Surat Al-Muddassir
Orang Berselimut
Makkiyah • 56 Ayat
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
يٰٓاَيُّهَا الْمُدَّثِّرُۙ
Yā ayyuhal-muddaṡṡir(u).
Wahai orang yang berselimut (Nabi Muhammad),
Di akhir surah al-Muzammil berisi berita gembira bagi yang berbuat kebajikan, di awal surah ini berisi perintah untuk bersemangat menyeru kepada kebajikan. Wahai orang yang berkemul atau berselimut yakni Nabi Muhammad!
قُمْ فَاَنْذِرْۖ
Qum fa’anżir.
bangunlah, lalu berilah peringatan!
Bangunlah dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat, lalu berilah peringatan!
وَرَبَّكَ فَكَبِّرْۖ
Wa rabbaka fakabbir.
Tuhanmu, agungkanlah!
Dalam menyampaikan dakwah pastilah akan banyak rintangan, maka hal itu tidak perlu merisaukan hatimu wahai Nabi. Ikutilah petunjuk-Ku, pertama, agar tetap tegar dan tidak pudar semangatmu, agungkanlah Tuhanmu,
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْۖ
Wa ṡiyābaka faṭahhir.
Pakaianmu, bersihkanlah!
dan kedua, untuk menunjang dakwahmu, bersihkanlah pakaianmu.
وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْۖ
War-rujza fahjur.
Segala (perbuatan) yang keji, tinggalkanlah!
Dan petunjuk yang ketiga adalah, tinggalkanlah segala perbuatan yang keji seperti penyembahan berhala, betapa pun banyak yang melakukan.
وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُۖ
Wa lā tamnun tastakṡir(u).
Janganlah memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak!
Petunjuk yang keempat, dan janganlah engkau, wahai Nabi Muhammad, memberi yaitu usahamu dalam berdakwah dengan maksud untuk mendapatkan imbalan duniawi dari manusia. Dengan demikian engkau akan memperoleh balasan dari Allah, yang lebih banyak.
وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْۗ
Wa lirabbika faṣbir.
Karena Tuhanmu, bersabarlah!
Petunjuk terakhir, kelima, larangan memperoleh imbalan dapat menimbulkan kesulitan maka apabila menghadapi kesulitan ayat ini memberi petunjuk, dan hanya karena Tuhanmu, maka bersabarlah, pasti engkau akan berhasil dalam dakwahmu.
فَاِذَا نُقِرَ فِى النَّاقُوْرِۙ
Fa iżā nuqira fin-nāqūr(i).
Apabila sangkakala ditiup,
Kesulitan dalam dakwah tidaklah seberapa, akan ada saat yang lebih sulit lagi, maka apabila sangkakala ditiup yaitu hari Kiamat telah tiba,
فَذٰلِكَ يَوْمَىِٕذٍ يَّوْمٌ عَسِيْرٌۙ
Fa żālika yauma’iżiy yaumun ‘asīr(un).
hari itulah hari yang sulit,
maka itulah hari yang serba sulit, bagi siapa saja.
عَلَى الْكٰفِرِيْنَ غَيْرُ يَسِيْرٍ
‘Alal-kāfirīna gairu yasīr(in).
(yang) tidak mudah bagi orang-orang kafir.
Terlebih bagi orang-orang kafir yaitu yang keras kepala mengingkari kebenaran, pada hari itu tidak mudah, keadaannya akan diliputi kesulitan yang dahsyat.
ذَرْنِيْ وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيْدًاۙ
Żarnī wa man khalaqtu waḥīdā(n).
Biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang yang Aku ciptakan dia dalam kesendirian.
Di antara tokoh pendurhaka yang menjadi latar belakang turunnya ayat-ayat ini dan akan mengalami kesulitan pada hari Kiamat adalah al-Walid bin al-Mugirah. Terhadap tokoh ini dan siapa saja yang perilakunya sama dengan al-Walid, maka Allah menegaskan demikian, Biarkanlah Aku yang bertindak terhadap orang yang Aku sendiri telah menciptakannya, tanpa bantuan dari siapa pun
وَّجَعَلْتُ لَهٗ مَالًا مَّمْدُوْدًاۙ
Wa ja‘altu lahū mālam mamdūdā(n).
Aku beri dia kekayaan yang berlimpah,
Penciptaan manusia pastilah melibatkan kedua orang tua, namun pada ayat ini peran itu dinafikan karena menunjukkan ancaman yang serius terhadap yang durhaka. Dan orang tersebut juga Aku berikan baginya kekayaan yang melimpah melalui sebab-sebab yang telah ditetapkan,
وَّبَنِيْنَ شُهُوْدًاۙ
Wa banīna syuhūdā(n).
anak-anak yang selalu bersamanya,
dan juga anugerah berupa anak-anak yang selalu bersamanya,
وَّمَهَّدْتُّ لَهٗ تَمْهِيْدًاۙ
Wa mahhattu lahū tamhīdā(n).
dan Aku beri dia kelapangan (hidup) seluas-luasnya.
Ayat ini melanjutkan uraian tentang keistimewaan yang diberikan Allah kepada al-Walid bin al-Mugirah. Dan di samping itu Aku berikan baginya kelapangan hidup seluas-luasnya.
ثُمَّ يَطْمَعُ اَنْ اَزِيْدَۙ
Ṡumma yaṭma‘u an azīd(a).
Kemudian, dia ingin sekali agar Aku menambahnya.
Kemudian dia juga berharap ingin sekali agar Aku menambahnya dengan bentuk anugerah lainnya, bahkan kalau bisa diberikan surga.
كَلَّاۗ اِنَّهٗ كَانَ لِاٰيٰتِنَا عَنِيْدًاۗ
Kallā, innahū kāna li’āyātinā ‘anīdā(n).
Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia telah menentang ayat-ayat Kami (Al-Qur’an).
Aneka nikmat yang dianugerahkan kepadanya mestinya dia syukuri dengan berbuat baik, ternyata malah membangkang maka tidak bisa terpenuhi keinginannya! Sesungguhnya dia telah menentang ayat-ayat Kami yakni Al-Qur’an.
سَاُرْهِقُهٗ صَعُوْدًاۗ
Sa’urhiquhū ṣa‘ūdā(n).
Aku akan membebaninya dengan pendakian yang memayahkan.
Allah melanjutkan ancamannya terhadap yang menolak kebenaran Al-Qur’an. Karena ia berkeras menolak ayat-ayat-Ku, maka Aku akan membebaninya dengan pendakian yang memayahkan.
اِنَّهٗ فَكَّرَ وَقَدَّرَۙ
Innahū fakkara wa qaddar(a).
Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya).
Sesungguhnya dia yang sangat keras kepala itu telah memikirkan dengan sungguh-sungguh untuk mencari kelemahan Al-Qur’an dan menetapkan apa yang ditetapkannya
فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَۙ
Faqutila kaifa qaddar(a).
Maka, binasalah dia. Bagaimanakah dia menetapkan?
maka celakalah dan terkutuklah dia! Bagaimana dia menetapkan? Sungguh aneh caranya. Sekali lagi, celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan?
ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَۙ
Ṡumma qutila kaifa qaddar(a).
Kemudian, binasalah dia. Bagaimanakah dia menetapkan?
Sungguh aneh caranya. Sekali lagi, celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Sungguh tidak masuk akal sehat.
ثُمَّ نَظَرَۙ
Ṡumma naẓar(a).
Kemudian dia memikirkan (untuk melecehkan Al-Qur’an).
Ayat-ayat ini merupakan kelanjutan dari gejolak hati dan pikir-an tokoh sentral dari surah ini. Kemudian dia merenung memikirkan bagaimana cara melecehkan Al-Qur’an,
ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَۙ
Ṡumma ‘abasa wa basar(a).
Kemudian, dia berwajah masam dan cemberut (karena tidak menemukan kelemahan Al-Qur’an).
lalu sesudah itu dia berwajah masam dan cemberut, karena dia tidak menemukan celah untuk melecehkannya,
ثُمَّ اَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَۙ
Ṡumma adbara wastakbar(a).
Kemudian, dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri.
kemudian dia berpaling dari kebenaran yang sebenarnya dia ketahui dan akui1, dan menyombongkan diri,
فَقَالَ اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ يُّؤْثَرُۙ
Faqāla in hāżā illā siḥruy yu’ṡar(u).
Lalu, dia berkata, “(Al-Qur’an) ini tidak lain, kecuali sihir yang dipelajari (dari orang-orang terdahulu).
dengan congkaknya lalu dia berkata, “Al-Qur’an ini hanyalah sihir yang dipelajari dari orang-orang dahulu.
اِنْ هٰذَآ اِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِۗ
In hāżā illā qaulul-basyar(i).
Ini tidak lain kecuali perkataan manusia.”
Ini hanyalah perkataan manusia bukan firman Allah.”
سَاُصْلِيْهِ سَقَرَ
Sa’uṣlīhi saqar(a).
Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar.
Sebagai akibat dari kedurhakaan yang dilakukan oleh al-Walid dan siapa pun, sebagaimana diuraikan oleh ayat-ayat yang lalu, maka ia disiksa dan puncaknya dijelaskan pada ayat-ayat ini. Kelak, Aku akan menyiksanya dengan memasukkannya ke dalam neraka Saqar,
وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا سَقَرُۗ
Wa mā adrāka mā saqar(a).
Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu?
dan tahukah kamu apa neraka Saqar itu?
لَا تُبْقِيْ وَلَا تَذَرُۚ
Lā tubqī wa lā tażar(u).
(Neraka Saqar itu) tidak meninggalkan (sedikit pun bagian jasmani) dan tidak membiarkan(-nya luput dari siksaan).
Saqar itu tidak meninggalkan atau menyisakan, semua anggota tubuhnya akan diliputi siksa dan tidak membiarkan mati, sehingga terbebas dari azab.
لَوَّاحَةٌ لِّلْبَشَرِۚ
Lawwāḥatul lil-basyar(i).
(Neraka Saqar itu) menghanguskan kulit manusia.
Saqar itu adalah yang menghanguskan kulit manusia.
عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَۗ
‘Alaihā tis‘ata ‘asyar(a).
Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga).
Di atas neraka Saqar ada sembilan belas malaikat penjaga, yang siap siaga mengawasi penghuninya.
وَمَا جَعَلْنَآ اَصْحٰبَ النَّارِ اِلَّا مَلٰۤىِٕكَةً ۖوَّمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ اِلَّا فِتْنَةً لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْاۙ لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ وَيَزْدَادَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِيْمَانًا وَّلَا يَرْتَابَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ وَالْمُؤْمِنُوْنَۙ وَلِيَقُوْلَ الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ وَّالْكٰفِرُوْنَ مَاذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِهٰذَا مَثَلًاۗ كَذٰلِكَ يُضِلُّ اللّٰهُ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَمَا يَعْلَمُ جُنُوْدَ رَبِّكَ اِلَّا هُوَۗ وَمَا هِيَ اِلَّا ذِكْرٰى لِلْبَشَرِ ࣖ
Wa mā ja‘alnā aṣḥāban-nāri illā malā’ikah(tan), wa mā ja‘alnā ‘iddatahum illā fitnatal lil-lażīna kafarū, liyastaiqinal-lażīna ūtul-kitāba wa yazdādal-lażīna āmanū īmānaw wa lā yartābal-lażīna ūtul-kitāba wal-mu’minūn(a), wa liyaqūlal-lażīna fī qulūbihim maraḍuw wal-kāfirūna māżā arādallāhu bihāżā maṡalā(n), każālika yuḍillullāhu may yasyā’u wa yahdī may yasyā'(u), wa mā ya‘lamu junūda rabbika illā huw(a), wa mā hiya illā żikrā lil-basyar(i).
Kami tidak menjadikan para penjaga neraka, kecuali para malaikat dan Kami tidak menentukan bilangan mereka itu, kecuali sebagai cobaan bagi orang-orang kafir. (Yang demikian itu) agar orang-orang yang diberi kitab menjadi yakin, orang yang beriman bertambah imannya, orang-orang yang diberi kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu, serta orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (berkata,) “Apakah yang dikehendaki Allah dengan (bilangan) ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang Dia kehendaki (berdasarkan kecenderungan dan pilihan mereka sendiri) dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki (berdasarkan kesiapan mereka untuk menerima petunjuk). Tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri. Ia (neraka Saqar itu) tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia.
Mendengar penjaga saqar ada sembilan belas, mereka menduga sembilan belas orang, kaum musyrik dengan angkuhnya menyatakan akan mengalahkan sembilan belas penjaga tersebut. Dan yang Kami jadikan penjaga neraka itu hanya dari malaikat yang sangat kuat lagi kasar serta patuh kepada Allah, dan Kami menentukan bilangan mereka yang sembilan belas itu hanya sebagai cobaan yang dapat menyebabkan kesesatan bagi orang-orang kafir yang menganggap sepele jumlah tersebut, di sisi lain agar orang-orang yang diberi kitab menjadi yakin karena bilangan tersebut sesuai dengan apa yang termaktub dalam kitab suci mereka, dan agar orang yang beriman bertambah imannya, agar orang-orang yang diberi kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu. dan agar orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir berkata,, “Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri. Dan Saqar itu tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia.
كَلَّا وَالْقَمَرِۙ
Kallā wal-qamar(i).
Sekali-kali tidak! Demi bulan,
Untuk menafikan dugaan orang-orang kafir tentang kemampuan mereka menghadapi penjaga-penjaga neraka, atau untuk mengancam dan menghardik mereka yang memperolok-olokkan bilangan itu, maka Allah berfirman, Sekali-kali Tidak! Aku bersumpah demi bulan,
وَالَّيْلِ اِذْ اَدْبَرَۙ
Wal-laili iż adbar(a).
demi malam ketika telah berlalu,
dan demi malam ketika telah berlalu
وَالصُّبْحِ اِذَآ اَسْفَرَۙ
Waṣ-ṣubḥi iżā asfar(a).
dan demi subuh apabila mulai terang,
dan demi subuh apabila mulai terang,
اِنَّهَا لَاِحْدَى الْكُبَرِۙ
Innahā la’iḥdal-kubar(i).
sesungguhnya ia (neraka Saqar itu) benar-benar salah satu (bencana) yang sangat besar,
sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang sangat besar,
نَذِيْرًا لِّلْبَشَرِۙ
Nażīral lil-basyar(i).
sebagai peringatan bagi manusia,
sebagai ancaman yang mengerikan dan sekaligus sebagai peringatan bagi manusia,
لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّتَقَدَّمَ اَوْ يَتَاَخَّرَۗ
Liman syā’a minkum ay yataqaddama au yata’akhkhar(a).
(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang ingin maju (meraih kebajikan) atau mundur (dengan berbuat maksiat).
yaitu bagi siapa di antara kamu yang ingin maju meraih kebajikan atau mundur sehingga enggan untuk meraihnya.
كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا كَسَبَتْ رَهِيْنَةٌۙ
Kullu nafsim bimā kasabat rahīnah(tun).
Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan,
38-39. Ayat-ayat berikut merupakan pernyataan kepada manusia seluruhnya dalam kaitan dengan kebebasan memilih yang telah ditegaskan pada ayat-ayat sebelumnya. Manusia mau maju meraih kebaikan atau mundur yang jelas setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya masing-masing, kecuali golongan kanan golongan inilah yang meraih keberuntungan karena memilih yang baik.
اِلَّآ اَصْحٰبَ الْيَمِيْنِ ۛ
Illā aṣḥābal-yamīn(i).
kecuali golongan kanan,
38-39. Ayat-ayat berikut merupakan pernyataan kepada manusia seluruhnya dalam kaitan dengan kebebasan memilih yang telah ditegaskan pada ayat-ayat sebelumnya. Manusia mau maju meraih kebaikan atau mundur yang jelas setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya masing-masing, kecuali golongan kanan golongan inilah yang meraih keberuntungan karena memilih yang baik.
فِيْ جَنّٰتٍ ۛ يَتَسَاۤءَلُوْنَۙ
Fī jannātin – yatasā’alūn(a).
berada di dalam surga yang mereka saling bertanya
40-42. Golongan kanan yang disebut pada ayat yang lalu, meraih keberuntungan yaitu berada di dalam surga, mereka saling menanyakan, yaitu bertanya tentang keadaan orang-orang yang berdosa, yang boleh jadi ketika di dunia mereka saling mengenal. Penghuni surga itu bertanya, “Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam neraka Saqar?” Tidak dijelaskan secara teknis bagaimana adegan dialog itu terjadi.
عَنِ الْمُجْرِمِيْنَۙ
‘Anil-mujrimīn(a).
tentang (keadaan) para pendurhaka,
40-42. Golongan kanan yang disebut pada ayat yang lalu, meraih keberuntungan yaitu berada di dalam surga, mereka saling menanyakan, yaitu bertanya tentang keadaan orang-orang yang berdosa, yang boleh jadi ketika di dunia mereka saling mengenal. Penghuni surga itu bertanya, “Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam neraka Saqar?” Tidak dijelaskan secara teknis bagaimana adegan dialog itu terjadi.
مَا سَلَكَكُمْ فِيْ سَقَرَ
Mā salakakum fī saqar(a).
“Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar?”
40-42. Golongan kanan yang disebut pada ayat yang lalu, meraih keberuntungan yaitu berada di dalam surga, mereka saling menanyakan, yaitu bertanya tentang keadaan orang-orang yang berdosa, yang boleh jadi ketika di dunia mereka saling mengenal. Penghuni surga itu bertanya, “Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam neraka Saqar?” Tidak dijelaskan secara teknis bagaimana adegan dialog itu terjadi.
قَالُوْا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّيْنَۙ
Qālū lam naku minal-muṣallīn(a).
Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan salat
43-44. Ayat-ayat di atas adalah jawaban para pendurhaka atas pertanyaan penghuni surga yang dikemukakan dalam ayat yang lalu. Mereka menjawab untuk menjelaskan mengapa mereka masuk neraka Saqar. “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan salat, dan kami juga tidak memberi makan orang miskin.”
وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِيْنَۙ
Wa lam naku nuṭ‘imul-miskīn(a).
dan kami (juga) tidak memberi makan orang miskin.
43-44. Ayat-ayat di atas adalah jawaban para pendurhaka atas pertanyaan penghuni surga yang dikemukakan dalam ayat yang lalu. Mereka menjawab untuk menjelaskan mengapa mereka masuk neraka Saqar. “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan salat, dan kami juga tidak memberi makan orang miskin.”
وَكُنَّا نَخُوْضُ مَعَ الْخَاۤىِٕضِيْنَۙ
Wa kunnā nakhūḍu ma‘al-khā’iḍīn(a).
Bahkan, kami selalu berbincang (untuk tujuan yang batil) bersama para pembincang,
45-47. Penghuni neraka Saqar tersebut meneruskan pengakuannya mengapa mereka masuk neraka. Dan kami juga biasa berbincang untuk tujuan yang batil, bersama orang-orang yang membicarakannya, dan yang lebih parah lagi kami mendustakan hari pembalasan. Kedurhakaan kami itu terus berlanjut sampai datang kepada kami keyakinan yaitu kematian.”
وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّيْنِۙ
Wa kunnā nukażżibu biyaumid-dīn(i).
dan kami selalu mendustakan hari Pembalasan,
45-47. Penghuni neraka Saqar tersebut meneruskan pengakuannya mengapa mereka masuk neraka. Dan kami juga biasa berbincang untuk tujuan yang batil, bersama orang-orang yang membicarakannya, dan yang lebih parah lagi kami mendustakan hari pembalasan. Kedurhakaan kami itu terus berlanjut sampai datang kepada kami keyakinan yaitu kematian.”
حَتّٰىٓ اَتٰىنَا الْيَقِيْنُۗ
Ḥattā atānal-yaqīn(u).
hingga datang kepada kami kematian.”
45-47. Penghuni neraka Saqar tersebut meneruskan pengakuannya mengapa mereka masuk neraka. Dan kami juga biasa berbincang untuk tujuan yang batil, bersama orang-orang yang membicarakannya, dan yang lebih parah lagi kami mendustakan hari pembalasan. Kedurhakaan kami itu terus berlanjut sampai datang kepada kami keyakinan yaitu kematian.”
فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشّٰفِعِيْنَۗ
Famā tanfa‘uhum syafā‘atusy-syāfi‘īn(a).
Maka, tidak berguna lagi bagi mereka syafaat (pertolongan) dari para pemberi syafaat.
Kedurhakaan yang mereka lakukan berlanjut sampai kematian datang, maka mereka berharap kiranya mendapat syafaat atau pertolongan dari siapa saja. Maka Allah menegaskan, tidak berguna lagi bagi mereka syafaat pertolongan dari orang-orang yang memberikan syafaat seandainya dimungkinkan.
فَمَا لَهُمْ عَنِ التَّذْكِرَةِ مُعْرِضِيْنَۙ
Famā lahum ‘anit-tażkirati mu‘riḍīn(a).
Lalu, mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)
49-51.Konsekuensi yang akan dialami di akhirat sudah mereka ketahui, maka ayat ini mengecam para pendurhaka tersebut. Lalu mengapa mereka orang-orang kafir, berpaling dari peringatan Allah yakni Al-Qur’an dan juga tuntunan yang disampaikan Rasulullah, seakan-akan mereka keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa.
كَاَنَّهُمْ حُمُرٌ مُّسْتَنْفِرَةٌۙ
Ka’annahum ḥumurum mustanfirah(tun).
seakan-akan mereka keledai liar yang terkejut
49-51.Konsekuensi yang akan dialami di akhirat sudah mereka ketahui, maka ayat ini mengecam para pendurhaka tersebut. Lalu mengapa mereka orang-orang kafir, berpaling dari peringatan Allah yakni Al-Qur’an dan juga tuntunan yang disampaikan Rasulullah, seakan-akan mereka keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa.
فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍۗ
Farrat min qaswarah(tin).
lari dari singa.
49-51.Konsekuensi yang akan dialami di akhirat sudah mereka ketahui, maka ayat ini mengecam para pendurhaka tersebut. Lalu mengapa mereka orang-orang kafir, berpaling dari peringatan Allah yakni Al-Qur’an dan juga tuntunan yang disampaikan Rasulullah, seakan-akan mereka keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa.
بَلْ يُرِيْدُ كُلُّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ اَنْ يُّؤْتٰى صُحُفًا مُّنَشَّرَةًۙ
Bal yurīdu kullumri’im minhum ay yu’tā ṣuḥufam munasysyarah(tan).
Bahkan, setiap orang dari mereka ingin diberi lembaran-lembaran (kitab) yang terbuka.
Setelah digambarkan sikap lahiriah para pendurhaka yang lari kebingungan bagaikan keledai, kini dilukiskan tentang keadaan batin mereka. Bahkan yang lebih aneh lagi setiap orang dari mereka ingin agar diberikan kepadanya lembaran-lembaran kitab yang terbuka dari Tuhan.
كَلَّاۗ بَلْ لَّا يَخَافُوْنَ الْاٰخِرَةَۗ
Kallā, bal lā yakhāfūnal-ākhirah(ta).
Sekali-kali tidak! Sebenarnya mereka tidak takut pada akhirat.
53-55. Sebagai tanggapan atas usul dan keinginan mereka tersebut, ayat ini menegaskan, sekali-kali tidak! Sebenarnya mereka tidak takut kepada siksa akhirat. Kalau sikap mereka tetap seperti itu maka sekali-kali tidak! Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar suatu peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, tentu dia mengambil pelajaran darinya, karena fungsi utama Al-Qur’an di antaranya adalah sebagai peringatan bagi manusia.
كَلَّآ اِنَّهٗ تَذْكِرَةٌ ۚ
Kallā innahū tażkirah(tun).
Sekali-kali tidak! Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu adalah suatu peringatan.
53-55. Sebagai tanggapan atas usul dan keinginan mereka tersebut, ayat ini menegaskan, sekali-kali tidak! Sebenarnya mereka tidak takut kepada siksa akhirat. Kalau sikap mereka tetap seperti itu maka sekali-kali tidak! Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar suatu peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, tentu dia mengambil pelajaran darinya, karena fungsi utama Al-Qur’an di antaranya adalah sebagai peringatan bagi manusia.
فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗۗ
Faman syā’a żakarah(ū).
Siapa yang berkehendak tentu mengambil pelajaran darinya.
53-55. Sebagai tanggapan atas usul dan keinginan mereka tersebut, ayat ini menegaskan, sekali-kali tidak! Sebenarnya mereka tidak takut kepada siksa akhirat. Kalau sikap mereka tetap seperti itu maka sekali-kali tidak! Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar suatu peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, tentu dia mengambil pelajaran darinya, karena fungsi utama Al-Qur’an di antaranya adalah sebagai peringatan bagi manusia.
وَمَا يَذْكُرُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ ۗهُوَ اَهْلُ التَّقْوٰى وَاَهْلُ الْمَغْفِرَةِ ࣖ
Wa mā yażkurūna illā ay yasyā’allāh(u), huwa ahlut-taqwā wa ahlul-magfirah(ti).
Mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya (Al-Qur’an), kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dialah yang (kita) patut bertakwa kepada-Nya dan yang berhak memberi ampunan.
Ayat sebelumnya dapat menimbulkan kesan bahwa manusia memiliki kebebasan mutlak, maka ayat ini menegaskan bahwa, dan mereka tidak akan mengambil pelajaran dari Al-Qur’an kecuali jika Allah menghendakinya. Dialah Tuhan yang patut kita bertakwa kepada-Nya dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, dan Dia juga yang berhak memberi ampunan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.