Lompat ke konten
Beranda » Surat Asy Syu’ara Arab, Latin dan Terjemah Full Lengkap

Surat Asy Syu’ara Arab, Latin dan Terjemah Full Lengkap

  • oleh

Surat Asy-Syu’ara

Para Penyair

Makkiyah • 227 Ayat

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1

طٰسۤمّۤ

Ṭā Sīm Mīm.

Ṭā Sīn Mīm.

Ta Sin Mim. Nama-nama huruf yang dengannya Al-Qur’an tersusun. Susunan Al-Qur’an tidak mampu disaingi oleh manusia. Inilah yang menjadikan Al-Qur’an menjadi mukjizat sepanjang zaman.

2

تِلْكَ اٰيٰتُ الْكِتٰبِ الْمُبِيْنِ

Tilka āyātul-kitābil-mubīn(i).

Itulah ayat-ayat Kitab (Al-Qur’an) yang jelas.

Inilah ayat-ayat Kitab (Al-Qur’an) yang men-jelas-kan hal-hal benar yang harus diikuti, dan yang batil yang harus dijauhi, yang baik dan mana yang buruk. Semuanya dijelaskan secara gamblang. Walaupun demikian gamblang, masih banyak manusia yang mengingkarinya.

3

لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ اَلَّا يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ

La‘allaka bākhi‘un nafsaka allā yakūnū mu’minīn(a).

Boleh jadi engkau (Nabi Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan) karena mereka (penduduk Makkah) tidak beriman.

Boleh jadi engkau, wahai Rasul, akan membinasakan dirimu dengan kesedihan yang mendalam karena mereka penduduk Mekah itu tidak mau beriman denganmu, padahal kamu sangat menginginkan mereka untuk beriman.

4

اِنْ نَّشَأْ نُنَزِّلْ عَلَيْهِمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ اٰيَةً فَظَلَّتْ اَعْنَاقُهُمْ لَهَا خٰضِعِيْنَ

In nasya’ nunazzil ‘alaihim minas-samā’i āyatan fa ẓallat a‘nāquhum lahā khāḍi‘īn(a).

Jika berkehendak, niscaya Kami turunkan bukti (mukjizat) kepada mereka dari langit sehingga tengkuk mereka selalu tunduk kepadanya.

Jika Kami menghendaki agar mereka beriman kepadamu, niscaya Kami turunkan kepada mereka suatu kejadiaan yang luar biasa, yaitu berupa mukjizat dari langit yang turun kepada mereka yang akan memaksa mereka dan membuat tengkuk mereka tunduk dengan rendah hati kepadanya. Akan tetapi, Kami tidak menghendaki cara pemaksaan seperti itu. Kami ingin mereka beriman dengan suka rela, tanpa ada satu paksaan apa pun kepada mereka. Iman dengan sukarela akan membuahkan hasil yang baik dan berkelanjutan. Sebaliknya, keimanan dengan secara terpaksa, akan menghasilkan sesuatu yang tidak baik pula.

5

وَمَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ ذِكْرٍ مِّنَ الرَّحْمٰنِ مُحْدَثٍ اِلَّا كَانُوْا عَنْهُ مُعْرِضِيْنَ

Wa mā ya’tīhim min żikrim minar-raḥmāni muḥdaṡin illā kānū ‘anhu mu‘riḍīn(a).

Tidak datang kepada mereka suatu peringatan baru (ayat Al-Qur’an) dari Tuhan Yang Maha Pengasih, kecuali mereka selalu berpaling darinya.

Dan setiap kali disampaikan kepada mereka suatu peringatan baru yakni ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pengasih, mereka selalu berpaling darinya. Mereka tidak mau mendengarkan, tidak mau memedulikannya, bahkan menertawakannya.

6

فَقَدْ كَذَّبُوْا فَسَيَأْتِيْهِمْ اَنْۢبـٰۤؤُا مَا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ

Faqad każżabū fa saya’tīhim ambā’u mā kānū bihī yastahzi’ūn(a).

Sungguh, mereka telah mendustakan (Al-Qur’an). Maka, kelak akan datang kepada mereka (kebenaran) berita-berita mengenai apa (azab) yang selalu mereka perolok-olokkan.

Sungguh, mereka telah mendustakan Al-Qur’an, bahkan memperolok-olokkannya. Maka, kelak di hari Kiamat akan datang kepada mereka kebenaran berita-berita mengenai apa, yakni azab, yang dulu mereka perolok-olokkan. Pada saat itulah mereka baru tersadarkan diri atas kesalahan mereka. Tapi sudah tidak berguna lagi penyesalan itu.

7

اَوَلَمْ يَرَوْا اِلَى الْاَرْضِ كَمْ اَنْۢبَتْنَا فِيْهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيْمٍ

Awalam yarau ilal-arḍi kam ambatnā fīhā min kulli zaujin karīm(in).

Apakah mereka tidak memperhatikan bumi, betapa banyak Kami telah menumbuhkan di sana segala jenis (tanaman) yang tumbuh baik?

Allah kemudian mengajak mereka untuk belajar dari alam seluruh, agar mereka tahu bahwa hanya Allah saja yang berhak untuk disembah. Dan apakah mereka yaitu orang musyrik itu, tidak memperhatikan apa yang mereka lihat di hamparan bumi, betapa banyak Kami tumbuhkan di bumi itu berbagai macam pasangan tumbuh-tumbuhan yang baik dan membawa banyak sekali kemanfaatan bagi manusia. Bukankah itu pertanda atas kekuasaan Allah, dan anugerah-Nya yang tak terhingga kepada manusia?

8

اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةًۗ وَمَا كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

Inna fī żālika la’āyah(tan), wa mā kāna akṡaruhum mu’minīn(a).

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.

Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda kebesaran Allah yang mampu menghidupkan tanah yang gersang, menciptakan berbagai ragam tanaman, dan tetumbuhan. Akan tetapi, Betapa pun banyaknya bukti-bukti kekuasaan Allah yang ada di hadapan mereka, kebanyakan mereka tidak beriman, karena kedengkian, takabur, dan ingin mempertahankan status sosial mereka. Akhirnya Allah mengunci hati, pengelihatan dan pendengaran mereka.

9

وَاِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ ࣖ

Inna rabbaka lahuwal-‘azīzur-raḥīm(u).

Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

Dan sungguh, Tuhanmu Dialah Yang Mahaperkasa, tidak akan terku-rangi kekuasaan-Nya oleh banyaknya orang-orang yang ingkar kepada-Nya. Namun demikian, Dia juga Maha Penyayang dengan tidak cepat menyiksa makhluk-Nya yang durhaka, tapi memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat.

10

وَاِذْ نَادٰى رَبُّكَ مُوْسٰٓى اَنِ ائْتِ الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ ۙ

Wa iż nādā rabbuka mūsā ani’til-qaumaẓ-ẓālimīn(a).

(Ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya), “Datangilah kaum yang zalim itu.

Sebagai hiburan kepada Nabi Muhammad dan sebagai pelajaran bagi penduduk Mekah, Allah menceritakan kembali sejarah nabi-nabi terdahulu dan keingkaran kaumnya terhadap mereka. Dan ingatlah, wahai Rasul, ketika Tuhanmu di lembah Tuwa menyeru Nabi Musa dengan firman-Nya, “Datangilah dan berserulah, atas nama-Ku kepada kaum yang zalim, yang melampaui batas-batas kemanusiaan itu, seperti menyembah kepada selain Allah dan membunuhi bayi-bayi lelaki.”

11

قَوْمَ فِرْعَوْنَ ۗ اَلَا يَتَّقُوْنَ

Qauma fir‘aun(a), alā yattaqūn(a).

(Yaitu) kaum Fir‘aun. Mengapa mereka tidak bertakwa?”

“Yaitu kaum Fir’aun di Mesir. Datangilah mereka, hai Musa, dan tanyalah mereka mengapa mereka tidak bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya?”

12

قَالَ رَبِّ اِنِّيْٓ اَخَافُ اَنْ يُّكَذِّبُوْنِ ۗ

Qāla rabbi innī akhāfu ay yukażżibūn(i).

Dia (Musa) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku takut mereka akan mendustakanku.

Setelah mendengar perintah dari Allah, Nabi Musa berkata, “Ya Tuhanku yang memelihara diriku, aku tahu kezaliman mereka perilaku dan sifat mereka yang sangat buruk. Oleh karena itu, sungguh, aku takut mereka akan mendustakan aku ketika aku menyampaikan pesan-pesan-Mu.

13

وَيَضِيْقُ صَدْرِيْ وَلَا يَنْطَلِقُ لِسَانِيْ فَاَرْسِلْ اِلٰى هٰرُوْنَ

Wa yaḍīqu ṣadrī wa lā yanṭaliqu lisānī fa arsil ilā hārūn(a).

Dadaku terasa sempit dan lidahku kelu. Maka, utuslah Harun (bersamaku).

Sehingga, karenanya dadaku terasa sempit, sedih, dan kesal karena ulah mereka, dan lidahku tidak lancar, tidak fasih untuk memberikan penjelasan kepada mereka seperti apa yang ada di dalam hatiku. Maka, aku memohon kepada-Mu ya Rabbi, utuslah dan angkatlah Harun sebagai rasul agar dia bisa bersamaku untuk menyampaikan pesan-pesan-Mu kepada mereka.”

14

وَلَهُمْ عَلَيَّ ذَنْۢبٌ فَاَخَافُ اَنْ يَّقْتُلُوْنِ ۚ

Wa lahum ‘alayya żambun fa akhāfu ay yaqtulūn(i).

Aku berdosa terhadap mereka. Maka, aku takut mereka akan membunuhku.”

Dan aku berdosa terhadap mereka karena aku pernah membunuh salah seorang di antara mereka. Maka, aku takut mereka akan membunuhku karena aku yakin mereka masih menaruh dendam kepadaku.

15

قَالَ كَلَّا ۚفَاذْهَبَا بِاٰيٰتِنَآ اِنَّا مَعَكُمْ مُّسْتَمِعُوْنَ ۙ

Qāla kallā, fażhabā bi’āyātinā innā ma‘akum mustami‘ūn(a).

Dia (Allah) berfirman, “Tidak (mereka tidak akan dapat membunuhmu). Maka, pergilah berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat). Sesungguhnya Kami menyertaimu mendengarkan (apa yang mereka katakan).

Mendengar keluhan Nabi Musa, Allah berfirman, “Hai Musa! Jangan takut terhadap mereka seperti yang kau katakan! Mereka tidak akan pernah dapat membunuhmu. Aku akan tetap memeliharamu dan menolongmu Maka pergilah kamu berdua menghadap mereka dengan membawa ayat-ayat Kami yaitu mukjizat-mukjizat yang telah Kami berikan kepadamu seperti tongkat dan tanganmu. Sungguh, Kami bersamamu memeliharamu dan menolongmu. Aku akan mendengarkan apa yang mereka katakan.

16

فَأْتِيَا فِرْعَوْنَ فَقُوْلَآ اِنَّا رَسُوْلُ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ

Fa’tiyā fir‘auna faqūlā innā rasūlu rabbil-‘ālamīn(a).

Maka, datanglah berdua kepada Fir‘aun dan katakanlah, ‘Sesungguhnya kami adalah utusan Tuhan semesta alam.

Maka datanglah kamu berdua kepada Fir’aun tanpa dihinggapi rasa takut dan katakanlah dengan kesungguhan hati dan kepercayaan diri, ‘Sesungguhnya kami berdua adalah para rasul Tuhan seluruh alam.

17

اَنْ اَرْسِلْ مَعَنَا بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ۗ

An arsil ma‘anā banī isrā’īl(a).

Lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama kami (menuju Baitulmaqdis).’”

Lepaskanlah bangsa kami yaitu Bani Israil, biarkan mereka pergi bersama kami ke tempat yang kami kehendaki. Jangan lagi kau perbudak mereka.’”

18

قَالَ اَلَمْ نُرَبِّكَ فِيْنَا وَلِيْدًا وَّلَبِثْتَ فِيْنَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِيْنَ ۗ

Qāla alam nurabbika fīnā walīdaw wa labiṡta fīnā min ‘umurika sinīn(a).

Dia (Fir‘aun) berkata, “Bukankah kami telah mengasuhmu dalam lingkungan (keluarga) kami, waktu engkau masih bayi dan engkau tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.

Mendengar ucapan Nabi Musa, dia Fir’aun, menjawab dengan nada marah dan mengungkit jasanya terhadap Nabi Musa di masa lalu, “Bukankah kami telah mengasuhmu, memeliharamu dengan sebaik-baiknya dalam lingkungan keluarga kami, yaitu waktu engkau masih kanak-kanak dan engkau tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu yaitu semenjak engkau masih bayi sampai engkau menjadi pemuda?”

19

وَفَعَلْتَ فَعْلَتَكَ الَّتِيْ فَعَلْتَ وَاَنْتَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ

Wa fa‘alta fa‘latakal-latī fa‘alta wa anta minal-kāfirīn(a).

Engkau (Musa) telah melakukan (kesalahan berupa) perbuatan yang telah engkau lakukan (membunuh seseorang dari kaumku) dan engkau termasuk orang yang ingkar (terhadap kebaikan dan ketuhananku).”

Fir’aun melanjutkan bicaranya dengan mengungkit kesalahan Nabi Musa, “Dan engkau, Musa, telah melakukan kesalahan pada perbuatan yang telah engkau lakukan dengan membunuh salah seorang bangsaku dan engkau termasuk orang yang tidak tahu berterima kasih.”

20

قَالَ فَعَلْتُهَآ اِذًا وَّاَنَا۠ مِنَ الضَّاۤلِّيْنَ

Qāla fa‘altuhā iżaw wa ana minaḍ-ḍāllīn(a).

Dia (Musa) berkata, “Aku telah melakukannya. Kalau begitu, saat itu aku termasuk orang-orang yang sesat.

Nabi Musa berkata, “Aku telah melakukannya, yakni pembunuhan terhadap seorang Qibti tanpa aku sengaja dan ketika itu, aku termasuk orang yang khilaf bahwa pukulanku terhadapnya akan mengakibatkan kematiannya, padahal aku memukulnya dengan tujuan untuk memberikan pelajaran kepadanya.

21

فَفَرَرْتُ مِنْكُمْ لَمَّا خِفْتُكُمْ فَوَهَبَ لِيْ رَبِّيْ حُكْمًا وَّجَعَلَنِيْ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ

Fa farartu minkum lammā khiftukum fa wahaba lī rabbī ḥukmaw wa ja‘alanī minal-mursalīn(a).

Kemudian, aku lari darimu karena takut kepadamu. Lalu, Tuhanku menganugerahkan kepadaku hukum (ilmu dan kearifan) dan menjadikanku salah seorang rasul.

Lalu aku lari darimu menuju ke negeri Madyan, karena aku takut pada kepada-mu pada pembalasan-mu. Kemudian Tuhanku yang memeliharaku menganugerahkan ilmu yang bermanfaat kepadaku serta Dia menjadikan aku salah seorang di antara para rasul sebagaimana para rasul yang lain sebelumku.”

22

وَتِلْكَ نِعْمَةٌ تَمُنُّهَا عَلَيَّ اَنْ عَبَّدْتَّ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ۗ

Wa tilka ni‘matun tamunnuhā ‘alayya an ‘abbatta banī isrā’īl(a).

Itulah kenikmatan yang engkau berikan kepadaku, (sedangkan) engkau memperbudak Bani Israil.”

Lalu Nabi Musa membandingkan antara kebaikan yang dia terima dengan kekejaman Fir’aun terhadap Bani Israil. Musa berkata lagi, “Dan itulah kebaikan yang telah engkau berikan kepadaku, engkau pelihara diriku ketika aku masih bayi sampai aku dewasa. Sementara itu engkau telah memperbudak Bani Israil, kaumku sendiri. Engkau perlakukan mereka dengan tidak berperikemanusiaan. Sungguh ini dua hal yang tidak sebanding. Jika bukan karena kekejamanmu, ibuku tidak akan melemparkan aku ke sungai, dan tidak akan kau pelihara diriku.”

23

قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ۗ

Qāla fir‘aunu wa mā rabbul-‘ālamīn(a).

Fir‘aun berkata, “Siapa Tuhan semesta alam itu?”

Fir’aun penasaran terhadap perkataan Nabi Musa bahwa dia dan sudaranya Harun diutus oleh Allah Rabbul ‘alamin. Fir’aun bertanya kepada Musa, “Siapa Tuhan pencipta dan pemelihara seluruh alam itu?”

24

قَالَ رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَاۗ اِنْ كُنْتُمْ مُّوْقِنِيْنَ

Qāla rabbus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā, in kuntum mūqinīn(a).

Dia (Musa) menjawab, “Tuhan (pencipta dan pemelihara) langit, bumi, dan segala yang ada di antaranya jika kamu orang-orang yang yakin.”

Musa menjawab dengan tiga jawaban, “Pertama, Tuhan yang mengutusku adalah Tuhan pencipta, pengurus, pemelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya seperti benda-benda langit dan lainnya. Hal berbeda dengan dirimu yang hanya meguasai negeri Mesir dengan kekuatanmu. Aku katakan hal ini kepadamu dengan sebenar-benarnya, jika kamu mempercayai-Nya.”

25

قَالَ لِمَنْ حَوْلَهٗٓ اَلَا تَسْتَمِعُوْنَ

Qāla liman ḥaulahū alā tastami‘ūn(a).

Dia (Fir‘aun) berkata kepada orang-orang di sekitarnya, “Tidakkah kamu mendengar (apa yang dikatakannya)?”

Mendengar jawaban Nabi Musa ini, Fir’aun terasa mulai tersentak. Fir’aun berkata kepada orang-orang di sekelilingnya, yaitu para pembesar kerajaan, “Apakah kamu tidak mendengar apa yang dikatakannya?”

26

قَالَ رَبُّكُمْ وَرَبُّ اٰبَاۤىِٕكُمُ الْاَوَّلِيْنَ

Qāla rabbukum wa rabbu ābā’ikumul-awwalīn(a).

Dia (Musa) berkata, “(Dia) Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu terdahulu.”

Nabi Musa melanjutkan Jawabannya dengan berkata kepada Firaun, “Kedua, Dia itu adalah Tuhanmu dan juga Tuhan nenek moyangmu terdahulu. Tuhanku itu satu, tidak ada yang lain. Dialah pencipta alam semesta dan manusia dari dahulu sampai kini dan sampai kapan pun, termasuk engkau Firaun dan kaummu.”

27

قَالَ اِنَّ رَسُوْلَكُمُ الَّذِيْٓ اُرْسِلَ اِلَيْكُمْ لَمَجْنُوْنٌ

Qāla inna rasūlakumul-lażī ursila ilaikum lamajnūn(un).

Dia (Fir‘aun) berkata, “Sesungguhnya rasulmu yang diutus kepadamu benar-benar gila.”

Fir’aun semakin geram dan marah. Fir’aun berkata kepada para pembesar itu dengan penuh kemarahan, “Sungguh, Rasulmu yang diutus kepada kamu benar-benar orang gila. Dia mengatakan sesuatu yang tidak biasa aku dengar.”

28

قَالَ رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَمَا بَيْنَهُمَاۗ اِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُوْنَ

Qāla rabbul-masyriqi wal-magribi wa mā bainahumā, in kuntum ta‘qilūn(a).

Dia (Musa) berkata, “(Dia) Tuhan (yang menguasai) timur dan barat serta segala yang ada di antaranya jika kamu mengerti.”

Jawaban terakhir merupakan jawaban yang telak dan sulit bagi Fir’aun untuk mengelak darinya. Nabi Musa, berkata kepada Fir’aun dengan perkataan yang pernah diucapkan juga oleh Nabi Ibrahim kepada penguasa yang zalim (Lihat: Al-Baqarah/2: 258), “Ketiga, Dialah Tuhan yang menguasai ufuk timur tempat terbit matahari dan ufuk barat tempat terbenamnya matahari dan apa yang ada di antara ke-duanya, seperti gunung-gunung, lautan dan lain sebagainya, jika kamu mengerti, dan menggunakan akalmu dengan baik dan benar. Janganlah kau terus menerus dengan kebatilan, padahal kau tahu kebenaran. Apakah kamu mampu melakukan apa yang dilakukan Tuhanku?”

29

قَالَ لَىِٕنِ اتَّخَذْتَ اِلٰهًا غَيْرِيْ لَاَجْعَلَنَّكَ مِنَ الْمَسْجُوْنِيْنَ

Qāla la’inittakhażta ilāhan gairī la’aj‘alannaka minal-masjūnīn(a).

Dia (Fir‘aun) berkata, “Sungguh, jika engkau menyembah Tuhan selainku, niscaya aku benar-benar akan menjadikanmu termasuk orang-orang yang dipenjarakan.”

Fir’aun semakin berang mendengar perkataan Nabi Musa dan mulai menggunakan kekuatannya, sebagaimana juga penguasa yang zalim, untuk membungkam musuh-musuh mereka. Fir’aun berkata dengan nada mengancam, “Sungguh, jika engkau menyembah Tuhan selain aku, pasti aku masukkan engkau ke dalam penjara, Sebagaimana orang-orang yang telah aku penjarakan. Aku akan siksa dirimu dengan siksaan yang amat pedih.”

30

قَالَ اَوَلَوْ جِئْتُكَ بِشَيْءٍ مُّبِيْنٍ

Qāla awalau ji’tuka bisyai’im mubīn(in).

Dia (Musa) berkata, “Apakah (engkau akan melakukan itu) sekalipun aku mendatangkan kepadamu sesuatu (bukti) yang jelas?”

Nabi Musa sama sekali tidak gentar dengan ancaman itu karena yakin Allah selalu bersamanya. Dengan hati yang tenang, Nabi Musa menawarkan kepada Fir’aun satu tawaran. Nabi Musa berkata, “Apakah engkau tetap akan memenjarakanku sekalipun aku tunjukkan kepadamu sesuatu bukti yang nyata sebagai tanda bahwa aku adalah benar-benar utusan Tuhanku?”

31

قَالَ فَأْتِ بِهٖٓ اِنْ كُنْتَ مِنَ الصّٰدِقِيْنَ

Qāla fa’ti bihī in kunta minaṣ-ṣādiqīn(a).

Dia (Fir‘aun) berkata, “Datangkanlah (bukti yang jelas) itu jika engkau termasuk orang-orang yang benar!”

Fir’aun berkata, “Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan memenjarakanmu, tetapi tunjukkan sesuatu bukti yang nyata yang kau janjikan itu jika engkau termasuk orang yang benar terhadap pengakuanmu itu bahwa engkau adalah benar-benar utusan Tuhan!” Tidak berselang lama, Nabi Musa memperlihatkan kepada Fir’aun apa yang ditawarkannya, yaitu tongkat yang bisa berubah menjadi ular dan tangan yang mengeluarkan sinar yang berkilauan.

32

فَاَلْقٰى عَصَاهُ فَاِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُّبِيْنٌ ۚ

Fa alqā ‘aṣāhu fa iżā hiya ṡu‘bānum mubīn(un).

Maka, dia (Musa) melemparkan tongkatnya, tiba-tiba ia (tongkat itu) menjadi ular besar yang nyata.

Maka Musa melemparkan tongkatnya yang dahulu dia gunakan untuk menggembala kambing di negeri Madyan, tiba-tiba tongkat itu atas izin Allah berubah menjadi ular besar yang sebenarnya. Bukan tipuan sebagaimana yang dilakukan oleh para penyihir. Dengan peristiwa ini, Allah mampu mengubah benda mati menjadi benda yang hidup. Maka kebangkitan manusia di hari Kiamat bukanlah sesuatu yang sulit bagi Allah.

33

وَنَزَعَ يَدَهٗ فَاِذَا هِيَ بَيْضَاۤءُ لِلنّٰظِرِيْنَ ࣖ

Wa naza‘a yadahū fa iżā hiya baiḍā’u lin-nāẓirīn(a).

Dia menarik tangannya, tiba-tiba ia (tangan itu) menjadi putih (bercahaya) bagi orang-orang yang melihat(-nya).

Nabi Musa kemudian mengeluarkan mukjizatnya yang kedua. Dan dia mengeluarkan tangannya dari lubang leher bajunya, tiba-tiba tangan itu menjadi putih bercahaya terang benderang bagai sinar matahari bagi orang-orang yang melihatnya. Demikian jelasnya kebenaran Nabi Musa, namun hati yang sudah mati tidak menghiraukan semua itu bahkan semakin menjadi-jadi.

34

قَالَ لِلْمَلَاِ حَوْلَهٗٓ اِنَّ هٰذَا لَسٰحِرٌ عَلِيْمٌ ۙ

Qāla lil-mala’i ḥaulahū inna hāżā lasāḥirun ‘alīm(un).

Dia (Fir‘aun) berkata kepada para pemuka di sekitarnya, “Sesungguhnya dia (Musa) ini benar-benar seorang penyihir yang sangat pandai.

Fir’aun mencoba mempengaruhi para pembesarnya agar jangan terpengaruh oleh ajakan Nabi Musa. Fir’aun berkata kepada para pemuka di sekelilingnya, “Sesungguhnya dia ini pasti seseorang penyihir yang sangat pandai, maka janganlah kamu sekalian tertipu olehnya.

35

يُّرِيْدُ اَنْ يُّخْرِجَكُمْ مِّنْ اَرْضِكُمْ بِسِحْرِهٖۖ فَمَاذَا تَأْمُرُوْنَ

Yurīdu ay yukhrijakum min arḍikum bisiḥrih(ī), fa māżā ta’murūn(a).

Dia hendak mengeluarkanmu dari negerimu dengan sihirnya. Maka, apa yang kamu sarankan?”

Dia hendak mengusir kamu dari negerimu yang subur makmur ini, di mana kamu hidup enak dan tenang di dalamnya, dengan ilmu sihirnya. Oleh karena itu apakah yang kamu sarankan kepadaku sehingga aku bisa melaksanakannya?” Fir’aun merasa terdesak sehingga meminta pertimbangan dari para pembesarnya. Pengusiran seorang dari negerinya adalah sebuah prahara kehidupan karena mereka harus meninggalkan apa yang mereka cintai. Fir’aun menggunakan taktik ini agar mereka merasa tersentak dan akhirnya melawan Nabi Musa.

36

قَالُوْٓا اَرْجِهْ وَاَخَاهُ وَابْعَثْ فِى الْمَدَاۤىِٕنِ حٰشِرِيْنَ ۙ

Qālū arjih wa akhāhu wab‘aṡ fil-madā’ini ḥāsyirīn(a).

Mereka berkata, “Tahanlah (untuk sementara) dia dan saudaranya serta utuslah ke seluruh negeri orang-orang yang akan mengumpulkan (penyihir).

Para pembesar itu menawarkan kepada Fir’aun agar diadakan perang tanding antara Nabi Musa dan para pesihir Mesir. Mereka menjawab, “Tahanlah untuk sementara, jangan kau bunuh dia yaitu Musa dan saudaranya yaitu Nabi Harun, dan utuslah ke seluruh negeri Mesir orang-orang yang akan mengumpulkan penyihir, niscaya mereka akan mendatangkan semua pesihir yang pandai kepadamu.”

37

يَأْتُوْكَ بِكُلِّ سَحَّارٍ عَلِيْمٍ

Ya’tūka bikulli saḥḥārin ‘alīm(in).

Mereka akan mendatangkan kepadamu semua penyihir yang sangat pandai.”

Para pembesar itu menawarkan kepada Fir’aun agar diadakan perang tanding antara Nabi Musa dan para pesihir Mesir. Mereka menjawab, “Tahanlah untuk sementara, jangan kau bunuh dia yaitu Musa dan saudaranya yaitu nabi Harun, dan utuslah ke seluruh negeri Mesir orang-orang yang akan mengumpulkan penyihir, niscaya mereka akan mendatangkan semua pesihir yang pandai kepadamu.”

38

فَجُمِعَ السَّحَرَةُ لِمِيْقَاتِ يَوْمٍ مَّعْلُوْمٍ ۙ

Fa jumi‘as-saḥaratu limīqāti yaumim ma‘lūm(in).

Maka, dikumpulkanlah para penyihir pada waktu (yang ditetapkan) pada hari yang telah ditentukan.

Lalu dikumpulkanlah para pesihir pada waktu pagi pada hari yang telah ditentukan, yaitu pada hari raya mereka, di mana mereka berhias diri untuk bersenang-senang (Lihat: Surah Thaha/20: 59).

39

وَّقِيْلَ لِلنَّاسِ هَلْ اَنْتُمْ مُّجْتَمِعُوْنَ ۙ

Wa qīla lin-nāsi hal antum mujtami‘ūn(a).

Lalu, diumumkan kepada orang banyak, “Apakah kamu semua sudah berkumpul?

Dan diumumkan kepada orang banyak untuk segera berkumpul menyaksikan pertandingan yang sangat menentukan nasib para petarung, apakah Nabi Musa atau para penyihir itu. “Berkumpullah kamu semua, jangan ada di antara kamu yang tertinggal.

40

لَعَلَّنَا نَتَّبِعُ السَّحَرَةَ اِنْ كَانُوْا هُمُ الْغٰلِبِيْنَ

La‘allanā nattabi‘us-saḥarata in kānū humul-gālibīn(a).

(Tujuannya) supaya kita mengikuti para penyihir itu jika mereka jadi para pemenang.”

Tujuannya adalah agar kita mengikuti para pesihir itu, jika mereka yang menang dalam perang tanding ini.” Untuk mengalahkan Nabi Musa, Fir’aun yang mengaku-ngaku sebagai Tuhan, masih menggunakan orang lain, seperti penyihir, bukan kekuatan dirinya.

41

فَلَمَّا جَاۤءَ السَّحَرَةُ قَالُوْا لِفِرْعَوْنَ اَىِٕنَّ لَنَا لَاَجْرًا اِنْ كُنَّا نَحْنُ الْغٰلِبِيْنَ

Falammā jā’as-saḥaratu qālū lifir‘auna a’inna lanā la’ajran in kunnā naḥnul-gālibīn(a).

Maka, ketika para penyihir datang, mereka berkata kepada Fir‘aun, “Apakah kami benar-benar akan memperoleh imbalan besar jika kami yang menjadi pemenang?”

Maka, ketika para pesihir datang, mereka berkata kepada Fir’aun untuk meminta janji imbalan, “Apakah kami benar-benar akan mendapat imbalan yang besar jika kami yang menang melawan Musa?” Demikianlah para pesihir bersedia membela Fir’aun bukan karena mempertahankan kebenaran tapi menginginkan imbalan yang besar.

42

قَالَ نَعَمْ وَاِنَّكُمْ اِذًا لَّمِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ

Qāla na‘am wa innakum iżal laminal-muqarrabīn(a).

Dia (Fir‘aun) menjawab, “Ya, bahkan kamu pasti akan menjadi orang-orang yang dekat (kepadaku).”

Fir’aun menjawab, “Ya, kalian akan mendapatkan imbalan yang besar dan bahkan di samping itu, kamu pasti akan mendapat kedudukan yang dekat kepadaku. Dengan kedudukan itu, kamu pasti akan mendapatkan fasilitas-fasilitas terbaik dariku.”

43

قَالَ لَهُمْ مُّوْسٰٓى اَلْقُوْا مَآ اَنْتُمْ مُّلْقُوْنَ

Qāla lahum mūsā alqū mā antum mulqūn(a).

Musa berkata kepada mereka, “Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan!”

Para pesihir mempersilakan Nabi Musa memperlihatkan kehebatannya terlebih dahulu (Lihat: Surah Al-Araf/7: 115). Namun sebelumnya Nabi Musa mengingatkan mereka agar tidak meneruskan perang tanding ini karena mereka pasti kalah (Lihat: Surah Taha/ 20:61). Akan tetapi, mereka tetap dengan pendirian mereka. Perang tanding pun dimulai. Nabi Musa berkata kepada mereka para pesihir itu, “Sekarang aku berikan kesempatan kepada kalian. Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan, agar nanti bisa terlihat mana yang benar dan mana yang batil.” Lain halnya jika Nabi Musa terlebih dahulu yang beraksi.

44

فَاَلْقَوْا حِبَالَهُمْ وَعِصِيَّهُمْ وَقَالُوْا بِعِزَّةِ فِرْعَوْنَ اِنَّا لَنَحْنُ الْغٰلِبُوْنَ

Fa alqau ḥibālahum wa ‘iṣiyyahum wa qālū bi‘izzati fir‘auna innā lanaḥnul-gālibūn(a).

Lalu, mereka melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka seraya berkata, “Demi kekuasaan Fir‘aun, sesungguhnya kamilah yang benar-benar sebagai pemenang.”

Lalu mereka melemparkan tali temali dan tongkat-tongkat mereka seraya berkata dan bersumpah dengan penuh keyakinan, “Demi kekuasaan Fir’aun, pasti kamilah yang akan menang.” Tongkat dan tali temali yang dilemparkan para penyihir itu terlihat oleh pengunjung seperti ular-ular yang berkeliaran ke sana ke mari yang menakutkan. Inilah puncak prestasi sihir mereka. Melihat gelagat ini, Nabi Musa merasa takut, tapi Allah menentramkannya, “Wahai Musa, jangan takut, kamu pasti menang.” Allah kemudian memerintahkan Nabi Musa untuk melemparkan tongkatnya.

45

فَاَلْقٰى مُوْسٰى عَصَاهُ فَاِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُوْنَ ۚ

Fa alqā mūsā ‘aṣāhu fa iżā hiya talqafu mā ya’fikūn(a).

Kemudian, Musa melemparkan tongkatnya, tiba-tiba ia (tongkatnya yang sudah menjadi ular) menelan segala yang mereka ada-adakan itu.

Kemudian Musa melemparkan tongkatnya, maka tiba-tiba saja tongkat itu berubah menjadi ular besar yang sangat menakutkan, kemudian ia, ular besar itu menelan benda-benda yang kelihatan seperti ular itu, padahal itu adalah benda-benda yang palsu yang mereka ada-adakan itu, karena berasal dari sihir, dan sihir itu berasal dari setan.

46

فَاُلْقِيَ السَّحَرَةُ سٰجِدِيْنَ ۙ

Fa ulqiyas-saḥaratu sājidīn(a).

Maka, tersungkurlah para penyihir itu (dalam keadaan) bersujud.

Sehabis menelan “ular-ular” para pesihir, Nabi Musa mengambil tongkatnya kembali. Melihat kejadian yang sangat dramatis ini, para pesihir tertegun, terpana, dan merasa terkalahkan. Mereka yakin bahwa Nabi Musa bukanlah penyihir. Lalu serta merta mereka bersujud. Maka, tanpa menunggu lebih lama lagi menyungkurlah para pesihir itu, bersujud di tanah tanpa ragu-ragu karena mereka telah menemukan kebenaran.

47

قَالُوْٓا اٰمَنَّا بِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ

Qālū āmannā birabbil-‘ālamīn(a).

Mereka berkata, “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam,

Para pesihir berkata dengan penuh keyakinan “Kami beriman, yakin, dan percaya kepada Tuhan pencipta seluruh alam sebagaimana yang diyakini oleh Musa, yaitu Tuhan Musa dan Harun, Tuhan seluruh alam.”

48

رَبِّ مُوْسٰى وَهٰرُوْنَ

Rabbi mūsā wa hārūn(a).

(yaitu) Tuhannya Musa dan Harun.”

Para pesihir berkata dengan penuh keyakinan “Kami beriman, yakin, dan percaya kepada Tuhan pencipta seluruh alam sebagaimana yang diyakini oleh Musa, yaitu Tuhan Musa dan Harun, Tuhan seluruh alam.”

49

قَالَ اٰمَنْتُمْ لَهٗ قَبْلَ اَنْ اٰذَنَ لَكُمْۚ اِنَّهٗ لَكَبِيْرُكُمُ الَّذِيْ عَلَّمَكُمُ السِّحْرَۚ فَلَسَوْفَ تَعْلَمُوْنَ ەۗ لَاُقَطِّعَنَّ اَيْدِيَكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ مِّنْ خِلَافٍ وَّلَاُصَلِّبَنَّكُمْ اَجْمَعِيْنَۚ

Qāla āmantum lahū qabla an āżana lakum, innahū lakabīrukumul-lażī ‘allamakumus-siḥr(a), fa lasaufa ta‘lamūn(a), la’uqaṭṭi‘anna aidiyakum wa arjulakum min khilāfiw wa la’uṣallibannakum ajma’īn(a).

Dia (Fir‘aun) berkata, “Apakah kamu sekalian beriman kepadanya (Musa) sebelum aku mengizinkanmu? Sesungguhnya dia benar-benar pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu. Maka, kamu tentu akan tahu (akibat perbuatanmu). Pasti kupotong tangan dan kakimu secara bersilang dan benar-benar akan kusalib kamu semua.”

Dengan dikalahkannya para pesihir itu, posisi Fir’aun semakin terdesak. Padahal kejadian ini disaksikan banyak sekali penduduk yang berkerumun. Fir’aun lalu berkata kapada para pesihir dengan suara lantang dan menggertak dengan nada geram, “Mengapa kamu beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Padahal aku adalah pemimpin yang ditaati dan ditakuti. Sesungguhnya dia, Musa, pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu.” Lalu Fir’aun mengancam mereka, “Nanti kamu pasti akan tahu akibat perbuatanmu. Pasti akan kupotong tangan dan kakimu bersilang dan sungguh, akan kusalib kamu semuanya di tiang sampai kamu mati di tiang salib itu.”

50

قَالُوْا لَا ضَيْرَ ۖاِنَّآ اِلٰى رَبِّنَا مُنْقَلِبُوْنَ ۚ

Qālū lā ḍair(a), innā ilā rabbinā munqalibūn(a).

Mereka menjawab, “Tidak ada yang kami takutkan. Sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.

Namun ancaman Fir’aun tidak menyurutkan tekad mereka untuk terus beriman kepada Allah. Demikianlah hati jika sudah tenteram dengan keimanan, tidak akan mudah goyah dengan ancaman apa pun. Para penyihir itu bahkan berani berterus terang dengan keimanan mereka. Mereka berkata, “Tidak ada sama sekali yang kami takutkan dengan semua yang engkau ancamkan kepada kami, karena pada akhirnya kami semua akan mati, kami akan kembali kepada Tuhan kami dan kami harus mempertanggungjawabkan perbuatan kami di hadapan Tuhan kami.

51

اِنَّا نَطْمَعُ اَنْ يَّغْفِرَ لَنَا رَبُّنَا خَطٰيٰنَآ اَنْ كُنَّآ اَوَّلَ الْمُؤْمِنِيْنَ ۗ ࣖ

Innā naṭma‘u ay yagfira lanā rabbunā khaṭāyānā an kunnā awwalal-mu’minīn(a).

Sesungguhnya kami sangat menginginkan agar Tuhan kami mengampuni kesalahan-kesalahan kami karena kami adalah orang-orang yang pertama menjadi mukmin.”

Mereka terus berkata, “Sesungguhnya kami sangat menginginkan sekiranya Tuhan kami akan mengampuni segala kesalahan yang kami perbuat karena perbuatan sihir kami, ketaatan kami kepada Fir’aun, dan lain-lainnya, karena kami menjadi orang yang pertama-tama beriman kepada Tuhan Musa dan Harun.”

52

۞ وَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰىٓ اَنْ اَسْرِ بِعِبَادِيْٓ اِنَّكُمْ مُّتَّبَعُوْنَ

Wa auḥainā ilā mūsā an asri bi‘ibādī innakum muttaba‘ūn(a).

Kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa, “Pergilah pada malam hari dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil). Sesungguhnya kamu pasti akan diikuti.”

Walaupun Fir’aun telah kalah dalam pertarungan, tapi tetap saja dia angkuh dan sombong, dan bahkan terus menindas Bani Israil di Mesir. Nabi Musa terus berdakwah beberapa tahun lamanya. Sampai pada puncaknya, Allah memerintahkan Nabi Musa untuk keluar dari tanah Mesir menuju ke negeri yang dijanjikan yaitu di Baitul Maqdis. Dan Kami wahyukan serta Kami perintahkan kepada Musa, “Pergilah pada malam hari dengan membawa serta hamba-hamba-Ku, yaitu Bani Israil, keluar dari tanah Mesir, agar mereka lepas dari kezaliman raja Fir’aun, sebab pasti kamu akan dikejar. Jika kamu keluar pada malam hari, kamu akan sampai di tepi laut pada pagi harinya. Mereka yang mengejar di pagi hari tidak akan mampu mengejarmu, karena saat itu kamu sudah berada di laut.” Mendengar Nabi Musa dan Bani Israil keluar dari Mesir, Fir’aun memerintahkan kaumnya untuk mengejar Nabi Musa dan Bani Israil.

53

فَاَرْسَلَ فِرْعَوْنُ فِى الْمَدَاۤىِٕنِ حٰشِرِيْنَ ۚ

Fa arsala fir‘aunu fil-madā’ini ḥāsyirīn(a).

Lalu, Fir‘aun mengirimkan orang ke kota-kota untuk mengumpulkan (bala tentaranya).

Kemudian Fir’aun mengirimkan orang ke kota-kota untuk memobilisasi umum bala tentaranya dan pengikutnya dalam rangka mengejar Nabi Musa kemudian membunuhnya. Setelah Fir’aun melihat jumlah bala tentaranya demikian besar, dia menganggap remeh Nabi Musa dan Bani Israil. Akan tetapi sebenarnya, Fir’aun sudah merasa panik dan galau.

54

اِنَّ هٰٓؤُلَاۤءِ لَشِرْذِمَةٌ قَلِيْلُوْنَۙ

Inna hā’ulā’i lasyirzimatun qalīlūn(a).

(Fir‘aun berkata,) “Sesungguhnya mereka (Bani Israil) hanyalah sekelompok kecil.

Fir’aun berkata kepada para pembesarnya, “Sesungguhnya mereka Bani Israil itu hanya sekelompok kecil. Jumlah mereka sangat tidak sebanding dengan tentara kita. Kita akan dengan mudah bisa mengalahkan mereka.”

55

وَاِنَّهُمْ لَنَا لَغَاۤىِٕظُوْنَ ۙ

Wa innahum lanā lagā’iẓūn(a).

Sesungguhnya mereka telah membuat kita marah.

Dan sesungguhnya mereka, Bani Israil itu, telah berbuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita, seperti ajakan mereka kepada kita untuk menyembah Tuhan mereka, padahal mereka adalah bawahan dan rakyat jelata kita.

56

وَاِنَّا لَجَمِيْعٌ حٰذِرُوْنَ ۗ

Wa innā lajamī‘un ḥāżirūn(a).

Sesungguhnya kita semua benar-benar harus selalu waspada.”

Dan sesungguhnya kita semua, tanpa kecuali, harus selalu waspada, mawas diri terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi yang diperbuat oleh Musa dan Bani Israil.” Kemudian Fir’aun bergerak mengejar Nabi Musa dan meninggalkan Mesir.

57

فَاَخْرَجْنٰهُمْ مِّنْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍ ۙ

Fa akhrajnāhum min jannātiw wa ‘uyūn(in).

Kami keluarkan mereka (Fir‘aun dan kaumnya) dari (negeri mereka yang mempunyai) taman, mata air,

Kemudian, Kami keluarkan mereka, yaitu Fir’aun dan kaumnya, dari taman-taman dan mata air, yang sangat indah yang mereka punyai demi untuk sesuatu tujuan yang batil. Dan Kami keluarkan mereka juga dari harta kekayaan dan kedudukan yang mulia yang mereka dapatkan.

58

وَّكُنُوْزٍ وَّمَقَامٍ كَرِيْمٍ ۙ

Wa kunūziw wa maqāmin karīm(in).

harta kekayaan, dan tempat tinggal yang bagus.

Kemudian, Kami keluarkan mereka, yaitu Fir’aun dan kaumnya, dari taman-taman dan mata air, yang sangat indah yang mereka punyai demi untuk sesuatu tujuan yang batil. Dan Kami keluarkan mereka juga dari harta kekayaan dan kedudukan yang mulia yang mereka dapatkan.

59

كَذٰلِكَۚ وَاَوْرَثْنٰهَا بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ۗ

Każālik(a), wa auraṡnāhā banī isrā’īl(a).

Demikianlah, dan Kami wariskan semuanya kepada Bani Israil.

Demikianlah, dan Kami anugerahkan semuanya itu kepada Bani Israil. Merekalah pada akhirnya yang mewarisi kekayaan Fir’aun dan peng-ikutnya setelah semuanya binasa.

60

فَاَتْبَعُوْهُمْ مُّشْرِقِيْنَ

Fa atba‘ūhum musyriqīn(a).

Lalu, (Fir‘aun dan bala tentaranya dapat) menyusul mereka pada waktu matahari terbit.

Lalu Fir’aun dan bala tentaranya dapat menyusul mereka, Musa dan Bani Israil, pada waktu matahari terbit di pagi hari. Kedua kekuatan berada pada jarak yang semakin dekat. Situasi sudah sangat menegangkan.

61

فَلَمَّا تَرٰۤءَا الْجَمْعٰنِ قَالَ اَصْحٰبُ مُوْسٰٓى اِنَّا لَمُدْرَكُوْنَ ۚ

Falammā tarā’al-jam‘āni qāla aṣḥābu mūsā innā lamudrakūn(a).

Ketika kedua golongan itu saling melihat, para pengikut Musa berkata, “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.”

Maka ketika kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa dengan nada gemetar dan takut, “Kita benar-benar akan tersusul, oleh Fir’aun dan bala tentaranya.”

62

قَالَ كَلَّا ۗاِنَّ مَعِيَ رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ

Qāla kallā, inna ma‘iya rabbī sayahdīn(i).

Dia (Musa) berkata, “Tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Dia akan menunjukiku.”

Dia Musa menjawab dengan tenang dan meyakinkan, “Sekali-kali tidak akan tersusul. Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Tuhanku yang menyuruhku keluar dari Mesir, maka pasti Tuhanku jualah yang akan melindungi kita dengan cara-Nya sendiri.”

63

فَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنِ اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْبَحْرَۗ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيْمِ ۚ

Fa auḥainā ilā mūsā aniḍrib bi‘aṣākal-baḥr(a), fanfalaqa fa kāna kullu firqin kaṭ-ṭaudil ‘aẓīm(i).

Lalu, Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah laut dengan tongkatmu itu.” Maka, terbelahlah (laut itu) dan setiap belahan seperti gunung yang sangat besar.

Pada saat genting seperti inilah, Allah memerintahkan kepada Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya ke laut. Allah sebenarnya bisa membelahkan laut tanpa harus ada penyebab berupa pukulan tongkat, tapi Allah ingin agar manusia tetap berusaha. Lalu Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah laut itu dengan tongkatmu.” Lalu Nabi Musa memukulkan tongkatnya ke laut. Maka, seketika itu, terbelahlah lautan itu menjadi daratan yang bisa dilalui oleh Nabi Musa. Daratan itu terdiri dari dua belas belahan, sesuai dengan kelompok yang ada pada Bani Israil. Dan setiap belahan seperti gunung yang besar.

64

وَاَزْلَفْنَا ثَمَّ الْاٰخَرِيْنَ ۚ

Wa azlafnā ṡammal-ākharīn(a).

Di sanalah Kami dekatkan kelompok yang lain.

Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain, yaitu Fir’aun dan bala tentaranya, sebagai cara Kami untuk menenggelamkan mereka. Lalu Fir’aun dan bala tentaranya mengejar Nabi Musa melalui jalan yang terbelah itu. Kemudian setelah semuanya berada di tengah laut, Kami kembalikan daratan itu menjadi laut kembali, sehingga Fir’aun dan semua bala tentaranya mati tenggelam.

65

وَاَنْجَيْنَا مُوْسٰى وَمَنْ مَّعَهٗٓ اَجْمَعِيْنَ ۚ

Wa anjainā mūsā wa mam ma‘ahū ajma‘īn(a).

Kami selamatkan Musa dan semua orang yang bersamanya.

Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersamanya sebagai balasan atas kesabaran mereka dalam mengahadapi Fir’aun dan kekejamannya, dan atas kesabaran taat kepada ajakan Nabi Musa untuk berhijrah dari negeri Mesir.

66

ثُمَّ اَغْرَقْنَا الْاٰخَرِيْنَ ۗ

Ṡumma agraqnal-ākharīn(a).

Kemudian, Kami tenggelamkan kelompok yang lain.

Kemudian Kami tenggelamkan golongan yang lain yaitu Fir’aun dan bala tentaranya, sebagai balasan atas kesombongan dan kekafiran mereka.

67

اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً ۗوَمَا كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

Inna fī żālika la’āyah(tan), wa mā kāna akṡaruhum mu’minīn(a).

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.

Sungguh, pada yang demikian itu, yaitu binasanya orang yang durhaka dan selamatnya orang yang beriman, terdapat suatu tanda kekuasaan Allah yang demikian besar, tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.

68

وَاِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ ࣖ

Wa inna rabbaka lahuwal-‘azīzur-raḥīm(u).

Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

Dan sesungguhnya Tuhanmu Dialah Yang Mahaperkasa dan Mahakuat atas segala sesuatu, tidak ada yang bisa mengalahkan-Nya. Disisi lain, Dia Maha Penyayang bagi mereka yang beriman dan mau kembali ke jalan Allah.

69

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ اِبْرٰهِيْمَ ۘ

Watlu ‘alaihim naba’a ibrāhīm(a).

Bacakanlah kepada mereka berita Ibrahim.

Ayat-ayat berikut ini menyebutkan beberapa kisah Nabi Ibrahim ketika menyeru kaumnya untuk mengesakan Allah. Dan bacakanlah kepada mereka, kaum musyrik Mekah, kisah perjuangan Nabi Ibrahim. Kaum musyrik menganggap bahwa mereka adalah penerus agama Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail, padahal hal itu sama sekali bertentangan dengan agama Ibrahim yang sebenarnya, yaitu agama tauhid.

70

اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ وَقَوْمِهٖ مَا تَعْبُدُوْنَ

Iż qāla li’abīhi wa qaumihī mā ta‘budūn(a).

Ketika dia (Ibrahim) berkata kepada bapak dan kaumnya, “Apa yang kamu sembah?”

Ketika dia Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya, yang menyembah berhala di Irak selatan, “Apakah yang kamu sembah? bukankah itu benda mati yang dibuat dengan tanganmu sendiri?”

71

قَالُوْا نَعْبُدُ اَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عٰكِفِيْنَ

Qālū na‘budu aṣnāman fa naẓallu lahā ‘ākifīn(a).

Mereka menjawab, “Kami menyembah berhala-berhala dan senantiasa tekun menyembahnya.”

Mereka menjawab, “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya setiap saat.” Nabi Ibrahim mencoba berdialog dengan mereka dan mengajak mereka berpikir secara rasional, tidak secara emosional.

72

قَالَ هَلْ يَسْمَعُوْنَكُمْ اِذْ تَدْعُوْنَ ۙ

Qāla hal yasma‘ūnakum iż tad‘ūn(a).

Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah mereka mendengarmu ketika kamu berdoa (kepadanya)?

Ibrahim berkata dalam bentuk kalimat tanya agar mereka mulai berpikir, “Apakah mereka, tuhan yang kamu sembah itu, mendengarmu ketika kamu berdoa kepadanya sehingga kamu pantas untuk menyembahnya?” Alasan seorang menyembah sesuatu adalah dalam rangka mendatangkan kemanfaatan dan menolak bahaya.

73

اَوْ يَنْفَعُوْنَكُمْ اَوْ يَضُرُّوْنَ

Au yanfa‘ūnakum au yaḍurrūn(a).

Atau, (dapatkah) mereka memberi manfaat atau mudarat kepadamu?”

“Atau, dapatkah mereka memberi manfaat kepada kamu seperti rezeki, jika kamu menyembahnya atau mencelakakan kamu jika kamu tidak menyembahnya?” lanjut Nabi Ibrahim.

74

قَالُوْا بَلْ وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا كَذٰلِكَ يَفْعَلُوْنَ

Qālū bal wajadnā ābā’anā każālika yaf‘alūn(a).

Mereka menjawab, “Tidak, tetapi kami mendapati nenek moyang kami berbuat begitu.”

Mereka menjawab, “Tidak, mereka tidak memberikan kemanfaatkan dan mendatangkan bahaya, tetapi kami dapati nenek moyang kami berbuat begitu.” Mereka berbangga dengan perilaku seperti itu. Inilah bentuk taklid buta, yaitu mengikuti cara beribadah orang lain walaupun hal itu salah.

75

قَالَ اَفَرَءَيْتُمْ مَّا كُنْتُمْ تَعْبُدُوْنَ ۙ

Qāla afa ra’aitum mā kuntum ta‘budūn(a).

Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu memperhatikan apa yang selalu kamu sembah?

Ibrahim berkata, “Apakah kamu memperhatikan dengan sebenar-benarnya apa yang kamu sembah, apakah hal itu pantas kamu lakukan?

76

اَنْتُمْ وَاٰبَاۤؤُكُمُ الْاَقْدَمُوْنَ ۙ

Antum wa ābā’ukumul-aqdamūn(a).

Kamu dan nenek moyangmu terdahulu?

Kamu dan nenek moyang kamu yang terdahulu?” Nabi Ibrahim lantas memperlihatkan sikapnya yang tegas dan bernada permusuhan, karena dalam hal keimanan dan ibadah tidak ada kompromi dengan siapa pun.

77

فَاِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِّيْٓ اِلَّا رَبَّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ

Fa innahum ‘aduwwul lī illā rabbal-‘ālamīn(a).

Sesungguhnya mereka itu adalah musuhku, lain halnya Tuhan pemelihara semesta alam.

“Sesungguhnya mereka, yakni apa yang kamu sembah, itu musuhku, karena mereka adalah setan dalam bentuk berhala lain halnya Tuhan seluruh alam yang banyak sekali memberikan anugerah kepadaku dan kepada kamu sekalian.” demikian Nabi Ibrahim menjelaskan. Ia lalu menyebutkan satu persatu anugerah Tuhannya agar mereka sadar akan kekeliruan mereka dan mengikuti ajakan Nabi Ibrahim.

78

الَّذِيْ خَلَقَنِيْ فَهُوَ يَهْدِيْنِ ۙ

Allażī khalaqanī fa huwa yahdīn(i).

(Allah) yang telah menciptakanku. Maka, Dia (pula) yang memberi petunjuk kepadaku.

Nabi Ibrahim melanjutkan keterangannnya, “Dia adalah Zat yang telah menciptakan aku dalam sebaik-baiknya bentuk dan aku diberi kesempatan dalam hidupku untuk menyembah Allah, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku, menuju ke jalan yang benar melalui wahyu yang diberikan kepadaku.

79

وَالَّذِيْ هُوَ يُطْعِمُنِيْ وَيَسْقِيْنِ ۙ

Wal-lażī huwa yuṭ‘imunī wa yasqīn(i).

Dia (pula) yang memberiku makan dan minum.

Dan Yang memberi makan dan minum kepadaku, melalui rezeki dari air hujan yang menyuburkan tanah sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Dari situlah aku makan dan minum.

80

وَاِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ ۙ

Wa iżā mariḍtu fa huwa yasyfīn(i).

Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.

Dan apabila aku sakit, Dialah pada hakikatnya yang menyembuhkan aku, baik melalui sebab atau tidak.

81

وَالَّذِيْ يُمِيْتُنِيْ ثُمَّ يُحْيِيْنِ ۙ

Wal-lażī yumītunī ṡumma yuḥyīn(i).

(Dia) yang akan mematikanku, kemudian menghidupkanku (kembali).

Dan Yang akan mematikan aku kemudian akan menghidupkan aku kembali, pada hari akhirat nanti. Inilah Tuhan yang patut kamu sembah, karena kekuasaan-Nya yang mutlak.

82

وَالَّذِيْٓ اَطْمَعُ اَنْ يَّغْفِرَ لِيْ خَطِيْۤـَٔتِيْ يَوْمَ الدِّيْنِ ۗ

Wal-lażī aṭma‘u ay yagfira lī khaṭī’atī yaumad-dīn(i).

(Dia) yang sangat kuinginkan untuk mengampuni kesalahanku pada hari Pembalasan.”

Dan Yang sangat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari Kiamat, hari di mana aku harus mempertanggungjawabkan atas semua amalku.”

83

رَبِّ هَبْ لِيْ حُكْمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ ۙ

Rabbi hab lī ḥukmaw wa alḥiqnī biṣ-ṣāliḥīn(a).

(Ibrahim berdoa,) “Wahai Tuhanku, berikanlah kepadaku hukum (ilmu dan hikmah) dan pertemukanlah aku dengan orang-orang saleh.

Nabi Ibrahim lantas berdoa untuk kebaikan dirinya, orang tuanya, dan orang lain, baik di dunia maupun akhirat, “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat dan pemahaman terhadap rahasia agama dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh yang selalu berada pada jalan yang benar.

84

وَاجْعَلْ لِّيْ لِسَانَ صِدْقٍ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۙ

Waj‘al lī lisāna ṣidqin fil-ākhirīn(a).

Jadikanlah aku sebagai buah tutur yang baik di kalangan orang-orang (yang datang) kemudian.

Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian.” Allah mengabulkan doa Nabi Ibrahim. Namanya tetap bersinar, sikapnya tetap diagungkan, keturunannya banyak yang diangkat Allah menjadi nabi, hingga yang terakhir adalah Nabi Muhammad Sallallhu ‘alaihi wa sallam.

85

وَاجْعَلْنِيْ مِنْ وَّرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيْمِ ۙ

Waj‘alnī miw waraṡati janatin na‘īm(i).

Jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan.

“Dan jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan yang tiada habis-habisnya, sebagai anugerah yang tak terhingga dari-Mu, ya Allah.” lanjut doa Nabi Ibrahim.

86

وَاغْفِرْ لِاَبِيْٓ اِنَّهٗ كَانَ مِنَ الضَّاۤلِّيْنَ ۙ

Wagfir li’abī innahū kāna minaḍ-ḍāllīn(a).

Ampunilah ayahku! Sesungguhnya dia termasuk orang-orang sesat.

Nabi Ibrahim adalah seorang yang sangat santun kepada orang tuanya, walaupun kafir. Dia berdoa untuk kebaikan ayahnya, “Dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat, penyembah berhala.” Namun karena Allah melarang seseorang mendoakan orang kafir yang telah meninggal, Nabi Ibrahim tidak lagi melanjutkan doa untuk ayahnya.

87

وَلَا تُخْزِنِيْ يَوْمَ يُبْعَثُوْنَۙ

Wa lā tukhzinī yauma yub‘aṡūn(a).

Janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.

“Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, di hadapan manusia lain bersamaku, tapi tutupilah kesalahanku, hanya Engkau sajalah yang mengetahui keadaanku yang sebenarnya,

88

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ

Yauma lā yanfa‘u māluw wa lā banūn(a).

(Yaitu) pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak.

yaitu pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, untuk menebus semua dosa-dosa yang ada,” demikian Nabi Ibrahim menutup doanya. Allah tidak membutuhkan semua itu, karena Allah Mahakaya.

89

اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ

Illā man atallāha biqalbin salīm(in).

Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, yang selamat dari noda dan dosa.

90

وَاُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِيْنَ ۙ

Wa uzlifatil-jannatu lil-muttaqīn(a).

Surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa.

Dan surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa yang selalu menjaga diri dari kemaksiatan, agar terhindar dari murka Allah. Surga diperlihatkan kepada mereka, sehingga mereka bisa menikmati pemandangan yang sangat indah di dalamnya. Inilah kenikmatan permulaan sebelum mereka masuk ke dalamnya.

91

وَبُرِّزَتِ الْجَحِيْمُ لِلْغَاوِيْنَ ۙ

Wa burrizatil-jaḥīmu lil-gāwīn(a).

(Neraka) Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang-orang yang sesat.

Dan sebaiknya neraka Jahim yang sangat panas dan menakutkan diperlihatkan dengan jelas kepada orang-orang yang memilih jalan sesat, yaitu jalan kehidupan yang tidak diridai oleh Allah seperti kekafiran dan kesyirikan.

92

وَقِيْلَ لَهُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُوْنَ ۙ

Wa qīla lahum ainamā kuntum ta‘budūn(a).

Dikatakan kepada mereka, “Di mana berhala-berhala yang selalu kamu sembah

Dan pada saat itu dikatakan kepada mereka, “Di mana berhala-berhala yang dahulu kamu sembah selain Allah? Mestinya berhala-berhala itu berada di sini untuk menolongmu dari siksaan api neraka.

93

مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗهَلْ يَنْصُرُوْنَكُمْ اَوْ يَنْتَصِرُوْنَ ۗ

Min dūnillāh(i), hal yanṣurūnakum au yantaṣirūn(a).

selain Allah? Dapatkah mereka menolongmu atau menolong dirinya sendiri?”

Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?” Mereka sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan berhala-berhala itu dan para penyembahnya akan masuk neraka bersama-sama.

94

فَكُبْكِبُوْا فِيْهَا هُمْ وَالْغَاوٗنَ ۙ

Fa kubkibū fīhā hum wal-gāwūn(a).

Mereka (sesembahan itu) dijungkirbalikkan di dalamnya (neraka) bersama orang-orang yang sesat.

Maka, mereka, sesembahan itu, dijungkirkan ke dalam neraka bersama orang-orang yang sesat, berkali-kali.

95

وَجُنُوْدُ اِبْلِيْسَ اَجْمَعُوْنَ ۗ

Wa junūdu iblīsa ajma‘ūn(a).

(Begitu pula) bala tentara Iblis (dan) semuanya (dijungkirbalikkan).

Dan juga bala tentara Iblis semuanya. Iblis sebagai penggoda, manusia kafir yang tergoda, dan berhala-berhala yang dijadikan sesembahan, semuanya akan masuk neraka. Semuanya adalah simbol-simbol pengingkaran terhadap Allah. Pada saat mereka di neraka, terjadilah aksi saling menghujat di antara Iblis dan pengikutnya.

96

قَالُوْا وَهُمْ فِيْهَا يَخْتَصِمُوْنَ

Qālū wa hum fīhā yakhtaṣimūn(a).

Mereka (orang-orang sesat) berkata sambil bertengkar di dalamnya (neraka),

Mereka para penghuni neraka itu berkata sambil bertengkar di dalamnya. Penghuni neraka mengakui atas kesesatannya.

97

تَاللّٰهِ اِنْ كُنَّا لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ ۙ

Tallāhi in kunnā lafī ḍalālim mubīn(in).

“Demi Allah, sesungguhnya kami dahulu (di dunia) benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Mereka berkata, “Demi Allah, sesungguhnya kita dahulu di dunia dalam kesesatan yang nyata dengan memilih jalan kekafiran.

98

اِذْ نُسَوِّيْكُمْ بِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

Iż nusawwīkum birabbil-‘ālamīn(a).

(Yaitu) ketika kami mempersamakan kamu (berhala-berhala) dengan Tuhan semesta alam.

Karena kita mempersamakan kamu, yaitu berhala-berhala itu, dengan Tuhan seluruh alam.” Penyamaan Allah Pencipta dan Pengurus alam semesta dengan berhala yang tidak mempunyai andil apa-apa dalam kehidupan adalah satu kezaliman yang nyata. Penghuni neraka tahu siapa sebenarnya yang menyesatkan mereka.

99

وَمَآ اَضَلَّنَآ اِلَّا الْمُجْرِمُوْنَ

Wa mā aḍallanā illal-mujrimūn(a).

Tidak ada yang menyesatkan kami, kecuali para pendosa.

“Dan tidak ada yang menyesatkan kita kecuali orang-orang yang berdosa, yang terdiri dari setan yang berujud jin dan manusia yang tidak henti-hentinya menggoda ke jalan yang sesat.

100

فَمَا لَنَا مِنْ شٰفِعِيْنَ ۙ

Famā lanā min syāfi‘īn(a).

Tidak ada pemberi syafaat (penolong) untuk kami.

Maka sehingga kita tidak mempunyai pemberi syafaat yaitu penolong, yang dapat menolong kita dari kesusahan saat ini.

101

وَلَا صَدِيْقٍ حَمِيْمٍ

Wa lā ṣadīqin ḥamīm(in).

Tidak pula ada teman akrab.

Dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, yang bisa memberikan sedikit pertolongan.” sesal mereka. Setelah tidak ada lagi yang membantu, mereka lantas menginginkan kembali lagi ke dunia agar bisa melakukan amal saleh.

102

فَلَوْ اَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَكُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ

Falau anna lanā karratan fa nakūna minal-mu’minīn(a).

Seandainya dapat kembali (ke dunia), niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.”

“Maka seandainya kita dapat kembali ke dunia niscaya kita menjadi orang-orang yang beriman, dan beramal saleh.” demikian mereka mengungkapkan penyesalannya. Tapi hal itu mustahil mereka dapatkan, karena hidup di dunia cuma sekali.

103

اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً ۗوَمَا كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

Inna fī żālika la’āyah(tan), wa mā kāna akṡaruhum mu’minīn(a).

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.

Sungguh, pada yang demikian itu yaitu pada dialog ahli neraka itu jika direnungkan dengan saksama, terdapat tanda kekuasaan Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.

104

وَاِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ ࣖ

Wa inna rabbaka lahuwal-‘azīzur-raḥīm(u).

Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

Dan sungguh, Tuhanmu benar-benar Dialah Mahaperkasa, yang mampu mempercepat siksa-Nya, Maha Penyayang dengan mengakhirkan siksa sampai di akhirat nanti.

105

كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوْحِ ِۨالْمُرْسَلِيْنَ ۚ

Każżabat qaumu nūḥinil-mursalīn(a).

Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.

Kaum Nabi Nuh telah mendustakan para rasul. Para rasul Allah adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain. Mendustakan satu rasul sama saja dengan mendustakan semua rasul.

106

اِذْ قَالَ لَهُمْ اَخُوْهُمْ نُوْحٌ اَلَا تَتَّقُوْنَ ۚ

Iż qāla lahum akhūhum nūḥun alā tattaqūn(a).

Ketika saudara mereka, Nuh, berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?

Ketika saudara mereka yaitu Nabi Nuh, saudara senegeri, berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?” Pertanyaan itu terlontar mengingat bahwa mereka adalah penyembah patung-patung Wadd, Suwa, Yagus, Ya’uq, dan Nasr (Lihat Surah Nuh/ 71: 23).

107

اِنِّيْ لَكُمْ رَسُوْلٌ اَمِيْنٌ ۙ

Innī lakum rasūlun amīn(un).

Sesungguhnya aku adalah seorang rasul tepercaya (yang diutus) kepadamu.

Nabi Nuh melanjutkan dakwahnya, “Sesungguhnya aku ini seorang rasul kepercayaan yang diutus kepadamu, untuk menyampaikan pesan-pesan Tuhanku kepadamu.

108

فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِۚ

Fattaqullāha wa aṭī‘ūn(i).

Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.

Maka bertakwalah kamu kepada Allah dengan menjaga diri agar tidak mendapat murka Allah dan taatlah kepadaku atas semua yang aku sampaikan kepadamu.

109

وَمَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍۚ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلٰى رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۚ

Wa mā as’alukum ‘alaihi min ajr(in), in ajriya illā ‘alā rabbil-‘ālamīn(a).

Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalanku tidak lain, kecuali dari Tuhan semesta alam.

Dan aku tidak meminta imbalan apa pun kepadamu baik berupa materi atau jasa, atas ajakan itu, karena imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam yang jauh lebih baik dari semua imbalan yang ada karena Allah Mahakaya, pemilik alam seluruh.

110

فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِ

Fattaqullāha wa aṭī‘ūn(i).

Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.”

Maka bertakwalah kamu kepada Allah dengan mengerjakan semua perintahnya dan menjauhi semua larangan-Nya dan taatlah kepadaku, atas semua yang aku sampaikan kepadamu.” Kaum Nabi Nuh langsung memberikan reaksi secara negatif.

111

۞ قَالُوْٓا اَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الْاَرْذَلُوْنَ ۗ

Qālū anu’minu laka wattaba‘akal-arżalūn(a).

Mereka berkata, “Apakah kami harus beriman kepadamu, padahal yang mengikutimu adalah orang-orang hina?”

Mereka berkata, “Apakah kami harus beriman kepadamu, padahal pengikut-pengikutmu orang-orang yang hina?” Pengikut Nabi Nuh banyak dari golongan rakyat jelata, karena merekalah yang banyak terzalimi dari sistem yang ada, bukan dari kalangan bangsawan yang senang dengan kedudukan mereka. Begitulah mereka melihat persoalan bukan dari ajarannya tapi dari orang yang mengikuti ajaran itu.

112

قَالَ وَمَا عِلْمِيْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۚ

Qāla wa mā ‘ilmī bimā kānū ya‘malūn(a).

Dia (Nuh) menjawab, “Apa pengetahuanku tentang apa yang biasa mereka kerjakan?

Mendengar ejekan kaumnya, Nabi Nuh menjawab, “Tidak ada pengetahuanku tentang apa yang mereka orang-orang yang hina dina itu kerjakan. Aku hanya mengetahui hal-hal yang lahir saja dari mereka saja.

113

اِنْ حِسَابُهُمْ اِلَّا عَلٰى رَبِّيْ لَوْ تَشْعُرُوْنَ ۚ

In ḥisābuhum illā ‘alā rabbī lau tasy‘urūn(a).

Perhitungan (amal) mereka tidak lain, kecuali ada pada Tuhanku jika kamu menyadari.

Perhitungan amal perbuatan mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, karena Tuhanku yang mengetahui secara hakiki niat dari perbuatan mereka, jika kamu menyadari terhadap apa yang aku katakan. Semestinya kamu memahami persoalan ini dengan akal sehatmu.”

114

وَمَآ اَنَا۠ بِطَارِدِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ

Wa mā ana biṭāridil-mu’minīn(a).

Aku tidak akan mengusir orang-orang yang beriman.

Lalu dengan lantang Nabi Nuh mengatakan kepada kaumnya tentang pengikut-pengikutnya yang setia, “Dan aku tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Tidak terkecuali apakah mereka terdiri dari orang-orang miskin, dari kalangan bawah atau lainnya. Orang-orang itu pastilah memahami apa yang aku dakwahkan kepada mereka.

115

اِنْ اَنَا۠ اِلَّا نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ ۗ

In ana illā nażīrum mubīn(un).

Aku tidak lain, kecuali pemberi peringatan yang jelas.”

Aku, Nabi Nuh, ini hanyalah pemberi peringatan yang jelas terhadap mereka yang selalu berdusta kepadaku, bahwa nasib mereka pastilah akan jelek.

116

قَالُوْا لَىِٕنْ لَّمْ تَنْتَهِ يٰنُوْحُ لَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْمَرْجُوْمِيْنَۗ

Qālū la’illam tantahi yā nūḥu latakūnanna minal-marjūmīn(a).

Mereka berkata, “Wahai Nuh, jika tidak berhenti (dalam berdakwah), niscaya engkau akan termasuk orang-orang yang dirajam.”

Mendengar jawaban Nabi Nuh yang demikian tegas dan masuk akal, kaumnya mengintimidasinya. Mereka berkata, “Wahai Nuh! Sungguh, jika engkau tidak mau berhenti dari ajakanmu, niscaya engkau termasuk orang yang dirajam yaitu dilempari batu sampai mati.” Demikianlah sikap orang-orang zalim pada setiap zaman. Mereka akan menggunakan kekuatan jika kalah dalam adu argumentasi. Mendengar ancaman kaumnya, Nabi Nuh mengadu kepada Tuhannya.

117

قَالَ رَبِّ اِنَّ قَوْمِيْ كَذَّبُوْنِۖ

Qāla rabbi inna qaumī każżabūn(i).

Dia (Nuh) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakanku.

Nabi Nuh berkata, “Ya Tuhanku sungguh kaumku telah mendustakan aku. Mereka telah memilih jalan kesesatan, padahal aku, sesuai dengan perintah-Mu, telah mengajak mereka dengan baik-baik, siang dan malam, selama ratusan tahun, untuk kembali ke jalan-Mu.

118

فَافْتَحْ بَيْنِيْ وَبَيْنَهُمْ فَتْحًا وَّنَجِّنِيْ وَمَنْ مَّعِيَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ

Faftaḥ bainī wa bainahum fatḥaw wa najjinī wa mam ma‘iya minal-mu’minīn(a).

Maka, berilah keputusan antara aku dan mereka serta selamatkanlah aku dan orang-orang mukmin bersamaku.”

Maka berilah keputusan antara aku dengan mereka wahai Tuhanku, di Tangan-Mu-lah nasib mereka dan aku memohon kepada-Mu, selamatkanlah aku dan mereka yang beriman bersamaku dari siksaan-Mu yang akan Engkau timpakan kepada kaumku.”

119

فَاَنْجَيْنٰهُ وَمَنْ مَّعَهٗ فِى الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِ

Fa anjaināhu wa mam ma‘ahū fil-fulkil-masyḥūn(i).

Kami selamatkan dia (Nuh) dan orang-orang yang bersamanya di dalam kapal yang penuh muatan.

Allah pun mengabulkan doa Nabi Nuh. Kemudian Kami menyelamatkannya yakni Nuh dan orang-orang yang bersamanya di dalam kapal yang penuh muatan yaitu berupa kebutuhan pokok mereka.

120

ثُمَّ اَغْرَقْنَا بَعْدُ الْبَاقِيْنَ

Ṡumma agraqnā ba‘dul-bāqīn(a).

Kemudian, Kami tenggelamkan orang-orang yang tersisa (tidak beriman) setelah itu.

Kemudian setelah penyelamatan itu, Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal yaitu mereka yang durhaka.

121

اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً ۗوَمَا كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

Inna fī żālika la’āyah(tan), wa mā kāna akṡaruhum mu’minīn(a).

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.

Sungguh, pada kejadian yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kekuasaan Allah yang demikian nyata, tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.

122

وَاِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ ࣖ

Wa inna rabbaka lahuwal-‘azīzur-raḥīm(u).

Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

Dan sungguh, Tuhanmu, Dialah Yang Mahaperkasa yang tidak berku-rang kekuasaan-Nya walaupun banyaknya orang yang ingkar kepada-Nya, Maha Penyayang dengan tidak cepat membinasakan orang yang durhaka kepada-Nya, tapi masih memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat.

123

كَذَّبَتْ عَادُ ِۨالْمُرْسَلِيْنَ ۖ

Każżabat ‘ādunil-mursalīn(a).

(Kaum) ‘Ad telah mendustakan para rasul.

Kaum ‘Ad yang mendiami tanah Yaman telah mendustakan para rasul. Mendustakan satu rasul, sama saja dengan mendustakan seluruh rasul, karena mereka adalah satu kesatuan, yaitu sebagai utusan Allah.

124

اِذْ قَالَ لَهُمْ اَخُوْهُمْ هُوْدٌ اَلَا تَتَّقُوْنَ ۚ

Iż qāla lahum akhūhum hūdun alā tattaqūn(a).

Ketika saudara mereka, Hud, berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?

Ketika saudara mereka sendiri yang satu negeri dan satu kabilah, yaitu Hud, berkata kepada mereka dengan tulus ikhlas mengajak mereka ke jalan yang benar, “Mengapa kamu tidak bertakwa?

125

اِنِّيْ لَكُمْ رَسُوْلٌ اَمِيْنٌ ۙ

Innī lakum rasūlun amīn(un).

Sesungguhnya aku adalah seorang rasul tepercaya (yang diutus) kepadamu.

Sungguh, aku ini seorang rasul kepercayaan Allah yang diutus kepada-mu, agar kamu taat kepada-Nya.

126

فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِ ۚ

Fattaqullāha wa aṭī‘ūn(i).

Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.

Karena itu bertakwalah kepada Allah dengan menaati semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dan taatlah kepadaku atas apa yang aku katakan kepada kamu.”

127

وَمَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍۚ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلٰى رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۗ

Wa mā as’alukum ‘alaihi min ajr(in), in ajriya illā ‘alā rabbil-‘ālamīn(a).

Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalanku tidak lain, kecuali dari Tuhan semesta alam.

Kemudian agar kaumnya tidak mencurigai bahwa ia memiliki misi yang sifatnya komersial, Nabi Hud berkata, “Dan aku tidak meminta imbalan apa pun kepadamu, baik materi maupun jasa atas ajakan itu; karena imbalanku hanyalah dari Tuhan yang mengatur seluruh alam seluruh karena aku adalah utusan-Nya.”

128

اَتَبْنُوْنَ بِكُلِّ رِيْعٍ اٰيَةً تَعْبَثُوْنَ ۙ

Atabnūna bikulli rī‘in āyatan ta‘baṡūn(a).

Apakah kamu mendirikan istana di setiap tanah yang tinggi untuk kemegahan tanpa ditempati?

Nabi Hud mengecam perilaku buruk kaumnya dan berkata, “Apakah kamu mendirikan istana-istana pada setiap tanah yang tinggi hanya untuk kemegahan dan kepongahan tanpa ditempati? Sungguh hal ini keterlaluan.

129

وَتَتَّخِذُوْنَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُوْنَۚ

Wa tattakhiżūna maṣāni‘a la‘allakum takhludūn(a).

Kamu (juga) membuat benteng-benteng dengan harapan hidup kekal?

Dan kamu membuat benteng-benteng yang kokoh dan kuat, atau penampungan-penampungan air yang besar dengan maksud supaya kamu kekal di dunia?

130

وَاِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِيْنَۚ

Wa iżā baṭasytum baṭasytum jabbārīn(a).

Apabila menyiksa, kamu lakukan secara kejam dan bengis.

Dan apabila kamu menyiksa orang-orang yang terkena sanksi hukum dalam pandangan kamu, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis di luar batas peri kemanusiaan.

131

فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِۚ

Fattaqullāha wa aṭī‘ūn(i).

Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.

Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Ketahuilah bahwa apa yang kamu lakukan itu adalah perbuatan yang melanggar hukum-hukum Allah.

132

وَاتَّقُوا الَّذِيْٓ اَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُوْنَ ۚ

Wattaqul-lażī amaddakum bimā ta‘lamūn(a).

Bertakwalah kepada (Allah) yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui.

Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui dan kamu rasakan, yaitu segala kenikmatan duniawi.”

133

اَمَدَّكُمْ بِاَنْعَامٍ وَّبَنِيْنَۙ

Amaddakum bi’an‘āmiw wa banīn(a).

Dia (Allah) telah menganugerahkan hewan ternak dan anak-anak kepadamu.

Nabi Hud lalu memerinci beberapa kenikmatan itu, “Dia telah menganugerahkan dan melimpahkan kepada kamu binatang-binatang ternak yang sangat besar manfaatnya dalam kehidupan kamu dan Dia juga memberimu anak-anak yang dengan mereka kamu merasa kuat.

134

وَجَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍۚ

Wa jannātiw wa ‘uyūn(in).

(Dia juga menganugerahkan) kebun-kebun dan mata air.

Dan kebun-kebun yang rindang, dengan aneka macam tumbuh-tumbuhan dan pepohonan dan mata air yang jernih dan melimpah.

135

اِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ ۗ

Innī akhāfu ‘alaikum ‘ażāba yaumin ‘aẓīm(in).

Sesungguhnya aku takut bahwa kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat.”

Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar, yaitu hari Kiamat. Apa yang kamu miliki dan kamu banggakan, pada hari itu, tidak akan bisa menolong kamu dari siksa api neraka.”

136

قَالُوْا سَوَاۤءٌ عَلَيْنَآ اَوَعَظْتَ اَمْ لَمْ تَكُنْ مِّنَ الْوٰعِظِيْنَ ۙ

Qālū sawā’un ‘alainā awa‘aẓta am lam takum minal-wā‘iẓīn(a).

Mereka menjawab, “Sama saja bagi kami, apakah engkau memberi nasihat atau tidak memberi nasihat.

Namun demikian, dengan sikap sombong, kaumnya menolak ajakannya. Mereka menjawab, “Adalah sama saja bagi Kami, apakah kamu wahai Hud, memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, kami tetap tidak akan menuruti ajakanmu. Kami akan terus berpegang teguh dengan keyakinan kami. Maka kamu tak perlu bersusah payah terus menerus mengajak kami.

137

اِنْ هٰذَآ اِلَّا خُلُقُ الْاَوَّلِيْنَ ۙ

In hāżā illā khuluqul-awwalīn(a).

(Agama kami) ini tidak lain adalah agama orang-orang terdahulu.

“Agama kami ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu. Apa yang dilakukan nenek moyang kami, itulah yang kami ikuti.” Inilah bentuk taklid buta dalam hal keyakinan agama yang sangat dibenci oleh Allah.

138

وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِيْنَ ۚ

Wa mā naḥnu bimu‘ażżabīn(a).

Kami (sama sekali) tidak akan diazab.”

Dan dengan pongahnya mereka berkata lagi, “Dan Kami sama sekali tidak akan di azab oleh Allah di akhirat kelak.” Mereka menganggap bahwa kenikmatan yang mereka miliki adalah bentuk kasih sayang Allah kepada mereka, maka di akhirat pun mereka yakin tidak akan disiksa.

139

فَكَذَّبُوْهُ فَاَهْلَكْنٰهُمْۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً ۗوَمَا كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

Fa każżabūhu fa ahlaknāhum, inna fī żālika la’āyah(tan), wa mā kāna akṡaruhum mu’minīn(a).

Maka, mereka mendustakannya (Hud). Lalu, Kami membinasakan mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.

Sebagai sanksi atas kepongahan mereka, Allah menurunkan siksaNya kepada mereka. Maka, mereka mendustakan Nabi Hud terhadap semua ajakan dan nasihatnya, lalu Kami binasakan mereka dengan angin yang sangat dingin dan kencang selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus (Lihat juga Surah Al-Haqqah/69: 7). Sungguh pada kejadian yang demikian itu terdapat tanda kekuasaan Allah yang demikian besar dan nyata yang semestinya menjadi pelajaran bagi mereka, tetapi kebanyakan mereka tidak beriman bahkan mendustakan Allah dan rasul-Nya.

140

وَاِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ ࣖ

Wa inna rabbaka lahuwal-‘azīzur-raḥīm(u).

Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

Dan sungguh, Tuhanmu, Dialah Yang Mahaperkasa yang tidak berkurang kekuasaan-Nya dengan banyaknya orang yang ingkar kepada-Nya, Maha Penyayang dengan tidak cepat membinasakan orang yang durhaka kepadaNya, tapi masih memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat.

141

كَذَّبَتْ ثَمُوْدُ الْمُرْسَلِيْنَ ۖ

Każżabat ṡamūdul-mursalīn(a).

(Kaum) Samud telah mendustakan para rasul.

Kaum Samud telah mendustakan para rasul yang mengajak mereka kembali kepada jalan yang benar, yaitu menauhidkan Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain dan beribadah kepada-Nya dengan ikhlas.

142

اِذْ قَالَ لَهُمْ اَخُوْهُمْ صٰلِحٌ اَلَا تَتَّقُوْنَ ۚ

Iż qāla lahum akhūhum ṣāliḥun alā tattaqūn(a).

Ketika saudara mereka, Saleh, berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?

Ketika saudara mereka yang berasal dari negeri dan kabilah mereka sendiri yaitu Saleh berkata kepada mereka dengan maksud menasihati, “Mengapa kamu tidak bertakwa dengan menjaga diri kamu dari murka Allah, dengan menauhidkan-Nya dan menjalani semua perintahnya?

143

اِنِّيْ لَكُمْ رَسُوْلٌ اَمِيْنٌ ۙ

Innī lakum rasūlun amīn(un).

Sesungguhnya aku adalah seorang rasul tepercaya (yang diutus) kepadamu.

Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan Allah yang diutus kepadamu, untuk mengingatkanmu akan jalan kebenaran untuk kebaikanmu juga.

144

فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِ ۚ

Fattaqullāha wa aṭī‘ūn(i).

Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.

Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku terhadap apa yang aku perintahkan dan yang aku larang kepadamu.

145

وَمَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍۚ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلٰى رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۗ

Wa mā as’alukum ‘alaihi min ajr(in), in ajriya illā ‘alā rabbil-‘ālamīn(a).

Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalanku tidak lain, kecuali dari Tuhan semesta alam.

Dan aku tidak meminta suatu imbalan kepadamu atas ajakan itu, baik berupa materi atau non materi. Imbalanku tidak lain hanyalah dari Tuhan Pemelihara seluruh alam. Dialah yang mengutusku.

146

اَتُتْرَكُوْنَ فِيْ مَا هٰهُنَآ اٰمِنِيْنَ ۙ

Atutrakūna fīmā hāhunā āminīn(a).

Apakah kamu (mengira) akan dibiarkan tinggal di sini (negerimu) dengan aman?

Apakah kamu mengira akan dibiarkan tinggal di sini di negeri kamu ini dengan segala kenikmatannya, dengan aman, tanpa harus bertanggung jawab terhadap Tuhan yang menciptakan kamu?

147

فِيْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍ ۙ

Fī jannātiw wa ‘uyūn(in).

(Yaitu,) di dalam kebun-kebun dan mata air.

Di dalam kebun-kebun yang rindang serta mata air yang jernih dan melimpah,

148

وَّزُرُوْعٍ وَّنَخْلٍ طَلْعُهَا هَضِيْمٌ ۚ

Wa zurū‘iw wa nakhlin ṭal‘uhā haḍīm(un).

Dan, tanam-tanaman serta pohon kurma yang mayangnya lembut.

dan tanaman-tanaman dan pohon-pohon kurma yang mayangnya lembut yang akan menghasilkan buah kurma yang enak dan lezat.

149

وَتَنْحِتُوْنَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوْتًا فٰرِهِيْنَ

Wa tanḥitūna minal-jibāli buyūtan fārihīn(a).

Kamu pahat dengan terampil sebagian gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah yang mewah.

dan kamu pahat dengan terampil sebagian gunung-gunung batu yang demikian besar untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin dan kepiawaian; tapi semua itu kamu lakukan dengan penuh kesombongan dan kepongahan, bukan untuk kemanfaatan semata.

150

فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِ ۚ

Fattaqullāha wa aṭī‘ūn(i).

Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.

Maka bertakwalah kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya dan taatlah kepadaku terhadap apa yang aku sampaikan kepadamu, karena aku adalah utusan Allah;

151

وَلَا تُطِيْعُوْٓا اَمْرَ الْمُسْرِفِيْنَ ۙ

Wa lā tuṭī‘ū amral-musrifīn(a).

Janganlah mengikuti perintah orang-orang yang melampaui batas.

Dan janganlah kamu menaati perintah orang-orang yang melampaui batas.

152

الَّذِيْنَ يُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِ وَلَا يُصْلِحُوْنَ

Allażīna yufsidūna fil-arḍi wa lā yaṣliḥūn(a).

(Mereka) yang berbuat kerusakan di bumi dan tidak melakukan perbaikan.”

Mereka adalah para pemuka masyarakatmu yang kafir, sombong, berbuat kerusakan, keonaran, dan kemaksiatan di muka bumi dan mereka sama sekali tidak mengadakan perbaikan dalam kehidupan mereka.” Mereka yang dimaksud Nabi Saleh berjumlah 9 orang (lihat surah an-Naml/27:48) dan tinggal dikawasan antara Madinah dan Yordania yang disebut dengan negeri Mada’in, tempat tinggal kaum Samud.

153

قَالُوْٓا اِنَّمَآ اَنْتَ مِنَ الْمُسَحَّرِيْنَ ۙ

Qālū innamā anta minal-musaḥḥarīn(a).

Mereka berkata, “Sesungguhnya engkau hanyalah termasuk orang-orang yang terkena sihir.

Akan tetapi, mereka menolak dakwah Nabi Saleh dengan berkata, “Sungguh, engkau hanyalah termasuk orang yang kena sihir karena apa yang engkau dakwahkan tidak sesuai dengan kebiasaan kami.

154

مَآ اَنْتَ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَاۙ فَأْتِ بِاٰيَةٍ اِنْ كُنْتَ مِنَ الصّٰدِقِيْنَ

Mā anta illā basyarum miṡlunā, fa’ti bi’āyatin in kunta minaṣ-ṣādiqīn(a).

Engkau tidak lain hanyalah manusia seperti kami. Maka, datangkanlah tanda (mukjizat) jika engkau termasuk orang-orang yang benar.”

Engkau wahai Saleh, tidak lain hanyalah seorang manusia biasa seperti kami; makan, minum, dan lain-lainnya. Mengapa hanya engkau yang diberi wahyu? Maka, datangkanlah sesuatu mukjizat, kejadian yang luar biasa jika engkau memang termasuk orang-orang yang benar, bahwa kamu adalah utusan Allah.”

155

قَالَ هٰذِهٖ نَاقَةٌ لَّهَا شِرْبٌ وَّلَكُمْ شِرْبُ يَوْمٍ مَّعْلُوْمٍ ۚ

Qāla hāżihī nāqatul lahā syirbuw wa lakum syirbu yaumim ma‘lūm(in).

Dia (Saleh) menjawab, “Ini seekor unta betina. Dia punya (giliran) minum dan kamu punya (giliran) minum (pula) pada hari yang ditentukan.

Kemudian Nabi Saleh meminta kepada Allah agar diturunkan tanda-tanda kebesaran-Nya sebagaimana yang dimintakan oleh kaum-nya. Lalu Allah memenuhi permintaan Nabi Saleh dengan keluarnya seekor unta dari batu-batu besar yang ada di sekeliling mereka. Nabi Shaleh menjelaskan, “Ini seekor unta betina, sebagai pertanda kebenaran kenabianku seperti apa yang kamu inginkan, dengan dua ketentuan. Pertama, dia berhak mendapatkan giliran untuk mendapatkan air minum pada satu hari, dan kamu mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu, secara bergiliran.

156

وَلَا تَمَسُّوْهَا بِسُوْۤءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابُ يَوْمٍ عَظِيْمٍ

Wa lā tamassūhā bisū’in fa ya’khużakum ‘ażābu yaumin ‘aẓīm(in).

Janganlah menyentuhnya dengan suatu kejahatan. Nanti kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat.”

Dan, ketentuan kedua, janganlah kamu sentuh unta betina itu dengan sesuatu kejahatan, baik dengan memukulnya apalagi membunuhnya, hal yang menyebabkan kamu akan ditimpa azab hari yang besar.”

157

فَعَقَرُوْهَا فَاَصْبَحُوْا نٰدِمِيْنَ ۙ

Fa ‘aqarūhā fa aṣbaḥū nādimīn(a).

Mereka membunuhnya, lalu mereka menjadi orang-orang yang menyesal.

Ternyata mereka melanggar ketentuan ini. Kemudian salah seorang di antara mereka membunuhnya, sementara yang lain mendiamkannya saja, sebagai tanda persetujuan. Dengan persetujuan ini semuanya dianggap ikut terlibat dalam pembunuhan itu. Lalu mereka merasa menyesal atas apa yang telah mereka lakukan, karena mereka tahu akan akibat dari perbuatan mereka yaitu datangnya siksaan Allah. Tapi tak berguna lagi penyesalan itu. Mereka diberi tenggat waktu sampai tiga hari, (Lihat: Surah Hud/11: 65) lalu datanglah azab yang mereka takutkan.

158

فَاَخَذَهُمُ الْعَذَابُۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً ۗوَمَا كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

Fa akhażahumul-‘ażāb(u), inna fī żālika la’āyah(tan), wa mā kāna akṡaruhum mu’minīn(a).

Mereka ditimpa azab. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.

Maka mereka ditimpa azab. yaitu suara yang menggelegar disertai dengan guncangan bumi yang dahsyat (lihat: Surah Hud/11:67) dan (al-Hqqah/69: 4). Mereka semua mati bergelimpangan, kecuali nabi Saleh dan orang-orang yang beriman kepadanya. Sungguh, pada yang demikian itu, terdapat tanda yang nyata atas ke Mahakuasaan Allah dan bahwa janji dan ancaman Allah itu benar adanya. Tetapi kebanyakan mereka tidak beriman, hati mereka terkunci mati oleh kesombongan mereka.

159

وَاِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ ࣖ

Wa inna rabbaka lahuwal-‘azīzur-raḥīm(u).

Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

Dan Sungguh Tuhanmu, Dialah yang Maha Perkasa, yang tidak ada yang mampu mengalahkan-Nya, Banyaknya orang yang ingkar kepada-Nya tidak mengurangi sedikit pun kekuasaan-Nya. Dia juga Maha Penyayang yang masih memberikan kesempatan kepada yang berdurhaka untuk kembali bertobat.

160

كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوْطِ ِۨالْمُرْسَلِيْنَ ۖ

Każżabat qaumu lūṭinil-mursalīn(a).

Kaum Lut telah mendustakan para rasul.

Nabi Luth adalah keponakan Nabi Ibrahim. Kaumnya mendiami negeri Sodom, di dataran rendah Yordania. Mereka melakukan kejahatan seksual yaitu sodomi. Kaum Luth telah mendustakan para rasul. Setiap rasul dan penggiat kebenaran pasti mendapatkan tantangan dari banyak pihak. Nabi Luth menyeru kaumnya untuk kembali ke jalan yang benar.

161

اِذْ قَالَ لَهُمْ اَخُوْهُمْ لُوْطٌ اَلَا تَتَّقُوْنَ ۚ

Iż qāla lahum akhūhum lūṭun alā tattaqūn(a).

Ketika saudara mereka, Lut, berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?”

Ketika saudara mereka yang satu negeri dengan mereka, yaitu Nabi Luth, berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa? dengan bertakwa kamu akan selamat baik di dunia maupun di akhirat.

162

اِنِّيْ لَكُمْ رَسُوْلٌ اَمِيْنٌ ۙ

Innī lakum rasūlun amīn(un).

Sesungguhnya aku adalah seorang rasul tepercaya (yang diutus) kepadamu.

Sungguh, aku ini seorang rasul kepercayaan yang diutus kepadamu untuk membawa misi kebenaran dari Tuhan Yang mengutusku.

163

فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِ ۚ

Fattaqullāha wa aṭī‘ūn(i).

Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.

Maka bertakwalah kepada Allah dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. dan taatlah kepadaku. Atas apa yang aku katakan padamu.

164

وَمَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلٰى رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۗ

Wa mā as’alukum ‘alaihi min ajrin in ajriya illā ‘alā rabbil-‘ālamīn(a).

Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalanku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.

Dan aku sekali-kali tidak minta imbalan kepadamu atas ajakan itu, imbalanku tidak lain hanyalah dari Tuhan pemelihara seluruh alam yang menjadikan aku sebagai utusan-Nya.”

165

اَتَأْتُوْنَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعٰلَمِيْنَ ۙ

Ata’tūnaż-żukrāna minal-‘ālamīn(a).

Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia (berbuat homoseks)?

Setelah berdakwah setelah umum, Nabi Luth kemudian memasuki area dakwah yang lebih khusus lagi, “Mengapa kamu mendatangi atau melakukan hubungan seksual dengan laki-laki di antara manusia. Sungguh ini merupakan perbuatan yang sangat keji yang dimurkai Allah.

166

وَتَذَرُوْنَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِّنْ اَزْوَاجِكُمْۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُوْنَ

Wa tażarūna mā khalaqa lakum rabbukum min azwājikum, bal antum qamun ‘ādūn(a).

Sementara itu, kamu tinggalkan (perempuan) yang diciptakan Tuhan untuk menjadi istri-istrimu? Kamu (memang) kaum yang melampaui batas.”

Dan kamu tinggalkan perempuan yang diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi istri-istrimu? Terhadap merekalah kamu semaikan bibit keturunanmu kelak, untuk menjadi generasi yang saleh yang memakmurkan bumi. Kamu memang orang-orang yang melampaui batas. Karena melakukan sesuatu bukan pada peruntukannya.”

167

قَالُوْا لَىِٕنْ لَّمْ تَنْتَهِ يٰلُوْطُ لَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُخْرَجِيْنَ

Qālū la’illam tantahi yā lūṭu latakūnanna minal-mukhrajīn(a).

Mereka menjawab, “Wahai Lut, jika tidak berhenti (melarang kami), niscaya engkau benar-benar akan termasuk orang-orang yang diusir.”

Namun dengan angkuh mereka menjawab, “Wahai Luth, jika engkau tidak berhenti dari apa yang engkau lakukan, engkau termasuk orang-orang yang terusir dari negeri ini, karena kami tidak menghendaki engkau berada bersama kami.”

168

قَالَ اِنِّيْ لِعَمَلِكُمْ مِّنَ الْقَالِيْنَ ۗ

Qāla innī li‘amalikum minal-qālīn(a).

Dia (Lut) berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang sangat benci terhadap perbuatanmu.”

Nabi Lut berkata, “Aku sungguh benci kepada perbuatanmu karena bertentangan dengan fitrah manusia, hanya mengumbar nafsu seksual belaka yang bukan pada tempatnya.”

169

رَبِّ نَجِّنِيْ وَاَهْلِيْ مِمَّا يَعْمَلُوْنَ

Rabbi najjinī wa ahlī mimmā ya‘malūn(a).

(Lut berdoa,) “Wahai Tuhanku, selamatkanlah aku dan keluargaku dari apa yang mereka perbuat.”

Melihat sikap kaumnya yang tidak berubah bahkan menjadi-jadi, Nabi Lut memohon keselamatan dari Allah dengan berdoa, “Ya Tuhanku selamatkanlah aku dan keluargaku dan pengikutku yang beriman dari akibat perbuatan yang mereka kerjakan.”

170

فَنَجَّيْنٰهُ وَاَهْلَهٗٓ اَجْمَعِيْنَ ۙ

Fa najjaināhu wa ahlahū ajma‘īn(a).

Maka, Kami selamatkan dia bersama semua keluarganya,

Lalu Kami selamatkan dia bersama keluarganya semua,

171

اِلَّا عَجُوْزًا فِى الْغٰبِرِيْنَ ۚ

Illā ‘ajūzan fil-gābirīn(a).

kecuali seorang perempuan tua (istrinya) yang termasuk golongan (orang-orang kafir) yang tertinggal.

kecuali seorang perempuan tua yaitu istrinya sendiri, yang termasuk dalam golongan yang tinggal. Dia berkhianat terhadap suaminya, dan bergabung dengan kaumnya yang kafir dan lacur.

172

ثُمَّ دَمَّرْنَا الْاٰخَرِيْنَ ۚ

Ṡumma dammarnal-ākharīn(a).

Kemudian, Kami binasakan yang lain.

Kemudian Kami binasakan yang lain dan menghancurkan mereka sehancur-hancurnya.

173

وَاَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَّطَرًاۚ فَسَاۤءَ مَطَرُ الْمُنْذَرِيْنَ

Wa amṭarnā ‘alaihim maṭarā(n), fa sā’a maṭarul-munżarīn(a).

Kami hujani mereka (dengan batu). Betapa buruk hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.

Dan setelah negeri mereka dijungkirbalikkan, Kami hujani mereka dengan hujan batu yang demikian keras. Maka betapa buruk hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu. Inilah kesudahan dari kaum yang durhaka kepada Allah. Mereka diberi peringatan demi peringatan, namun mereka tetap memilih jalan kehidupan yang keji yang dibenci oleh Allah.

174

اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً ۗوَمَا كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

Inna fī żālika la’āyah(tan), wa mā kāna akṡaruhum mu’minīn(a).

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.

Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti yang nyata akan ke Maha Kuasanya Allah. Dan, adalah kebanyakan mereka tidak beriman. Mereka yang ingkar terkena laknat, dan yang yang beriman akan selamat. Inilah ketetapan Allah yang tidak pernah berubah.

175

وَاِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ ࣖ

Wa inna rabbaka lahuwal-‘azīzur-raḥīm(u).

Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

Dan sungguh Tuhanmu, yang memeliharamu, benar-benar Dialah Yang Mahaperkasa, Maha Penyayang dengan tidak cepat-cepat menghukum para pendosa, tapi memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat.

176

كَذَّبَ اَصْحٰبُ لْـَٔيْكَةِ الْمُرْسَلِيْنَ ۖ

Każżaba aṣḥābul-aikatil-mursalīn(a).

Penduduk Aikah (Madyan) telah mendustakan para rasul.

Penduduk Aikah telah mendustakan para rasul; yaitu Nabi Syuaib yang diutus kepada mereka, untuk memperbaiki akidah dan akhlak mereka,

177

اِذْ قَالَ لَهُمْ شُعَيْبٌ اَلَا تَتَّقُوْنَ ۚ

Iż qāla lahum syu‘aibun alā tattaqūn(a).

Ketika Syu‘aib berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?

Nabi Syuaib memulai dakwahnya dengan berpesan kepada kaumnya untuk bertakwa. Ketika Nabi Syuaib berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?” Bertakwa adalah pokok pangkal kebaikan segala sesuatu. Inilah anjuran pertama para rasul sebelum masuk pada materi dakwah lainnya kepada kaumnya. Nabi Syuaib memperkenalkan dirinya dan kedudukannya selaku utusan Allah.

178

اِنِّيْ لَكُمْ رَسُوْلٌ اَمِيْنٌ ۙ

Innī lakum rasūlun amīn(un).

Sesungguhnya aku adalah seorang rasul tepercaya (yang diutus) kepadamu.

Nabi Syuaib melanjutkan dakwahnya, “Sungguh, aku adalah rasul kepercayaan Allah yang diutus menyampaikan ajaran agama kepadamu.”

179

فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِ ۚ

Fattaqullāha wa aṭī‘ūn(i).

Maka, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.

Maka, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan taatlah kepada perintah dan ajakan-ku untuk beribadah kepada Allah dan melakukan kebaikan.

180

وَمَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلٰى رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۗ

Wa mā as’alukum ‘alaihi min ajrin in ajriya illā ‘alā rabbil-‘ālamīn(a).

Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (ajakan) itu. Imbalanku tidak lain, kecuali dari Tuhan semesta alam.

Dan aku tidak bermaksud sedikitpun untuk meminta imbalan apa pun, baik berupa materi atau jasa, kepadamu atas ajakan itu, imbalanku tidak lain hanyalah dari Tuhan seluruh alam.” Dengan tidak adanya imbalan, Nabi Syuaib tidak mempunyai kepentingan apa-apa kecuali untuk kemaslahatan mereka.

181

۞ اَوْفُوا الْكَيْلَ وَلَا تَكُوْنُوْا مِنَ الْمُخْسِرِيْنَ ۚ

Auful-kaila wa lā takūnū minal-mukhsirīn(a).

Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan orang lain.

Kemudian Nabi Syuaib mulai memasuki wilayah dakwah yang lebih nyata lagi yaitu kejahatan ekonomi yang dilakukan kaumnya, “Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu merugikan orang lain. Mengurangi takaran dan timbangan sangat merugikan konsumenmu. Memakan hasilnya hukumnya haram dan tidak membawa berkah dalam kehidupan.

182

وَزِنُوْا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيْمِ ۚ

Wazinū bil-qisṭāsil-mustaqīm(i).

Timbanglah dengan timbangan yang benar.

Dan timbanglah dengan timbangan yang benar, yaitu timbangan yang adil, sesuai dengan yang menjadi kesepakatan masyarakat luas. Hal ini akan menjadikan keberkahan bagimu, wahai para penjual, karena memakan dari harta yang halal.

183

وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ اَشْيَاۤءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِى الْاَرْضِ مُفْسِدِيْنَ ۚ

Wa lā tabkhasun-nāsa asy-yā’ahum wa lā ta‘ṡau fil-arḍi mufsidīn(a).

Janganlah kamu merugikan manusia dengan mengurangi hak-haknya dan janganlah membuat kerusakan di bumi.

Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan jangan-lah kamu membuat kerusakan di bumi.” Pada dasarnya prinsip hubungan antar manusia menurut Islam adalah tidak boleh menzalimi dan tidak boleh dizalimi dengan cara apa pun dan dalam bidang apa pun.

184

وَاتَّقُوا الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالْجِبِلَّةَ الْاَوَّلِيْنَ ۗ

Wattaqul-lażī khalaqakum wal-jibillatal-awwalīn(a).

Bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakanmu dan umat-umat yang terdahulu.”

Nabi Syuaib menutup penjelasannya dengan berkata, “Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang dahulu.” Umat terdahulu dari kaum Syuaib seperti kaum ‘Ad, dan Samud jauh lebih kuat. Mereka dibinasakan oleh Allah karena dosa-dosa mereka.

185

قَالُوْٓا اِنَّمَآ اَنْتَ مِنَ الْمُسَحَّرِيْنَ ۙ

Qālū innamā anta minal-musaḥḥarīn(a).

Mereka berkata, “Sesungguhnya engkau hanyalah termasuk orang-orang yang terkena sihir.

Terhadap ajakan Nabi Syuaib, mereka mulai berang dan jengkel, lalu mereka mengeluarkan tuduhan dan hasutan yang tidak berdasar. Mereka berkata, “Engkau tidak lain hanyalah orang yang kena sihir.” Semua nabi yang berdakwah kepada kaumnya dituduh sebagai pesihir sebagai cara untuk menjauhkan para nabi dengan masyarakat.

186

وَمَآ اَنْتَ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَا وَاِنْ نَّظُنُّكَ لَمِنَ الْكٰذِبِيْنَ ۚ

Wa mā anta illā basyarum miṡlunā wa in naẓunnuka laminal-kāżibīn(a).

Engkau tidak lain hanyalah seorang manusia seperti kami dan sesungguhnya kami yakin bahwa engkau benar-benar termasuk para pembohong.

“Dan engkau hanyalah manusia seperti kami, yang makan dan minum. Apa keistimewaanmu sehingga engkau menjadi seorang utusan Tuhan? Sesungguhnya kami yakin bahwa engkau benar-benar termasuk orang-orang yang berdusta,” tuduh mereka. Inilah usaha untuk mematikan gerak dakwah Nabi Syuaib.

187

فَاَسْقِطْ عَلَيْنَا كِسَفًا مِّنَ السَّمَاۤءِ اِنْ كُنْتَ مِنَ الصّٰدِقِيْنَ ۗ

Fa asqiṭ ‘alainā kisafam minas-samā’i in kunta minaṣ-ṣādiqīn(a).

Maka, jatuhkanlah kepada kami kepingan-kepingan dari langit (agar kami binasa) jika engkau termasuk orang-orang yang benar.”

Mereka dengan pongahnya balik menantang Nabi Syuaib agar bisa mendatangkan siksaan kepada mereka, “Maka cepat jatuhkanlah siksaan Tuhanmu kepada kami berupa gumpalan apa saja dari langit, baik berupa batu atau lainnya, jika engkau termasuk orang-orang yang benar bahwa engkau adalah utusan Allah.”

188

قَالَ رَبِّيْٓ اَعْلَمُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Qāla rabbī a‘lamu bimā ta‘malūn(a).

Dia (Syu‘aib) berkata, “Tuhanku paling mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Nabi Syuaib berkata, “Tuhanku lebih mengetahui apa yang kamu kerjakan. Biarlah Dia saja yang akan membuat perhitungan dengan kamu, karena Dialah yang mengetahui sepak terjangmu.”

189

فَكَذَّبُوْهُ فَاَخَذَهُمْ عَذَابُ يَوْمِ الظُّلَّةِ ۗاِنَّهٗ كَانَ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ

Fa każżabūhu fa akhażahum ‘ażābu yaumiẓ-ẓullah(ti), innahū kāna ‘ażāba yaumin ‘aẓīm(in).

Lalu, mereka mendustakannya (Syu‘aib). Maka, mereka ditimpa azab pada hari yang berawan gelap. Sesungguhnya itu adalah azab hari yang dahsyat.

Kemudian mereka mendustakan apa yang disampaikan Nabi Syuaib, lalu tidak berapa lama, mereka ditimpa azab pada hari yang gelap karena ditutupi awan. Dengan awan ini, mereka menganggap bahwa mereka telah selamat, tapi secara mengejutkan mereka dihujani dengan api yang besar dari langit. Sungguh, azab itulah azab pada hari yang dahsyat. Peristiwa yang memilukan itu semestinya menjadi pelajaran bagi semua pihak.

190

اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً ۗوَمَا كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

Inna fī żālika la’āyah(tan), wa mā kāna akṡaruhum mu’minīn(a).

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.

Sungguh, pada kejadian yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kekuasaan Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak beriman, karena hati mereka sudah tertutup oleh kekafiran, keangkuhan dan kesombongan.

191

وَاِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ ࣖ

Wa inna rabbaka lahuwal-‘azīzur-raḥīm(u).

Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang benar-benar Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

Dan sungguh, Tuhanmu, Dialah yang Maha Perkasa. Tidak ada yang bisa mengalahkan-Nya dan tidak terkurangi sedikit pun kekuasaan-Nya dengan banyaknya orang yang kafir kepada-Nya. Dia juga Maha Penyayang dengan masih memberikan kesempatan bagi orang yang berdosa untuk bertobat kepada-Nya.

192

وَاِنَّهٗ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۗ

Wa innahū latanzīlu rabbil-‘ālamīn(a).

Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) benar-benar diturunkan Tuhan semesta alam.

Dan sungguh Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan pemilik dan pemelihara seluruh alam, Tuhan yang sangat menyayangi makhluk-Nya. Al-Qur’an tidak berasal dari selain Allah, sebagaimana yang dituduhkan kaum musyrik, itu bukan untuk mencelakakan mereka.

193

نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْاَمِيْنُ ۙ

Nazala bihir rūḥul-amīn(u).

Ia (Al-Qur’an) dibawa turun oleh Ruhulamin (Jibril).

Al-Qur’an itu dibawa turun secara berangsur-angsur oleh Ar-Ruh Al-Amin yaitu Jibril, atas izin Allah. Ruh adalah sesuatu yang dengannya raga menjadi hidup, begitu juga Al-Qur’an.

194

عَلٰى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَ ۙ

‘Alā qalbika litakūna minal-munżirīn(a).

(Diturunkan) ke dalam hatimu (Nabi Muhammad) agar engkau menjadi salah seorang pemberi peringatan.

Jibril langsung memasukkan Al-Qur’an ke dalam hatimu, wahai Nabi Muhmmad, yang dengan itu Al-Qur’an terpelihara. Tujuannya agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan kepada manusia agar mawas diri. Jika mereka memilih kekafiran dan kefasikan, setelah datangnya penjelasan, mereka akan diberi sanksi yang berat oleh Allah.

195

بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِيْنٍ ۗ

Bilisānin ‘arabiyyim mubīn(in).

(Diturunkan) dengan bahasa Arab yang jelas.

Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu, dan penjelasanmu tentangnya itu dengan bahasa Arab yang jelas. Dengan demikian, bisa dengan mudah dipahami oleh masyarakat Arab, di mana Al-Qur’an turun pertama kali kepada mereka.

196

وَاِنَّهٗ لَفِيْ زُبُرِ الْاَوَّلِيْنَ

Wa innahū lafī zuburil-awwalīn(a).

Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) benar-benar (disebut) dalam kitab-kitab orang terdahulu.

Dan sungguh, Al-Qur’an itu benar-benar disebut dalam kitab-kitab orang yang dahulu seperti Taurat, Zabur, dan Injil (Lihat: Surah al-Araf/7: 157). Hal ini menunjukkan akan satunya tujuan, satunya sumber, dan keterkaitan antara satu kitab suci dengan kitab suci lainnya sama-sama menyeru kepada Tauhid.

197

اَوَلَمْ يَكُنْ لَّهُمْ اٰيَةً اَنْ يَّعْلَمَهٗ عُلَمٰۤؤُا بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ

Awalam yakul lahum āyatan ay ya‘lamahū ‘ulamā’u banī isrā’īl(a).

Apakah tidak (cukup) menjadi bukti bagi mereka bahwa ia (Al-Qur’an) diketahui oleh para ulama Bani Israil?

Dukungan terhadap kebenaran Al-Qur’an juga datang dari para ulama Bani Israil. Apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya? Mereka, dahulu, bahkan sangat menantikan kedatangan Nabi Muhammad.

198

وَلَوْ نَزَّلْنٰهُ عَلٰى بَعْضِ الْاَعْجَمِيْنَ ۙ

Wa lau nazzalnāhū ‘alā ba‘ḍil-a‘jamīn(a).

Seandainya Kami menurunkannya kepada sebagian dari golongan non-Arab.

Dan seandainya Al-Qur’an itu Kami turunkan kepada sebagian dari golongan bukan Arab yang tidak bisa berbicara menggunakan bahasa Arab,

199

فَقَرَاَهٗ عَلَيْهِمْ مَّا كَانُوْا بِهٖ مُؤْمِنِيْنَ ۗ

Fa qara’ahū ‘alaihim mā kānū bihī mu’minīn(a).

Lalu, dia membacakannya kepada mereka (orang-orang kafir), niscaya mereka tidak juga akan beriman kepadanya.

lalu ia membacakannya kepada mereka, yakni orang-orang kafir itu, niscaya mereka tidak juga akan beriman kepadanya. Ini menunjukkan keengganan mereka untuk menerima Al-Qur’an. Dari arah mana pun Al-Qur’an itu datang, mereka pasti tak akan beriman dengan berbagai alasan.

200

كَذٰلِكَ سَلَكْنٰهُ فِيْ قُلُوْبِ الْمُجْرِمِيْنَ ۗ

Każālika salaknāhu fī qulūbil-mujrimīn(a).

Demikianlah, Kami masukkan (sifat dusta dan ingkar) ke dalam hati para pendurhaka.

Demikianlah, sebagaimana Kami memasukkan rasa dusta terhadap Al-Qur’an pada hati orang kafir, Kami masukkan sifat dusta dan ingkar terhadap Al-Qur’an itu ke dalam hati orang- orang yang berdosa.

201

لَا يُؤْمِنُوْنَ بِهٖ حَتّٰى يَرَوُا الْعَذَابَ الْاَلِيْمَ

Lā yu’minūna bihī ḥattā yarawul-‘ażābal-alīm(a).

Mereka tidak akan beriman kepadanya hingga melihat azab yang pedih.

Mereka tidak juga akan beriman kepadanya, yakni Al-Qur’an, hingga mereka melihat azab yang pedih.

202

فَيَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً وَّهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ ۙ

Fa ya’tiyahum bagtataw wa hum lā yasy‘urūn(a).

Maka, datanglah ia (azab) kepada mereka secara tiba-tiba, sedangkan mereka tidak menyadarinya.

Maka, pada saat datang azab kepada mereka secara mendadak dan tiba-tiba, ketika mereka tidak menyadarinya, pada saat itulah mereka tersadar akan kesalahan mereka.

203

فَيَقُوْلُوْا هَلْ نَحْنُ مُنْظَرُوْنَ ۗ

Fa yaqūlū hal naḥnu munẓarūn(a).

Lalu, mereka berkata, “Apakah kami diberi penangguhan waktu?”

Lalu mereka berkata, “Apakah kami diberi penangguhan waktu, yakni perpanjangan umur, sehingga kami bisa bertobat, beriman kepada Al-Qur’an dan melakukan amal saleh?”

204

اَفَبِعَذَابِنَا يَسْتَعْجِلُوْنَ

Afa bi‘ażābinā yasta‘jilūn(a).

Bukankah mereka yang meminta agar azab Kami disegerakan?

Bukankah mereka yang meminta agar azab kami dipercepat? Akan tetapi, ketika Kami menimpakan azab itu kepada mereka, mereka meminta agar diberi kesempatan sekali lagi untuk bertobat. Inilah sikap mereka yang saling bertentangan.

205

اَفَرَءَيْتَ اِنْ مَّتَّعْنٰهُمْ سِنِيْنَ ۙ

Afa ra’aita im matta‘nāhum sinīn(a).

Bagaimana pendapatmu jika kepada mereka Kami berikan kenikmatan hidup beberapa tahun?

Maka bagaimana pendapatmu, wahai Rasul, jika Kami berikan kepada mereka, orang-orang kafir itu, kenikmatan hidup beberapa tahun.

206

ثُمَّ جَاۤءَهُمْ مَّا كَانُوْا يُوْعَدُوْنَ ۙ

Ṡumma jā’ahum mā kānū yū‘adūn(a).

Kemudian, ia (azab) yang diancamkan datang kepada mereka.

Kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka, sebagaimana permintaan mereka agar azab itu dipercepat datangnya.

207

مَآ اَغْنٰى عَنْهُمْ مَّا كَانُوْا يُمَتَّعُوْنَ ۗ

Mā agnā ‘anhum mā kānū yumatta‘ūn(a).

Niscaya kenikmatan yang mereka rasakan tidak berguna baginya.

Niscaya tidak berguna bagi mereka kenikmatan yang mereka rasakan. Kenikmatan di dunia yang pada akhirnya membawa kesengsaraan di akhirat tidaklah berguna.

208

وَمَآ اَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ اِلَّا لَهَا مُنْذِرُوْنَ ۖ

Wa mā ahlaknā min qaryatin illā lahā munżirūn(a).

Kami tidak membinasakan suatu negeri, kecuali setelah ada pemberi peringatan kepadanya.

Allah memberikan alasan terhadap siksaan-Nya kepada orang-orang kafir. “Dan Kami tidak membinasakan sesuatu penduduk negeri mana pun, kecuali setelah ada orang-orang, yaitu para rasul yang memberi peringatan kepadanya, dengan sejelas-jelasnya dan menunjukkan berbagai bukti kebenaran mereka. Akan tetapi, penduduk negeri tersebut mendustakan mereka. (Lihat: Surah al-Isra/17:15).

209

ذِكْرٰىۚ وَمَا كُنَّا ظٰلِمِيْنَ

Żikrā, wa mā kunnā ẓālimīn(a).

(Hal itu) sebagai peringatan. Kami sekali-kali bukanlah orang-orang zalim.

Hal itu adalah untuk menjadi peringatan bagi yang lain agar tidak melakukan sebagaimana mereka. Dan Kami tidak berlaku zalim, karena Kami telah mengirimkan utusan untuk memperbaiki keadaan. Mestinya mereka bersyukur. Kami berikan peringatan keras kepada mereka, namun mereka mengejek, mendustakan dan menantangnya.” (Lihat: Al-Qasas/28: 59).

210

وَمَا تَنَزَّلَتْ بِهِ الشَّيٰطِيْنُ

Wa mā tanazzalat bihisy-syayāṭīn(u).

(Al-Qur’an) itu tidaklah dibawa turun oleh setan-setan.

Orang musyrik menuduh bahwa Al-Qur’an itu adalah bisikan setan kepada Nabi Muhammad. Allah membantah dengan tegas tuduhan tersebut. Dan Al-Qur’an itu tidaklah dibawa turun oleh setan-setan. Al-Qur’an berisi hal-hal yang baik dan mulia, serta mengajak manusia ke jalan yang benar, sementara setan mengajak hal-hal keji dan mungkar dan mengajak kepada jalan yang sesat.

211

وَمَا يَنْۢبَغِيْ لَهُمْ وَمَا يَسْتَطِيْعُوْنَ ۗ

Wa mā yambagī lahum wa mā yastaṭī‘ūn(a).

Tidaklah pantas bagi mereka (membawa turun Al-Qur’an itu) dan mereka pun tidak akan sanggup.

Dan tidaklah pantas bagi mereka Al-Qur’an itu karena hal-hal yang disebutkan di atas dan mereka pun tidak akan sanggup melakukan hal itu, karena Al-Qur’an mempunyai banyak keistimewaan, baik dari segi redaksi maupun isinya, yang tidak akan bisa tertandingi oleh siapa pun (Lihat: Surah al-Isra/17: 88).

212

اِنَّهُمْ عَنِ السَّمْعِ لَمَعْزُوْلُوْنَ ۗ

Innahum ‘anis-sam‘i lama‘zūlūn(a).

Sesungguhnya mereka (setan-setan) benar-benar dijauhkan (dari berita langit).

Di samping alasan di atas, Allah telah menjaga kesucian Al-Qur’an. Sesungguhnya untuk mendengarkannya pun mereka dijauhkan karena jalan-jalan di langit yang biasa mereka lalui untuk menyadap kabar-kabar langit telah disterilkan dari lalu lalang mereka (Lihat: Surah Jin/72:8-9) sehingga Al-Qur’an bisa sampai kepada nabi secara utuh.

213

فَلَا تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ فَتَكُوْنَ مِنَ الْمُعَذَّبِيْنَ

Falā tad‘u ma‘allāhi ilāhan ākhara fa takūna minal-mu‘ażżabīn(a).

Maka, janganlah engkau (Nabi Muhammad) menyembah Tuhan lain bersama Allah. Nanti kamu termasuk orang-orang yang diazab.

Allah mengingatkan Nabi Muhammad, “Maka janganlah sekali-kali kamu menyeru tuhan selain Allah, karena nanti pada hari Kiamat, kamu termasuk orang-orang yang diazab karena dosa syirik itu tidak akan diampuni oleh Allah jika tidak bertobat ketika di dunia.

214

وَاَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْاَقْرَبِيْنَ ۙ

Wa anżir ‘asyīratakal-aqrabīn(a).

Berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat.

Dan berilah peringatan, wahai Rasul, kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, agar mereka tidak menyekutukan Allah, dan ajaklah mereka ke jalan yang benar. Keluarga adalah lingkaran pertama yang harus menjadi prioritas dakwah. Mengandalkan unsur kekerabatan tidak bisa menolong dari siksa Allah jika mereka masih tetap berbuat syirik.

215

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ

Wakhfiḍ janāḥaka limanittaba‘aka minal-mu’minīn(a).

Rendahkanlah hatimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang mukmin.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu. Jangan kamu bertindak kasar terhadap mereka, karena mereka akan lari darimu, padahal mereka adalah pembantumu yang utama dalam berdakwah. Perjalanan dakwah tidak selamanya mulus. Ada banyak rintangan, antara lain pembelotan dari pengikut.

216

فَاِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تَعْمَلُوْنَ ۚ

Fa in ‘aṣauka faqul innī barī’um mimmā ta‘malūn(a).

Jika mereka mendurhakaimu, katakanlah, “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Teruskanlah berdakwah, wahai rasul. Kemudian jika engkau telah berdakwah kepada mereka, tetapi mereka, baik itu keluargamu, orang-orang kafir, atau para pengikutmu, mendurhakaimu dan tidak mengikuti perintahmu, maka katakanlah wahai Rasul, kepada mereka, “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan. Semua itu menjadi tanggung jawabmu di hadapan Allah.”

217

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيْزِ الرَّحِيْمِ ۙ

Wa tawakkal ‘alal-‘azīzir-raḥīm(i).

Bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

Dan setelah engkau lakukan tugasmu berdakwah kepada mereka, bertawakallah, pasrahkanlah semua urusanmu hanya kepada Allah Yang Mahaperkasa, Mahakuat yang mampu menyiksa siapa pun yang berani menantang-Nya, Maha Penyayang kepada siapa pun yang senantiasa taat kepada-Nya.

218

الَّذِيْ يَرٰىكَ حِيْنَ تَقُوْمُ

Allażī yarāka ḥīna taqūm(u).

(Dia) yang melihat ketika engkau berdiri (untuk salat).

Dialah Allah yang selalu memerhatikanmu. Dia melihat engkau ketika engkau berdiri dengan penuh ketundukan untuk melakukan salat.

219

وَتَقَلُّبَكَ فِى السّٰجِدِيْنَ

Wa taqallubaka fis-sājidīn(a).

Dan, (melihat) perubahan gerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud.

Dan Dia juga melihat perubahan gerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud dalam salat, dari berdiri, sampai duduk atau pergerakanmu di antara orang-orang yang beriman, sebagaimana para nabi terdahulu.

220

اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Innahū huwas-samī‘ul-‘alīm(u).

Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Sungguh, Dia Maha Mendengar semua apa yang kau katakan dan engkau keluhkan, serta Maha Mengetahui apa yang kau kerjakan. Semua yang terjadi tidak berlalu begitu saja, tetapi akan mendapatkan perhitungan dari Allah.

221

هَلْ اُنَبِّئُكُمْ عَلٰى مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيٰطِيْنُ ۗ

Hal unabbi’ukum ‘alā man tanazzalusy-syayāṭīn(u).

Maukah Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun?

Ayat-ayat berikut menjelaskan tentang orang-orang yang mendapat bisikan dari setan dan bekerja sama dengannya untuk menyesatkan manusia. Maukah Aku beritakan kepadamu, wahai orang kafir Mekah, kepada siapa setan-setan itu turun untuk membisikkan kabar bohongnya?

222

تَنَزَّلُ عَلٰى كُلِّ اَفَّاكٍ اَثِيْمٍ ۙ

Tanazzalu ‘alā kulli affākin aṡīm(in).

Mereka (setan) turun kepada setiap pendusta lagi banyak berdosa.

Mereka, setan-setan itu, tidaklah turun kepada Nabi Muhammad sebagaimana apa yang kamu sangkakan selama ini, tetapi turun kepada setiap pendusta yang membalikkan sesuatu yang buruk menjadi baik dan sebaliknya, yang banyak berdosa dengan melakukan pelanggaran-pelanggaran norma yang tidak dibenarkan oleh agama.

223

يُّلْقُوْنَ السَّمْعَ وَاَكْثَرُهُمْ كٰذِبُوْنَ ۗ

Yulqūnas-sam‘a wa akṡaruhum kāżibūn(a).

Mereka menyampaikan hasil pendengarannya, sedangkan kebanyakan mereka adalah para pendusta.

Mereka, para setan itu, menyampaikan hasil pendengaran mereka berupa kabar dari langit yang mereka curi, kemudian mereka mencampurnya dengan sejuta kebohongan, lalu menyampaikannya kepada para dukun, juru ramal dan lainya, sedangkan kebanyakan mereka, para setan atau dukun itu, adalah orang-orang pendusta. Bandingkan hal itu dengan Nabi Muhammad, seorang yang tidak pernah berdusta.

224

وَالشُّعَرَاۤءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوٗنَ ۗ

Wasy-syu‘arā’u yattabi‘uhumul-gāwūn(a).

Para penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.

Orang kafir Quraisy menuduh Nabi Muhammad sebagai seorang penyair. Allah membantah anggapan itu dengan tegas, “Dan penyair-penyair itu yang kamu sekalian terpukau dengan syair-syair mereka, diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidak demikian halnya pengikut Nabi Muhammad yang sangat taat kepada aturan-aturan agama.

225

اَلَمْ تَرَ اَنَّهُمْ فِيْ كُلِّ وَادٍ يَّهِيْمُوْنَ ۙ

Alam tara annahum fī kulli wādiy yahīmūn(a).

Tidakkah engkau melihat bahwa mereka merambah setiap lembah kepalsuan

Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah dengan mengikuti hawa nafsu mereka? Mereka terkadang membenci sesuatu kemudian memujinya dan sebaliknya.

226

وَاَنَّهُمْ يَقُوْلُوْنَ مَا لَا يَفْعَلُوْنَ ۙ

Wa annahum yaqūlūna mā lā yaf‘alūn(a).

dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(-nya)?

Dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak menger-jakan-nya? Inilah bentuk kebohongan mereka. Bandingkan hal ini dengan Nabi Muhammad yang selalu bersikap jujur dalam segala hal.”

227

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَذَكَرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّانْتَصَرُوْا مِنْۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوْا ۗوَسَيَعْلَمُ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اَيَّ مُنْقَلَبٍ يَّنْقَلِبُوْنَ ࣖ

Illal-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa żakarullāha kaṡīraw wantaṣarū mim ba‘di mā ẓulimū, wa saya‘lamul-lażīna ẓalamū ayya munqalabiy yanqalibūn(a).

Kecuali (para penyair) yang beriman, beramal saleh, banyak mengingat Allah, dan bangkit membela (kebenaran) setelah terzalimi. Orang-orang yang zalim kelak akan mengetahui ke mana mereka akan kembali.

Pada ayat ini diterangkan kriteria penyair yang dikecualikan dari penyair yang disebut di atas. Kecuali orang-orang penyair yang beriman dengan iman yang benar dan berbuat kebajikan yang sesuai dengan ketentuan syariah dan banyak mengingat Allah, baik siang maupun malam, dan mendapat kemenangan setelah terzalimi karena menjawab puisi-puisi orang-orang kafir. Pada akhir surah ini, Allah memberikan peringatan keras terhadap orang-orang kafir, “Dan orang-orang yang zalim kelak pada hari kebangkitan, akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali. Mereka akan kembali ke neraka.”

Ayat berhasil disalin!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *