍۚ

Wa ḥifẓam min kulli syaiṭānim mārid(in).

(Kami telah menjaganya dengan) penjagaan yang sempurna dari setiap setan yang durhaka.

Dan Kami telah menjadikan bintang-bintang itu sebagai pelindung langit yang menjaganya dari setiap setan yang durhaka yang hendak mencuri dengar kabar-kabar masa depan.

8

لَا يَسَّمَّعُوْنَ اِلَى الْمَلَاِ الْاَعْلٰى وَيُقْذَفُوْنَ مِنْ كُلِّ جَانِبٍۖ

Lā yassammā‘ūna ilal-mala’il-a‘lā wa yuqżafūna min kulli jānib(in).

Mereka (setan-setan) tidak dapat mendengar (percakapan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru

Dengan adanya penjagaan ketat terhadap setan-setan durhaka itu, mereka tidak dapat mendengar pembicaraan para malaikat yang akan menyampaikan wahyu kepada rasul-Nya. Dan mereka dilempari dengan benda langit yang menyala dari segala penjuru sehingga mereka tidak bisa menambah atau mengurangi wahyu yang akan diturunkan.

9

دُحُوْرًا وَّلَهُمْ عَذَابٌ وَّاصِبٌ

Duḥūraw wa lahum ‘ażābuw wāṣib(un).

untuk mengusir mereka. Bagi mereka azab yang kekal (di akhirat),

Kami lemparkan benda langit ke arah setan-setan durhaka itu untuk mengusir mereka dan mereka pun kelak akan mendapat azab yang kekal dan pedih di akhirat.

10

اِلَّا مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَاَتْبَعَهٗ شِهَابٌ ثَاقِبٌ

Illā man khaṭifal-khaṭfata fa’atba‘ahū syihābun ṡāqib(un).

kecuali (setan) yang menyambar pembicaraan dengan sekali sambar; maka ia dikejar oleh bintang yang menyala.

Setan-setan itu tidak dapat mendengar pembicaraan para malaikat, kecuali setan yang berhasil mencuri pembicaraan dengan cepat, maka ia dikejar oleh bintang yang menyala sehingga mereka pun terbakar.

11

فَاسْتَفْتِهِمْ اَهُمْ اَشَدُّ خَلْقًا اَمْ مَّنْ خَلَقْنَا ۗاِنَّا خَلَقْنٰهُمْ مِّنْ طِيْنٍ لَّازِبٍ

Fastaftihim ahum asyaddu khalqan am man khalaqnā, innā khalaqnāhum min ṭīnil lāzib(in).

Maka, tanyakanlah kepada mereka (musyrik Makkah), “Apakah mereka (manusia) lebih sulit penciptaannya ataukah selainnya (langit, bumi, dan lainnya) yang telah Kami ciptakan?” Sesungguhnya Kami telah menciptakan (bapak) mereka (Adam) dari tanah liat.

Usai menjelaskan bukti-bukti kekuasaan-Nya di alam raya, Allah beralih membuktikan kuasa-Nya dalam menciptakan manusia. Wahai Nabi Muhammad, maka tanyakanlah kepada mereka yang musyrik, “Apakah penciptaan mereka yang lebih sulit ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu yakni malaikat, langit, dan bumi seisinya?” Sesungguhnya Kami telah menciptakan Nabi Adam, yaitu nenek moyang mereka dari tanah liat.

12

بَلْ عَجِبْتَ وَيَسْخَرُوْنَ ۖ

Bal ‘ajibta wa yaskharūn(a).

Bahkan, engkau (Nabi Muhammad) menjadi heran (terhadap keingkaran mereka) dan mereka selalu menghinamu.

Bahkan, wahai Nabi Muhammad, engkau menjadi heran atas keingkaran mereka terhadap risalahmu, hari kebangkitan, dan kekuasaan Allah, dan mereka menghinakan engkau karena keherananmu itu dan mereka pun menyepelekan hari kebangkitan.

13

وَاِذَا ذُكِّرُوْا لَا يَذْكُرُوْنَ ۖ

Wa iżā żukkirū lā yażkurūn(a).

Apabila diberi peringatan, mereka tidak mengingat (mengindahkannya).

Dan apabila mereka diberi peringatan sebagimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an, mereka tidak mengindahkannya, bahkan berpaling darinya.

14

وَاِذَا رَاَوْا اٰيَةً يَّسْتَسْخِرُوْنَۖ

Wa iżā ra’au āyatay yastaskhirūn(a).

Apabila melihat suatu tanda (kebesaran Allah atau kebenaran Nabi Muhammad), mereka sangat menghina.

Dan apabila mereka melihat suatu tanda kebesaran Allah berupa mukjizat yang diberikan kepada Nabi, seperti terbelahnya rembulan dan semisalnya, mereka memperolok-olokkan-nya.

15

وَقَالُوْٓا اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ ۚ

Wa qālū in hāżā illā siḥrum mubīn(un).

Mereka berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.

Dan mereka berkata dengan nada sinis, “Wahai Muhammad, apa yang engkau tunjukkan ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.”

16

ءَاِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَّعِظَامًا ءَاِنَّا لَمَبْعُوْثُوْنَۙ

A’iżā mitnā wa kunnā turābaw wa ‘iẓāman a’innā lamab‘ūṡūn(a).

Apabila kami telah mati, (lalu) menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan?

Mereka berkata pula, “Apabila kami telah mati dan jasad-jasad kami telah berubah menjadi tanah dan tulang-belulang yang lapuk dan hancur, apakah benar kami akan dibangkitkan kembali seperti semula?

17

اَوَاٰبَاۤؤُنَا الْاَوَّلُوْنَۗ

Awa ābā’unal-awwalūn(a).

Apakah nenek moyang kami yang terdahulu (akan dibangkitkan pula)?”

dan apakah nenek moyang kami yang telah terdahulu mati akan dibangkitkan pula?”

18

قُلْ نَعَمْ وَاَنْتُمْ دٰخِرُوْنَۚ

Qul na‘am wa antum dākhirūn(a).

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Ya (kamu akan dibangkitkan) dan kamu akan terhina.”

Wahai Nabi Muhammad, katakanlah kepada mereka, “Ya, Allah akan membangkitkan seluruh umat manusia, dan kamu akan dibangkitkan di hadapan-Nya dalam keadaan rendah dan terhina.”

19

فَاِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَّاحِدَةٌ فَاِذَا هُمْ يَنْظُرُوْنَ

Fa’innamā hiya zajratuw wāḥidatun fa’iżā hum yanẓurūn(a).

Sesungguhnya kebangkitan itu hanya dengan satu teriakan (tiupan sangkakala kedua). Maka, seketika itu mereka (bangun dari kematiannya) melihat (apa yang terjadi).

Membangkitkan makhluk yang sudah mati bukanlah hal yang sulit bagi Allah. Maka sesungguhnya kebangkitan itu hanya dengan satu teriakan saja, yaitu tiupan sangkakala Israfil, maka seketika itu pula mereka melihatnya. Mereka akan menyaksikan betapa dahsyat hari Kiamat dan azab Allah.

20

وَقَالُوْا يٰوَيْلَنَا هٰذَا يَوْمُ الدِّيْنِ

Wa qālū yā wailanā hāżā yaumud-dīn(i).

Mereka berkata, “Alangkah celaka kami! (Kiranya) inilah hari Pembalasan itu.”

Bisa saja orang-orang musyrik dan kafir itu mengingkari hari kebangkitan, tetapi mereka pasti akan menyesalinya di akhirat nanti. Dan mereka berkata, “Alangkah celaka kami! Kiranya inilah hari pembalasan itu, di mana amal perbuatan kita akan diperhitungkan.”

21

هٰذَا يَوْمُ الْفَصْلِ الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَ ࣖ

Hāżā yaumul-faṣlil-lażī kuntum bihī tukażżibūn(a).

Inilah hari keputusan yang dahulu (selalu) kamu dustakan.

Dikatakan kepada mereka, “Inilah hari keputusan yang dahulu kamu dustakan. Pada hari ini Allah akan memberi keputusan dan balasan atas semua keingkaranmu.”

22

اُحْشُرُوا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا وَاَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوْا يَعْبُدُوْنَ ۙ

Uḥsyurul-lażīna ẓalamū wa azwājahum wa mā kānū ya‘budūn(a).

(Lalu, diperintahkan kepada para malaikat,) “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan apa yang dahulu mereka sembah

Allah menurunkan perintah kepada malaikat, “Kumpulkanlah orang-orang yang berbuat zalim kepada dirinya dengan berbuat syirik beserta teman sejawat mereka yang menjerumuskan ke dalam kekafiran, dan bawalah serta apa yang dahulu mereka sembah, yaitu patung dan sesembahan lainnya.

23

مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَاهْدُوْهُمْ اِلٰى صِرَاطِ الْجَحِيْمِ

Min dūnillāhi fahdūhum ilā ṣirāṭil-jaḥīm(i).

selain Allah. Lalu, tunjukkanlah kepada mereka jalan ke (neraka) Jahim.

Bawalah serta apa yang orang-orang musyrik itu sembah selain Allah, lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka dan giringlah mereka masuk ke dalamnya.”

24

وَقِفُوْهُمْ اِنَّهُمْ مَّسْـُٔوْلُوْنَ ۙ

Waqifūhum innahum mas’ūlūn(a).

Tahanlah mereka (di tempat perhentian). Sesungguhnya mereka akan ditanya (tentang keyakinan dan perilaku mereka).”

Allah memerintah malaikat, “Tahanlah mereka di tempat pemberhentian, sesungguhnya mereka akan ditanya tentang kebohongan dan dosa yang telah mereka lakukan di dunia.”

25

مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُوْنَ

Mā lakum lā tanāṣarūn(a).

(Mereka lalu dikecam,) “Mengapa kamu tidak tolong-menolong (sebagaimana kamu di dunia)?”

Orang-orang musyrik itu ditanya, “Mengapa kamu pada hari ini tidak saling tolong-menolong sesama kamu sebagaimana kamu saling bahu-membahu dalam berbuat ingkar?”

26

بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُوْنَ

Bal humul-yauma mustaslimūn(a).

Bahkan, mereka pada hari itu menyerah (kepada putusan Allah).

Pada hari keputusan itu mereka tidak dapat saling membantu. Bahkan, mereka pada hari itu menyerah dan patuh pada keputusan Allah.

27

وَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَسَاۤءَلُوْنَ

Wa aqbala ba‘ḍuhum ‘alā ba‘ḍiy yatasā’alūn(a).

Sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling bertanya (berbantah-bantahan).

Pada hari keputusan itu orang kafir dan musyrik tunduk menerima putusan Allah. Mereka saling bertengkar satu dengan lainnya. Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain, saling berbantah-bantahan dan menyalahkan.

28

قَالُوْٓا اِنَّكُمْ كُنْتُمْ تَأْتُوْنَنَا عَنِ الْيَمِيْنِ

Qālū innakum kuntum ta’tūnanā ‘anil-yamīn(i).

(Pengikut) mereka berkata (kepada pemimpinnya), “Sesungguhnya kamulah yang dahulu selalu mendatangi kami dari arah kanan (untuk menghalangi kami dari kebajikan).”

Sesungguhnya para pengikut di antara mereka berkata kepada para pemimpinnya, “Kamulah yang dahulu datang kepada kami dari kanan, yakni arah yang kami sangka membawa kebaikan. Kamu justru datang membawa tipu muslihat yang melenakan dan mengaku sebagai pihak yang benar.”

29

قَالُوْا بَلْ لَّمْ تَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَۚ

Qālū bal lam takūnū mu’minīn(a).

(Pemimpin) mereka menjawab, “(Tidak,) bahkan kamulah yang tidak (mau) menjadi orang mukmin.

Para pemimpin mereka enggan disalahkan. Mereka menjawab, “Tidak, bahkan kamu sendiri-lah yang sejak dahulu tidak ingin menjadi orang mukmin.

30

وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُمْ مِّنْ سُلْطٰنٍۚ بَلْ كُنْتُمْ قَوْمًا طٰغِيْنَ

Wa mā kāna lanā ‘alaikum min sulṭān(in), bal kuntum qauman ṭāgīn(a).

(Sebenarnya,) kami sedikit pun tidak berkuasa terhadapmu (untuk menghalang-halangimu), bahkan kamulah kaum yang melampaui batas.

sedangkan kami tidak berkuasa apalagi memaksa terhadapmu, bahkan kamu sendiri yang memilih menjadi kaum yang melampaui batas dalam kesesatanmu.

31

فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَآ ۖاِنَّا لَذَاۤىِٕقُوْنَ

Fa ḥaqqa ‘alainā qaulu rabbinā, innā lażā’iqūn(a).

Maka, putusan (azab) Tuhan (akan) benar-benar menimpa kita. Pasti kita akan merasakan (azab itu).

Maka, sebagai balasan atas kekafiran dan kedurhakaan kita bersama, pantas bila putusan dan azab Tuhan menimpa kita; dan pasti kita semua akan merasakan azab itu.

32

فَاَغْوَيْنٰكُمْ اِنَّا كُنَّا غٰوِيْنَ

Fa agwainākum innā kunnā gāwīn(a).

Kami (mengakui) telah menyesatkan kamu. Sesungguhnya kami sendiri orang-orang yang sesat.”

Maka, kami telah menyesatkan kamu dengan mengajakmu menyekutukan Allah. Sesungguhnya kami sendiri adalah orang-orang yang sesat dan kamu pun rela mengikuti ajakan sesat kami.”

33

فَاِنَّهُمْ يَوْمَىِٕذٍ فِى الْعَذَابِ مُشْتَرِكُوْنَ

Fa innahum yauma’iżin fil-‘ażābi musytarikūn(a).

Sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama merasakan azab.

Maka sesungguhnya mereka, baik para pemimpin maupun pengikut, pada hari itu bersama-sama merasakan azab sebagaimana mereka bersekutu dalam kesesatan.

34

اِنَّا كَذٰلِكَ نَفْعَلُ بِالْمُجْرِمِيْنَ

Innā każālika naf‘alu bil-mujrimīn(a).

Sesungguhnya demikianlah Kami memperlakukan orang-orang yang berbuat dosa.

Sungguh, demikianlah ketetapan Kami dalam memperlakukan dan memutuskan hukuman terhadap orang-orang yang berbuat dosa.

35

اِنَّهُمْ كَانُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ يَسْتَكْبِرُوْنَ ۙ

Innahum kānū iżā qīla lahum lā ilāha illallāhu yastakbirūn(a).

Sesungguhnya dahulu apabila dikatakan kepada mereka, “Lā ilāha illallāh” (Tidak ada tuhan selain Allah), mereka menyombongkan diri.

Sungguh, dahulu apabila dikatakan kepada mereka untuk membenarkan kalimat “la ilaha illallah” dengan mengakui keesaan Allah, mereka justru menentang sambil menyombongkan diri,

36

وَيَقُوْلُوْنَ اَىِٕنَّا لَتَارِكُوْٓا اٰلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُوْنٍ ۗ

Wa yaqūlūna a’innā latārikū ālihatinā lisyā‘irim majnūn(in).

Mereka berkata, “Apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair gila?”

dan ketika diajak untuk menyembah dan mengesakan Allah, mereka berkata, “Apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami hanya karena seorang penyair gila?”

37

بَلْ جَاۤءَ بِالْحَقِّ وَصَدَّقَ الْمُرْسَلِيْنَ

Bal jā’a bil-ḥaqqi wa ṣaddaqal-mursalīn(a).

Padahal dia (Nabi Muhammad) datang dengan membawa kebenaran dan membenarkan para rasul (sebelumnya).

Mereka menuduh Nabi Muhammad sebagai penyair gila, padahal dia datang kepada mereka dengan membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul sebelumnya.

38

اِنَّكُمْ لَذَاۤىِٕقُوا الْعَذَابِ الْاَلِيْمِ ۚ

Innakum lażā’iqul-‘ażābil-alīm(i).

Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih.

Wahai kaum musyrik, sungguh kamu pasti akan merasakan azab yang pedih di neraka akibat kekafiran, kesesatan, dan perlawananmu terhadap Allah dan rasul-Nya.

39

وَمَا تُجْزَوْنَ اِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۙ

Wa mā tujzauna illā mā kuntum ta‘malūn(a).

Kamu tidak diberi balasan, kecuali terhadap apa yang telah kamu kerjakan.

Itulah azab bagimu, wahai kaum musyrik, dan kamu tidak diberi balasan dan azab di akhirat melainkan sebagai balasan terhadap kejahatan apa saja yang telah kamu kerjakan. Allah tidak menzalimimu sedikit pun.

40

اِلَّا عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَ

Illā ‘ibādallāhil-mukhlaṣīn(a).

Akan tetapi, hamba-hamba Allah yang terpilih (karena keikhlasannya),

Demikianlah siksa pedih yang Allah siapkan bagi orang-orang musyrik, tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan dari dosa,

41

اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ رِزْقٌ مَّعْلُوْمٌۙ

Ulā’ika lahum rizqum ma‘lūm(un).

mereka itu memperoleh rezeki yang sudah ditentukan,

mereka itu memperoleh rezeki yang sudah ditentukan tanpa henti,

42

فَوَاكِهُ ۚوَهُمْ مُّكْرَمُوْنَۙ

Fawākihu wa hum mukramūn(a).

(yaitu) buah-buahan. Mereka adalah orang-orang yang dimuliakan

yaitu buah-buahan yang beraneka ragam dan rasa. Dan mereka itulah orang yang dimuliakan di sisi Allah.

43

فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِۙ

Fī jannātin na‘īm(i).

di dalam surga-surga yang penuh kenikmatan.

Mereka dimuliakan di dalam surga-surga yang penuh kenikmatan dan diiringi kegembiraan.

44

عَلٰى سُرُرٍ مُّتَقٰبِلِيْنَ

‘Alā sururim mutaqābilīn(a).

(Mereka duduk) berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.

Mereka duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan sambil bercengkerama.

45

يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِكَأْسٍ مِّنْ مَّعِيْنٍۢ ۙ

Yuṭāfu ‘alaihim bika’sim mim ma‘īn(in).

Kepada mereka diedarkan gelas (yang berisi minuman) dari mata air (surga).

Dalam keadaan demikian, kepada mereka diedarkan gelas yang berisi air khamar dari mata air surga.

46

بَيْضَاۤءَ لَذَّةٍ لِّلشّٰرِبِيْنَۚ

Baiḍā’a lażżatil lisy-syāribīn(a).

(Warnanya) putih bersih dan lezat rasanya bagi orang-orang yang meminum(-nya).

Air khamar itu berwarna putih bersih lagi sedap rasanya bagi orang-orang yang minum.

47

لَا فِيْهَا غَوْلٌ وَّلَا هُمْ عَنْهَا يُنْزَفُوْنَ

Lā fīhā gauluw wa lā hum ‘anhā yunzafūn(a).

Tidak ada di dalamnya (unsur) yang membahayakan dan mereka tidak mabuk karenanya.

Tidak ada di dalamnya unsur yang memabukkan sebagaimana khamar dunia dan mereka tidak mabuk karenanya.

48

وَعِنْدَهُمْ قٰصِرٰتُ الطَّرْفِ عِيْنٌ ۙ

Wa ‘indahum qāṣirātuṭ-ṭarfi ‘īn(un).

Di sisi mereka ada (bidadari-bidadari) yang bermata indah dan membatasi pandangannya (dari selain pasangan mereka).

Dan di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang bermata indah dan membatasi pandangannya hanya kepada pasangannya.

49

كَاَنَّهُنَّ بَيْضٌ مَّكْنُوْنٌ

Ka’annahunna baiḍum maknūn(un).

(Warna kulit) mereka seperti (warna) telur yang tersimpan dengan baik.

Bidadari-bidadari itu sangat elok, seakan-akan mereka adalah telur yang tersimpan dan terjaga dengan baik dari tangan-tangan yang hendak menyentuh.

50

فَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَسَاۤءَلُوْنَ

Fa’aqbala ba‘ḍuhum ‘alā ba‘ḍiy yatasā’alūn(a).

Mereka berhadap-hadapan satu sama lain sambil bercakap-cakap.

Para penghuni surga itu bertelekan di atas dipan, lalu mereka berhadap-hadapan satu sama lain sambil bercakap-cakap dan menceritakan keadaan mereka di dunia.

51

قَالَ قَاۤىِٕلٌ مِّنْهُمْ اِنِّيْ كَانَ لِيْ قَرِيْنٌۙ

Qāla qā’ilum minhum innī kāna lī qarīn(un).

Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) pernah mempunyai seorang teman

Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Sesungguhnya aku di dunia dahulu pernah mempunyai seorang teman dekat,

52

يَّقُوْلُ اَءِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِيْنَ

Yaqūlu a’innaka laminal-muṣaddiqīn(a).

yang berkata, ‘Apakah sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang membenarkan (hari Kebangkitan)?

yang berkata kepadaku dengan penuh keingkaran, ‘Apakah sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang membenarkan adanya hari kebangkitan pada hari Kiamat nanti?

53

ءَاِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَّعِظَامًا ءَاِنَّا لَمَدِيْنُوْنَ

A’iżā mitnā wa kunnā turāban a’innā lamadīnūn(a).

Apabila kami telah mati (lalu) menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar (akan dibangkitkan untuk) diberi balasan?’”

Apabila kita telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kita benar-benar akan dibangkitkan dari kubur untuk diberi pembalasan atas perbuatan kita?’”

54

قَالَ هَلْ اَنْتُمْ مُّطَّلِعُوْنَ

Qāla hal antum muṭṭali‘ūn(a).

Dia berkata, “Maukah kamu menengok (temanku itu)?”

Demikianlah cerita salah sorang penghuni surga kepada kawan-kawannya. Dia pun berkata, “Maukah kamu pergi bersamaku untuk meninjau temanku yang dulu mengingkari hari kebangkitan itu?”

55

فَاطَّلَعَ فَرَاٰهُ فِيْ سَوَاۤءِ الْجَحِيْمِ

Faṭṭala‘a fa ra’āhu fī sawā’il-jaḥīm(i).

Maka, dia menengoknya. Lalu, dia melihat (teman)-nya itu di tengah-tengah (neraka) Jahim.

Maka dia bersama temannya meninjaunya, lalu dia melihat teman-nya itu tersiksa di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala.

56

قَالَ تَاللّٰهِ اِنْ كِدْتَّ لَتُرْدِيْنِ ۙ

Qāla tallāhi in kitta laturdīn(i).

Dia berkata, “Demi Allah, engkau hampir saja mencelakakanku.

Dia pun berkata kepada temannya yang diazab itu, “Demi Allah, engkau hampir saja mencelakakanku dengan bujuk rayumu,

57

وَلَوْلَا نِعْمَةُ رَبِّيْ لَكُنْتُ مِنَ الْمُحْضَرِيْنَ

Wa lau lā ni‘matu rabbī lakuntu minal-muḥḍarīn(a).

Sekiranya bukan karena nikmat Tuhanku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).

dan sekiranya bukan karena rahmat dan nikmat Tuhanku, yakni iman dan hidayah dari-Nya, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret ke neraka bersamamu.”

58

اَفَمَا نَحْنُ بِمَيِّتِيْنَۙ

Afamā naḥnu bimayyitīn(a).

Apakah kita tidak akan mati,

Para penghuni surga itu melanjutkan percakapannya, “Maka apakah kita tidak akan mati di surga ini dan tinggal selamanya dengan penuh kenikmatan?

59

اِلَّا مَوْتَتَنَا الْاُوْلٰى وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِيْنَ

Illā mautatunal-ūlā wa mā naḥnu bimu‘ażżabīn(a).

kecuali kematian kita yang pertama saja (di dunia) dan kita tidak akan diazab (di akhirat ini)?”

Penghuni surga lainnya menjawab, “Kematian yang kita rasakan hanyalah kematian yang pertama saja di dunia, dan kita tidak akan diazab di akhirat ini setelah masuk surga.”

60

اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

Inna hāżā lahuwal-fauzul-‘aẓīm(u).

Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang agung.

Sungguh kenikmatan surga ini benar-benar kemenangan yang agung, keberuntungan yang besar, dan kebahagiaan abadi.

61

لِمِثْلِ هٰذَا فَلْيَعْمَلِ الْعٰمِلُوْنَ

Limiṡli hāżā falya‘malil-‘āmilūn(a).

Untuk (kemenangan) seperti ini, hendaklah beramal (di dunia) orang-orang yang mampu beramal.

Untuk memperoleh kemenangan dan kebahagiaan serupa ini, hendaklah beramal orang-orang yang mampu beramal semasa hidup di dunia.

62

اَذٰلِكَ خَيْرٌ نُّزُلًا اَمْ شَجَرَةُ الزَّقُّوْمِ

Ażālika khairun nuzulan am syajaratuz-zaqqūm(i).

Apakah (makanan surga) itu hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqum?

Apakah makanan surga itu hidangan yang lebih baik bagi ahli surga, ataukah pohon zaqqum yang pahit dan berbau tidak sedap?

63

اِنَّا جَعَلْنٰهَا فِتْنَةً لِّلظّٰلِمِيْنَ

Innā ja‘alnāhā fitnatal liẓ-ẓālimīn(a).

Sesungguhnya Kami menjadikannya (pohon zaqum itu) sebagai azab bagi orang-orang zalim.

Sungguh, Kami menjadikannya, yakni pohon zaqqum itu, makanan penduduk neraka sebagai azab bagi orang-orang zalim.

64

اِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِيْٓ اَصْلِ الْجَحِيْمِۙ

Innahā syajaratun takhruju fī aṣlil-jaḥīm(i).

Sesungguhnya itu adalah pohon yang keluar dari dasar (neraka) Jahim.

Sungguh, itu adalah pohon yang keluar dari dasar neraka Jahim. Dahan pohon itu menjulur hingga dasar jurang neraka.

65

طَلْعُهَا كَاَنَّهٗ رُءُوْسُ الشَّيٰطِيْنِ

Ṭal‘uhā ka’annahū ru’ūsusy-syayāṭīn(i).

Mayangnya seperti kepala-kepala setan.

Mayangnya sangat buruk dan menyeramkan seperti kepala-kepala setan.

66

فَاِنَّهُمْ لَاٰكِلُوْنَ مِنْهَا فَمَالِـُٔوْنَ مِنْهَا الْبُطُوْنَۗ

Fa innahum la’ākilūna minhā fa māli’ūna minhal-buṭūn(a).

Sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian darinya (buah pohon itu) dan mereka memenuhi perutnya dengan buahnya (zaqum).

Pohon zaqqum itulah makanan para penghuni neraka. Maka sungguh, mereka benar-benar memakan sebagian darinya dan mereka memenuhi perutnya dengan buahnya karena tidak ada makanan lain bagi mereka di sana.

67

ثُمَّ اِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِّنْ حَمِيْمٍۚ

Ṡumma inna lahum ‘alaihā lasyaubam min ḥamīm(in).

(Setelah makan buah zaqum,) sesungguhnya bagi mereka minuman yang dicampur dengan air yang sangat panas.

Kemudian sungguh, setelah makan buah zaqqum yang pahit itu mereka mendapat minuman yang dicampur dengan air yang sangat panas hingga merusak pencernaan (Lihat Surah Muhammad/47: 15).

68

ثُمَّ اِنَّ مَرْجِعَهُمْ لَاِلَى الْجَحِيْمِ

Ṡumma inna marji‘ahum la’ilal-jaḥīm(i).

Kemudian, tempat kembali mereka pasti ke (neraka) Jahim.

Kemudian, sudah pasti tempat kembali mereka adalah ke neraka Jahim untuk selama-lamanya.

69

اِنَّهُمْ اَلْفَوْا اٰبَاۤءَهُمْ ضَاۤلِّيْنَۙ

Innahum alfau ābā’ahum ḍāllīn(a).

Sesungguhnya mereka mendapati nenek moyang mereka dalam keadaan sesat.

Orang-orang kafir itu pantas mendapat sengsara dan siksa yang pedih di neraka karena sesungguhnya mereka di dunia dahulu mendapati nenek moyang mereka dalam keadaan sesat dan menyimpang dari ajaran agama para rasul,

70

فَهُمْ عَلٰٓى اٰثٰرِهِمْ يُهْرَعُوْنَ

Fahum ‘alā āṡārihim yuhra‘ūn(a).

Mereka tergesa-gesa mengikuti jejak (nenek moyang) mereka.

lalu mereka tergesa-gesa mengikuti jejak nenek moyang mereka tanpa berpikir dan merenung untuk mencari tahu kebenarannya.

71

وَلَقَدْ ضَلَّ قَبْلَهُمْ اَكْثَرُ الْاَوَّلِيْنَۙ

Wa laqad ḍalla qablahum akṡarul-awwalīn(a).

Sungguh, sebelum mereka (kaum Quraisy), benar-benar telah sesat sebagian besar dari orang-orang yang dahulu.

Orang-orang kafir itu, tidak terkecuali kafir Mekah, mendapati nenek moyang mereka sesat dan mereka dengan serta-merta mengikuti kesesatan tersebut. Dan sungguh, sebelum mereka telah sesat dari hidayah Allah sebagian besar dari orang-orang yang dahulu,

72

وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا فِيْهِمْ مُّنْذِرِيْنَ

Wa laqad arsalnā fīhim munżirīn(a).

Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus (rasul) pemberi peringatan di kalangan mereka.

dan sungguh, Kami telah mengutus para rasul pemberi peringatan di kalangan mereka tentang ancaman murka dan siksa Allah, namun mereka mendustakannya.

73

فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنْذَرِيْنَۙ

Fanẓur kaifa kāna ‘āqibatul-munżarīn(a).

Maka, perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu,

Maka, perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu ketika mendustakan para rasul.

74

اِلَّا عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَ ࣖ

Illā ‘ibādallāhil-mukhlaṣīn(a).

kecuali hamba-hamba Allah yang terpilih (karena keikhlasannya).

Mereka dibinasakan oleh Allah, kecuali hamba-hamba Allah yang disucikan dari dosa. Mereka diselamatkan dari siksa dengan rahmat Allah karena mengikuti ajakan para rasul dan meminta ampunan atas kesalahan mereka.

75

وَلَقَدْ نَادٰىنَا نُوْحٌ فَلَنِعْمَ الْمُجِيْبُوْنَۖ

Wa laqad nādānā nūḥun falani‘mal-mujībūn(a).

Sungguh, Nuh benar-benar telah berdoa kepada Kami dan sungguh, Kamilah sebaik-baik yang memperkenankan doa.

Bukti penghancuran para pendurhaka dan penyelamatan hamba-hamba Allah yang saleh tampak pada kisah Nabi Nuh dan kaumnya. Dan sungguh, Nuh telah berdoa kepada Kami perihal kaumnya yang membangkang, maka sungguh Kamilah sebaik-baik yang memperkenankan doa.

76

وَنَجَّيْنٰهُ وَاَهْلَهٗ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيْمِۖ

Wa najjaināhu wa ahlahū minal-karbil-‘aẓīm(i).

Kami telah menyelamatkan dia dan pengikutnya dari bencana yang besar.

Kami telah menyelamatkan dia dan pengikutnya dari bencana yang besar, yaitu banjir yang sangat dahsyat.

77

وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهٗ هُمُ الْبَاقِيْنَ

Wa ja‘alnā żurriyyatahū humul-bāqīn(a).

Kami menjadikan keturunannya orang-orang yang bertahan (di bumi).

Dan Kami muliakan Nabi Nuh dengan men-jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan setelah peristiwa banjir itu surut.

78

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۖ

Wa taraknā ‘alaihi fil-ākhirīn(a).

Kami mengabadikan untuknya (pujian) pada orang-orang yang datang kemudian,

Dan Kami abadikan untuk Nabi Nuh pujian yang bagus dan buah tutur yang indah di kalangan orang-orang yang datang kemudian.

79

سَلٰمٌ عَلٰى نُوْحٍ فِى الْعٰلَمِيْنَ

Salāmun ‘alā nūḥin fil-‘ālamīn(a).

“Kesejahteraan (Kami limpahkan) atas Nuh di semesta alam.”

Kesejahteraan Kami limpahkan atas Nuh di seluruh alam.

80

اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ

Innā każālika najzil-muḥsinīn(a).

Sesungguhnya, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.

Sungguh, demikianlah imbalan itu Kami berikan kepada Nabi Nuh, dan Kami pun akan memberi balasan dan imbalan kepada orang-orang yang berbuat baik.

81

اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْنَ

Innahū min ‘ibādinal-mu’minīn(a).

Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang mukmin.

Nabi Nuh adalah orang yang berbuat baik karena sungguh, dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman, jujur, dan ikhlas.

82

ثُمَّ اَغْرَقْنَا الْاٰخَرِيْنَ

Ṡumma agraqnal-ākharīn(a).

Kemudian, Kami menenggelamkan yang lain.

Kemudian Kami tenggelamkan yang lain akibat kekafiran mereka.

83

۞ وَاِنَّ مِنْ شِيْعَتِهٖ لَاِبْرٰهِيْمَ ۘ

Wa inna min syī‘atihī la’ibrāhīm(a).

Sesungguhnya Ibrahim termasuk golongannya (Nuh).

Di antara para rasul yang Kami utus kepada umat terdahulu adalah Nabi Ibrahim. Dan sungguh, Nabi Ibrahim adalah termasuk golongannya, yaitu penerus ajaran dan agama Nabi Nuh.

84

اِذْ جَاۤءَ رَبَّهٗ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍۙ

Iż jā’a rabbahū biqalbin salīm(in).

(Ingatlah) ketika dia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci,

Nabi Ibrahim adalah kekasih Allah. Ingatlah ketika dia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci bersih dari keyakinan batil dan akhlak tercela sehingga dalam hatinya hanya ada ketaatan dan kecintaan kepada Allah.

85

اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ وَقَوْمِهٖ مَاذَا تَعْبُدُوْنَ ۚ

Iż qāla li’abīhi wa qaumihī māżā ta‘budūn(a).

ketika dia berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Apa yang kamu sembah itu?

Ingatlah ketika dia dengan maksud mengingatkan berkata kepada ayah dan kaumnya, “Apakah yang kamu sembah itu?

86

اَىِٕفْكًا اٰلِهَةً دُوْنَ اللّٰهِ تُرِيْدُوْنَۗ

A’ifkan ālihatan dūnallāhi turīdūn(a).

Apakah kamu menghendaki kebohongan dengan sesembahan selain Allah?

Apakah kamu menghendaki kebohongan dengan sesembahan selain Allah itu sehingga kamu menganggap benar apa yang kamu lakukan?

87

فَمَا ظَنُّكُمْ بِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

Famā ẓannukum birabbil-‘ālamīn(a).

Maka, bagaimana anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?”

Hanya Allah yang patut disembah. Maka, bagaimana anggapanmu terhadap Tuhan seluruh alam jika kalian mengingkari-Nya, bahkan menyembah selain Dia?”

88

فَنَظَرَ نَظْرَةً فِى النُّجُوْمِۙ

Fa naẓara naẓratan fin-nujūm(i).

Lalu, dia (Ibrahim) memandang sekilas ke arah bintang-bintang,

Demikianlah Nabi Ibrahim mengingatkan ayah dan kaumnya agar meninggalkan kemusyrikan, lalu dia memandang sekilas ke bintang-bintang untuk berpikir,

89

فَقَالَ اِنِّيْ سَقِيْمٌ

Fa qāla innī saqīm(un).

kemudian dia berkata, “Sesungguhnya aku sakit.”

kemudian dia menemukan alasan untuk tidak pergi bersama kaumnya dalam acara perayaan, lalu dia berkata, “Sesungguhnya aku sakit.”

90

فَتَوَلَّوْا عَنْهُ مُدْبِرِيْنَ

Fa tawallau ‘anhu mudbirīn(a).

Mereka lalu berpaling darinya seraya meninggalkannya.

Mendengar jawaban Nabi Ibrahim, lalu mereka berpaling dari dia dan pergi meninggalkannya menuju tempat perayaan sesat itu berlangsung.

91

فَرَاغَ اِلٰٓى اٰلِهَتِهِمْ فَقَالَ اَلَا تَأْكُلُوْنَۚ

Farāga ilā ālihatihim faqāla alā ta’kulūn(a).

Kemudian, dia langsung menuju ke berhala-berhala mereka (secara diam-diam), lalu berkata, “Mengapa kamu tidak makan?

Tidak lama kemudian dia, yakni Nabi Ibrahim, pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu dia berkata kepadanya dengan nada mengejek “Mengapa kamu tidak makan sajian yang mereka sediakan untukmu?

92

مَا لَكُمْ لَا تَنْطِقُوْنَ

Mā lakum lā tanṭiqūn(a).

Mengapa kamu tidak menjawab?”

Mengapa kamu tidak menjawab sepatah kata pun?”

93

فَرَاغَ عَلَيْهِمْ ضَرْبًا ۢبِالْيَمِيْنِ

Farāga ‘alaihim ḍarbam bil-yamīn(i).

Dia lalu menghadap ke (berhala-berhala) itu sambil memukul dengan tangan kanan(-nya).

Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya hingga hancur.

94

فَاَقْبَلُوْٓا اِلَيْهِ يَزِفُّوْنَ

Fa aqbalū ilaihi yaziffūn(a).

Kemudian, mereka (kaumnya) datang bergegas kepadanya.

Hancurnya berhala-berhala itu diketahui oleh kaum Nabi Ibrahim, kemudian mereka datang bergegas kepadanya dengan penuh amarah.

95

قَالَ اَتَعْبُدُوْنَ مَا تَنْحِتُوْنَۙ

Qāla ata‘budūna mā tanḥitūn(a).

Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu?

Nabi Ibrahim tidak gentar menghadapi amarah kaumnya. Dia dengan percaya diri berkata, “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Bagaimana mungkin kalian menyembah buah karya kalian sendiri?

96

وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ

Wallāhu khalaqakum wa mā ta‘malūn(a).

Padahal Allahlah yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat itu.”

Mengapa kamu tidak menyembah Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu?”

97

قَالُوا ابْنُوْا لَهٗ بُنْيَانًا فَاَلْقُوْهُ فِى الْجَحِيْمِ

Qālubnū lahū bun-yānan fa’alqūhu fil-jaḥīm(i).

Mereka berkata, “Buatlah bangunan (perapian) untuk (membakar)-nya, lalu lemparkan dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.”

Kaum yang kafir itu kalah dalam beradu argumen dengan Nabi Ibrahim, kemudian mereka berkata, “Buatlah bangunan perapian untuk kita membakar-nya; lalu lemparkan dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.”

98

فَاَرَادُوْا بِهٖ كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَسْفَلِيْنَ

Fa arādū bihī kaidan faja‘alnāhumul-asfalīn(a).

Mereka bermaksud memperdayainya, (namun Allah menyelamatkannya), lalu Kami menjadikan mereka orang-orang yang hina.

Maka mereka bermaksud memperdayainya dengan cara membakar-nya, namun Allah menyelamatkan dia dari kobaran api, lalu Kami jadikan mereka orang-orang yang hina dan kalah.

99

وَقَالَ اِنِّيْ ذَاهِبٌ اِلٰى رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ

Wa qāla innī żāhibun ilā rabbī sayahdīn(i).

Dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya aku akan pergi (menghadap) kepada Tuhanku. Dia akan memberiku petunjuk.”

Nabi Ibrahim selamat dari upaya pembunuhan oleh kaumnya, dan dia berkata, “Sesungguhnya aku harus pergi berhijrah menuju tempat yang memungkinkan aku mendekatkan diri kepada Tuhanku dan mengajak umatku menuju tauhid. Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku dan orang-orang yang mengikuti jalan kebenaran. Ayat ini menganjurkan berhijrah dari suatu tempat ketika dakwah dan pengamalan agama mendapat tekanan dan penindasan.

100

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ

Rabbi hab lī minaṣ-ṣāliḥīn(a).

100. (Ibrahim berdoa,) “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang saleh.”

Setelah menjelaskan dialog Nabi Ibrahim dengan kaumnya yang ingkar, pada ayat berikut Allah beralih mengisahkan dialog Nabi Ibrahim dengan putranya, Ismail, tentang perintah Allah. Dia berdoa kepada Allah, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk golongan orang yang saleh dan taat menjalankan perintah-Mu dan membela agama-Mu.”

101

فَبَشَّرْنٰهُ بِغُلٰمٍ حَلِيْمٍ

Fa basysyarnāhu bigulāmin ḥalīm(in).

Maka, Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak (Ismail) yang sangat santun.

Kami kabulkan doa Nabi Ibrahim tersebut, maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan kelahiran seorang anak yang sangat sabar, cerdas, dan santun. Dialah Ismail.

102

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Falammā balaga ma‘ahus-sa‘ya qāla yā bunayya innī arā fil-manāmi annī ażbaḥuka fanẓur māżā tarā, qāla yā abatif‘al mā tu’mar(u), satajidunī in syā’allāhu minaṣ-ṣābirīn(a).

Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”

Maka ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersamanya, Nabi Ibrahim berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku dalam mimpiku itu diperintah oleh Allah untuk menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dengan penuh kepasrahan kepada Allah dan ketaatan pada ayahnya, dia menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar dalam melaksanakan perintah-Nya.”

103

فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ

Falammā aslamā wa tallahū lil-jabīn(i).

Ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) meletakkan pelipis anaknya di atas gundukan (untuk melaksanakan perintah Allah),

Maka ketika keduanya telah berserah diri, patuh, dan bertawakal kepada Allah, dia pun membaringkan anaknya atas pelipis-nya ke tanah agar tidak melihat wajah anaknya saat dia menyembelihnya.

104

وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ

Wa nādaināhu ay yā ibrāhīm(u).

Kami memanggil dia, “Wahai Ibrahim,

Nabi Ibrahim berbuat demikian supaya keteguhan hatinya dalam melaksanakan perintah Allah tidak terganggu. Ketika pisaunya dia ayunkan, lalu Kami panggil dia dari arah bukit, “Wahai Ibrahim!

105

قَدْ صَدَّقْتَ الرُّءْيَا ۚاِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ

Qad ṣaddaqtar-ru’yā, innā każālika najzil-muḥsinīn(a).

sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.

Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu sebagai perintah Allah yang wajib engkau laksanakan.” Sungguh, demikianlah tugas yang membutuhkan kesabaran dan pengorbanan tinggi. Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dan ikhlas dalam beramal.

106

اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ

Inna hāżā lahuwal-balā’ul-mubīn(u).

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.

Sesungguhnya perintah ini benar-benar suatu ujian yang nyata dari Allah untuk menguji keimanan dan ketaatan hamba terhadap perintah-Nya.

107

وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ

Wa fadaināhu biżibḥin ‘aẓīm(in).

Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar.

Dan ketika Nabi Ibrahim dan anaknya membuktikan keteguhan dan ketulusan mereka dalam menerima ujian Allah, Kami tebus anak itu dengan seekor domba sembelihan yang besar.

108

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۖ

Wa taraknā ‘alaihi fil-ākhirīn(a).

Kami mengabadikan untuknya (pujian) pada orang-orang yang datang kemudian,

Dan karena kepatuhannya pula Kami abadikan untuk Nabi Ibrahim buah tutur yang indah dan pujian yang baik di kalangan orang-orang yang datang kemudian hingga akhir zaman (Lihat Surah asy-Syu ‘ara’/26: 84).

109

سَلٰمٌ عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ

Salāmun ‘alā ibrāhīm(a).

“Salam sejahtera atas Ibrahim.”

Kepadanya Kami sampaikan pula ucapan “Selamat sejahtera bagi Nabi Ibrahim” sebagai penghargaan kepadanya.

110

كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ

Każālika najzil-muḥsinīn(a).

Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.

Demikianlah imbalan itu Kami berikan kepadanya, dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan imbalan pahala di sisi Kami.

111

اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْنَ

Innahū min ‘ibādinal-mu’minīn(a).

Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang mukmin.

Sungguh, dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman, jujur, patuh, dan ikhlas dalam melaksanakan perintah Kami.

112

وَبَشَّرْنٰهُ بِاِسْحٰقَ نَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ

Wa basysyarnāhu bi’isḥāqa nabiyyam minaṣ-ṣāliḥīn(a).

Kami telah memberinya kabar gembira tentang (akan dilahirkannya) Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang saleh.

Dan di samping buah tutur dan pujian yang indah bagi Nabi Ibrahim sepanjang masa, Kami beri pula dia kabar gembira melalui malaikat dengan kelahiran putra keduanya, yaitu Nabi Ishak. Kelak dia juga menjadi seorang nabi yang termasuk golongan orang-orang yang saleh dan berilmu (Lihat Surah Hud/11: 69-73 dan az-Zariyat/51: 24-30).

113

وَبٰرَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلٰٓى اِسْحٰقَۗ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَّظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ مُبِيْنٌ ࣖ

Wa bāraknā ‘alaihi wa ‘alā isḥāq(a), wa min żurriyyatihimā muḥsinuw wa ẓālimul linafsihī mubīn(un).

Kami melimpahkan keberkahan kepadanya dan Ishaq. Sebagian keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.

Dan demikianlah Kami limpahkan keberkahan kepadanya dan kepada Nabi Ishak dengan nikmat kenabian. Dan di antara keturunan keduanya ada yang berbuat baik, menaati perintah Allah, dan menyeru ke jalan yang benar sehingga diangkat oleh Allah menjadi nabi dan rasul, dan ada pula dari keturunannya yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri dengan mengingkari nikmat Allah dan berbuat kerusakan sehingga Allah menurunkan kepada mereka azab yang sangat pedih.

114

وَلَقَدْ مَنَنَّا عَلٰى مُوْسٰى وَهٰرُوْنَ ۚ

Wa laqad manannā ‘alā mūsā wa hārūn(a).

Sungguh, Kami benar-benar telah melimpahkan nikmat kepada Musa dan Harun.

Dan kenikmatan serta keberkahan sungguh merupakan janji Allah bagi orang-orang yang berbuat kebajikan. Sebagaimana karunia itu Kami berikan kepada Nabi Ibrahim dan putra-putranya, Kami telah melimpahkan pula nikmat yang besar kepada Nabi Musa dan Nabi Harun. Kami jadikan keduanya rasul dan Kami dukung mereka untuk membebaskan Bani Israil dari perbudakan Fir’aun dan mengembalikan me-reka ke negeri asalnya.

115

وَنَجَّيْنٰهُمَا وَقَوْمَهُمَا مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيْمِۚ

Wa najjaināhumā wa qaumahumā minal-karbil-‘aẓīm(i).

Kami telah menyelamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang besar.

Selain itu, Kami beri mereka enam kenikmatan lain. Kami selamatkan keduanya dan kaumnya dari Fir’aun yang menindas, memperbudak, dan membunuh bayi laki-laki mereka agar keturunan mereka punah.

116

وَنَصَرْنٰهُمْ فَكَانُوْا هُمُ الْغٰلِبِيْنَۚ

Wa naṣarnāhum fakānū humul-gālibīn(a).

Kami telah menolong mereka sehingga mereka menjadi orang-orang yang menang.

Dan Kami tolong mereka dari kejaran Fir’aun dan tentaranya sehingga jadilah mereka orang-orang yang menang, selamat, dan kembali ke negeri asal mereka dengan merdeka.

117

وَاٰتَيْنٰهُمَا الْكِتٰبَ الْمُسْتَبِيْنَ ۚ

Wa ātaināhumal-kitābal-mustabīn(a).

Kami telah menganugerahkan kepada keduanya Kitab yang sangat jelas (Taurat).

Dan kami berikan kepada keduanya Kitab Taurat yang berisi ketentuan dan petunjuk yang sangat jelas, baik untuk kebahagiaan dunia maupun akhirat (Lihat Surah al-Anbiya’/ 21: 48).

118

وَهَدَيْنٰهُمَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۚ

Wa hadaināhumaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm(a).

Kami telah membimbing keduanya ke jalan yang lurus.

Keduanya mewariskan kitab itu kepada Bani Israil untuk menjadi pegangan hidup (Lihat Surah Ghafir/ 40: 53-54). Dan Kami tunjukkan keduanya jalan yang lurus menuju kebahagiaan hakiki.

119

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِمَا فِى الْاٰخِرِيْنَ ۖ

Wa taraknā ‘alaihimā fil-ākhirīn(a).

Kami telah mengabadikan untuk keduanya (pujian) pada orang-orang yang datang kemudian,

Dan Kami abadikan untuk keduanya pujian dan kemuliaan yang mengharumkan nama keduanya dikalangan orang-orang yang datang kemudian.

120

سَلٰمٌ عَلٰى مُوْسٰى وَهٰرُوْنَ

Salāmun ‘alā mūsā wa hārūn(a).

“Salam sejahtera atas Musa dan Harun.”

Pujian yang indah itu diiringi ucapan, “Selamat sejahtera bagi Musa dan Harun,” sehingga nama keduanya dikenang sepanjang masa.

121

اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ

Innā każālika najzil-muḥsinīn(a).

Sesungguhnya, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.

Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, rela berkorban, dan sabar dalam memperjuangkan ajaran tauhid.

122

اِنَّهُمَا مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْنَ

Innahumā min ‘ibādinal-mu’minīn(a).

Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang mukmin.

Karena keteguhan dan kesabaran mereka, sungguh keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang beriman dengan tulus.

123

وَاِنَّ اِلْيَاسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۗ

Wa inna ilyāsa laminal-mursalīn(a).

Sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk para rasul.

Dan sebagaimana Musa dan Harun, sungguh Nabi Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul dari kalangan Bani Israil yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan risalah kepada penduduk Baalbek (sekarang wilayah Lebanon).

124

اِذْ قَالَ لِقَوْمِهٖٓ اَلَا تَتَّقُوْنَ

Iż qāla liqaumihī alā tattaqūn(a).

(Ingatlah) ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu tidak bertakwa?

Ingatlah ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu tidak bertakwa, mengesakan, dan menaati perintah Allah? Dialah Tuhan yang telah menciptakan kamu.

125

اَتَدْعُوْنَ بَعْلًا وَّتَذَرُوْنَ اَحْسَنَ الْخٰلِقِيْنَۙ

Atad‘ūna ba‘law wa tażarūna aḥsanal-khāliqīn(a).

Apakah kamu terus menyeru Ba‘l dan meninggalkan sebaik-baik pencipta,

Patutkah kamu menyembah Ba’l, seonggok benda mati yang tidak bisa memberi manfaat dan menolak malapetaka, dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta yang ciptaannya tidak bisa ditandingi oleh siapa pun?

126

اللّٰهَ رَبَّكُمْ وَرَبَّ اٰبَاۤىِٕكُمُ الْاَوَّلِيْنَ

Allāha rabbakum wa rabba ābā’ikumul-awwalīn(a).

Allah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yang terdahulu?”

Pencipta itu adalah Allah, Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yang terdahulu, yaitu Nabi Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, Yusuf, Musa, Harun, dan lainnya.”

127

فَكَذَّبُوْهُ فَاِنَّهُمْ لَمُحْضَرُوْنَۙ

Fakażżabūhu fa’innahum lamuḥḍarūn(a).

Mereka kemudian mendustakannya (Ilyas). Sesungguhnya mereka akan diseret (ke neraka),

Nabi Ilyas telah memberi penjelasan kepada kaumnya, tetapi mereka tetap mendustakannya dan memilih kemusyrikan. Maka, sebagai akibatnya, sungguh mereka akan diseret ke neraka,

128

اِلَّا عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَ

Illā ‘ibādallāhil-mukhlaṣīn(a).

kecuali hamba-hamba Allah yang terpilih (karena keikhlasannya).

kecuali hamba-hamba Allah yang disucikan dari dosa karena telah meninggalkan perbuatan syirik, menghiasi diri dengan amal saleh, dan ikhlas melaksanakan perintah-Nya.

129

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۙ

Wa taraknā ‘alaihi fil-ākhirīn(a).

Kami mengabadikan untuknya (pujian) pada orang-orang yang datang kemudian,

Dan karena kesabaran serta ketabahannya dalam menyampaikan agama tauhid, Kami abadikan untuk Nabi Ilyas suatu pujian yang mulia di kalangan orang-orang yang datang kemudian.

130

سَلٰمٌ عَلٰٓى اِلْ يَاسِيْنَ

Salāmun ‘alā ilyāsīn(a).

“Salam sejahtera atas Ilyas dan kaumnya.”

dan Kami ucapkan pula kepadanya,”Selamat sejahtera bagi Ilyas,” yakni namanya selalu disebut di kalangan semua makhluk.

131

اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ

Innā każālika najzil-muḥsinīn(a).

Sesungguhnya, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.

Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, taat dan sabar dalam memperjuangkan penegakan agama tauhid.

132

اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْنَ

Innahū min ‘ibādinal-mu’minīn(a).

Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang mukmin.

Sungguh, dia benar-benar termasuk hamba-hamba Kami yang beriman, yang jujur dalam keimanannya, dan ikhlas dalam melaksanakan perintah Allah.

133

وَاِنَّ لُوْطًا لَّمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۗ

Wa inna lūṭal laminal-mursalīn(a).

Sesungguhnya Lut benar-benar termasuk para rasul.

Bila nabi-nabi yang disebutkan sebelumnya berasal dari garis keturunan Nabi Ibrahim, nabi berikut ini merupakan anak paman Nabi Ibrahim yang berjuang bersamanya dalam menyampaikan risalah Allah. Dialah Nabi Lut. Dan sungguh, Nabi Lut benar-benar termasuk salah seorang yang Allah pilih menjadi rasul untuk berdakwah kepada penduduk Sodom.

134

اِذْ نَجَّيْنٰهُ وَاَهْلَهٗٓ اَجْمَعِيْنَۙ

Iż najjaināhu wa ahlahū ajma‘īn(a).

(Ingatlah) ketika Kami telah menyelamatkan dia dan pengikutnya semua,

Ingatlah ketika Kami telah menyelamatkan dia, keluarganya yang beriman, dan pengikutnya semua dari azab Allah,

135

اِلَّا عَجُوْزًا فِى الْغٰبِرِيْنَ

Illā ‘ajūzan fil-gābirīn(a).

kecuali seorang perempuan tua (istrinya) yang termasuk golongan (orang-orang kafir) yang tertinggal.

kecuali seorang perempuan tua, yaitu istrinya. Kami sisakan perempuan tua yang kafir itu bersama-sama orang yang tinggal di kota tersebut.

136

ثُمَّ دَمَّرْنَا الْاٰخَرِيْنَ

Ṡumma dammarnal-ākharīn(a).

Kemudian, Kami binasakan yang lain.

Kemudian, Kami binasakan orang-orang yang lain yang tetap tinggal di kota itu akibat penolakan mereka terhadap ajakan Nabi Lut untuk menempuh jalan yang benar.

137

وَاِنَّكُمْ لَتَمُرُّوْنَ عَلَيْهِمْ مُّصْبِحِيْنَۙ

Wa innakum latamurrūna ‘alaihim muṣbiḥīn(a).

Sesungguhnya kamu (penduduk Makkah) benar-benar akan melintasi (bekas-bekas kehancuran) mereka pada waktu pagi

Dan sesungguhnya kamu, wahai penduduk Mekah, benar-benar akan melalui sisa-sisa reruntuhan rumah-rumah mereka dalam perjalanan dagangmu ke Syam pada waktu pagi

138

وَبِالَّيْلِۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ࣖ

Wa bil-lail(i), afalā ta‘qilūn(a).

dan waktu malam. Mengapa kamu tidak mengerti?

dan pada waktu malam. Maka, mengapa kamu tidak mengerti dan memikirkan azab yang telah mereka terima akibat kekafiran mereka? Allah memberimu kesempatan menyaksikan peninggalan kaum yang durhaka itu agar kamu beriman dan takut akan azab-Nya.

139

وَاِنَّ يُوْنُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۗ

Wa inna yūnusa laminal-mursalīn(a).

Sesungguhnya Yunus benar-benar termasuk para rasul.

Usai menceritakan perjuangan dakwah Nabi Lut yang bukan berasal dari Bani Israil, Allah kembali menuturkan dakwah nabi dari Bani Israil, Nabi Yunus. Dan sungguh, Yunus benar-benar termasuk salah seorang rasul yang Allah utus untuk menyampaikan risalah kepada penduduk Ninawa (sekarang wilayah Irak) agar menyembah Allah dan meninggalkan berhala sesembahan mereka.

140

اِذْ اَبَقَ اِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِۙ

Iż abaqa ilal-fulkil-masyḥūn(i).

(Ingatlah) ketika dia berlari ke kapal yang penuh muatan,

Ingatlah ketika dia lari dan pergi meninggalkan kaumnya padahal Allah tidak memperkenankan kepergiannya, lalu dia naik ke kapal yang penuh dengan muatan hingga hampir tenggelam.

141

فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِيْنَۚ

Fa sāhama fakāna minal-mudḥaḍīn(a).

kemudian dia ikut diundi, maka dia termasuk orang-orang yang kalah (dalam undian).

Melihat kondisi ini kemudian para penumpang melakukan pengundian, di mana dia ikut diundi untuk menentukan penumpang yang kalah dan harus diceburkan ke laut.

142

فَالْتَقَمَهُ الْحُوْتُ وَهُوَ مُلِيْمٌ

Faltaqamahul-ḥūtu wa huwa mulīm(un).

Dia kemudian ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela.

Ternyata dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian itu. Maka dia pun diceburkan hingga dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela karena meninggalkan kaumnya tanpa izin Allah.

143

فَلَوْلَآ اَنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِيْنَ ۙ

Falau lā annahū kāna minal-musabbiḥīn(a).

Seandainya dia bukan golongan orang yang banyak bertasbih kepada Allah,

Menanggapi tindakan Nabi Yunus itu maka Allah menegaskan bahwa sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berzikir dan bertasbih terus-menurus kepada Allah,

144

لَلَبِثَ فِيْ بَطْنِهٖٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَۚ

Lalabiṡa fī baṭnihī ilā yaumi yub‘aṡūn(a).

niscaya dia akan tetap tinggal di perutnya (ikan) sampai hari Kebangkitan.

niscaya dia akan tetap tinggal diperut ikan yang menelannya itu sampai hari kebangkitan.

145

۞ فَنَبَذْنٰهُ بِالْعَرَاۤءِ وَهُوَ سَقِيْمٌ ۚ

Fa nabażnāhu bil-‘arā’i wa huwa saqīm(un).

Kami kemudian melemparkannya (dari mulut ikan) ke daratan yang tandus, sedang dia dalam keadaan sakit.

Setelah Nabi Yunus beberapa lama berada di dalam perut ikan dalam kondisi gelap, sempit, dan sesak nafas, kemudian Kami keluarkan dan lemparkan dia ke daratan yang tandus tanpa pepohonan di sana, sedang dia dalam keadaan sakit dan tidak berdaya.

146

وَاَنْۢبَتْنَا عَلَيْهِ شَجَرَةً مِّنْ يَّقْطِيْنٍۚ

Wa ambatnā ‘alaihi syajaratam miy yaqṭīn(in).

Kami kemudian menumbuhkan tanaman sejenis labu untuknya.

Dengan kemurahan-Ku, untuk dia Kami tumbuhkan sebatang pohon dari jenis labu sebagai makanan yang segar, lezat, dan bergizi sehingga kekuatan dan kesehatannya berangsur pulih.

147

وَاَرْسَلْنٰهُ اِلٰى مِائَةِ اَلْفٍ اَوْ يَزِيْدُوْنَۚ

Wa arsalnāhu ilā mi’ati alfin au yazīdūn(a).

Kami mengutusnya kepada seratus ribu (orang) atau lebih,

Dan setelah pulih, Kami utus dia kembali kepada kaumnya yang saat itu berjumlah seratus ribu orang atau lebih. Kedatangannya disambut gembira karena mereka menunggu seorang rasul yang membimbing mereka menuju keimanan.

148

فَاٰمَنُوْا فَمَتَّعْنٰهُمْ اِلٰى حِيْنٍ

Fa’āmanū famatta‘nāhum ilā ḥīn(in).

lalu mereka beriman. Maka, Kami menganugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu tertentu.

Mereka sadar bahwa Allah dengan kasih sayang-Nya telah menyelamatkan mereka dari azab yang tampak di depan mata, sehingga mereka benar-benar beriman kepada Allah dengan tulus. Karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu tertentu, yaitu akhir hayat mereka. Anugerah semacam ini hanya Allah karuniakan kepada umat Nabi Yunus (Lihat Surah Yunus/10: 98).

149

فَاسْتَفْتِهِمْ اَلِرَبِّكَ الْبَنَاتُ وَلَهُمُ الْبَنُوْنَۚ

Fastaftihim alirabbikal-banātu wa lahumul-banūn(a).

(Wahai Nabi Muhammad,) tanyalah mereka (orang-orang kafir Makkah), “Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan, sedangkan untuk mereka anak-anak laki-laki

Kisah para nabi ini menjadi pelajaran bagi generasi sesudahnya. Mereka, seperti halnya Nabi Muhammad, diutus untuk menyampaikan risalah tauhid kepada umatnya, mengajak mereka untuk mengesakan Allah dan menyucikan Allah dari hal-hal yang tidak patut. Maka tanyakanlah, wahai Nabi Muhammad, kepada mereka yang ingkar dari umatmu, apakah mereka menisbatkan anak-anak perempuan itu untuk Tuhanmu sedangkan untuk mereka sendiri mereka memilih anak-anak laki-laki?

150

اَمْ خَلَقْنَا الْمَلٰۤىِٕكَةَ اِنَاثًا وَّهُمْ شٰهِدُوْنَ

Am khalaqnal-malā’ikata ināṡaw wa hum syāhidūn(a).

atau Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan, sedangkan mereka menyaksikan(-nya)?”

Atau tanyakanlah kepada mereka apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat sebagai hamba Allah berupa makhluk berjenis kelamin perempuan, sedangkan mereka menyaksikan hal itu? Sungguh, mereka akan diminta pertanggungjawaban di akhirat atas tuduhan mereka itu (Lihat Surah az-Zukhruf/43: 19).

151

اَلَآ اِنَّهُمْ مِّنْ اِفْكِهِمْ لَيَقُوْلُوْنَۙ

Alā innahum min ifkihim layaqūlūn(a).

Ingatlah, sesungguhnya mereka benar-benar mengatakan dengan kebohongan mereka,

Wahai Nabi Muhammad, ingatlah sesungguhnya di antara kebohongannya yang lain adalah bahwa mereka benar-benar mengatakan,

152

وَلَدَ اللّٰهُ ۙوَاِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَۙ

Waladallāh(u), wa innahum lakāżibūn(a).

“Allah mempunyai anak.” Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.

“Allah mempunyai anak.” Mahasuci Allah. Tiada sekutu bagi-Nya. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan sungguh, mereka benar-benar pendusta karena tuduhan mereka tidak berdasar sama sekali.

153

اَصْطَفَى الْبَنَاتِ عَلَى الْبَنِيْنَۗ

Aṣṭafal-banāti ‘alal-banīn(a).

Apakah Dia (Allah) lebih memilih anak-anak perempuan daripada anak-anak laki-laki?

Apakah untuk diri-Nya sendiri Dia lebih memilih anak-anak perempuan daripada anak-anak laki-laki? Mereka menuduh para malaikat sebagai anak-anak perempuan Allah.

154

مَا لَكُمْۗ كَيْفَ تَحْكُمُوْنَ

Mā lakum, kaifa taḥkumūn(a).

Apa yang telah terjadi pada kamu? Bagaimana kamu menetapkan(-nya)?

Wahai Nabi Muhammad, katakanlah kepada mereka, “Mengapa kamu beranggapan buruk seperti ini kepada Allah? Bagaimana kamu bisa menetapkan bahwa Allah memilih anak perempuan, padahal kamu sendiri tidak menyukainya?

155

اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَۚ

Afalā tażakkarūn(a).

Maka, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

Maka, mengapa kamu tidak memikirkan bagaimana jika Allah memiliki anak? Dia Mahakuasa dan Maha Esa dalam menciptakan dan mengaturnya alam semesta.

156

اَمْ لَكُمْ سُلْطٰنٌ مُّبِيْنٌۙ

Am lakum sulṭānum mubīn(un).

Ataukah kamu mempunyai bukti yang jelas?

Ataukah kamu mempunyai bukti yang jelas atas kebenaran prasangka burukmu itu?

157

فَأْتُوْا بِكِتٰبِكُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

Fa’tū bikitābikum in kuntum ṣādiqīn(a).

(Kalau begitu,) bawalah kitabmu jika kamu orang-orang yang benar.

Jika demikian adanya maka bawalah kitabmu ke hadapan kami dan tunjukkanlah bukti yang membenarkan pernyataanmu jika kamu memang orang yang benar.

158

وَجَعَلُوْا بَيْنَهٗ وَبَيْنَ الْجِنَّةِ نَسَبًا ۗوَلَقَدْ عَلِمَتِ الْجِنَّةُ اِنَّهُمْ لَمُحْضَرُوْنَۙ

Wa ja‘alū bainahū wa bainal-jinnati nasabā(n), wa laqad ‘alimatil-jinnatu innahum lamuḥḍarūn(a).

Mereka menjadikan (hubungan) nasab antara Dia dan jin. Sungguh, jin benar-benar telah mengetahui bahwa mereka (kaum musyrik) pasti akan diseret (ke neraka),

Dan mereka juga menganggap bahwa Allah mengadakan hubungan nasab antara Dia dan jin. Alangkah buruk anggapan tersebut, dan sungguh jin yang menyesatkan manusia telah mengetahui bahwa mereka pasti akan diseret ke neraka.

159

سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يَصِفُوْنَۙ

Subḥānallāhi ‘ammā yaṣifūn(a).

Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan,

Mahasuci dan Mahamulia Allah dari apa yang mereka sifatkan. Dia suci dari segala sifat-sifat yang menyamai makhluk-Nya. Mereka yang menyematkan sifat-sifat tersebut kepada Allah akan diseret ke neraka.

160

اِلَّا عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَ

Illā ‘ibādallāhil-mukhlaṣīn(a).

kecuali hamba-hamba Allah yang terpilih (karena keikhlasannya).

Demikianlah, kecuali hamba-hamba Allah yang dipilih; mereka disucikan dari dosa karena menyembah Allah dengan ikhlas dan tidak mempunyai pandangan salah tentang-Nya.

161

فَاِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُوْنَۙ

Fa’innakum wa mā ta‘budūn(a).

Maka, sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah itu

Maka ketahuilah wahai orang-orang musyrik, sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah itu, yaitu patung dan berhala, serta segala upayamu untuk menyesatkan orang lain,

162

مَآ اَنْتُمْ عَلَيْهِ بِفٰتِنِيْنَۙ

Mā antum ‘alaihi bifātinīn(a).

tidak akan dapat menyesatkan (seseorang) terhadap Allah,

tidak akan dapat menyesatkan seseorang terhadap Allah,

163

اِلَّا مَنْ هُوَ صَالِ الْجَحِيْمِ

Illā man huwa ṣālil-jaḥīm(i).

kecuali orang yang akan masuk ke (neraka) Jahim.

kecuali menyesatkan orang-orang yang telah ditetapkan akan masuk ke neraka Jahim akibat langgeng dalam kekafirannya. Sementara itu, orang yang menempuh jalan kebenaran akan selamat dari tipu daya setan sehingga selamat dari siksa neraka.

164

وَمَا مِنَّآ اِلَّا لَهٗ مَقَامٌ مَّعْلُوْمٌۙ

Wa mā minnā illā lahū maqāmum ma‘lūm(un).

(Malaikat berkata,) “Tidak satu pun di antara kami, kecuali masing-masing mempunyai kedudukan tertentu.

Malaikat bukanlah anak-anak perempuan Allah sebagaimana tuduhan orang musyrik. Mereka hanyalah hamba-hamba Allah yang patuh pada perintah-Nya. Malaikat berkata, “Dan tidak satu pun di antara kami melainkan masing-masing mempunyai kedudukan tertentu dalam melaksanakan tugas dan mengabdi kepada Allah,

165

وَّاِنَّا لَنَحْنُ الصَّۤافُّوْنَۖ

Wa innā lanaḥnuṣ-ṣāffūn(a).

Sesungguhnya kamilah yang selalu teratur dalam barisan (dalam melaksanakan perintah Allah).

dan sesungguhnya kami selalu teratur dalam barisan untuk melaksanakan perintah-Nya.

166

وَاِنَّا لَنَحْنُ الْمُسَبِّحُوْنَ

Wa innā lanaḥnul-musabbiḥūn(a).

Sesungguhnya kamilah yang benar-benar terus bertasbih (kepada Allah).”

Dan sungguh, kami benar-benar terus bertasbih, menyucikan dan mengagungkan asma-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya.

167

وَاِنْ كَانُوْا لَيَقُوْلُوْنَۙ

Wa in kānū layaqūlūn(a).

Sesungguhnya mereka (orang kafir Makkah) benar-benar berkata,

Orang-orang kafir selalu mencari pembenaran atas kekafiran mereka, tidak terkecuali mereka yang hidup sebelum Nabi Muhammad. Dan sesungguhnya mereka benar-benar pernah berkata,

168

لَوْ اَنَّ عِنْدَنَا ذِكْرًا مِّنَ الْاَوَّلِيْنَۙ

Lau anna ‘indanā żikram minal-awwalīn(a).

“Seandainya di sisi kami ada sebuah kitab dari (kitab-kitab yang diturunkan) kepada orang-orang terdahulu,

“Sekiranya di sisi kami ada sebuah kitab dari Allah yang dibawa oleh seorang rasul sebagaimana Taurat dan Injil yang diturunkan kepada orang-orang dahulu,

169

لَكُنَّا عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَ

Lakunnā ‘ibādallāhil-mukhlaṣīn(a).

niscaya kami akan menjadi hamba-hamba Allah yang terpilih.

tentu kami akan menjadi hamba Allah yang disucikan dari dosa. Kami akan beriman kepada Allah, beribadah dengan ikhlas, dan tidak akan mengingkari syariat yang diturunkan kepada kami.”

170

فَكَفَرُوْا بِهٖۚ فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ

Fa kafarū bih(ī), fasaufa ya‘lamūn(a).

Akan tetapi, ternyata mereka mengingkarinya (Al-Qur’an). Maka, kelak mereka akan mengetahui (akibat keingkarannya itu).

Akan Tetapi, setelah Allah menurunkan Al-Qur’an kepada mereka sebagai pedoman untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, ternyata mereka mengingkarinya (Lihat Surah Fatir/35: 42), maka kelak mereka akan mengetahui akibat keingkaran mereka itu.

171

وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِيْنَ ۖ

Wa laqad sabaqat kalimatunā li‘ibādinal-mursalīn(a).

Sungguh, janji Kami benar-benar telah tetap bagi hamba-hamba Kami yang menjadi rasul.

Sekalipun para rasul menghadapi rintangan berat dalam dakwahnya, pada akhirnya kebenaran akan menang, sesuai janji Allah. Dan sungguh, janji Kami telah tetap sejak semula bagi hamba-hamba Kami yang menjadi rasul,

172

اِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُوْرُوْنَۖ

Innahum lahumul-manṣūrūn(a).

Sesungguhnya merekalah yang pasti akan mendapat pertolongan,

yaitu bahwa mereka itu pasti akan mendapat pertolongan dari Allah.

173

وَاِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغٰلِبُوْنَ

Wa inna jundanā lahumul-gālibūn(a).

dan sesungguhnya bala tentara Kami itulah yang pasti menang.

Dan benarlah, sesungguhnya bala tentara Kami, para rasul dan pengikut mereka, itulah yang pasti menang karena telah membela agama Allah (Lihat pula: Surah Gafir/40: 51).

174

فَتَوَلَّ عَنْهُمْ حَتّٰى حِيْنٍۙ

Fatawalla ‘anhum ḥattā ḥīn(in).

Maka, berpalinglah engkau (Nabi Muhammad) dari mereka sampai waktu tertentu!

Wahai Nabi Muhammad, demikianlah janji Allah. Maka berpalinglah engkau dari mereka yang musyrik itu sampai waktu tertentu, yaitu waktu datangnya azab bagi mereka di dunia atau datangnya dukungan Allah yang menguatkan dan memenangkanmu atas mereka.

175

وَّاَبْصِرْهُمْۗ فَسَوْفَ يُبْصِرُوْنَ

Wa abṣirhum, fa saufa yubṣirūn(a).

Lihatlah mereka! Maka, kelak mereka akan melihat (azab itu).

Dan perlihatkanlah kepada mereka gambaran azab yang akan Allah timpakan kepada orang-orang yang ingkar, maka kelak mereka akan melihat dan merasakan azab itu.

176

اَفَبِعَذَابِنَا يَسْتَعْجِلُوْنَ

Afabi‘ażābinā yasta‘jilūn(a).

Maka, apakah mereka meminta agar azab Kami disegerakan?

Setelah engkau laksanakan perintah Allah tersebut, maka perhatikanlah apakah mereka merasa takut atau bergeming seraya meminta kepadamu, dengan nada mengejek, agar azab Kami disegerakan menimpa mereka.

177

فَاِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمْ فَسَاۤءَ صَبَاحُ الْمُنْذَرِيْنَ

Fa iżā nazala bisāḥatihim fa sā’a ṣabāḥul-munżarīn(a).

Apabila turun (siksaan itu) di halaman mereka, sangat buruklah pagi hari bagi orang-orang yang diperingatkan itu.

Maka sungguh, apabila azab itu benar-benar turun di halaman atau pekarangan rumah mereka, maka sangat buruklah pagi hari tersebut bagi orang-orang yang diperingatkan itu. Mereka menyaksikan azab itu tetapi tidak mampu menyelamatkan diri dan harta mereka. Itulah hari kekalahan mereka.

178

وَتَوَلَّ عَنْهُمْ حَتّٰى حِيْنٍۙ

Wa tawalla ‘anhum ḥattā ḥīn(in).

Berpalinglah engkau (Nabi Muhammad) dari mereka sampai waktu tertentu.

Dan jika mereka tetap angkuh dan sombong setelah engkau peringatkan, berpalinglah engkau dari mereka sampai waktu tertentu ketika mereka menerima azab Allah.

179

وَّاَبْصِرْۗ فَسَوْفَ يُبْصِرُوْنَ

Wa abṣir, fasaufa yubṣirūn(a).

Lihatlah (mereka)! Maka, kelak mereka akan melihat (azab itu).

Dan perlihatkanlah kembali gambaran azab itu kepada mereka, maka kelak mereka benar-benar akan melihat azab itu datang akibat kekafiran mereka.

180

سُبْحٰنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَۚ

Subḥāna rabbika rabbil-‘izzati ‘ammā yaṣifūn(a).

Maha Suci Tuhanmu, Tuhan pemilik kemuliaan dari apa yang mereka sifatkan.

Mahasuci Tuhanmu, Pemilik kemuliaan yang hakiki, Tuhan Yang Mahaperkasa lagi suci dari sifat tidak baik yang mereka katakan dan nisbatkan kepada-Nya.

181

وَسَلٰمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَۚ

Wa salāmun ‘alal-mursalīn(a).

Selamat sejahtera bagi para rasul.

Dan Allah menyampaikan ucapan selamat sejahtera bagi para rasul pembawa risalah.

182

وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ

Wal-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn(a).

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Dan ungkapan yang pantas ditujukan kepada Allah adalah pengakuan bahwa segala puji hanya layak bagi Allah Tuhan seluruh alam. Dia Mahakuasa, Maha Esa, dan Mahaperkasa. Dia menolong hamba-Nya yang berhak dan menyiksa siapa saja yang menentang risalah-Nya.

Surat Shad

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

صۤ ۗوَالْقُرْاٰنِ ذِى الذِّكْرِۗ

Ṣād, wal-qur’āni żiż-żikr(i).

Ṣād. demi Al-Qur’an yang mengandung peringatan.

Pada ayat terakhir Surah as-Saffat Allah menjelaskan perjuangan Rasulullah dan sahabat dalam menegakkan ajaran tauhid. Meski mendapat tantangan besar, tetapi dengan kesabaran dan kegigihan mereka akhirnya memperoleh kemenangan. Tema itu dilanjutkan dengan pembicaraan pada awal surah ini yang menegaskan bahwa upaya orang kafir menghalangi tersebarnya ajaran tauhid pasti berakhir dengan kehancuran. Allah memulai surah ini dengan fawatih as-suwar “Sad” untuk menarik perhatian lawan bicara supaya memperhatikan dengan seksama pesan-pesan yang akan disampaikan. Demi Al-Qur’an yang mengandung peringatan, memiliki kedudukan yang mulia, dan mengandung hukum-hukum yang sempurna.

2

بَلِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِيْ عِزَّةٍ وَّشِقَاقٍ

Balil-lażīna kafarū fī ‘izzatiw wa syiqāq(in).

Akan tetapi, orang-orang yang kufur (berada) dalam kesombongan dan permusuhan.

Sekalipun mengetahui kedudukan Al-Qur’an, tetapi orang-orang yang kafir tetap dalam kesombongan mereka dengan mengingkari wahyu dan menampakkan permusuhan terhadap Rasulullah dan ajaran yang disampaikannya. Mereka berbuat demikian salah satunya karena mereka menialai ajaran Nabi mengancam eksistensi agama nenek moyang mereka dan patung sesembahan mereka.

3

كَمْ اَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِّنْ قَرْنٍ فَنَادَوْا وَّلَاتَ حِيْنَ مَنَاصٍ

Kam ahlaknā min qablihim min qarnin fanādaw wa lāta ḥīna manāṣ(in).

Betapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan. Lalu, mereka meminta tolong (ketika datang azab), padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk melepaskan diri.

Kami telah mengingatkan melalui Nabi Muhammad betapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan akibat kesombongan dan keingkaran terhadap utusan Allah, lalu mereka meminta tolong pada saat azab itu datang, padahal waktu itu bukanlah saat yang tepat untuk meminta pertolongan dan mereka tidak bisa lari melepaskan diri dari siksa itu (Lihat Surah Gafir/40: 84).

4

وَعَجِبُوْٓا اَنْ جَاۤءَهُمْ مُّنْذِرٌ مِّنْهُمْ ۖوَقَالَ الْكٰفِرُوْنَ هٰذَا سٰحِرٌ كَذَّابٌۚ

Wa ‘ajibū an jā’ahum munżirum minhum, wa qālal-kāfirūna hāżā sāḥirun każżāb(un).

Mereka heran karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka. Orang-orang kafir berkata, “Orang ini adalah penyihir yang banyak berdusta.

Kami utus Nabi Muhammad kepada penduduk Mekah dan mereka yang ingkar merasa heran karena mereka kedatangan seorang rasul pemberi peringatan yang tidak lain berasal dari kalangan mereka sendiri; dan karena keingkaran yang begitu dalam kepada Rasulullah, orang-orang kafir berkata, “Orang ini adalah penyihir yang banyak berdusta.” Mereka berkata demikian karena apa yang disampaikan oleh Nabi tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

5

اَجَعَلَ الْاٰلِهَةَ اِلٰهًا وَّاحِدًا ۖاِنَّ هٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

Aja‘alal-ālihata ilāhaw wāḥidā(n), inna hāżā lasyai’un ‘ujāb(un).

Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan.”

Ketika Nabi mengajak mereka menyembah dan mengesakan Allah, mereka menjawab dengan penuh keingkaran, “Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan. Kami, kabilah-kabilah Arab, mempunyai tuhan masing-masing.”

6

وَانْطَلَقَ الْمَلَاُ مِنْهُمْ اَنِ امْشُوْا وَاصْبِرُوْا عَلٰٓى اٰلِهَتِكُمْ ۖاِنَّ هٰذَا لَشَيْءٌ يُّرَادُ ۖ

Wanṭalaqal-mala’u minhum animsyū waṣbirū ‘alā ālihatikum, inna hāżā lasyai’uy yurād(u).

Lalu, pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata), “Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu. Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki.

Mendengar ajakan Nabi untuk beratuhid, lalu pergilah pemimpin-pemimpin mereka menghampiri kaum masing-masing seraya berkata, “Pergilah kamu dan tetaplah menyembah tuhan-tuhanmu sendiri. Sesungguhnya ajakan bertauhid ini benar-benar hanyalah suatu hal yang dikehendaki oleh Muhammad terhadap kita agar dia bisa menjadi pemimpin.

7

مَا سَمِعْنَا بِهٰذَا فِى الْمِلَّةِ الْاٰخِرَةِ ۖاِنْ هٰذَآ اِلَّا اخْتِلَاقٌۚ

Mā sami‘nā bihāżā fil-millatil-ākhirah(ti), in hāżā illakhtilāq(un).

Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir. (Ajaran mengesakan Allah) ini tidak lain kecuali (dusta) yang dibuat-buat.

Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir, yaitu Nasrani, yang meyakini ajaran trinitas. Ajaran tauhid ini tidak lain hanyalah kedustaan yang diada-adakan oleh Muhammad.

8

اَؤُنْزِلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ مِنْۢ بَيْنِنَا ۗبَلْ هُمْ فِيْ شَكٍّ مِّنْ ذِكْرِيْۚ بَلْ لَّمَّا يَذُوْقُوْا عَذَابِ ۗ

A’unzila ‘alaihiż-żikru mim baininā, bal hum fī syakkim min żikrī, bal lammā yażūqū ‘ażāb(i).

Mengapa Al-Qur’an itu diturunkan kepada dia di antara kita?” Sebenarnya mereka dalam keraguan terhadap kitab-Ku. Akan tetapi, mereka (ragu karena) belum merasakan azab-Ku.

Mengapa Al-Qur’an itu diturunkan kepada Muhammad padahal dia berasal dari kalangan jelata, bukan kepada orang terpandang di antara kita?” (Lihat Surah az-Zukhruf/43: 31). Allah menegaskan, “Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap Al-Qur’an yang turun dari sisi-Ku karena kedengkian hati mereka, tetapi mereka belum merasakan azab-Ku atas keingkaran mereka. Kelak mereka pasti akan merasakannya.”

9

اَمْ عِنْدَهُمْ خَزَاۤىِٕنُ رَحْمَةِ رَبِّكَ الْعَزِيْزِ الْوَهَّابِۚ

Am ‘indahum khazā’inu raḥmati rabbikal-‘azīzil-wahhāb(i).

Atau, apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Tuhanmu Yang Maha Perkasa lagi Maha Pemberi?

Atau apakah mereka yang kafir itu ingkar karena mempunyai perbendaharaan rahmat Tuhanmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi sehingga merasa punya kekuatan untuk ikut menentukan kehendak Allah?” (Lihat Surah al-An’am/6: 124).

10

اَمْ لَهُمْ مُّلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۗفَلْيَرْتَقُوْا فِى الْاَسْبَابِ

Am lahum mulkus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā, falyartaqū fil-asbāb(i).

Atau, apakah mereka mempunyai kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya? (Jika ada,) biarlah mereka menaiki tangga-tangga (ke langit).

Atau apakah mereka mendustakan Nabi Muhammad karena merasa mempunyai kerajaan dan kekuasaan di langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya? Jika tidak, semestinya mereka tidak mencampuri urusan Allah dalam menentukan seseorang menjadi rasul karena Dialah yang memiliki wewenang mutlak untuk itu. Jika tetap ingkar, maka biarlah mereka menaiki tangga-tangga menuju langit guna menghalangi turunnya wahyu Kami kepada Rasulullah.

11

جُنْدٌ مَّا هُنَالِكَ مَهْزُوْمٌ مِّنَ الْاَحْزَابِ

Jundum mā hunālika mahzūmum minal-aḥzāb(i).

Bala tentara yang berada di sana dari golongan yang bersekutu (untuk mengalahkan Rasul Kami) tentu akan dikalahkan.

Mereka yang ingkar itu laksana kelompok besar bala tentara yang berada di suatu tempat di sebelah sana yang akan dikalahkan oleh kelompok kecil yang memiliki keyakinan kuat dan keteguhan iman. Mereka kalah karena perjuangan mereka tidak didasari keyakinan yang kukuh, melain-kan rasa iri dan kesombongan.

12

كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوْحٍ وَّعَادٌ وَّفِرْعَوْنُ ذُو الْاَوْتَادِۙ

Każżabat qablahum qaumu nūḥiw wa ‘āduw wa fir‘aunu żul-autād(i).

Sebelum mereka itu, kaum Nuh, ‘Ad, dan Fir‘aun yang mempunyai kekuatan besar (juga) telah mendustakan (para rasul).

Kebenaran pasti akan menang melawan kebatilan, dan hal itu terbukti dengan hancurnya para penentang nabi-nabi terdahulu. Bila kaum musyrik Mekah mendustakan Nabi Muhammad, sebelum mereka itu kaum Nabi Nuh, ‘Ad, dan Fir’aun yang mempunyai bala tentara yang banyak juga telah mendustakan rasul-rasul Allah. Musuh Nabi Nuh dihancurkan dengan banjir besar, kaum ‘Ad dengan angin kencang, dan Firaun ditenggelamkan di laut Merah.

13

وَثَمُوْدُ وَقَوْمُ لُوْطٍ وَّاَصْحٰبُ لْـَٔيْكَةِ ۗ اُولٰۤىِٕكَ الْاَحْزَابُ

Wa ṡamūdu wa qaumu lūṭiw wa aṣḥābul-aikah(ti), ulā’ikal-aḥzāb(u).

(Begitu juga) Samud, kaum Lut, dan penduduk Aikah. Mereka itulah golongan yang bersekutu (menentang para rasul).

Dan hal yang sama juga dilakukan oleh kaum Samud, kaum Nabi Lut, dan penduduk Aikah, yakni kaum Nabi Syuaib. Mereka pun mendustakan para rasul Allah. Kaum Samud dihancurkan dengan suara menggelegar, kaum Nabi Lut dengan hujan batu, dan penduduk Aikah dengan kilat yang menyambar. Mereka itulah golongan-golongan yang bersekutu dalam menyembah berhala dan berbuat kejahatan.

14

اِنْ كُلٌّ اِلَّا كَذَّبَ الرُّسُلَ فَحَقَّ عِقَابِ ࣖ

In kullun illā każżabar-rusula faḥaqqa ‘iqāb(i).

Masing-masing tidak lain, kecuali mendustakan para rasul. Maka, pantaslah mereka merasakan hukuman-Ku.

Semua mereka itu mendustakan seruan rasul-rasul Allah, maka pantas mereka merasakan azab-Ku sehingga mereka pun hancur.

15

وَمَا يَنْظُرُ هٰٓؤُلَاۤءِ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً مَّا لَهَا مِنْ فَوَاقٍ

Wa mā yanẓuru hā’ulā’i illā ṣaiḥataw wāḥidatam mā lahā min fawāq(in).

Mereka tidak menunggu selain satu teriakan (saja) yang tidak ada selanya.

Dan apabila kaum musyrik Mekah dan umat-umat durhaka terdahulu itu tetap dalam keingkaran mereka, maka sebenarnya yang mereka tunggu adalah satu teriakan saja yang tidak ada selanya. Itulah teriakan sebagai tanda datangnya hari Kiamat-teriakan yang sangat keras dan cepat.

16

وَقَالُوْا رَبَّنَا عَجِّلْ لَّنَا قِطَّنَا قَبْلَ يَوْمِ الْحِسَابِ

Wa qālū rabbanā ‘ajjil lanā qiṭṭanā qabla yaumil-ḥisāb(i).

Mereka berkata, “Wahai Tuhan kami, segerakanlah untuk kami bagian (dari siksa) kami sebelum hari Perhitungan.”

Dan mereka dengan nada sinis dan penuh keingkaran berkata, “Ya Tuhan kami, segerakanlah azab yang diperuntukkan bagi kami sebelum hari perhitungan.” Dengan ucapan ini mereka bermaksud memperolok Nabi yang menyampaikan bahwa ancaman yang Allah tujukan kepada mereka adalah azab di hari Kiamat (Lihat Surah al-Anfal/8: 32)

17

اِصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوٗدَ ذَا الْاَيْدِۚ اِنَّهٗٓ اَوَّابٌ

Iṣbir ‘alā mā yaqūlūna ważkur ‘abdanā dāwūda żal-aid(i), innahū awwāb(un).

Bersabarlah atas apa yang mereka katakan dan ingatlah akan hamba Kami, Daud, yang mempunyai kekuatan. Sesungguhnya dia adalah orang yang selalu kembali (kepada Allah).

Allah meminta Nabi bersabar dalam menghadapi keingkaran orang-orang musyrik, sebagaimana nabi-nabi terdahulu juga menghadapi rintangan yang sama. Bersabarlah wahai Nabi Muhammad atas apa yang mereka katakan dan tuduhkan kepadamu bahwa kamu adalah pendusta dan penyihir. Dan ingatlah akan kisah seorang hamba sebelum kamu yang Kami utus, yaitu Nabi Dawud, yang mempunyai kekuatan dalam memahami dan menjalankan ajaran agama. Sungguh dia sangat taat dan selalu mengembalikan urusannya kepada Allah. Bila merasa bersalah, ia pun segera minta ampun kepada Allah.

18

اِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهٗ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْاِشْرَاقِۙ

Innā sakhkharnal-jibāla ma‘ahū yusabbiḥna bil-‘asyiyyi wal-isyrāq(i).

Sesungguhnya Kami telah menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) pada waktu petang dan pagi.

Karena ketaatan Nabi Dawud, sungguh Kami telah menganugerahinya beberapa kenikmatan. Kamilah yang menundukkan gunung-gunung yang kukuh untuk senantiasa bertasbih dan beribadah bersama dia pada waktu petang dan pagi.

19

وَالطَّيْرَمَحْشُوْرَةً ۗ كُلٌّ لَّهٗٓ اَوَّابٌ

Waṭ-ṭaira maḥsyūrah(tan), kullul lahū awwāb(un).

(Kami menundukkan pula) burung-burung dalam keadaan berkumpul. Masing-masing sangat patuh kepadanya (Daud).

Kami tundukkan pula baginya burung-burung untuk bertasbih bersamanya dalam keadaan terkumpul maupun terbang. Burung-burung itu ikut bertasbih begitu mendengar suara Nabi Dawud yang merdu bertasbih dan melantunkan kitab Zabur. Masing-masing dari gunung-gunung dan burung-burung itu sangat taat kepada Allah.

20

وَشَدَدْنَا مُلْكَهٗ وَاٰتَيْنٰهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ

Wa syadadnā mulkahū wa ātaināhul-ḥikmata wa faṣlal-khiṭāb(i).

Kami menguatkan kerajaannya serta menganugerahkan hikmah (kenabian) kepadanya dan kemampuan dalam menyelesaikan perkara.

Dan Kami kuatkan kerajaannya dengan kewibawaan, tentara yang banyak, kekayaan yang berlimpah, dan kepiawaiannya mengatur strategi perang. Dan Kami berikan hikmah kepadanya berupa kenabian, kesempurnaan ilmu, dan ketelitian dalam berbuat serta pemahaman yang tepat (Lihat Surah Saba’/34: 10-11), dan kebijaksanaan dalam memutuskan perkara dengan menunjukkan bukti-bukti yang akurat.

21

۞ وَهَلْ اَتٰىكَ نَبَؤُا الْخَصْمِۘ اِذْ تَسَوَّرُوا الْمِحْرَابَۙ

Wa hal atāka naba’ul-khaṣm(i), iż tasawwarul-miḥrāb(a).

Apakah telah sampai kepadamu (Nabi Muhammad) berita orang-orang yang berselisih ketika mereka memanjat dinding mihrab?

Dan apakah telah sampai kepadamu, wahai Nabi Muhammad, suatu berita tentang orang-orang yang berselisih saat Nabi Dawud sedang berada di tempat peribadatan, ketika mereka datang dengan cara memanjat dinding mihrab?

22

اِذْ دَخَلُوْا عَلٰى دَاوٗدَ فَفَزِعَ مِنْهُمْ قَالُوْا لَا تَخَفْۚ خَصْمٰنِ بَغٰى بَعْضُنَا عَلٰى بَعْضٍ فَاحْكُمْ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَلَا تُشْطِطْ وَاهْدِنَآ اِلٰى سَوَاۤءِ الصِّرَاطِ

Iż dakhalū ‘alā dāwūda fafazi‘a minhum qālū lā takhaf, khaṣmāni bagā ba‘ḍunā ‘alā ba‘ḍin faḥkum bainanā bil-ḥaqqi wa lā tusyṭiṭ wahdinā ilā sawā’iṣ-ṣirāṭ(i).

Ketika mereka masuk menemui Daud, dia terkejut karena (kedatangan) mereka. Mereka berkata, “Janganlah takut! (Kami) berdua sedang berselisih. Sebagian kami berbuat aniaya kepada yang lain. Maka, berilah keputusan di antara kami dengan hak, janganlah menyimpang dari kebenaran, dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus.”

Ketika itu, mereka masuk untuk menemui Nabi Dawud lalu dia terkejut karena kedatangan mereka yang tak terduga itu dan mengira mereka hendak berbuat tidak baik kepadanya. Mereka berkata untuk menenangkan hatinya, “Janganlah takut! Wahai Nabi Dawud, kami berdua sedang berselisih tentang suatu perkara; sebagian dari kami berbuat zalim kepada yang lain, maka berilah keputusan di antara kami secara adil dan janganlah menyimpang dari kebenaran serta tunjukilah kami ke jalan yang lurus dan benar.

23

اِنَّ هٰذَآ اَخِيْ ۗ لَهٗ تِسْعٌ وَّتِسْعُوْنَ نَعْجَةً وَّلِيَ نَعْجَةٌ وَّاحِدَةٌ ۗفَقَالَ اَكْفِلْنِيْهَا وَعَزَّنِيْ فِى الْخِطَابِ

Inna hāżā akhī, lahū tis‘uw wa tis‘ūna na‘jataw wa liya na‘jatuw wāḥidah(tun), faqāla aqfilnīhā wa ‘azzanī fil-khiṭāb(i).

(Salah seorang berkata,) “Sesungguhnya ini saudaraku. Dia mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina, sedangkan aku mempunyai seekor saja. Lalu, dia berkata, ‘Biarkan aku yang memeliharanya! Dia mengalahkanku dalam perdebatan.’”

Berusaha menjelaskan duduk perkara, salah satu dari kedua orang itu mengatakan, “Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor kambing betina saja, lalu dia berkata kepadaku sambil menuntut, ‘Serahkanlah kambing betinamu itu kepadaku!’ Dan dia mengalahkan aku karena aku tidak mempunyai dalih yang kuat dalam perdebatan itu.”

24

قَالَ لَقَدْ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعْجَتِكَ اِلٰى نِعَاجِهٖۗ وَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ الْخُلَطَاۤءِ لَيَبْغِيْ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَقَلِيْلٌ مَّا هُمْۗ وَظَنَّ دَاوٗدُ اَنَّمَا فَتَنّٰهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهٗ وَخَرَّ رَاكِعًا وَّاَنَابَ ۩

Qāla laqad ẓalamaka bisu’āli na‘jatika ilā ni‘ājih(ī), wa inna kaṡīram minal-khulaṭā’i layabgī ba‘ḍuhum ‘alā ba‘ḍin illal-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa qalīlum mā hum, wa ẓanna dāwūdu annamā fatannāhu fastagfara rabbahū wa kharra rāki‘aw wa anāb(a).

Dia (Daud) berkata, “Sungguh, dia benar-benar telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk (digabungkan) kepada kambing-kambingnya. Sesungguhnya banyak di antara orang-orang yang berserikat itu benar-benar saling merugikan satu sama lain, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan sedikit sekali mereka itu.” Daud meyakini bahwa Kami hanya mengujinya. Maka, dia memohon ampunan kepada Tuhannya dan dia tersungkur jatuh serta bertobat.

Nabi Dawud menyimak aduan pria itu, lalu dia memberi keputusan seraya berkata, “Sungguh, dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya sehingga kambingnya bertambah banyak. Memang banyak di antara orang-orang yang bersekutu itu berbuat zalim kepada yang lain karena pihak yang lemah tidak memiliki bukti yang menguatkan perkaranya. Banyak yang berbuat zalim, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan yang menjunjung tinggi keadilan, dan hanya sedikitlah mereka yang begitu.” Dan setelah memberi putusan berdasarkan aduan sepihak itu, Nabi Dawud sadar dan menduga bahwa Kami mengujinya; maka dia segera memohon ampunan kepada Tuhannya atas kekeliruannya, lalu dia menyungkur sujud dan bertobat.

25

فَغَفَرْنَا لَهٗ ذٰلِكَۗ وَاِنَّ لَهٗ عِنْدَنَا لَزُلْفٰى وَحُسْنَ مَاٰبٍ

Fa gafarnā lahū żālik(a), wa inna lahū ‘indanā lazulfā wa ḥusna ma’āb(in).

Lalu, Kami mengampuni (kesalahannya) itu. Sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang benar-benar dekat di sisi Kami dan tempat kembali yang baik.

Setelah Nabi Dawud meminta ampun dan bertobat kepada Allah, lalu Kami mengampuni kesalahan yang ia sadari itu. Dan lantaran ke-sadaran dan ketajaman nuraninya sungguh, dia mempunyai kedudukan yang benar-benar dekat di sisi Kami dan berhak mendapatkan tempat kembali yang baik, surga yang penuh kenikmatan.

26

يٰدَاوٗدُ اِنَّا جَعَلْنٰكَ خَلِيْفَةً فِى الْاَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوٰى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَضِلُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ۢبِمَا نَسُوْا يَوْمَ الْحِسَابِ ࣖ

Yā dāwūdu innā ja‘alnāka khalīfatan fil-arḍi faḥkum bainan nāsi bil-ḥaqqi wa lā tattabi‘il-hawā fa yuḍillaka ‘an sabīlillāh(i), innal-lażīna yaḍillūna ‘an sabīlillāhi lahum ‘ażābun syadīdum bimā nasū yaumal-ḥisāb(i).

(Allah berfirman,) “Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di bumi. Maka, berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan hak dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari Perhitungan.”

Karena ketaatan, kebijaksanaan, dan ilmunya yang luas, Allah memilih Nabi Dawud sebagai khalifah, “Wahai Nabi Dawud! Sesungguhnya engkau telah Kami jadikan khalifah dan penguasa di bumi. Karena itu, hiasilah kekuasaanmu dengan kesopanan dan tunduk pada aturan Kami. Maka berilah keputusan tentang suatu perkara yang terjadi di antara manusia dengan adil dan mengacu pada wahyu Kami, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu dalam menjalankan amanah Kami karena hawa nafsu akan menyesatkan engkau dari jalan Allah dan menggiringmu jauh dari kebenaran Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akibat mengikuti hawa nafsu akan mendapat azab yang berat dan pedih di akhirat. Yang demikian itu karena mereka melupakan hari perhitungan, hari ketika perbuatan manusia dihisab. Ayat ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus bersikap adil, amanah, dan mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

27

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاۤءَ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۗذٰلِكَ ظَنُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنَ النَّارِۗ

Wa mā khalaqnas-samā’a wal-arḍa wa mā bainahumā bāṭilā(n), żālika ẓannul-lażīna kafarū, fawailul lil-lażīna kafarū minan-nār(i).

Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya secara sia-sia. Itulah anggapan orang-orang yang kufur. Maka, celakalah orang-orang yang kufur karena (mereka akan masuk) neraka.

Usai menegaskan adanya hari perhitungan, Allah beralih menjelas-kan bukti-bukti kekuasaan-Nya di jagat raya. Dan sungguh, Kami tidak serta-merta menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, seperti bintang, matahari, dan bulan, dengan sia-sia dan tanpa manfaat tertentu (Lihat Surah ad-Dukhan/44: 38-39). Itu semua adalah anggapan orang-orang kafir yang tidak memercayai kekuasaan Allah, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk ke neraka yang telah Allah persiapkan untuk mereka.

28

اَمْ نَجْعَلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ كَالْمُفْسِدِيْنَ فِى الْاَرْضِۖ اَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِيْنَ كَالْفُجَّارِ

Am naj‘alul-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti kal-mufsidīna fil-arḍ(i), am naj‘alul-muttaqīna kal-fujjār(i).

Apakah (pantas) Kami menjadikan orang-orang yang beriman dan beramal saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Pantaskah Kami menjadikan orang-orang yang bertakwa sama dengan para pendurhaka?

Allah menegaskan perbedaan perlakuan-Nya kepada orang beriman dan orang kafir. Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta percaya akan keesaan Kami sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi dan tidak mau mengikuti petunjuk Kami? Atau pantaskah Kami menganggap orang-orang yang bertakwa dan patuh pada perintah Kami sama dengan orang-orang yang jahat, ingkar, dan sombong?

29

كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ

Kitābun anzalnāhu ilaika mubārakul liyaddabbarū āyātihī wa liyatażakkara ulul-albāb(i).

(Al-Qur’an ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) yang penuh berkah supaya mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.

Wahai Nabi Muhammad, sesungguhnya kitab Al-Qur’an yang telah Kami turunkan kepadamu adalah kitab yang penuh berkah. Kami menurunkannya agar mereka menghayati dan memahami ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat menggunakan akal budinya untuk mendapat pelajaran darinya dan mengamalkan kandungannya.

30

وَوَهَبْنَا لِدَاوٗدَ سُلَيْمٰنَۗ نِعْمَ الْعَبْدُ ۗاِنَّهٗٓ اَوَّابٌۗ

Wa wahabnā lidāwūda wa sulaimān(a), ni‘mal-‘abd(u), innahū awwāb(un).

Kami menganugerahkan kepada Daud (anak bernama) Sulaiman. Dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia sangat taat (kepada Allah).

Dan tidak hanya anugerah ilmu pengetahuan dan kenabian, kepada Nabi Dawud Kami karuniakan pula seorang putra yang mengikuti jejak dan perjuangannya, yaitu Nabi Sulaiman. Dia adalah sebaik-baik hamba yang selalu beribadah dan bersyukur. Sungguh, dia sangat taat pada perintah Allah.

31

اِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصّٰفِنٰتُ الْجِيَادُۙ

Iż ‘uriḍa ‘alaihi bil-‘asyiyyiṣ-ṣāfinātul-jiyād(u).

(Ingatlah) ketika pada suatu petang dipertunjukkan kepadanya (kuda-kuda) yang jinak, (tetapi) sangat cepat larinya.

Ingatlah karunia kami kepada Nabi Sulaiman, yaitu ketika pada suatu sore, antara asar dan magrib, dipertunjukkan kepadanya kekayaan dan kuda-kuda yang jinak dan tangkas serta memiliki kaki yang kuat sehingga sangat cepat larinya,

32

فَقَالَ اِنِّيْٓ اَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَنْ ذِكْرِ رَبِّيْۚ حَتّٰى تَوَارَتْ بِالْحِجَابِۗ

Fa qāla innī aḥbabtu ḥubbal-khairi ‘an żikri rabbī, ḥattā tawārat bil-ḥijāb(i).

Maka, dia berkata, “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai ia (matahari atau kuda itu) bersembunyi di balik tabir (hilang dari pandangan).

maka ketika itu dia berkata, “Sesungguhnya aku menyukai segala sesuatu yang baik, yaitu kuda dan harta kekayaan, yang membuat aku selalu ingat akan kebesaran Tuhanku.” Nabi Sulaiman menyaksikan dan mengawasi pertunjukan itu sampai matahari terbenam.

33

رُدُّوْهَا عَلَيَّ ۚفَطَفِقَ مَسْحًا ۢبِالسُّوْقِ وَالْاَعْنَاقِ

Ruddūhā ‘alayy(a), faṭafiqa masḥam bis-sūqi wal-a‘nāq(i).

Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku.” Lalu, dia mengusap-usap kaki dan leher (kuda itu).

Lalu Nabi Sulaiman berkata kepada pelatih kuda, “Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku.” Lalu dia pun mengusap-usap kaki dan leher kuda itu sebagai wujud syukurnya kepada Allah.

34

وَلَقَدْ فَتَنَّا سُلَيْمٰنَ وَاَلْقَيْنَا عَلٰى كُرْسِيِّهٖ جَسَدًا ثُمَّ اَنَابَ

Wa laqad fatannā sulaimāna wa alqainā ‘alā kursiyyihī jasadan ṡumma anāb(a).

Sungguh, Kami benar-benar telah menguji Sulaiman dan Kami menggeletakkan(-nya) di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian dia bertobat.

Dan Kami tidak hanya mencurahkan karunia kepada Nabi Sulaiman. Sungguh, Kami pun telah menguji Nabi Sulaiman dengan penyakit yang menyebabkan hilangnya kekuatan yang dimilikinya, dan karena itu Kami jadikan dia hanya mampu tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh yang lemah tak berdaya, kemudian dia pun menyadari kelalaiannya dan bertobat kepada Allah.

35

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَهَبْ لِيْ مُلْكًا لَّا يَنْۢبَغِيْ لِاَحَدٍ مِّنْۢ بَعْدِيْۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

Qāla rabbigfir lī wa hab lī mulkal lā yambagī li’aḥadim mim ba‘dī, innaka antal-wahhāb(u).

Dia berkata, “Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak patut (dimiliki) oleh seorang pun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.”

Dalam tobatnya dia berkata, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dari dosa-dosaku yang menyebabkan Engkau menimpakan cobaan ini kepadaku, dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan agung yang tidak akan dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi lagi Maha Pemurah.”

36

فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيْحَ تَجْرِيْ بِاَمْرِهٖ رُخَاۤءً حَيْثُ اَصَابَۙ

Fasakhkharnā lahur-rīḥa tajrī bi’amrihī rukhā’an ḥaiṡu aṣāb(a).

Maka, Kami menundukkan kepadanya angin yang berembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang ia kehendaki.

Allah menerima tobat dan doa Nabi Sulaiman, kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berembus dengan baik maupun dengan kencang menurut perintahnya, berembus ke mana saja yang dikehendakinya sehingga dia dapat menempuh perjalanan jauh hanya dalam sekejap.

37

وَالشَّيٰطِيْنَ كُلَّ بَنَّاۤءٍ وَّغَوَّاصٍۙ

Wasy-syayāṭīna kulla bannā’iw wa gawwāṣ(in).

(Kami menundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli bangunan, dan penyelam.

Dan Kami tundukkan pula untuknya setan-setan dan jin-jin, semuanya ahli bangunan dan penyelam. Mereka ahli membangun istana, gedung megah, tempat peribadatan, bahkan hiasan dari keramik seperti patung, cawan, teko, dan sebagainya; serta ahli mengambil berbagai perhiasan dari dasar laut, seperti mutiara dan marjan. Mereka tekun bekerja (Lihat Surah al-Anbiya’/21: 81=82; Saba/34: 12-13),

38

وَّاٰخَرِيْنَ مُقَرَّنِيْنَ فِى الْاَصْفَادِ

Wa ākharīna muqarranīna fil-aṣfād(i).

(Begitu juga setan-setan) lain yang terikat dalam belenggu.

dan adapun setan yang lain yang tidak mematuhi perintahnya, mereka terikat dalam belenggu sehingga tidak mengganggu mereka yang bekerja.

39

هٰذَا عَطَاۤؤُنَا فَامْنُنْ اَوْ اَمْسِكْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Hāżā ‘aṭā’unā famnun au amsik bigairi ḥisāb(in).

Inilah anugerah Kami. Maka, berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) tanpa perhitungan.

Kami berikan kepada Nabi Sulaiman kerajaan, kekayaan, dan kekuasaan yang tidak Kami berikan kepada siapa pun sesudahnya. Inilah anugerah Kami yang agung kepadamu, wahai Nabi Sulaiman; maka berikanlah sebagian dari karunia itu kepada orang lain atau tahanlah untuk dirimu sendiri, tanpa perhitungan dan tuntutan atasmu sebagai aturan yang Kami khususkan untukmu.

40

وَاِنَّ لَهٗ عِنْدَنَا لَزُلْفٰى وَحُسْنَ مَاٰبٍ ࣖ

Wa inna lahū ‘indanā lazulfā wa ḥusna ma’āb(in).

Sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.

Dan sungguh, Allah telah mengabulkan doanya dan memberi dia kemuliaan di dunia dengan mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik, yaitu surga.

41

وَاذْكُرْ عَبْدَنَآ اَيُّوْبَۘ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الشَّيْطٰنُ بِنُصْبٍ وَّعَذَابٍۗ

Ważkur ‘abdanā ayyūb(a), iż nādā rabbahū annī massaniyasy-syaiṭānu binuṣbiw wa ‘ażāb(in).

Ingatlah hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, “Sesungguhnya aku telah diganggu setan dengan penderitaan dan siksaan (rasa sakit).”

Cerita tentang Nabi Dawud dan Sulaiman yang diberi berbagai kenikmatan oleh Allah diikuti oleh kisah tentang Nabi Ayyub yang hidupnya penuh ujian dan cobaan. Dan ingatlah, wahai Nabi Muhammad, akan kisah salah seorang hamba Kami, yaitu Nabi Ayyub, yang sangat sabar dan taat kepada Allah. Dan ingatlah ketika dia mendapat ujian dan cobaan dari Allah, dia menyeru dan berdoa kepada Tuhannya, “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan, sakit menahun, dan bencana yang besar dengan hilangnya harta kekayaan dan anak keturunanku. Aku mengadu kepada-Mu karena Engkau Maha Penyayang.” (Lihat Surah al-Anbiya/21: 83).

42

اُرْكُضْ بِرِجْلِكَۚ هٰذَا مُغْتَسَلٌۢ بَارِدٌ وَّشَرَابٌ

Urkuḍ birijlik(a), hāżā mugtasalum bāriduw wa syarāb(un).

(Allah berfirman,) “Entakkanlah kakimu (ke bumi)! Inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum.”

Menjawab doa Nabi Ayyub, Allah berfirman, “Hentakkanlah kakimu!.” Dia pun menuruti perintah Tuhannya, lalu dari bawah telapak kakinya muncul sebuah mata air. Dikatakan kepadanya, “Inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Minum dan mandilah dengan airnya, niscaya Allah akan menghilangkan penderitaan dan bencana darimu.”

43

وَوَهَبْنَا لَهٗٓ اَهْلَهٗ وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنَّا وَذِكْرٰى لِاُولِى الْاَلْبَابِ

Wa wahabnā lahū ahlahū wa miṡlahum ma‘ahum raḥmatam minnā wa żikrā li’ulil-albāb(i).

Kami anugerahkan (pula) kepadanya (Ayyub) keluarganya dan (Kami lipat gandakan) jumlah mereka sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikiran sehat.

Kami sembuhkan penyakit Nabi Ayyub dan setelah itu Kami anugerahi dia kebahagiaan berkumpul kembali bersama keluarganya yang lama terpisah dan Kami lipatgandakan jumlah mereka sehingga keluarga serta pengikutnya bertambah banyak. Kami anugerahkan hal itu sebagai rahmat dari Kami bagi orang yang berbuat baik dan sabar dalam menerima cobaan, dan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berpikiran sehat serta meyakini kemurahan dan rahmat Allah.

44

وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِّهٖ وَلَا تَحْنَثْ ۗاِنَّا وَجَدْنٰهُ صَابِرًا ۗنِعْمَ الْعَبْدُ ۗاِنَّهٗٓ اَوَّابٌ

Wa khuż biyadika ḍigṡan faḍrib bihī wa lā taḥnaṡ, innā wajadnāhu ṣābirā(n), ni‘mal-‘abd(u), innahū awwāb(un).

Ambillah dengan tanganmu seikat rumput, lalu pukullah (istrimu) dengannya dan janganlah engkau melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia selalu kembali (kepada Allah dan sangat taat kepadanya).

Nabi Ayyub pernah bersumpah akan memukul istrinya akibat kelalaiannya dalam merawat beliau. Allah mengizinkan beliau untuk melaksanakan sumpah itu tanpa mendatangkan rasa sakit berlebih kepada istrinya. Untuk itu Allah berfirman, “Dan ambillah seikat rumput dengan tanganmu, lalu pukullah istrimu sekali saja dengan itu dan janganlah engkau melanggar sumpah yang pernah kauucapkan.” Sesungguhnya Kami dapati dia sebagai seorang yang sabar dan ikhlas dalam menghadapi cobaan. Dialah sebaik-baik hamba yang tidak pernah putus asa. Sungguh, dia sangat taat dalam melaksanakan perintah Kami. Ujian dan cobaan bisa menimpa siapa saja. Jika hal itu dihadapi dengan sabar, tawakal, dan berusaha secara maksimal, niscaya Allah akan mengganti dengan imbalan lebih banyak, bahkan terkadang tidak terduga.

45

وَاذْكُرْ عِبٰدَنَآ اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ اُولِى الْاَيْدِيْ وَالْاَبْصَارِ

Ważkur ‘ibādanā ibrāhīma wa isḥāqa wa ya‘qūba ulil-aidī wal-abṣār(i).

Ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya‘qub yang mempunyai kekuatan (dalam taat kepada Allah) dan penglihatan (mata hati yang jernih).

Demikianlah kisah Nabi Ayyub, salah satu nabi dari garis keturunan Nabi Ishak bin Ibrahim. Seperti halnya Nabi Ayyub, ketabahan dan kesabaran juga ditunjukkan oleh leluhurnya. Dan ingatlah hamba-hamba Kami yang taat melaksanakan perintah Allah, tabah menerima cobaan dan ujian, dan sabar menghadapi umatnya, yaitu Nabi Ibrahim, Ishak, dan Yakub. Mereka mempunyai kekuatan-kekuatan yang besar dan ilmu-ilmu agama. Dengan kekuatan mereka memimpin umat dan melaksanakan perintah-perintah Allah, dan dengan ilmu agama yang luas mereka membimbing orang lain.

46

اِنَّآ اَخْلَصْنٰهُمْ بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِۚ

Innā akhlaṣnāhum bikhāliṣatin żikrad-dār(i).

Sesungguhnya Kami telah memberikan secara khusus kepada mereka anugerah yang besar, (yaitu selalu) mengingat negeri akhirat.

Sungguh, Kami anugerahi mereka karunia yang besar itu karena Kami telah menyucikan jiwa mereka dengan sifat-sifat terpuji dan akhlak yang tinggi kepadanya, yaitu selalu mengingatkan umatnya kepada negeri akhirat yang kekal dan penuh kenikmatan bagi hamba-hamba yang saleh.

47

وَاِنَّهُمْ عِنْدَنَا لَمِنَ الْمُصْطَفَيْنَ الْاَخْيَارِۗ

Wa innahum ‘indanā laminal-muṣṭafainal-akhyār(i).

Sesungguhnya mereka di sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang terbaik.

Dan sungguh, di sisi Kami mereka termasuk orang-orang pilihan yang paling baik dan mulia di antara manusia lain, sehingga Kami pilih mereka sebagai nabi dan rasul.

48

وَاذْكُرْ اِسْمٰعِيْلَ وَالْيَسَعَ وَذَا الْكِفْلِ ۗوَكُلٌّ مِّنَ الْاَخْيَارِۗ

Ważkur ismā‘īla wal-yasa‘a wa żal-kifl(i), wa kullum minal-akhyār(i).

Ingatlah Ismail, Ilyasa, dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.

Dan ingatlah, wahai Nabi Muhammad, kisah moyang bangsa Arab, yaitu Nabi Ismail bin Ibrahim; Nabi Ilyasa’ bin Akhtub dan Nabi Zulkifli putra paman Nabi Ilyasa’–nabi-nabi dari Bani Israil. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik yang dipilih Allah untuk membimbing kaumnya menuju ketaatan kepada Allah dan menjauhi kemusyrikan.

49

هٰذَا ذِكْرٌ ۗوَاِنَّ لِلْمُتَّقِيْنَ لَحُسْنَ مَاٰبٍۙ

Hāżā żikr(un), wa inna lil-muttaqīna laḥusna ma’āb(in).

Ini adalah kehormatan (bagimu dan kaummu). Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik.

Setelah menjelaskan kisah para nabi penyampai risalah, Allah beralih menguraikan imbalan bagi orang-orang yang mengikuti risalah mereka. Al-Qur’an ini adalah kehormatan bagi mereka yang berharap petunjuk-Nya. Dan sungguh, Allah meyediakan bagi orang-orang yang bertakwa kepada-Nya tempat kembali yang terbaik di akhirat.

50

جَنّٰتِ عَدْنٍ مُّفَتَّحَةً لَّهُمُ الْاَبْوَابُۚ

Jannāti ‘adnim mufattaḥatal lahumul-abwāb(u).

(Yaitu) surga ‘Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka.

Itulah surga ‘Adn, tempat tinggal yang kekal yang pintu-pintunya terbuka lebar bagi mereka, menyambut kedatangan mereka.

51

مُتَّكِـِٕيْنَ فِيْهَا يَدْعُوْنَ فِيْهَا بِفَاكِهَةٍ كَثِيْرَةٍ وَّشَرَابٍ

Muttaki’īna fīhā yad‘ūna fīhā bifākihatin kaṡīratiw wa syarāb(in).

Mereka bersandar di dalamnya (di atas dipan-dipan) sambil meminta buah-buahan dan minuman yang banyak (di surga itu).

Di dalamnya mereka bersandar di atas dipan-dipan sambil meminta suguhan berupa buah-buahan yang banyak dan minuman dengan berbagai jenis dan rasa.

52

۞ وَعِنْدَهُمْ قٰصِرٰتُ الطَّرْفِ اَتْرَابٌ

Wa ‘indahum qāṣirātuṭ-ṭarfi atrāb(un).

Di samping mereka (ada bidadari-bidadari) yang pandangannya terbatas (hanya untuk pasangannya), lagi sebaya umurnya.

Dan di samping mereka ada bidadari-bidadari cantik dan sopan yang redup pandangannya, setia pada pasangannya, dan mereka semua sebaya umurnya.

53

هٰذَا مَا تُوْعَدُوْنَ لِيَوْمِ الْحِسَابِ

Hāżā mā tū‘adūna liyaumil-ḥisāb(i).

Inilah apa yang dijanjikan kepadamu pada hari Perhitungan.

Inilah apa yang dijanjikan Allah kepadamu pada hari perhitungan, hari ketika manusia dibangkitkan dari kubur lalu diarak ke padang mahsyar dan diadili di hadapan Allah.

54

اِنَّ هٰذَا لَرِزْقُنَا مَا لَهٗ مِنْ نَّفَادٍۚ

Ina hāżā larizqunā mā lahū min nafād(in).

Sesungguhnya ini adalah benar-benar rezeki (dari) Kami yang tidak habis-habisnya.

Sungguh, karunia besar dan mulia inilah rezeki dari Kami yang tidak ada habis-habisnya dan tidak pula berkurang. Kami berikan karunia itu kepada hamba-hamba yang taat dan berbakti.

55

هٰذَا ۗوَاِنَّ لِلطّٰغِيْنَ لَشَرَّ مَاٰبٍۙ

Hāżā, wa inna liṭ-ṭāgīna lasyarra ma’āb(in).

Inilah (kenikmatan bagi orang yang bertakwa). Sesungguhnya bagi orang-orang yang melampaui batas benar-benar (disediakan) tempat kembali yang buruk.

Bila Allah menyediakan surga beserta segala kenikmatan di dalamnya bagi orang yang taat, maka Allah menyediakan jahanam bagi orang yang durhaka terhadap risalah Allah. Beginilah karunia Allah kepada orang-orang yang bertakwa. Dan sungguh, bagi orang-orang yang durhaka terhadap perintah Allah dan rasul-Nya di dunia pasti di akhirat nanti disediakan tempat kembali yang buruk.

56

جَهَنَّمَۚ يَصْلَوْنَهَاۚ فَبِئْسَ الْمِهَادُ

Jahannam(a), yaṣlaunahā, fabi’sal-mihād(u).

(Yaitu neraka) Jahanam yang mereka akan masuk ke dalamnya. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.

Itulah neraka Jahanam, tempat tinggal yang kelak akan mereka masuki; maka Jahanam itulah seburuk-buruk tempat tinggal.

57

هٰذَاۙ فَلْيَذُوْقُوْهُ حَمِيْمٌ وَّغَسَّاقٌۙ

Hāżā, falyażūqūhu ḥamīmuw wa gassāq(un).

Inilah (azab neraka). Biarlah mereka merasakannya. (Minuman mereka) air yang mendidih dan cairan nanah (yang menjijikkan).

Inilah azab yang Allah janjikan kepada para pendurhaka, maka biarlah mereka merasakannya dan mengetahui betapa pedih azab itu. Inilah air mendidih yang sangat panas dan membakar mulut, kerongkongan, serta usus mereka, dan air yang sangat dingin, yaitu nanah busuk dingin yang mengalir dari tubuh-tubuh penghuni neraka,

58

وَّاٰخَرُ مِنْ شَكْلِهٖٓ اَزْوَاجٌۗ

Wa ākharu min syaklihī azwāj(un).

(Selain itu, ada) berbagai macam (azab) lain yang serupa itu.

dan di samping itu ada berbagai macam azab yang lain yang serupa pedihnya dengan azab itu.

59

هٰذَا فَوْجٌ مُّقْتَحِمٌ مَّعَكُمْۚ لَا مَرْحَبًا ۢبِهِمْ ۗ اِنَّهُمْ صَالُوا النَّارِ

Hāżā faujum muqtaḥimum ma‘akum, lā marḥabam bihim, innahum ṣālun-nār(i).

(Dikatakan kepada mereka,) “Ini rombongan (pengikut-pengikutmu) yang masuk berdesak-desakan bersama kamu (ke neraka).” Tidak ada ucapan selamat datang bagi mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka.

Saat segolongan penghuni neraka memasukinya, dikatakan kepada mereka yang telah masuk neraka lebih dulu, “Ini rombongan besar pengikut-pengikutmu yang dahulu mau mengikuti ajakanmu menuju kedurhakaan. Mereka akan masuk dan berdesak-desak bersama kamu di neraka.” Mereka yang masuk neraka lebih dulu berkata, “Tidak ada ucapan selamat datang apalagi penghormatan bagi mereka di neraka ini, karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka dan disiksa bersama kami akibat perbuatan buruk yang mereka lakukan.” (Lihat Surah az-Zumar/38: 71-72).

60

قَالُوْا بَلْ اَنْتُمْ لَا مَرْحَبًاۢ بِكُمْ ۗ اَنْتُمْ قَدَّمْتُمُوْهُ لَنَاۚ فَبِئْسَ الْقَرَارُ

Qālū bal antum lā marḥabam bikum, antum qaddamtumūhu lanā, fabi’sal-qarār(u).

Mereka (para pengikutnya) menjawab, “Sebenarnya kamulah yang (lebih pantas) tidak menerima ucapan selamat datang karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab. (Itulah) seburuk-buruk tempat menetap.”

Kelompok pengikut yang hendak masuk neraka itu menjawab “Sebenarnya kamulah yang lebih pantas untuk tidak menerima ucapan selamat datang dan penghormatan, karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab neraka dengan mengajak kami berbuat dosa dan menghindari petunjuk Allah.” Maka neraka itulah seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kembali mereka.

61

قَالُوْا رَبَّنَا مَنْ قَدَّمَ لَنَا هٰذَا فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِى النَّارِ

Qālū rabbanā man qaddama lanā hāżā fazidhu ‘ażāban ḍi‘fan fin-nār(i).

Mereka berkata (lagi), “Wahai Tuhan kami, siapa yang menjerumuskan kami ke dalam (azab) ini, tambahkanlah kepadanya azab yang berlipat ganda di dalam neraka.”

Demikianlah sergahan kelompok pengikut. Mereka berkata lagi seraya memohon kepada Allah, “Ya Tuhan kami, barang siapa mengajak kami memilih jalan kesesatan dan menjerumuskan kami ke dalam azab yang pedih dan berat ini, maka tambahkanlah azab kepadanya dua kali lipat di dalam neraka dan timpakanlah laknat yang besar atas mereka.” (Lihat Surah al-A’raf/7: 38; al-Ahzab/33: 67-68).

62

وَقَالُوْا مَا لَنَا لَا نَرٰى رِجَالًا كُنَّا نَعُدُّهُمْ مِّنَ الْاَشْرَارِ

Wa qālū mā lanā lā narā rijālan kunnā na‘udduhum minal-asyrār(i).

Mereka (penghuni neraka) berkata, “Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang (di dunia) selalu kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina)?

Para pendurhaka itu lalu berbicara dan saling bertanya-tanya seraya berkata, “Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang di dunia dahulu kami anggap sebagai orang-orang yang jahat, hina, buruk, dan bodoh, seperti Bilal, Suhaib, dan Ammar?”

63

اَتَّخَذْنٰهُمْ سِخْرِيًّا اَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ الْاَبْصَارُ

Attakhażnāhum sikhriyyan am zāgat ‘anhumul-abṣār(u).

Apakah karena dahulu kami menjadikan mereka (bahan) olok-olokan ataukah karena penglihatan (kami) yang tidak melihat mereka?”

Dahulu kami menjadikan mereka olok-olokan; apakah karena mereka tidak pantas menerima hinaan itu sehingga tidak masuk neraka bersama kami, ataukah karena penglihatan kami yang tidak melihat mereka di tempat ini lantaran mereka telah masuk lebih dulu?”

64

اِنَّ ذٰلِكَ لَحَقٌّ تَخَاصُمُ اَهْلِ النَّارِ ࣖ

Inna żālika laḥaqqun takhāṣumu ahlin-nār(i).

Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terjadi, (yaitu) pertengkaran di antara penghuni neraka.

Sungguh, yang demikian itu benar-benar terjadi; itulah pertengkaran, saling mencaci, menyalahkan, dan menuduh di antara para penghuni neraka.

65

قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ مُنْذِرٌ ۖوَّمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّا اللّٰهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Qul innamā ana munżir(un), wa mā min ilāhin illallāhul-wāḥidul-qahhār(u).

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan, tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan,

Sebetulnya para penghuni neraka itu di dunia dahulu telah menerima peringatan para rasul untuk mengesakan Allah dan menaati aturan-Nya. Katakanlah, wahai Nabi Muhammad kepada kaum musyrik, “Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan. Adalah tugasku untuk menyampaikan kepadamu ancaman-Nya yang pedih bagi orang-orang yang mengingkari-Nya. Karena itu, yakinilah bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Dialah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, Mahaperkasa sehingga dapat mengalahkan siapa pun yang menentang-Nya.

66

رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الْعَزِيْزُ الْغَفَّارُ

Rabbus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumal-‘azīzul-gaffār(u).

(yaitu,) Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Dialah Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Dia menciptakan, menguasai, mengatur, mengawasi, dan memelihara kelangsungan ciptaan-Nya. Dialah Yang Mahaperkasa dalam mengatur kerajaan-Nya, Maha Pengampun atas dosa-dosa hamba yang memohon ampunan-Nya.”

67

قُلْ هُوَ نَبَؤٌا عَظِيْمٌۙ

Qul huwa naba’un ‘aẓīm(un).

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Ia (Al-Qur’an) adalah berita besar.

Wahai Nabi Muhammad, katakanlah kepada orang-orang kafir, “Ajakanku mengesakan Allah dan peringatanku tentang siksa akhirat itu adalah berita besar

68

اَنْتُمْ عَنْهُ مُعْرِضُوْنَ

Antum ‘anhu mu‘riḍūn(a).

Kamu berpaling darinya.

yang selama ini kamu berpaling darinya, wahai orang-orang kafir. Berita dalam Al-Qur’an itu benar adanya, tetapi banyak manusia mengingkari.”

69

مَا كَانَ لِيَ مِنْ عِلْمٍۢ بِالْمَلَاِ الْاَعْلٰٓى اِذْ يَخْتَصِمُوْنَ

Mā kāna liya min ‘ilmim bil-mala’il-a‘lā iż yakhtaṣimūn(a).

Aku tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang malaikat langit ketika mereka berbantah-bantahan.

Katakanlah pula kepada mereka, “Aku tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang al-mala’ul a’la itu, yaitu malaikat, ketika mereka berbantah-bantahan terhadap keputusan Allah terkait penciptaan Nabi Adam sebagai khalifah di bumi.

70

اِنْ يُّوْحٰىٓ اِلَيَّ اِلَّآ اَنَّمَآ اَنَا۠ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ

Iy yūḥā ilayya illā annamā ana nażīrum mubīn(un).

Tidaklah diwahyukan kepadaku, kecuali aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata.”

Yang diwahyukan kepadaku hanyalah kepastian bahwa aku hanyalah seorang rasul pemberi peringatan dan petunjuk yang nyata tentang adanya siksa di akhirat bagi orang-orang yang mengingkari para utusan Allah.”

71

اِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ خَالِقٌۢ بَشَرًا مِّنْ طِيْنٍ

Iż qāla rabbuka lil-malā’ikati innī khāliqum basyaram min ṭīn(in).

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.

Usai menafikan pengetahuan Rasulullah menyangkut al-Mala’ul-A’la kecuali apa yang sudah diwahyukan oleh Allah, pada ayat berikut Allah lalu menguraikan sekelumit tentang al-Mala’ul-A’la dan penciptaan Nabi Adam. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia Adam sebagai khalifah di bumi. Aku menciptakannya dari tanah bercampur air.

72

فَاِذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ

Fa’iżā sawwaituhū wa nafakhtu fīhi mir rūḥī faqa‘ū lahū sājidīn(a).

Apabila Aku telah menyempurnakan (penciptaan)-nya dan meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, tunduklah kamu kepadanya dalam keadaan bersujud.”

Kemudian, apabila telah Aku sempurnakan kejadian fisik-nya dengan anggota tubuh dan bentuk yang sempurna dan Aku tiupkan roh ciptaan-Ku kepadanya, maka tunduklah kamu semua dengan bersujud penuh hormat kepadanya, bukan sujud penghambaan dan pengagungan.

73

فَسَجَدَ الْمَلٰۤىِٕكَةُ كُلُّهُمْ اَجْمَعُوْنَۙ

Fasajadal-malā’ikatu kulluhum ajma‘ūn(a).

Lalu, para malaikat itu bersujud semuanya bersama-sama,

Sempurnalah kejadian Adam, lalu dengan serta-merta para malaikat itu bersujud semuanya sebagai bentuk penghormatan kepadanya dan bukti ketaatan kepada perintah Allah.

74

اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اِسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ

Illā iblīs(a), istakbara wa kāna minal-kafirīn(a).

kecuali Iblis. Ia menyombongkan diri dan termasuk golongan kafir.

Mereka semua bersujud, kecuali Iblis; ia enggan bersujud di hadapan Adam karena menyombongkan diri dan enggan menaati kepada Allah, dan ia termasuk golongan yang kafir.

75

قَالَ يٰٓاِبْلِيْسُ مَا مَنَعَكَ اَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۗ اَسْتَكْبَرْتَ اَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِيْنَ

Qāla yā iblīsu mā mana‘aka an tasjuda limā khalaqtu biyadayy(a), astakbarta am kunta minal-‘ālīn(a).

(Allah) berfirman, “Wahai Iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku (kekuasaan-Ku)? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah (memang) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?”

Mengetahui hal tersebut Allah bertanya, “Wahai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud dengan hormat kepada Adam yang telah Aku ciptakan dengan kekuasaan-Ku dan Aku muliakan? Apakah kamu menyombongkan diri dengan mengabaikan perintah-Ku atau kamu merasa termasuk golongan yang lebih tinggi dan terhormat daripada Adam?”

76

قَالَ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ

Qāla ana khairum minhu khalaqtanī min nāriw wa khalaqtahū min ṭīn(in).

(Iblis) berkata, “Aku lebih baik darinya, karena Engkau menciptakanku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah.”

Iblis berkata, “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” Iblis mengira api lebih baik daripada tanah karena api selalu membumbung sedangkan tanah selalu di bawah (Lihat Surah al-A’raf/7: 12).

77

قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَاِنَّكَ رَجِيْمٌۖ

Qāla fakhruj minhā fa’innaka rajīm(un).

(Allah) berfirman, “Keluarlah darinya (surga) karena sesungguhnya kamu terkutuk.

Mengetahui kedurhakaan Iblis, Allah mengusirnya seraya berfirman, “Kalau begitu, keluarlah kamu dari surga! Sesungguhnya kamu adalah makhluk yang terkutuk, terusir dari rahmat-Ku, dan terlarang dari surga-Ku.

78

وَّاِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِيْٓ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Wa inna ‘alaika la‘natī ilā yaumid-dīn(i).

Sesungguhnya laknat-Ku tetap atasmu sampai hari Pembalasan.”

Dan sungguh, kutukan-Ku tetap berlaku atasmu sampai hari pembalasan, hari ketika seluruh perbuatan diperhitungkan dan dibalas.” Iblis berkata seraya memohon,

79

قَالَ رَبِّ فَاَنْظِرْنِيْٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ

Qāla rabbi fa’anẓirnī ilā yaumi yub‘aṡūn(a).

(Iblis) berkata, “Wahai Tuhanku, tangguhkanlah (usia)-ku sampai hari mereka (manusia) dibangkitkan.”

“Ya Tuhanku, karena Engkau telah menjadikan aku makhluk-Mu yang terlaknat, maka tangguhkanlah kematianku dan izinkanlah aku hidup sampai pada hari mereka dibangkitkan supaya aku bisa menggoda mereka sepanjang hayat.”

80

قَالَ فَاِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِيْنَۙ

Qāla fa’innaka minal-munẓarīn(a).

(Allah) berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk golongan yang ditangguhkan

Allah berfirman, “Maka sesungguhnya kamu, wahai Iblis, termasuk golongan yang diberi penangguhan.

81

اِلٰى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُوْمِ

Ilā yaumil-waqtil-ma‘lūm(i).

sampai hari yang telah ditentukan waktunya (kiamat).”

Aku akan memanjangkan umurmu dan menunda kematianmu sampai pada hari yang telah ditentukan waktunya, yaitu hari Kiamat.” Dengan penundaan ini Allah bermaksud memberi cobaan kepada hamba-Nya untuk menguji siapa yang menaati perintah Allah dan siapa yang mengikuti langkah Iblis.

82

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ

Qāla fabi‘izzatika la’ugwiyannahum ajma‘īn(a).

(Iblis) berkata, “Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.

Iblis menjawab dan memohon lagi, “Wahai Tuhanku, demi kekuasan dan kemuliaan-Mu, berilah aku kesempatan menggoda manusia, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya dengan tipu dayaku sehingga mereka memandang baik perbuatan buruk.

83

اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ

Illā ‘ibādaka minhumul-mukhlaṣīn(a).

Kecuali, hamba-hamba-Mu yang terpilih (karena keikhlasannya) di antara mereka.”

Akan aku tipu semua manusia, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka, yaitu mereka yang Kauberi taufik untuk menaati petunjuk dan perintah-Mu. Aku hanya akan mampu menggoda dan menyesatkan mereka yang kafir dan lemah imannya.”

84

قَالَ فَالْحَقُّۖ وَالْحَقَّ اَقُوْلُۚ

Qāla fal-ḥaqq(u), wal-ḥaqqa aqūl(u).

(Allah) berfirman, “Maka, yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Aku katakan.

Allah mengabulkan permintaan Iblis seraya berfirman, “Maka yang benar adalah sumpah-Ku, dan janji-Ku pasti benar. Hanya kebenaran itulah yang Aku katakan.

85

لَاَمْلَـَٔنَّ جَهَنَّمَ مِنْكَ وَمِمَّنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ اَجْمَعِيْنَ

La’amla’anna jahannama minka wa mimman tabi‘aka minhum ajma‘īn(a).

Aku pasti akan memenuhi (neraka) Jahanam denganmu dan orang yang mengikutimu di antara mereka semuanya.”

Sungguh, Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan kamu dan keturunanmu, wahai Iblis, dan dengan orang-orang yang mengikutimu dalam kesesatan di antara mereka semuanya, yakni anak cucu Adam.”

86

قُلْ مَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍ وَّمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُتَكَلِّفِيْنَ

Qul mā as’alukum ‘alaihi min ajriw wa mā ana minal-mutakallifīn(a).

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak meminta imbalan sedikit pun kepadamu atasnya (dakwahku) dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mengada-ada.

Wahai Nabi Muhammad, katakanlah kepada orang-orang kafir, “Aku diutus oleh Allah untuk mendakwahkan risalah dan aku tidak meminta imbalan atau upah sedikit pun kepadamu atasnya. Tugasku hanya-lah menyampaikan risalah dan Allah-lah yang akan memberiku upah atas tugas itu. Dan ketahuilah bahwa aku bukanlah termasuk orang yang mengada-ada dan suka membuat-buat.

87

اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَ

In huwa illā żikrul lil-‘ālamīn(a).

(Al-Qur’an) ini tidak lain, kecuali (sebagai) peringatan bagi semesta alam.

Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan dari Allah. Allah memenuhinya dengan petunjuk bagi seluruh alam, baik jin maupun manusia, menuju jalan yang lurus dan menjadikannya pembeda antara yang hak dan yang batil.

88

وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَاَهٗ بَعْدَ حِيْنٍ ࣖ

Wa lata‘lamunna naba’ahū ba‘da ḥīn(in).

Sungguh, kamu akan mengetahui (kebenaran) beritanya (Al-Qur’an) setelah beberapa waktu lagi.”

Dan sungguh, wahai orang-orang kafir, kamu akan mengetahui kebenaran beritanya setelah beberapa waktu lagi. Tidak lama lagi, entah di dunia atau akhirat, kamu akan mendapati kebenaran isi Al-Qur’an, seperti janji dan ancaman Allah, kejadian di masa depan, dan hari kebangkitan.

Surat Az-Zumar

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

تَنْزِيْلُ الْكِتٰبِ مِنَ اللّٰهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ

Tanzīlul-kitābi minallāhil-‘azīzil-ḥakīm(i).

Diturunkannya Kitab (Al-Qur’an) ini (berasal) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Menyambung topik pada bagian akhir Surah Sad tentang posisi Al-Qur’an sebagai peringatan bagi seluruh alam, Allah mengawali Surah az-Zumar dengan penegasan bahwa Al-Qur’an turun dari sisi Allah. Sesungguhnya kitab Al-Qur’an ini diturunkan oleh Allah Yang Mahamulia, Mahaperkasa dalam kerajaan-Nya, dan Mahabijaksana dalam menciptakan sehingga tidak sedikit pun ciptaan-Nya yang sia-sia.

2

اِنَّآ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَۗ

Innā anzalnā ilaikal-kitāba bil-ḥaqqi fa‘budillāha mukhliṣal lahud-dīn(a).

Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad) dengan hak. Maka, sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.

Wahai Nabi Muhammad, sesungguhnya Kami menurunkan Kitab suci Al-Qur’an kepadamu melalui perantara Jibril dengan membawa kebenaran berita maupun petunjuk. Maka, sembahlah Allah yang Maha Esa dan Mahakuasa dengan tulus ikhlas dalam beragama, menjauhi kemusyrikan dan keingkaran, serta taat dan patuh hanya kepada-Nya.

3

اَلَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَالِصُ ۗوَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءَۘ مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَآ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰىۗ اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِيْ مَا هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ەۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ كٰذِبٌ كَفَّارٌ

Alā lillāhid-dīnul-khāliṣ(u), wal-lażīnattakhażū min dūnihī auliyā'(a), mā na‘buduhum illā liyuqarribūnā ilallāhi zulfā, innallāha yaḥkumu bainahum fī mā hum fīhi yakhtalifūn(a), innallāha lā yahdī man huwa kāżibun kaffār(un).

Ketahuilah, hanya untuk Allah agama yang bersih (dari syirik). Orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata,) “Kami tidak menyembah mereka, kecuali (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.

Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni tanpa dicampuri kemusyrikan. Dan orang-orang yang mengambil pelindung serta penolong selain Dia dengan menuhankan berhala, patung, dan benda-benda lainnya berdalih, “Kami mengakui Allah sebagai Pencipta, tetapi Dia terlalu tinggi untuk kami dekati sehingga kami harus menyembah berhala-berhala tersebut. Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka membantu mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka yang mengesakan Allah dan yang mempersekutukan-Nya tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta yang menuhankan berhala, orang yang meyakini Allah memiliki anak, dan orang yang sangat ingkar terhadap kekuasaan dan keesaan Allah.

4

لَوْ اَرَادَ اللّٰهُ اَنْ يَّتَّخِذَ وَلَدًا لَّاصْطَفٰى مِمَّا يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ ۙ سُبْحٰنَهٗ ۗهُوَ اللّٰهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Wa lau arādallāhu ay yattakhiża waladal laṣṭafā mimmā yakhluqu mā yasyā'(u), subḥānah(ū), huwallāhul-wāḥidul-qahhār(u).

Seandainya Allah hendak mengambil (makhluk-Nya sebagai) anak, pasti akan memilih yang Dia kehendaki dari apa yang Dia ciptakan. Maha Suci Dia. Dialah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.

Sekiranya Allah hendak mengambil anak, sebagaimana anggapan orang-orang musyrik, tentu Dia akan memilih apa yang Dia kehendaki dari apa yang telah diciptakan-Nya, bukan menuruti apa yang menjadi anggapan orang musyrik. Mahasuci Dia dari segala yang menyerupai-Nya. Dialah Allah Yang Maha Esa tanpa sekutu, Mahaperkasa dalam menciptakan alam raya.

5

خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَقِّۚ يُكَوِّرُ الَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى الَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَۗ كُلٌّ يَّجْرِيْ لِاَجَلٍ مُّسَمًّىۗ اَلَا هُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفَّارُ

Khalaqas-samāwāti wal-arḍa bil-ḥaqq(i), yukawwirul-laila ‘alan-nahāri wa yukawwirun nahāra ‘alal-laili wa sakhkharasy-syamsa wal-qamar(a), kulluy yajrī li’ajalim musammā(n), alā huwal-‘azīzul-gaffār(u).

Dia (Allah) menciptakan langit dan bumi dengan hak (yang benar). Dia menutupkan malam atas siang, menutupkan siang atas malam, serta menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar menurut waktu yang ditentukan. Ketahuilah, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Di antara bukti kuasa Allah menciptakan, mengurus, dan mengatur alam semesta adalah bahwa Dia menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar. Dia senantiasa memasukkan malam atas siang sehingga gelap berganti terang, dan senantiasa memasukkan siang atas malam sehingga terang berganti gelap, dan menundukkan matahari dan bulan; masing-masing patuh pada hukum Allah, beredar pada porosnya, dan berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah, Allah menyempurnakan dan membaguskan ciptaan-Nya. Dialah Yang Mahamulia, Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.

6

خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَاَنْزَلَ لَكُمْ مِّنَ الْاَنْعَامِ ثَمٰنِيَةَ اَزْوَاجٍ ۗ يَخْلُقُكُمْ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ خَلْقًا مِّنْۢ بَعْدِ خَلْقٍ فِيْ ظُلُمٰتٍ ثَلٰثٍۗ ذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ فَاَنّٰى تُصْرَفُوْنَ

Khalaqakum min nafsiw wāḥidatin ṡumma ja‘ala minhā zaujahā wa anzala lakum minal-an‘āmi ṡamāniyata azwāj(in), yakhluqukum fī buṭūni ummahātikum khalqam mim ba‘di khalqin fī ẓulumātin ṡalāṡ(in), żālikumullāhu rabbukum lahul-mulk(u), lā ilāha illā huw(a), fa’annā tuṣrafūn(a).

Dia menciptakanmu dari jiwa yang satu (Adam), kemudian darinya Dia menjadikan pasangannya dan Dia menurunkan delapan pasang hewan ternak untukmu. Dia menciptakanmu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhanmu, Pemilik kerajaan. Tidak ada tuhan selain Dia. Mengapa kamu dapat berpaling (dari kebenaran)?

Wahai manusia, Dia menciptakan kamu dari diri yang satu, yaitu Nabi Adam, kemudian darinya Dia jadikan Hawa sebagai pasangannya sehingga dari keduanya lahirlah beberapa keturunan laki-laki maupun perempuan. (Lihat Surah an-Nisa/4: 1). Dan Dia menurunkan pula delapan pasang hewan ternak untukmu, yakni sepasang unta, sapi, domba, dan kambing (Lihat Surah al-An’am/6: 143-144). Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian secara bertahap dari setetes mani menjadi segumpal darah, segumpal daging, kemudian tumbuh menjadi janin. Janin itu berada dalam tiga kegelapan, yaitu kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput penutup janin dalam rahim. Yang berbuat demikian itu adalah Allah, Pencipta manusia dan alam semesta. Dialah Tuhan kamu, Tuhan yang memiliki kerajaan dan menguasai langit dan bumi. Tidak ada tuhan yang pantas disembah selain Dia; maka mengapa kamu dapat dipalingkan oleh setan untuk menyembah selain Dia yang telah menciptakanmu?

7

اِنْ تَكْفُرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ ۗوَلَا يَرْضٰى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَۚ وَاِنْ تَشْكُرُوْا يَرْضَهُ لَكُمْۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۗ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۗ اِنَّهٗ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِ

In takfurū fa’innallāha ganiyyun ‘ankum, wa lā yarḍā li‘ibādihil-kufr(a), wa in tasykurū yarḍahu lakum, wa lā taziru wāziratuw wizra ukhrā, ṡumma ilā rabbikum marji‘ukum fa yunabbi’ukum bimā kuntum ta‘malūn(a), innahū ‘alīmum biżātiṣ-ṣudūr(i).

Jika kamu kufur, sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu. Dia pun tidak meridai kekufuran hamba-hamba-Nya. Jika kamu bersyukur, Dia meridai kesyukuranmu itu. Seseorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain. Kemudian, kepada Tuhanmulah kembalimu, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan di dalam dada.

Allah Mahakuasa; Dialah yang menguasai kerajaan langit dan bumi. Jadi, jika kamu tetap kafir maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Mahakaya dan tidak memerlukanmu sehingga Dia tidak akan rugi sedikit pun meski kamu ingkar. Dan Dia, karena kasih sayangnya, tidak meridai kekafiran hamba-hamba-Nya karena Dia tidak ingin mereka merugikan diri sendiri. Jika kamu bersyukur dengan cara beribadah kepada-Nya dan menaati-Nya, Dia meridai kesyukuranmu itu. Seseorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain karena masing-masing bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Kemudian, kepada Tuhanmulah tempat kembalimu di akhirat nanti untuk dihisab, lalu Dia beritakan kepadamu balasan yang layak untukmu atas apa yang telah kamu kerjakan di dunia. Sungguh, Dia Maha Mengetahui apa saja yang tersimpan dalam dada dan tebersit dalam hati.

8

۞ وَاِذَا مَسَّ الْاِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهٗ مُنِيْبًا اِلَيْهِ ثُمَّ اِذَا خَوَّلَهٗ نِعْمَةً مِّنْهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُوْٓا اِلَيْهِ مِنْ قَبْلُ وَجَعَلَ لِلّٰهِ اَنْدَادًا لِّيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ ۗ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيْلًا ۖاِنَّكَ مِنْ اَصْحٰبِ النَّارِ

Wa iżā massal-insāna ḍurrun da‘ā rabbahū munīban ilaihi ṡumma iżā khawwalahū ni‘matan minhu nasiya mā kāna yad‘ū ilaihi min qablu wa ja‘ala lilllāhi andādal liyuḍilla ‘an sabīlih(ī), qul tamatta‘ bikufrika qalīlā(n), innaka min aṣḥābin-nār(i).

Apabila ditimpa bencana, manusia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali (taat) kepada-Nya. Akan tetapi, apabila Dia memberikan nikmat kepadanya, dia lupa terhadap apa yang pernah dia mohonkan kepada Allah sebelum itu dan dia menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bersenang-senanglah dengan kekufuranmu untuk sementara waktu! Sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.”

Ayat ini berbicara tentang tabiat manusia. Dan apabila manusia ditimpa bencana, kesulitan, atau apa saja yang tidak menyenangkan, dia memohon pertolongan kepada Tuhannya dengan kembali taat dan mendekatkan diri kepada-Nya. Tetapi apabila Dia memberikan nikmat, kekayaan, atau sesuatu yang menyenangkan kepadanya, dia lupa akan bencana yang pernah dia berdoa kepada Allah agar selamat darinya sebelum kenikmatan itu datang, dan diadakannya sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan manusia dari jalan-Nya, yaitu Islam. Wahai Nabi Muhammad, katakanlah kepada mereka, “Bersenang-senanglah kamu sementara waktu dengan kekafiranmu itu sampai kematian menjemputmu. Sungguh, kamu termasuk penghuni neraka di akhirat kelak.”

9

اَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَّقَاۤىِٕمًا يَّحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهٖۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ ࣖ

Amman huwa qānitun ānā’al-laili sājidaw wa qā’imay yaḥżarul-ākhirata wa yarjū raḥmata rabbih(ī), qul hal yastawil-lażīna ya‘lamūna wal-lażīna lā ya‘lamūn(a), innamā yatażakkaru ulul-albāb(i).

(Apakah orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dalam keadaan bersujud, berdiri, takut pada (azab) akhirat, dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah sama orang-orang yang mengetahui (hak-hak Allah) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (hak-hak Allah)?” Sesungguhnya hanya ululalbab (orang yang berakal sehat) yang dapat menerima pelajaran.

Wahai orang kafir, siapakah yang lebih mulia di sisi Allah; kamu yang memohon kepada-Nya hanya saat tertimpa bencana ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan membaca Al-Qur’an, salat, dan berzikir dalam sujud dan berdiri karena cemas dan takut kepada azab Allah di akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Wahai Nabi Muhammad, katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui, berilmu, berzikir, dan melaksanakan salat, dengan orang-orang yang tidak mengetahui, tidak berilmu, dan selalu mengikuti nafsunya?” Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat dan berpikiran jernih yang dapat menerima pelajaran serta mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan.

10

قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗوَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ۗاِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Qul yā ‘ibādil-lażīna āmanuttaqū rabbakum, lil-lażīna aḥsanū fī hāżihid-dun-yā ḥasanah(tun), wa arḍullāhi wāsi‘ah(tun), innamā yuwaffaṣ-ṣābirūna ajrahum bigairi ḥisāb(in).

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan.

Sangatlah jauh perbedaan antara orang mukmin dengan orang kafir. Wahai Nabi Muhammad, katakanlah kepada orang mukmin bahwa Allah berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu, taatilah perintah-Nya, dan ikutilah rasul-Nya.” Bagi orang-orang yang berbuat baik dan taat pada perintah Allah, di dunia ini akan memperoleh kebaikan dan kehidupan di suatu tempat yang sejahtera. Dan bila kesejahteraan dan kebebasanmu beribadah terganggu, sungguh bumi Allah itu luas, maka berhijrahlah ke tempat yang lebih baik (Lihat Surah an-Nisa’/4: 97). Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya oleh Allah tanpa batas.”

11

قُلْ اِنِّيْٓ اُمِرْتُ اَنْ اَعْبُدَ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ

Qul innī umirtu an a‘budallāha mukhliṣal lahud-dīn(a).

Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.

Katakanlah, wahai Nabi Muhammad, “Sesungguhnya aku diperintahkan agar menyembah Allah dengan tulus dan penuh ketaatan, berserah diri hanya kepada-Nya, dan konsisten dalam melaksanakan ajaran agama.

12

وَاُمِرْتُ لِاَنْ اَكُوْنَ اَوَّلَ الْمُسْلِمِيْنَ

Wa umirtu li’an akūna awwalal-muslimīn(a).

Aku diperintahkan untuk menjadi orang pertama (dari umatnya) yang berserah diri (kepada Allah).”

Dan aku pun diperintahkan agar menjadi orang yang pertama-tama berserah diri, patuh, dan tunduk kepada-Nya.”

13

قُلْ اِنِّيْٓ اَخَافُ اِنْ عَصَيْتُ رَبِّيْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ

Qul innī akhāfu in ‘aṣaitu rabbī ‘ażāba yaumin ‘aẓīm(in).

Katakanlah, “Sesungguhnya aku takut azab pada hari yang besar (kiamat) jika aku durhaka kepada Tuhanku.”

Katakanlah pula wahai Nabi, kepada manusia, “Sesungguhnya aku takut akan murka Allah dan azab yang menimpa pada hari yang sangat besar lagi dahsyat yaitu hari Kiamat jika aku durhaka kepada Tuhanku dengan melanggar perintah-Nya.”

14

قُلِ اللّٰهَ اَعْبُدُ مُخْلِصًا لَّهٗ دِيْنِيْۚ

Qulillāha a‘budu mukhliṣal lahū dīnī.

Katakanlah, “Hanya Allah yang aku sembah dengan mengikhlaskan ketaatanku kepada-Nya.”

Katakanlah pula kepada mereka, “Hanya Allah yang aku sembah dengan penuh ketaatan kepada-Nya dan istikamah serta tulus dalam menjalankan agamaku.

15

فَاعْبُدُوْا مَا شِئْتُمْ مِّنْ دُوْنِهٖۗ قُلْ اِنَّ الْخٰسِرِيْنَ الَّذِيْنَ خَسِرُوْٓا اَنْفُسَهُمْ وَاَهْلِيْهِمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ اَلَا ذٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِيْنُ

Fa‘budū mā syi’tum min dūnih(ī), qul innal-khāsirīnal-lażīna khasirū anfusahum wa ahlīhim yaumal-qiyāmah(ti), alā żālika huwal-khusrānul-mubīn(u).

Maka, sembahlah sesukamu selain Dia (wahai orang-orang musyrik!) Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat.” Ingatlah, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.

Wahai manusia, jika kamu enggan mengikuti ajakanku untuk menyembah Allah dan lebih memilih jalan kekafiran dan kemusyrikan, maka sembahlah selain Dia sesukamu!” Katakanlah, wahai Nabi, kepada mereka, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya karena melakukan perbuatan yang menjerumuskan mereka ke dalam azab dan siksa pada hari Kiamat.” Ingatlah! Kerugian orang kafir yang demikian itu adalah kerugian yang nyata karena hanya azab kekal di neraka yang akan mereka terima di akhirat nanti.

16

لَهُمْ مِّنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِّنَ النَّارِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ ۗذٰلِكَ يُخَوِّفُ اللّٰهُ بِهٖ عِبَادَهٗ ۗيٰعِبَادِ فَاتَّقُوْنِ

Lahum min fauqihim ẓulalum minan-nāri wa min taḥtihim ẓulal(un), żālika yukhawwifullāhu bihī ‘ibādah(ū), yā ‘ibādi fattaqūn(i).

Di atas mereka ada lapisan-lapisan dari api dan di bawah mereka pun ada lapisan-lapisan pula. Demikianlah Allah membuat takut hamba-hamba-Nya dengan (azab) itu. “Wahai hamba-hamba-Ku, bertakwalah kepada-Ku!”

Di neraka itu orang kafir akan merasakan siksa yang datang dari segala penjuru. Di atas mereka ada lapisan-lapisan penutup dari api dan di bawahnya juga ada lapisan-lapisan tikar dari api yang disediakan bagi mereka di akhirat (Lihat Surah al-Ankabut/29: 55; al-‘raf/7: 41). Demikianlah Allah mengancam hamba-hamba-Nya dengan azab yang pedih, “Wahai hamba-hamba-Ku, takutlah akan azab Allah yang akan menimpamu. Agar kamu selamat maka bertakwalah kepada-Ku secara maksimal.”

17

وَالَّذِيْنَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوْتَ اَنْ يَّعْبُدُوْهَا وَاَنَابُوْٓا اِلَى اللّٰهِ لَهُمُ الْبُشْرٰىۚ فَبَشِّرْ عِبَادِۙ

Wal-lażīnajtanabuṭ-ṭāgūta ay ya‘budūhā wa anābū ilallāhi lahumul-busyrā, fabasysyir ‘ibād(i).

Orang-orang yang menjauhi tagut, (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali (bertobat) kepada Allah, bagi mereka berita gembira. Maka, sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku.

Demikianlah azab yang Allah janjikan bagi orang musyrik. Dan adapun orang-orang yang menjauhi tagut-yaitu setan dan apa saja yang dipertuhankan-serta tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, mereka pantas mendapat berita gembira berupa ampunan dan surga dari Allah. Sebab itu, sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku,

18

الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ اَحْسَنَهٗ ۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدٰىهُمُ اللّٰهُ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمْ اُولُوا الْاَلْبَابِ

Allażīna yastami‘ūnal-qaula fa yattabi‘ūna aḥsanah(ū), ulā’ikal-lażīna hadāhumullāhu wa ulā’ika hum ulul-albāb(i).

(Yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah ululalbab (orang-orang yang mempunyai akal sehat).

yaitu mereka yang mendengarkan perkataan, yakni ajaran Al-Qur’an maupun hadis, lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya karena wahyu Allah adalah perkataan yang terbaik. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai pikiran sehat dan tidak diliputi kekeruhan.

19

اَفَمَنْ حَقَّ عَلَيْهِ كَلِمَةُ الْعَذَابِۗ اَفَاَنْتَ تُنْقِذُ مَنْ فِى النَّارِ ۚ

Afaman ḥaqqa ‘alaihi kalimatul-‘ażāb(i), afa’anta tunqiżu man fin-nār(i).

Maka, apakah (engkau, Nabi Muhammad, hendak mengubah nasib) orang-orang yang telah dipastikan mendapat azab? Apakah engkau akan menyelamatkan orang yang berada di dalam neraka?

Tugas rasul tidak lebih dari sekadar menyampaikan dakwah kepada umatnya. Hanya Allahlah yang memberi hidayah kepada yang Dia kehendaki. Maka apakah orang-orang yang telah dipastikan mendapat azab karena kekafiran mereka; apakah engkau akan mampu menyelamatkan orang yang dipastikan berada dalam api neraka? Tentu tidak mampu.

20

لٰكِنِ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ غُرَفٌ مِّنْ فَوْقِهَا غُرَفٌ مَّبْنِيَّةٌ ۙتَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ەۗ وَعْدَ اللّٰهِ ۗ لَا يُخْلِفُ اللّٰهُ الْمِيْعَادَ

Lākinil-lażīnattaqau rabbahum lahum gurafum min fauqihā gurafum mabniyyah(tun), tajrī min taḥtihal-anhār(u), wa‘dallāh(i), lā yukhlifullāhul-mī‘ād(a).

Akan tetapi, orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya bagi mereka kamar-kamar (di surga), di atasnya terdapat kamar-kamar yang dibangun (bertingkat-tingkat), dan mengalir di bawahnya sungai-sungai. (Itulah) janji Allah. Allah tidak akan mengingkari janji.

Tetapi, orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, mereka mendapat kamar-kamar di surga yang di atasnya terdapat pula kamar-kamar yang dibangun bertingkat-tingkat, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dengan aneka rasa dan warna (Lihat Surah Muhammad/47: 15). Itulah janji Allah yang sebenar-benarnya. Allah tidak akan pernah memungkiri janji-Nya.

21

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَسَلَكَهٗ يَنَابِيْعَ فِى الْاَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهٖ زَرْعًا مُّخْتَلِفًا اَلْوَانُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَجْعَلُهٗ حُطَامًا ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَذِكْرٰى لِاُولِى الْاَلْبَابِ ࣖ

Alam tara annallāha anzala minas-samā’i mā’an fasalakahū yanābī‘a fil-arḍi ṡumma yaj‘aluhū ḥuṭāmā(n), ina fī żālika lażikrā li’ulil-albāb(i).

Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia mengalirkannya menjadi sumber-sumber air di bumi. Kemudian, dengan air itu Dia tumbuhkan tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, kemudian ia menjadi kering, engkau melihatnya kekuning-kuningan, kemudian Dia menjadikannya hancur berderai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi ululalbab.

Wahai manusia, apakah engkau tidak memperhatikan bahwa Allah menurunkan air hujan dari langit, lalu diaturnya air hujan itu menjadi sumber-sumber air yang memancar dan sungai-sungai yang mengalir di bumi, kemudian dengan air itu ditumbuhkan-Nya tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, kemudian tumbuhan itu berubah menjadi kering dan layu, lalu engkau melihatnya kekuning-kuningan setelah segar kehijauan, kemudian dijadikan-Nya tumbuhan itu mati dan hancur berderai-derai. Sungguh, pada proses penciptaan yang demikian bertahap-tahap itu terdapat pelajaran berharga dan nasihat bermanfaat bagi orang-orang yang mempunyai akal sehat dan fitrah yang lurus.

22

اَفَمَنْ شَرَحَ اللّٰهُ صَدْرَهٗ لِلْاِسْلَامِ فَهُوَ عَلٰى نُوْرٍ مِّنْ رَّبِّهٖ ۗفَوَيْلٌ لِّلْقٰسِيَةِ قُلُوْبُهُمْ مِّنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اُولٰۤىِٕكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Afaman syaraḥallāhu ṣadrahū lil-islāmi fahuwa ‘alā nūrim mir rabbih(ī), fawailul lil-qāsiyati qulūbuhum min żikrillāh(i), ulā’ika fī ḍalālim mubīn(in).

Maka, apakah orang yang Allah bukakan hatinya untuk (menerima) agama Islam, lalu mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)? Maka, celakalah mereka yang hatinya membatu dari mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.

Tidaklah sama antara para pendurhaka yang tidak mengambil pelajaran dari kejadian di sekitarnya dengan orang-orang yang mempunyai akal sehat dan mempergunakannya untuk beriktibar. Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk menerima agama Islam dan mengamalkan ajarannya lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya sehingga mau mengikuti petunjuk Rasulullah sama dengan orang yang hatinya membatu? Tentu tidak sama. Maka, celakalah mere-ka yang hatinya telah membatu karena enggan untuk mengingat Allah dan menyimpang dari jalan-Nya. Mereka itu berada dalam kesesatan yang nyata karena tidak mendapat taufik dan hidayah Allah untuk menerima kebenaran.

23

اَللّٰهُ نَزَّلَ اَحْسَنَ الْحَدِيْثِ كِتٰبًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَۙ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُوْدُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ۚ ثُمَّ تَلِيْنُ جُلُوْدُهُمْ وَقُلُوْبُهُمْ اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُدَى اللّٰهِ يَهْدِيْ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ هَادٍ

Allāhu nazzala aḥsanal-ḥadīṡi kitābam mutasyābiham maṡāniy(a), taqsya‘irru minhu julūdul-lażīna yakhsyauna rabbahum, ṡumma talīnu julūduhum wa qulūbuhum ilā żikrillāh(i), żālika hudallāhi yahdī bihī may yasyā'(u), wa may yuḍlilillāhu famā lahū min hād(in).

Allah telah menurunkan perkataan yang terbaik, (yaitu) Kitab (Al-Qur’an) yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang. Oleh karena itu, kulit orang yang takut kepada Tuhannya gemetar. Kemudian, kulit dan hati mereka menjadi lunak ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang dibiarkan sesat oleh Allah tidak ada yang dapat memberi petunjuk.

Allah telah menurunkan perkataan yang memiliki susunan kata dan kandungan paling baik, yaitu Al-Qur’an yang serupa keindahan susunan antara ayat-ayatnya lagi disebut berulang-ulang baik redaksi, hukum, pelajaran, maupun kisahnya agar membawa pengaruh kuat pada diri pembacanya. Allah menurunkan Al-Qur’an yang gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya ketika mendengar peringatan dan ancaman di dalamnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah dan mendengar berita serta janji yang menggembirakan. Itulah petunjuk Allah bagi orang-orang yang mau mendengarkan; dengan Kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa dibiarkan sesat dari jalan kebenaran oleh Allah lantaran lebih memilih jalan kesesatan dan berpaling dari kebenaran daripada mengikuti tuntunan Rasulullah, maka tidak seorang pun yang dapat memberi-nya petunjuk dan menuntunnya menuju jalan kebenaran.

24

اَفَمَنْ يَّتَّقِيْ بِوَجْهِهٖ سُوْۤءَ الْعَذَابِ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗوَقِيْلَ لِلظّٰلِمِيْنَ ذُوْقُوْا مَا كُنْتُمْ تَكْسِبُوْنَ

Afamay yattaqī biwajhihī sū’al-‘ażābi yaumal-qiyāmah(ti), wa qīla liẓ-ẓālimīna żūqū mā kuntum taksibūn(a).

Apakah orang yang menghindari azab yang buruk dengan wajahnya pada hari Kiamat (sama dengan orang mukmin yang tidak kena azab)? Dikatakan kepada orang-orang yang zalim, “Rasakanlah balasan apa yang telah kamu kerjakan.”

Maka, apakah orang-orang yang tangannya terbelenggu lalu berusaha melindungi diri dengan wajahnya untuk menghindari azab yang buruk pada hari Kiamat sama dengan orang mukmin yang selamat dari azab dan berhasil masuk surga? Tentu tidak sama. Dan dikatakan kepada orang-orang yang berbuat zalim dan syirik, “Rasakanlah olehmu balasan atas apa yang telah kamu kerjakan berupa kekafiran dan kemusyrikan di dunia.”

25

كَذَّبَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَاَتٰىهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُوْنَ

Każżabal-lażīna min qablihim fa’atāhumul-‘ażābu mi ḥaiṡu lā yasy‘urūn(a).

Orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul), datanglah azab kepada mereka dari arah yang tidak mereka sadari.

Tidakkah orang-orang musyrik Mekah itu mengambil pelajaran dari kehancuran umat-umat durhaka terdahulu? Orang-orang yang hidup sebelum mereka telah mendustakan rasul-rasulnya sebagaimana mereka mendustakan Nabi Muhammad, maka saat mereka lengah datanglah kepada mereka azab Allah secara tiba-tiba dari arah yang tidak mereka sangka.

26

فَاَذَاقَهُمُ اللّٰهُ الْخِزْيَ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚوَلَعَذَابُ الْاٰخِرَةِ اَكْبَرُ ۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

Fa ażāqahumullāhul-khizya fil-ḥayātid-dun-yā, wa la‘ażābul-ākhirati akbar(u), lau kānū ya‘lamūn(a).

Maka, Allah menimpakan kepada mereka kehinaan dalam kehidupan dunia. Sungguh, azab akhirat lebih besar kalau mereka mengetahui(-nya).

Maka Allah menimpakan kepada mereka azab dan kehinaan pada kehidupan dunia serta menyiapkan bagi mereka azab yang pedih di akhirat. Dan sungguh, azab akhirat lebih besar daripada azab dunia. Kalau saja mereka mengetahui hal itu niscaya mereka akan beriman dan berbuat baik. Hanya kebodohan dan ketundukan pada hawa nafsu yang membuat mereka tersesat.

27

وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِيْ هٰذَا الْقُرْاٰنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَّعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَۚ

Wa laqad ḍarabnā lin-nāsi fī hāżal-qur’āni min kulli maṡalil la‘allahum yatażakkarūn(a).

Sungguh, Kami benar-benar telah membuatkan dalam Al-Qur’an ini segala macam perumpamaan bagi manusia agar mereka mendapat pelajaran.

Al-Qur’an adalah kitab yang berisi tuntunan hidup bagi umat manusia, salah satunya dengan jalan menyajikan perumpamaan. Dan sungguh, telah Kami buatkan dalam Al-Qur’an ini segala macam perumpamaan tentang umat-umat terdahulu yang Allah binasakan. Perumpamaan itu Kami tujukan bagi umat manusia agar mereka dapat memperoleh pelajaran lalu menyadari kesalahannya.

28

قُرْاٰنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِيْ عِوَجٍ لَّعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ

Qur’ānan ‘arabiyyan gaira żī ‘iwajil la‘allahum yattaqūn(a).

(Yaitu) Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) agar mereka bertakwa.

Kitab tersebut yaitu Al-Qur’an yang redaksinya tersusun dalam bahasa Arab; tidak ada kebengkokan atau ajaran yang salah di dalamnya. Kami turunkan Al-Qur’an itu agar mereka bertakwa kepada Allah dan meninggalkan kekafiran.

29

ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا رَّجُلًا فِيْهِ شُرَكَاۤءُ مُتَشٰكِسُوْنَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيٰنِ مَثَلًا ۗ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ ۗبَلْ اَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

Ḍaraballāhu maṡalar rajulan fīhi syurakā’u mutasyākisūna wa rajulan salamal lirajulin hal yastawiyāni maṡalā(n), al-ḥamdu lillāh(i), bal akṡaruhum lā ya‘lamūn(a).

Allah membuat perumpamaan, (yaitu) seorang laki-laki (hamba sahaya) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat, (tetapi) dalam perselisihan dan seorang (hamba sahaya) yang menjadi milik penuh seorang (saja). Apakah keduanya sama keadaannya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui(-nya).

Allah membuat perumpamaan dalam Al-Qur’an tentang orang-orang yang menyekutukan Allah dan yang mengesakan-Nya. Perumpamaan itu berupa seorang budak laki-laki dewasa dan kuat yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat, yang diperebutkan dalam perselisihan, membuat budak itu bingung menentukan siapa yang harus ia ikuti, dan perumpamaan satunya berupa seorang hamba sahaya lain yang menjadi milik penuh dari seorang saja sehingga ia tahu pasti siapa tuannya. Adakah kedua hamba sahaya itu sama keadaannya? Tentu tidak sama. Segala puji bagi Allah yang telah membuat perumpamaan yang jelas itu sebagai pelajaran, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui pelajaran yang dipaparkan sehingga mereka tersesat.

30

اِنَّكَ مَيِّتٌ وَّاِنَّهُمْ مَّيِّتُوْنَ ۖ

Innaka mayyituw wa innahum mayyitūn(a).

Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad akan) mati dan sesungguhnya mereka pun (akan) mati.

Wahai Nabi Muhammad, sesungguhnya engkau akan mati dan kembali ke hadirat Tuahnmu, dan mereka yang ingkar itu pun akan mati pula.

31

ثُمَّ اِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ عِنْدَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُوْنَ ࣖ ۔

Ṡumma innakum yaumal-qiyāmati ‘inda rabbikum takhtaṣimūn(a).

Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian pada hari Kiamat akan berbantah-bantahan di hadapan Tuhanmu.

Kemudian, sesungguhnya kamu semua pada hari Kiamat akan berbantah-bantahan di hadapan Tuhanmu, kemudian Dia akan memberi keputusan secara adil; orang beriman akan mendapatkan surga dan orang kafir akan mendapatkan siksa neraka.

Ayat berhasil disalin!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *